anak-kecil-berjilbab

Jilbab pekaes


Mami : dit, teman cewek kamu itu ikut pekaes ya?

Gue : memang kenapa mam?

Mami : gak, cuman nanya. Lihat tuh jilbabnya besar-besar semua. Kayak jilbabnya istri wakil walikota, pak Mahyeldi. Istrinya juga pake jilbab besar kayak gitu. Kayaknya semua cewek pekaes pake jilbab yang besar.

Gue : ooo, mungkin saja. Mereka kawan-kawan di kampus kok. Kalo gak salah mereka ikut pesantren (pesantren kampus a.k.a tarbiyah ujarku dalam hati).

Mami : hhmmm…

 anak-kecil-berjilbab

Itu sedikit dialog singkat yang terjadi di awal tahun 2012. Kebetulan saat itu rombongan kawan-kawan kampus berkunjung ke kota Padang. Mereka menginap dirumah selama 2 hari. Kalo di kota Padang memang tak heran tuk berjumpa dengan cewek-cewek berjilbab. Sebab semua sekolah negeri dan sebagian sekolah swasta telah mewajibkan siswinya untuk menggunakan jilbab. Mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas telah mewajibkan berjilbab tuk semua siswinya.

Sedangkan di kampus-kampus, kondisi mahasiswi tidaklah jauh berbeda dengan di sekolah negeri. Kota Padang yang terkenal dengan nuansa Islam yang kental membuat mayoritas warganya memakai jilbab. Apalagi di kampus yang berisi kaum intelektual, mayoritas mahasiswinya memakai jilbab. Tapi, jilbab yang dipakai masih sekedar mengikuti tren saat ini. Belum memenuh standar jilbab syari.

Nah, jilbab teman-teman gue tadi ini besar-besar semua. Bisa dikatakan udah sesuai dengan kaidah syari. Sekarang pertanyaanya, kok bisa mami gue mengidentikan jilbab besar dengan jilbab pekaes. Padahal jilbab besar (kita anggap jilbab syari disini) adalah jilbab yang seharusnya digunakan muslimah. Bisa dikatakan jilbab ideal. Bukanlah jilbab yang ada tonjolan meruncing di atas kepala, atau jilbab dengan balutan yang tebal (berbelit pasti cara makainya yaa).

Sekarang ada 2 point bagi gue; pertama syiar pekaes yang udah membumi dalam hal mencerdaskan muslimah dimana mencontohkan jilbab yang ideal. Hingga dimanapun berada, ketika ada muslimah dengan jilbab besar (biasanya disebut jilbaber) bisa dikatakan jilbab pekaes. Padahal belum tentu muslimah itu ikut pekaes. Kedua, syiar dari masing-masing organisasi dakwah baik di kampus maupun di masyarakat tuk lebih gencar mensosialisasikan jilbab ideal tadi, sehingga  tidak ada lagi yang mengatakan jilabab pekaes, tapi jilbab yang benar-benar islami. Jilbab islam sesungguhnya sesuai dengan Quran dan Hadits [].

Ini ceritaku, bagaimana ceritamu?

15 thoughts on “Jilbab pekaes

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s