Rumah Baru, Pemahaman Baru


Alhamdulillah, Allah masih berikan kesempatan buat menulis lagi. Setelah sekian lama vakum disebabkan beberapa hal. Sedikit flashback 5 bulan kebelakang. Dimana saya mempunyai “rumah” baru. Kata orang sih rumah ini keren bin spesial, tapi bagi saya mah biasa saja, sebab dimana pun kita berada hendaklah kita tetap menebar kebaikan. Sehingga dimana pun “rumah” baru itu, tidaklah menjadi keren bin spesial ketika kita belum bisa berbuat apa-apa disana. Yang pastinya berbuat tuk menebar benih-benih membangun peradaban disana.

Yang namanya baru selalu identik dengan adaptasi. Tak terkecuali disini. Lahir dari rahim yang identik dengan Islamnya mengharuskan saya berada di koridor ini. Begitupun disini, di “rumah” baru. Butuh adaptasi bagi orang-orang seperti saya yang diibaratkan bagai ulat yang masih “unyu” dan lugu (imut2-red),hehe😀

Back to topik ya. Beginilah rumah baru ini, mengajarkan saya bagaimana bisa bertahan, bagaimana bisa nyetel dengan alunan-alunan harmoni yang telah ada sebelumnya. Saya yang masih tidak paham mengenai masalah ini masalah itu, dipaksa harus paham. Kalo tidak paham juga, ya teman-teman tau sendiri akibatnya. Hanya akan tinggal nama di kemudian hari, *ups. Tapi karena watak saya yang memang begini, agak susah mungkin nyetel dengan alunan harmoni  yang telah ada sejak zaman dahuluuuuuu kala. Dimana yang namanya “bergerak” harus lah idealis dan terkonsep. Padahal kondisi lapangan sekarang telah berubah. Tidak lagi zamannya harmoni itu terus dibunyikan dengan lantang. Harus ada ritme-ritme yang kita buat. Agar harmoni yang lantang itu terdengar aduhai bagi yang mendengarkannya. *janganGoyangYa. #eeaaaa

Memang idealnya harmoni itu lantang, namun dibalik itu semua janganlah terlalu skeptis dengan perubahan-perubahan yang ada sehingga muncul nada-nada minor yang merusak lantunan harmoni itu. Saya pikir para sesepuh terdahulu paham akan hal ini, namun kembali ke kita-kita yang menjadi pemain orkestra harmoni ini. Bagaimana kita memainkan peran masing-masing, ada yang sebagai pianis, sebagai dirigen, sebagai pemain biola dan lain sebagainya. Kita mempunyai peran masing-masing agar lantunan harmoni ini aduhai didengar, namun jangan sampai kita tidak bisa meng-improvisasikannya.

Masih banyak penonton orkestra ini yang mengharapkan lantunan harmoni yang aduhai dari kita semua. Jangan sampai keegoan diri ini mengubur seni-seni yang akan tercipta. Hidup ini memang pilihan, ada ataupun tidak adanya kita peran itu akan tetap ada yang mengisinya.

Tunggu dulu, tadi bahas rumah baru, sekarang kok sampai di orkestra?? :bingung:

Kok jadi begini yaaa….tak apelah. Semoga yang membaca ini diberikan oleh Allah sebuah keajaiban agar mengerti alur cerita ini. Sehingga saya tidak perlu lagi tuk mengembalikan cursor keyboard ini keatas buat sekedar mengganti redaksi kata-kata.hehe J

FAE @Musolah_KayuFASILKOMUnsri | 11.44 AM | 30052012

15 thoughts on “Rumah Baru, Pemahaman Baru

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s