Menakar Kuantitas


Mendirikan imperium kebajikan tidaklah mudah. Dibutuhkan proses yang berkesinambungan didalamnya. Terkadang proses yang ada membuat kita terlena sehingga lupa tujuan awal kita berproses ingin seperti apa. Ibarat ingin mengubah sekumpulan bulir beras menjadi sepiring nasi dibutuhkanlah proses. Dimulai dari pembersihan bulir beras terlebih dahulu. Seleksi bulir beras mana yang benar-benar layak tuk diubah menjadi sebutir nasi. Sebab tidak semuanya sanggup berproses. Disingkirkan juga jikalau ada kutu atau sejenisnya yang masih bersemayam di tumpukan beras. Selanjutnya beras dicuci dengan air yang bersih. Setelah yakin beras sudah benar-benar bersih dan layak tuk dimasak, selanjutnya beras dimasukkan ke tempat pemasakan. Sesuaikan kadar air yang digunakan dengan kuantitas beras yang kita masak. Tunggu hingga beras tadi merekah hingga menjadi nasi yang siap tuk dihidangkan.

Itulah sekelumit proses dalam memasak nasi. Disini saya mencoba menganalogikan proses diatas ke dalam pembentukan seorang kader. Tidak semua orang yang layak menjadi kader, sebab tidak semuanya sanggup berproses. Makanya sebelum proses dilakukan, dilakukanlah terlebih dahulu penyeleksian. Kita bisa lihat atlet di luar sana yang dikirim untuk ikut kejuaraan haruslah diseleksi dahulu, begitu pula seorang kader. Setelah di seleksi, kemudian dilakukanlah penyucian jiwa. Disini kan terlihat mana yang benar-benar berkomitmen, yang tangguh, yang benar-benar siap tuk menjadi agent of change, dan benar-benar siap tuk dimatangkan lebih lanjut; baik ruhiyah, fikriyah dan jasadiyah.

Selanjutnya masuk ke proses inti dalam pembentukan seorang kader. Mereka akan ditempa, dibina, diuji dan dimatangkan. Proses ini haruslah tepat. Ketidaksabaran dalam menunggu hasil pematangan akan berefek tidak baik. Bayangkan jika beras yang kita masak tidak sesuai harapan kita. Bisa saja nasinya masih agak keras disebabkan kuantitas air yang tidak proporsional dengan kuantitas beras. Atau sebaliknya, nasinya menjadi terlalu lunak. Tentu mengurangi sedapnya nasi yang akan kita hidangkan.

Perlu kejelian dalam menakar kuantitas air dan beras yang hendak kita satukan. Bagi pemula mungkin agak sulit, sebab belum ada pengalaman tuk menakar. Sebaliknya, bagi yang pernah merasakan proses ini, barangtentu sudah bisa menakar-nakar kuantitas yang hendak digunakan. Proses pematangan ini merupakan hal yang menarik bagi saya, sebab mayoritas selama ini kita terkendala disini. Terlepas dari apakah saya telah bisa menakar atau tidak,hehe.

bersambung…

6 thoughts on “Menakar Kuantitas

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s