Awalnya…


Kali ini mencoba merenungi kembali perjalanan jiwa ini. Sungguh berat memang. Perjalanan yang telah dipilih ini, sebab hidup adalah pilihan, berawal dari keegoisan hati ini tuk ‘mencoba’ jalur lain yang telah disediakan. Euforia diawal memang tak sebanding dengan semangat yang mulai luntur. Bukan bermaksud tuk mengeluh, namun mencoba mengekpresikan rasa ini ke dalam tulisan, agar tetap abadi sepanjang masa, supaya bisa menjadi guru yang baik di kemudian hari.

Awalnya pindah ke jalur yang jauh berbeda ini merupakan hal yang sepele ku pikir, tak jauh bedalah dengan jalur pendahulunya. Semakin hari semakin besar gap yang muncul. Awalnya, ku pikir jalur ini menyediakan berbagai kemudahan/ kelonggaran dalam berinteraksi, tapi kondisi di lapangan memutar balikkan itu semua, memang dalam hal kasat mata itu mudah, malah dikatakan asyik lah, tapi jauh di dalam “sini”, banyak singgungan-singgungan yang kerap terjadi. Wajar ku pikir, masih dalam adaptasi. Tapi ini tidak bisa dibiarkan, kalo begini terus mungkin saja di ujung jalur ini akan menjadi mereka-mereka yang berguguran tanpa sebab, aku tak mau seperti itu. Tidak mau!!

Awalnya dengan jalur ini aku anggap telah berada di posisi yang nyaman, namun sekali lagi itu hanya kamuflase. Keegoisan masih menguasai diri ini. Belum bisanya menguasai kondisi seperti ini yang membuatku gamang tuk tetap bertahan, tapi aku masih punya keyakinan tuk berubah, tuk mampu adaptasi.

Awalnya dengan jalur baru ini, aku tidak terlalu memikirkan kondisi “hati” (ruhiyah-red), namun lagi-lagi berbeda jauh sangat disini, dibutuhkan kondisi yan benar-benar prima menghadapi godaan yang muncul, kalo dahulu cukup 1 ranah yang akan kita pelototi, sekarang malah 2 ranah yang harus dipelototi. Harus bisa ekstra menjalaninya, kalo tidak bisa, bersiap-siap sajalah tuk tersungkur  perlahan-lahan.

Awalnya dengan jalur baru ini aku bisa “bebas” tuk sejenak dari rutinitas yang sempat dianggap beban, maklum dahulunya dengan kondisi minim SDM dan juga perbedaan cara pandang masing-masing SDM. Namun lagi-lagi bayangan semu itu hilang menguap ntah kemana. Berat, sangat berat. Tidak bisa “bebas” sekehendak hati, sebab ini telah mencakup yang lebih luas,sangat luas mungkin dan itu lagi-lagi menuntut kerja ekstra di tengah hedonisme dan apatisme lingkungan sekitar.

Itulah mungkin sedikit persepsi awal memilih jalur ini, yang mau tak mau otak ini harus mampu menghadapi ini semua. Asalkan di dalam “jiwa” ini masih punya yang namanya KEYAKINAN dan KESUNGGUHAN tuk BERUBAH, maka tak akan ada yang namanya kesia-siaan, tak kan ada yang namanya asap yang hilang tak berbekas.

Makin mendalami jalur ini, makin kelihatan betapa “ceteknya sungai” yang pernah dilalui, betapa kerdilnya ilmu yang telah terserap di jiwa ini. Tapi kembali lagi kepada keyakinan dan kesungguhan tuk berubah, MAN JADDA WA JADAA !!!

Semoga dengan memilih jalur lain ini, sahabat di luar sana yang pernah terikrarkan akan bersama-sama mengarungi jalur pendahulu tidak terkecewakan, semoga jalur ini bisa menjadi ladang amal baru yang akan menjadi penolong di hari esok. Aamiin ya Rabb.

8 thoughts on “Awalnya…

  1. aamiin ya Allah…
    “ilmu dari guru, ujiannya dibelakang.. ilmu dari pengalaman,ujiannya di depan”.. 🙂
    jadikan rasa gamang itu mnjadi pemicu untuk lebih produktif, banyak belajar, memperbaiki diri, dan menjadi lebih baik… Semuanya skenario Allah..
    syukuri apa yang sedang dijalani karena hikmah itu berserakan ada dimana-mana, tinggal kitanya saja yg bisa memetik hikmah itu..menjadi semakin kuat ? atau mundur sebagai pecundang hanya karena tidak nyaman ? 🙂
    keluarlah dari zona nyamanmu Nak *sok ibu-ibu

    “Boleh jadi engkau tak suka padahal baik menurut Allah bagimu. (QS.Al-baqarah : 216)

    Alam takambang jadi guru ^__^
    dimanapun berada, semoga bisa mnjadikanny sbagai pembelajaran yg brmanfaat ^__^

    *huah, lah lamo ndak blog walking, coba2 berkunjung ntuak nyari foto afikah ko mah..
    lamo maah >,<

      • @try : alam takambang itu sodaranya si alam mbah dukun, mungkin juga sodara jauh ustad alam prastowo…hehe
        alam takambang itu kalo di-Indonesiakan : alam terkembang, jadi gak bisa dimaknakan cuma alam takambang doank.
        harus sepaket : alam takambang jadi guru, dimana kita sebagai manusia menjadikan alam yg luas ini, yang “gadang’ ini sbagai tempat belajar, sehingga alam ini akan menjadi guru yg bijak buat manusia kalo memang benar2 bisa diresapi maknanya…itu semacam pepatah minangkabau…

        mungkin cek gu iya bisa nambahi…hehe…

      • neh,bawak2 namo k’ alam,.dak sopan y.

        owh,it artinya,.
        alam itu luas dan dapat mengambil pembelajaran bgi kehidupan,.
        maklumlah dx tau istilah,kiroin alam pertambangan.hhe

  2. maen k rumah tetangga, tinggalkan oleh2…

    kadang keluar dari zona aman mmg punya tantangan tersendiri.
    ya..tantangan to melompat lebih tinggi.
    smg istiqomah

    *berat bahasa komen ini….

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s