mixing_colours_by_ademcave.jpg

Penjaga


Teringat salah satu pesan dari sahabat perjuangan. Bahwasanya yang bisa menjadi penjaga “kita” di jalan ini ada 3 hal : dibina, membina dan amanah.

Dibina

Bukan rahasia umum lagi kita sebagai manusia menjadi biangnya segala kesalahan, sumbernya maksiat. Kita yang “katanya” sebagai umat terbaik yang ada di muka bumi, malah kenyataan hari ini kita menjadi kebalikannya. Label umat terbaik yang diberikan langit kepada kita haruslah benar-benar kita buktikan adanya. Haruslah terejawantahkan kedalam sikap-sikap kita menghadapi dunia yang semakin ke ujung. Lalu bagaimana menjadi umat terbaik itu? Diperlukan sebuah pembinaan yang berkesinambungan. Harus ada yang menjadi rolemodel bagi kita. Adanya sebuah wadah tempat proses bertukarnya ilmu, bertukarnya ide-ide besar. Disana kita dibina tuk bisa menjadi kuntum khaira ummah yang sebenarnya. Meskipun masih ada maksiat-maksiat kasat mata yang dilakukan, kita jangan pernah merasa putus asa. Di wadah tadi yang biasanya disebut usroh, kita dibina untuk tidak berputus asa, sebab Allah selalu punya rencana terbaik yang spesial buat ummatnya. Wadah pembinaan ini yang selalu menjaga dan mengontrol amalan-amalan kita.

Membina

Ibarat air yang tergenang di dalam sebuah wadah, jikalau tidak dialirkan bisa jadi itu menjadi sarang penyakit. Tempat terbaik semisal nyamuk tuk beranak pinak. Begitu juga dengan ilmu-ilmu yang didapat dari proses pembinaan, jangan sampai ilmu itu berhenti di kita. Maka alirkanlah ia, salah satunya dengan membina. Bukankah pekerjaan membina itu pekerjaannya para nabi? Dengan membina kita bisa mengupgrade diri, meningkatkan kapasitas diri. Secara tidak langsung, membina akan menjaga kita tuk menghindari maksiat. Kita tentu akan malu ketika tahu maksiat kita ternyata lebih banyak dari binaan kita. Kita tentu menjadi envy bahwasanya amalan binaan kita lebih bermesraan dengan Sang Pencipta dibanding kita. Jangan sampai kita melewatkan pekerjaan mulia ini.

Amanah

Agak sulit mendeskripsikan mengenai amanah ini, sebab Imam Ghazali berkata, yang paling berat di dunia ini adalah amanah. Lalu bagaimana dengan logika bahwasanya amanah bisa menjaga kita? Setidaknya amanah kan menyibukkan kita dengan proyek kebaikan. Sebab waktu kosong bagi pemuda sangatlah rawan, jikalau tidak diisi dengan proyek kebaikan, maka sang syeitan yang mencoba tuk berinvestasi di waktu luang kita. Barangtentu sebuah kerugian tuk masa depan di akhirat ketika waktu luang diisi maksiat yang disponsori oleh syeitan.

Tulisan ini ditujukan terkhusus kepada diri sendiri (penulis-red) yang sering kehilangan penjaga, semoga tulisan ini bisa memantik diri ini tuk bisa terjaga lebih baik lagi. Wallahua’lam.

6 thoughts on “Penjaga

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s