Malam 121112


Hmmm. Hari ini merupakan hari kuliner bersejarah dalam kehidupanku. Sebuah hal penting telah aku lakukan hari ini. Sebisa mungkin aku kan mengingat tanggal ini, tanggal 12 November 2012 / 12-11-12. Aku telah melanggar ritual sakral itu. Tak terbayang bagiku tuk melanggar kebiasaan itu. Bermula dari ajakan sohib tuk mampir ke Persada. Aku tak mau salahkan dia. Jangan, terlalu naif tuk menyalahkan orang lain. Diri inilah yang seharusnya bisa menahan nafsu. Tapi itulah manusia, punya kadar nafsu yang berbeda-beda. Punya akumulasi rasa yang berbeda dan unik. Jangan pernah menyamaratakan persepsi seseorang dalam memandang sebuah hal. Itu semua anugerah dari langit tuk umat manusia.

Kembali lagi ke kasus ini. Bagi orang lain ini merupakan hal biasa. Terlalu sederhana mungkin, tapi bagiku? Sampai-sampai aku melaporkan hal bersejarah barusan ke blog ini, semacam report tuk kalian. Kalian harus mengetahuinya, kenapa? Agar suatu saat ketika kalian menghadapi kondisi layaknya diriku saat ini. Kalian telah punya modal dari pengalamanku. Cukuplah aku menjadi korban, cukup seorang.

Ketika otakku kebingungan tuk memilih apa, tanganku telah mampir ke suatu wadah. Berisi cairan-cairan kehijauan diselimuti daun kehijauan. Tak apalah. Ketika bingung melanda diriku kembali, aku jadi galau, seleraku membuncah. Suasana sekitar yang lembab lagi dingin semakin menguatkan tekadku, mereka mampu mengalahkan logika tuk bisa membuat sejarah, memecahkan habits yang tak pernah aku lakukan selama berada di kota Pempek ini. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Sriwijaya tak pernah terpikirkan tuk melakukan ini.

Dahulu kala emang pernah mencobanya, tapi tidaklah selengkap malam ini. Paling hanya “nyongkel” punya teman, sekedar tahu saja. Takut dikatakan orang sini katrok, udah 4 tahunan di Sumsel belum pernah nyubo ini. Tapi akhirnya malam ini, semua yang kuyakini selama ini luntur perlahan-lahan. Awalnya ngeri tuk melihatnya apalagi tuk “menghirupnya”, tapi kuberanikan diri. Apalagi di depanku ketika berhadapan dengan yang “itu”, berdiri berduduk sesosok pemuda tanggung yang siap memecahkan urat-urat ketawanya.

Perlahan…perlahan…masuk ke dalam rongga-rongga pipa tubuhku. Cairannya mengalir dengan lambat. Perlu diresapi terlebih dahulu sebelum berujung di saluran ini. Hangatnya pas kurasa. Aku yang notabene berasal dari Tanahnya Pesantan dipaksa tuk berubah selera malam ini. Inilah Indonesia, dimana kaki berpijak, disanalah selera harus berubah. Mencoba semangkuk penuh Pindang Patin emang memecahkan logika-logika sesat yang ada. Harmoni dalam Rasa. Selamat malam, selamat istirahat. Tuk hal baru ini, biarlah menjadi selimut masa depanku.

17 thoughts on “Malam 121112

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s