3puncak 2hari 1lembah


”Kita hanya butuh kaki yang berjalan lebih jauh, tangan yang akan berbuat lebih banyak, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras, serta mulut yang akan selalu berdoa.“ [5cm]

Kata-kata diatas awalnya kuanggap biasa saja, sebatas pemanis tuk menjadi Trending Topic tuk novel 5cm. Yap, kan menjadi kata-kata yg selalu diingat ketika terlintas ‘5cm’. Tapi sekarang tidak lagi bagi diriku, sebab kata-kata diatas sungguhlah keramat terhitung sejak 5 Januari 2013. Sebuah rangkaian kata yang saling terhubung, yang saling melengkapi pastinya. Sebuah quotes yang benar-benar akan dirasakan ketika kita menjadi aktor di lapangan. Pengalaman itu memang mahal harganya. Makanya tak salah ketika pengalaman akan menjadi guru yang paling berharga, saking mahalnya harga yang harus ditebus.

Dempo yg kokoh !
Dempo yg kokoh !

***

040113 – merupakan tanggal keberangkatan tuk menuju puncak keajaiban. Beranggotakan 11 orang kami berangkat menuju Pagar Alam. Menggunakan pesawat darat “Melati Indah” kami take-off jam 4an. Dari 11 orang yang ada ini, hanya 1 orang saja yang telah pernah merasakan puncak Dempo. Yap, Dempo merupakan tujuan kami kali ini. Kami harus bisa menaklukkannya, meskipun itu masih berada di lintasan pikiran kami semua. Canda tawa mengiringi perjalanan kami, dibumbui cerita-cerita gokil tentang “mereka”, tentang tujuan kami nantinya, tentang mimpi-mimpi kami, dan cerita-cerita aneh bin ceria lainnya.

050113 – Tiba saatnya tuk pendakian. Personal kami bertambah menjadi 13 orang, transferan dari Lahat. Cuaca dingin menyambut kami ketika bangun tidur dan bergegas ke Mesjid pada subuh hari. Cuaca dingin khas pegunungan meresap ke tulang-tulang ceking kami semua. Geli-geli sedap rasanya. Sekitar jam 8an kami sudah berada di Rimau. Rimau merupakan salah satu gerbang pendakian ke puncak Dempo. Tepat pk 8.50 setelah terlebih dahulu Dhuha dan pemanasan, kami memasuki gerbang Dempo. Kami memasuki altar pekarangan Dempo. Kami disambut kicauan para penghuni kaki Dempo. Dempo sangat kokoh berada didalam sana. Oiya, ketika di Rimau kami disambut kawanan kabut, sehingga kami seolah-olah berada di dunia lain. Kebun teh yang menjadi landmark Pagar Alam pun tidak bisa kami nikmati keelokannya.

Rimau
Rimau
Rimau Euy!
Posko Rimau
Gerbang Rimau
Gerbang Rimau

Target waktu sampai ke puncak tidak bisa kami putuskan, sebab kami hanya sekumpulan pemula. Kami sangat berterima kasih kepada 2 guide kami, bang AA dan bang IFW. Tanpa mereka mungkin saja pertualangan kami ini tidak kesampaian. Dank yu;Syukron;Arigato Gozaimasu; hanya itu mungkin yang bisa kami berikan bang. Terutama bang AA yang keren banget, kami memanggilnya Big Bos. Salute for you bro!!

Awalnya perjalanan kami ceria banget. Udara khas pegunungan kami hirup dalam-dalam. Sangat langka kami rasakan sensasi seperti ini jika berada di Palembang ataupun Indralaya. Lebih kurang 1jam-an kami sampai di shelter1 (tempat pemberhentian resmi). Yeah! Dengan asumsi hanya 2 shelter yang ada, kami berharap puncak semakin mendekat ke kami. Shelter 2 pasti juga dekat, ternyata itu semua hanya ilusi. Semakin kepuncak kadar oksigen yang ada semakin menipis, semakin jauh pula shelter 2.

Shelter 2
Shelter 2

Perjuangan baru terasa ketika telah melewati shelter 1. Fisik yang sudah ngos-ngosan. Daya tahan tubuh yang semakin redup. Semakin ke atas, detak jantung semakin berlari. Berdetak dengan dug dug dug lebih cepat dari normalnya. Kondisi trek yang semakin ekstrim. Beruntungnya kami hari itu tidak turun hujan selama pendakian ke puncak, hanya disambut gerimis dan nyanyian angin. Tentang nyanyian angin ini awalnya kupikir gemuruh ombak lautan, ternyata salah. Suaranya cetar membahana banget. 2 jam sudah berlalu. 3 jam pun terlewati. Puncak pun masih belum ingin bertemu dengan kami.

Pendakian Dimulai
Pendakian Dimulai
Memanjat Dimulai
Memanjat Dimulai

Kondisi trek yang becek dan berlumpur tak menghalangi semangat kami menuju puncak. Disini kan terasa quotes 5cm diatas. Benar-benar diuji semua kompetensi kita. Aku pun sempat berniat tuk berhenti sajalah di pertengahan jalan, kondisi fisik saat itu memang benar-benar terkuras. Untung saja materi ukhuwah sudah khatam semua di antara kami. Itsar benar-benar diuji disini. Memang dibutuhkan semua hal yang terdapat dalam quotes 5cm tadi.

Aku pun teringat salah satu rekan Pagar Alam yang mengantarkan kami ke Rimau, “kalian jangan sampai kalah sama akhwat (cewek), kemaren ada mbak dari Unsri juga yang mengarang novel Pegunungan telah sampai ke puncak.” Itu juga menjadi trigger bagi kami tuk bisa ke puncak. Masak sama akhwat be kalah, apa kata dunia persilatan.hehe. Aku juga baru tahu bahwasanya Dempo pernah dilanda kebakaran, dimana puing-puing hitam legam yang masih membekas disana. Bekas kebakaran itu malah menjadikan tempat ini WOW banget. Kami berhenti sejenak disini tuk merasakan pemandangan dibawah sana. Serasa berada di atas samudra langit. Subhanallah !! Fabiayyiala irabbikuma  tukaziban.

Samudera di atas awan
Samudera di atas awan
Subhanallah !
Subhanallah !
amazing !!
amazing !!

Jalanan yang terjal, oksigen yang mulai langka, kabut yang menghadang, pori-pori yang semakin menciut, kicauan yang mulai sunyi, dingin yang mulai menggelitik, hutan yang semakin eksotis. Sensasinya sungguh berbeda.

***

Memasuki pk. 15an kami sampai di suatu tempat. Aku berada dibelakang, istilahnya sweeper. Mengapa rombongan depan teriak-teriak. Ada apa gerangan disana. Ketika itu terjadi aku masih berada di hutan yang karakteristiknya seperti hutan-hutan di film Harry Potter. Eksotis banget. Aku pun tersadar ketika sampai ditempat rekan-rekan tadi. Ternyata itu salah satu puncak Dempo, puncak Catim namanya. Akupun sujud syukur disertai turunnya butiran air mata. Aku benar-benar merasakan sensasi yang berbeda saat itu. Beberapa rekan juga sujud dan ada juga yang menitikkan air mata, ternyata aku gak sendirian,hehe. Kami pun tak lupa tuk mengabadikan momen ini.

sujud di puncak Catim, Dempo
sujud di puncak Catim, Dempo

Bahkan kami membuka sebuah majelis disana atas inisiatif salah satu rekan. Basmallah, puji-pujian, shalawat dan pembacaan Ar-Rahman pun terurai disana, dilanjutkan sedikit materi dari Masul Safar (pemimpin perjalanan).

“Bagi anak mapala naik gunung bukanlah kegiatan tuk menaklukkan gunung, melainkan tuk menaklukkan diri sendiri”, ujar Masul kami. Bang AA juga berkata, “melawan gunung pun kalian kewalahan, gimana mau melawan Allah”. Benar-benar menyegat pikiran dan jiwa kami saat itu.

Hari itu kami benar-benar merasakan energi Sang Kuasa yang telah mengantar kami selamat hingga ke Puncak. Alhamdulillah !!

hanya di Dempo !
hanya di Dempo !

***

Kami pun segera turun menuju tempat berkemah. Lembah Parapuyang namanya. Tempatnya keren banget, banyak tanaman “panjang umur” disini. Mereka membentuk koloni tuk menyambut kami. Segera tenda ditegakkan. Malam pun menyapa kami. Sekitar pk. 20an badai mulai menghampiri kami. Kami pun hanya pasrah di dalam tenda, semoga besok pagi badai telah reda hingga kami bisa mampir ke puncak Merapi. Aku pun berujar, “badai pasti berlalu, esok hari yang cerah kan menyambut kami”. Badai malam itu menjadi teman tidur kami, mereka senantiasa menjaga mimpi-mimpi kami meskipun beberapa dari kami masih ada yang terjaga. Malam itu kan menjadi malam minggu terkenang dalam diary_perjuangan kami.

Suhu kisaran 5-10 derajat, kaki yang menggigil, pakaian yang menebal, gigi yang selalu berdentum, kopi yang selalu dinanti, malam yang cepat ingin dilalui. Malam itu kami berasa menjadi orang Afrika yang bertahan hidup di Moskow. Unforgettable moment. Unforgettable night!

lembah parapuyang
lembah parapuyang

060113 – Alarm subuh berteriak lantang. Ternyata badai masih setia menunggui kami di luar sana. Berbekal keyakinan yang mengerucut, semoga badai cepat berlalu ya Allah. Pk.7 telah menghampiri. Kami bahkan tidak sadar jikalau sudah pagi jika kami tidak membawa jam, matahari saat itu seolah malu menyapa kami. Ia hanya bisa menyapa kami dibelakang kawanan kabut tebal. 2 jam berlalu masih sama seperti tadi, badai setia banget sama kami. Care banget ngawasin kami. Akhirnya diputuskan pk. 9an kami nge-pack barang, dan mampir sebentar ke puncak Merapi meskipun badai masih berjaga-jaga di lembah.

Dengan tekad kuat dan memanfaatkan momen yang jarang seperti ini, kami beranikan tuk menggapai puncak Merapi. Tempat dimana kawah Dempo berada. Sambil berharap ketika dipuncak nanti badai bisa berdamai sebentar dengan kami. Hingga bisa menikmati keelokan kawah belerang Dempo. Perjuangan menuju puncak Merapi ini ternyata tidaklah mudah. Terbayang adegan mendaki puncak Semeru di film 5cm.Kami harus susah payah menjaga ritme mendaki. Batu kerikil yang rapuh bisa saja mengenai rekan-rekan yang berada di belakang. Kami harus waspada, ditambah pula terpaan angin kuencang. Sedikit banyak membuat diriku dan beberapa rekan agak pesimis mencapai puncak. Lagi-lagi rekan lainnya saling menguatkan. Alhamdulillah sampai puncak, meskipun badai dan angin belum bersahabat dengan kami kala itu. Mau tak mau kami tidak bisa menikmati kawah Dempo. Sayang sekali.

Puncak Merapi Dempo
Puncak Merapi Dempo

Pk.11an kami turun lagi ke lembah dan bergegas tuk turun gunung. Dengan badai yang masih mengintai, kami tekadkan tuk keluar dari sana. Goodbye parapuyang!

Kami berencana turun Dempo lewat gerbang kampung 4. Terpaksa harus mendaki lagi ke puncak Dempo tuk bisa melewatinya. Tak disangka-sangka kami masih mampir di Puncak Dempo. Awalnya aku pikir salah tempat, sebab kemaren pas di puncak bukan disini. Ternyata aku salah, puncak Dempo memang ada 3; puncak Catim, puncak Merapi, dan puncak Dempo. Subhanallah!!

puncak Dempo
puncak Dempo

Perjalanan turun kami disuguhi sensasi yang berbeda lagi. Hentakan kaki mewarnai kali ini. Jikalau ketika naik Dempo, jantung yang bermain; disini kekokohan kaki yang diuji. Ruar biasa. Banyak rekan-rekan yang terpeleset karena tanah yang lembab dan becek, termasuk aku. Bahkan aku sering pelosotan jikalau ada tanah yang landai. Asyik! Hehe.

Tepat jam 4.10an kami sampai di gerbang Dempo jalur kampung 4. Yeah! Kami berteriak semua, akhirnya selamat anak Agenda08 Unsri disini. Tidak kan muncul headline berita di koran esok hari,hehe.

Pengalaman ini sungguh berbeda. Ruar biasa !!!

Pengalaman naik gunung yang pertama dan tak terlupakan!!

Pintu Rimba Dempo
Pintu Rimba Dempo
Gerbang Kampung 4 Dempo
Gerbang Kampung 4 Dempo
Kebun Teh Dempo
Kebun Teh Dempo

***

Dank yu buat Andi Ahmad ‘Big Boss’ kami hari itu, mantap kali broo!! Dank yu juga buat Kak Ike yang berani menjadi Masul Safar kami.hehe. Buat rekan-rekan Agenda08 : Ricky, Dimas, Zen, Dami, Hendra, Yuanda, Nanang, Syawal, Bani ‘Shinobi’ dan Chory. YEAH!

berhenti sejenak tuk futu-futu
berhenti sejenak tuk futu-futu

32 thoughts on “3puncak 2hari 1lembah

  1. Broh, minta tolong tambahke widget (share, like, samo komen) cak punyo ant, agek ane kasih password samo user WP ane. Ribet ane cari2 n pasang2.hehe 🙂

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s