Akselerasi Sang Pembelajar


Kenyataan hari ini menghendaki pelaku sejarah harus bisa menyusun ide-ide yang cemerlang. Mereka juga dituntut tuk bisa menghadapi segala rintangan yang telah hadir dipelupuk raga. Begitu pula fakta  yang terjadi di kampus dewasa ini, terutama oleh pelaku sejarah disana yang notabene dilakoni oleh aktivis dakwah kampus.

Tak bisa dipungkiri bahwasanya untuk meyelesaikan amanah perkuliahan sesuai harapan orang tua telah menggurita di kalangan aktivas dakwah kampus. Mayoritas orang tua menginginkan anaknya selesai dalam kurun waktu 3-5 tahun. Padahal anaknya seorang aktivis tangguh di kampus. Mengawinkan harapan (orang tua) dan realitas (kondisi kampus) merupakan sebuah keharusan bagi seorang makhluk yang bernama mahasiswa, terutama aktivis dakwah kampus (ADK). Berapa banyak ADK yang belum bisa mengawinkan antara keduanya.

Namun itu semua tidak berlaku bagi seorang pembelajar sejati. Mereka bisa mengawinkan kedua entitas diatas dengan baik. Diperlukan ketahanan mental dan kematangan jiwa tuk bisa menerima masukan-masukan yang ada. Anis Matta pernah berujar, “…begitulah peradaban tumbuh dan berkembang di tangan akal-akal besar, yang sebenarnya juga tidak serba tahu, tapi karena mereka adalah pembelajar sejati. Mereka selalu ingin memahami segalanya secara lebih baik, maka mereka menjawab tantangan zaman mereka secara lebih baik…”

Memahami segalanya secara lebih baik; itu merupakan kunci seorang pembelajar sejati. Tidak perduli apakah si fulan berada di jenjang yunior atau bukan, namun pembelajaran yang dilakukannya telah mampu mengakselerasi jiwanya tuk bisa menjadi seorang yang extraordinary. Melewati pemikiran-pemikiran yang seharusnya masih jauh tuk bisa ia cerna maksudnya.

Memahami segalanya secara lebih baik saja tidaklah cukup, diperlukan tools untuk bisa mengakselerasi pemahaman dini secara benar. Tools yang tersedia saat ini cukuplah banyak, tergantung kepada sang pembelajar sejati tuk bisa merangkainya dengan apik. Diantara tools yang bisa mengakselerasi yaitu : pertama, manhaj yang telah tersusun dengan rapi. Banyak saat ini sang pembelajar yang malas tuk sekedar membaca. Padahal disana telah termaktub dengan lengkapnya dari A hingga Z hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang terjadi serta solusinya. Telah banyak sesepuh yang dahulunya aktor sejarah telah berbagi pengalaman, yang mungkin saja terulang kembali saat ini. Contoh nyata yang terjadi di LDF atau LDK. Mereka yang notabene masih hijau didunia DK (dakwah kampus) seringkali kebingungan mengenai jobdesk yang ada, padahal telah ada sebuah manhaj yang sangat berguna dalam manajemen Dakwah Kampus, atau yang sering kita sebut dengan RMDK ( Risalah Manajemen Dakwah Kampus ) yang telah dikeluarkan oleh FSLDK. Disana telah jelas semua apa-apa yang hendaknya dilakukan oleh sang pembelajar.

Kedua, kedekatan kita dengan Sang Khalik. Bagaimana kepahaman kita kan bertambah ketika yang memberikan ilmu itu sendiri jarang kita temui. Amalan yaumi selama ini yang selalu kendor hingga menyebabkan keringnya ruhiyah. Bagaimana cerebellum mau bekerja optimal, jikalau bahan bakarnya saja jarang diisi.

Ketiga, manisnya ukhuwah. Seringkali ukhuwah yang terjadi saat ini terasa hambar, bahkan pahit. Padahal ukhuwah menjadi bahan bakar utama sebuah peradaban. Rasul pun telah bersabda, “Sesunguhnya di sekitar ArsyiNya ada orang-orang yang wajahnya bercahaya & pakaian mereka pun bercahaya, mereka bukanlah para Nabi ataupun para syuhada, sehingga para Nabi & Syuhada pun iri terhadap mereka”. Kemudian sahabat bertanya: “Siapa mereka wahai Rasul ? ”; Rasul pun bersabda, “mereka adalah orang-orang yang saling mencintai (berjuang di jalan da’wah) karena Allah Swt” (H.R Bukhari). Ukhwah itu tidaklah rumit, tidak pula mahal. Ketika seringnya interaksi yang terjadi sesama sang pembelajar, maka manisnya ukhuwah mulai bermekaran disana. Jangan sampai sesama pembelajar sejati hanya berjumpa ketika ada acara resmi nan formal, sebab manisnya tidak kan berjumpa disana. Perlu sebuah wadah khusus yang menjadi tempat nongkrongnya sang pembelajar yang menjadi pemicu melubernya manis ukhuwah yang selama ini tersembunyi, apakah itu seperti forum, genk, atau lain sebagainya.

Jikalau ketiga faktor diatas sudah bisa terealisasikan dengan baik, insyaAllah akselerasi sang pembelajar akan tercipta sehingga aktor sejarah tak kan kehilangan pesonanya. Sehingga ketakutan kita akan kualitas kader yang memudar bisa terhindarkan di masa yang akan datang.

Wallahu’alam.

8 thoughts on “Akselerasi Sang Pembelajar

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s