Zaman OmKos ??


Mahasiswa dengan sederet titel sosial mulai dari agent of change, agent of social control. Bahkan, menurut sebagian besar masyarakat menyebut mahasiswa adalah orang yang serba bisa, serba tahu berbagai persoalan yang muncul dalam masyarakat. Hal ini menjadikan mahasiswa sebagai kaum elit dan terhormat dibanding dengan kaum muda lainnya. Namun, sederet titel dan penghargaan terhadap mahasiswa teryata tidak semuanya berbuah manis serta sesuai dengan harapan.

Idealisme mahasiswa seringkali luntur ketika berhadapan dengan realita. Ketika banyak terjadi aksi demo menuntut ini -itu, ternyata hal yang didemo justru menjadi harian mahasiswa itu sendiri. Saya ambil contoh dalam hal korupsi. Mulai dari titip absen, nyontek , sampai pemalsuan surat2 keterangan untuk mendapatkan beasiswa (mau marah??? realita lho. maaf..Comment aja ntar.. :P). anehnya, Begitu banyak mahasiswa yang berdemo dengan mengecam dan memaki para koruptor dengan suara yang berapi-api. Seakan-akan mereka menjadi seorang algojo yang siap mengeksekusi para koruptor yang kenyang dengan uang. Bukan sok2an ngomong gini, tapi idealisme kejujuran itu penting,teman. Indonesia bukan bangsa penipu, percayalah, sungguh..

Dosen yang baca jangan senyum dulu, mereka pada yang korupsi paling getol. Yang taruih buek ambo mangka, korupsi waktu para dosen. Jadwal kuliah yang harusnya jam 8, bisa molor sampe jam 9, jadwal kuliah senen, bisa diganti ke hari selasa tanpa pemberitahuan, dan parahnya, udah diganti eh malah ga dateng pula. Ujung2nya mahasiswa disalahkan karena nilainya jeblok, wajar lah karena jadwal belajarnya selalu didiskon besar2an seperti itu. (ngaku deh..). saya yang nulis bukan sok suci, tapi masalah disiplin memang menjadi masalah fundamental yang mencerminkan individu tersebut.

Salah satu hal yang menarik di dunia kuliah adalah nempel bangetnya mahasiswa dengan yang namanya demonstrasi, seperti yang saya singgung diatas. menariknya, sebagian sudah bukan demo kosong lagi, tapi sudah ada aksi nyata dalam bentuk tindakan,petisi,diskusi dll) Saya pikir, semakin tingginya frekuensi aksi demo dari mahasiwa beberapa tahun belakangan ini, tetap tak bisa lepas dari tragedi Mei 1998. Waktu itu, puluhan ribu mahasiswa berhasil memakzulkan Presiden Soeharto. Pencapaian prestasi yang luar biasa, karena akhirnya (alm) Jenderal Soeharto mau lengser ke prabon setelah 32 tahun memimpin negara kita. Apa yang ditunjukkan pada Mei 12 tahun yang lalu itu adalah people power sebagai elemen dasar demokrasi dalam arti fisik (kasat mata) yang sebenarnya.

Euphoria, ya, saya berpendapat bahwa keberhasilan tersebut masih meninggalkan jejak-jejak kebahagiaannya yang meluap-luap sampai sekarang. Pengalaman sukses itu juga menimbulkan harapan bahwa aksi unjuk rasa akan berhasil untuk menjawab setiap permasalahan-permasalahan yang muncul. Oleh karenanya wajar bila aksi demo terus dipertahankan malah semakin ditingkatkan pelaksanaannya. Padahal, roda waktu terus bergulir, musim telah berganti. Era people power dalam arti fisik yakni gerakan massa, unjuk rasa, telah berlalu. Ia telah mencapai klimaksnya pada Mei tahun 1998.

Sekarang ialah masanya berbuat, bertindak, do something real. Rakyat sudah jenuh dengan berita demo tak berbuah hasil sama sekali. Alih-alih mencapai suatu hasil, yang ada malah kerap kali aksi unjuk rasa berbuah kekacauan keamanan. Ujung-ujungnya, polisi juga yang disalahkan. Kasihan bapak-bapak polisi, kepalanya bocor ditimpuk batu, masih pula dicap yang negatif.

Ini yang dikhawatirkan, yakni ketika demokrasi, sekali lagi, DEMOKRASI (ideologi banyak omong) diartikan secara dangkal. Bebas dalam artian bebas tak beraturan; Saya mau ngomong ini kek, mau berbuat gitu kek, terserah, ini namanya Hak Asasi Manusia (HAM). Harapannya, dengan demokrasi rakyat lebih dewasa dan matang, namun yang ada malah rakyat semakin impulsif. Layaknya bocah; Kalau saya mau permen ya permennya harus ada, entah caranya seperti apa. Kalau saya ingin BBM turun harga, mau tak mau BBM harus turun, bagaimana caranya ya itu urusan anda, jangan tanya saya.

Di tingkat atas, kita sudah sama-sama muak dengan para politikus yang banyak mengumbar janji kosong sana-sini. Di level bahwa, kita bosan dengan aksi unjuk rasa yang begitu-begitu saja. Berbeda tingkat tapi keduanya sama saja; cuma bisa bicara. Alur cerita sejarah melenceng jauh. Ketika idealnya, zaman sekarang ialah zamannya orang untuk membuktikan dirinya lewat tindakan nyata. Apa yang terjadi justru sekarang menjadi zamannya banyak omong. Maaf kalau ada yang tersinggung, marah aja sekalian.hehehe (bercanda ah)

Jadi, junjunglah kejujuran, banyak berbuat daripada ngomong, konsisten dengan prinsip, dan be your self n be happy
ayo,saling perbaiki diri,pertahankan progres yg sudah bagus, sama-sama belajar🙂

 

Ya..itu salah satu tulisan sahabat saya di note Fb, ketika saya di tag-nya dan kemudian membacanya… Hmm..benar juga realita yang kebanyakan bahkan mungkin telah mendominasi kehidupan para mahasiswa di kampus, saya cukup setuju dengan tulisan beliau, bahkan saya pun juga agak “tersudutkan” dengan isinya, betapa tidak mayoritas dari perilaku-perilaku yang disebutkan di atas hampir menjadi konsumsi sehari-hari saya. Saya pun mencoba memahami jikalau ingin merubah hal-hal yang besar…mulailah ubah dari hal-hal kecil dari kehidupan kita, bahkan hal kecil yang mungkin kita anggap sepele pun, contohnya tadi yang mungkin setiap mahasiswa pernah lakukan yaitu TA (titip absen), apalagi kalo seorang aktivis, pasti sibuk banget dan ujung-ujungnya sering TA sama teman-teman di kelas. Pesan dalam Al-Quran pun telah jelas ” Sesungguhnya Allah tak akan merubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang merubahnya”.  Jadi dituntut dari KITA SEMUA YANG MELAKUKAN PERUBAHAN ITU.

Mungkin masih banyak lagi hal-hal yang kalo kita pahami dan renungi, akan membuat kita lebih baek ke depannya. Dan mari MULAI DETIK INI  kita patahkan judul note sahabat saya ini ( Zaman Omong Kosong ) ini dan kita ikrarkan menjadi INDONESIA HEBAT 2020. InsyaAllah.

Wallahu’alam.

 

2 thoughts on “Zaman OmKos ??

  1. Afwan, nio comment stek tentang “titip absen”..
    yakin saja dengan janji ALLAH di QS. Muhammad : 7
    “Wahai orang2 beriman, jika kamu menolong (agama) Allah,niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
    jadi jika kita “mungkin” sibuk dengan urusan organisasi sehingga mengharuskan kita tdk bisa mngikuti mata kuliah di kelas, jgn skali-kali titip absen, Luruskan saja niat, yakinkan dalam hati bahwa Allah psti akn mnolong kita…insyaAllah akan membuka pikiran kita supaya mudah menyerap ilmu (yg diajarkan dikelas) melalui membaca catatan teman saat kita sdh ada di rumah..
    absen hanyalah perkara “hadir atau tidak”, tapi ilmu adalah utk selamanya….

    untuak note ny :
    great !! intinya Talk Less do more !!
    tapi, yakin saja “Perubahan itu pasti ada”, sekarang tugas kita sbgai mhasiswa bgaimana cara melakukan perubahan dan pergerakan itu..dimulai dari skrg..
    orang yang skrg menjadi pemimpin,dulunya adalah mahasiswa….
    jangan sampai idealisme ini tergadaikan..
    amin.
    wallahu’alam bishawab..

    • batua sanak…
      patang2 ko wak acok TA lo ma…
      tapi untung di ingekan juo kwan wk tu…
      insyaAllah ke depan wk buek nihil lah..aamiin…

      barisi dan padek coment sanak ko…
      mantap…
      HIDUP MAHASISWA…!!!

      *rajin juo baco blog ambo ma…
      mantap tu…🙂

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s