Perfecto !


Perfecto !. Sempurna !. Sebuah keniscayaan tiap manusia untuk selalu ingin yang terbaik dalam hidupnya, biasanya identik dengan kesempurnaan. Entah itu sebuah awal, proses, hasil, ataupun lain-lain. Saya sebut orang seperti ini dengan sebutan perfeksionis. (biasanya memang itu ya sebutannya) Begitu pula seorang pemimpin. Banyak hal dalam kepemimpinannya yang kudu harus sempurna. Baik dari persiapan sebuah moment, jalan-nya sebuah moment ataupun hasil akhirnya.

Mereka yang termasuk kedalam tipikal pemimpin perfeksionis, harus siap-siap bekerja ekstra. Sebab mereka harus serta merta menjamin apa yang dipimpinya menjadi perfecto. Apapun kondisinya (biasanya). Mereka ingin hasil kerja mereka diatas rata-rata kebanyakan orang. Orang-orang bekerja dengan proses dan hasil A, maka mereka harus bisa A+, bahkan A++++++. Masalah kualitas output yang dihasilkan jangan ditanyalah, mayoritas mereka menjadi legenda. Menjadi pahlawan. Mereka akan selalu diingat dengan hasil-hasil yang mereka telurkan.

Namun, tidak selamanya pemimpin perfeksionis itu keren bin dahsyat. Mereka juga punya kelemahan. Diantaranya mereka bisa jadi kurang disukai oleh staf atau anggota mereka. Why? Mereka punya obsesi yang tinggi, namun obsesi itu tidak menular kepada anggotanya. Sehingga tidak jarang banyak anggotanya yang mengeluh bin stress. Sang bos sudah bekerja ekstra; maka mau tak mau, sadar tak sadar anggotanya harus bisa menyelaraskan pekerjaan yang ada dengan sang bos.

Masalah lainnya yaitu minimnya kreativitas. Bukan pada pemimpin, namun pada anggotanya. Mereka akan terkekang oleh kreativitas sang bos. Saking besarnya obsesi sang bos tadi yang diejawantahkan melalui kreativitas pribadi, akan mengalahkan pengejawantahan kreativitas para anggota. Bisa jadi kreativitas si bos tidak disenangi oleh para anggotanya. Akan terjadi persaingan tarik menarik antar molekul kreativitas disini. Banyak hal lainnya yang bisa terjadi, namun contoh diatas cukup menggambarkan efek yang bisa tumbuh subur di kalangan pemimpin perfecto.

perfecto

Bukan bermaksud menyalahkan pemimpin atau anggotanya, namun disinilah sesungguhnya pembelajaran itu akan terasa. Learning by doing kalau bahasa kerennya dari kampoeng saya :D.

Hidup berorganisasi mengajarkan pemeluknya tuk bisa belajar dari apa yang mereka rasakan, apa yang mereka dengar, dan apa yang mereka terima. Tidak selamanya kondisi yang dirasakan rada-rada susah kok, ada saatnya ke-manis-an kondisi yang akan menjadi memori abadi masa depan. Ini opini saya, jikalau banyak yang kurang setujah ya silahkan. Toh, pengalaman kita juga berbeda kan? 😀

…bersambung…

#SerialDipimpin

Advertisements

2 thoughts on “Perfecto !

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s