alm.Razzaq


Ketika membuka efbe, sontak memori masa lalu hadir kembali. Seakan menyelami pensieve-nya Dumbledore. Aku tak ingat lagi kapan kenangan terakhir akan dirinya masih membersamaiku. Si Dheo adikku mengingatkanku tentang alm. Razzaq. Tak terasa 10 tahun sudah dia meninggalkan kami semua. Kucoba kembali menyelami pensieve yang harus diuraikan dalam kata-kata. Sebab banyaknya input kedalam cerebellum ini bisa saja melupakanku suatu saat nanti.

***

22 Mei 1999

Kalau tak salah saat itu aku masih kelas 4 SD. Hari itu Allah menitipkan seorang manusia yang kelak harus aku ayomi. Aku pun naik tingkat menjadi abang dengan 3 adek. Tak disangka yang lahir itu pun bergenre laki-laki. Pasti bertambahlah kegaduhan rumah saat itu. Sebab 3 orang sebelumnya pun juga lelaki semua. Jadilah kami keluarga militer kalau kata orang-orang tua dikarenakan anak-anak dari Eddy-Nafrita ya lelaki semua. Dia dinamai M. Ryan Ar-Razzaq Emozha.

10 Juni 2002

Semakin lengkap keluarga militer kami, sebab jagoan kelima pun juga laki-laki. Harapan orangtua dengan menambah keturunan ialah supaya lahir seorang putri yang akan menjadi kawan perempuan tuk mami nantinya, tapi apalah daya sebab seorang jagoan laki-laki yang Allah amanahkan kepada orang tua kami. Komplitlah kegaduhan rumah kami dengan 5 anak laki-laki. Cukuplah ini yang terakhir ujar mamiku. Ternyata ketika kita bersekolah baru tahu sakitnya melahirkan, tak terbayang dahulunya mami melahirkan kami semua. Semoga kami masih bisa berbakti padamu mami. Oiya, anak ke 5 ini dinamai M. Farhan Emozha. Ternyata setelah diperhatikan secara seksama si Farhan ini mirip dengan Razzaq.

Awal tahun 2003

Saat itu aku kelas 1 SMP. Sore itu si Razzaq masuk ke dalam got (selokan;red). Aku tak tau persis kronologisnya, yang pasti ketika itu ia naik sepeda dan kecebur ke got. Dan celakanya kepalanya yang terbentur. Memang tak berdarah, namun pasca itu diperhatikan secara seksama kepalanya agak membesar. Maka segeralah orang tua membawanya ke dokter. Diagnosa dokter awalnya hanya bengkak biasa karena kejedot. Namun si Razzaq selalu mengeluhkan kepalanya yang sakit-sakitan. Maka saat itu juga di USG dan CT-Scan (kalo dak salah, agak lupa namanya). Ternyata ada pembengkakan di dalam otaknya. Seketika diagnosa dokter si Razzaq ini terkena tumor otak. Langsung shock kedua orang tua ku saat itu. Kami yang masih kecil saat itu juga tidak mengerti apa-apa. Meskipun sudah SMP, namun penyakit itu masih terlalu tabu bagiku.

Tak lama berselang, dilakukan lah opname di RSUP M. Djamil Padang. Orang tuaku sibuk mengurus keperluan untuk di RS. Adek ku yang terakhir, si Farhan yang masih berumur kurang dari 1 tahun menjadi tanggung jawabku. Jadi sepulang sekolah, aku dan si Dheo yang merawatnya. 1 bulan opname di RSUP tak ada kemajuan yang berarti, dokter menawarkan operasi. Setelah diadakan rapat di keluarga besar kami, hasilnya menunda untuk operasi. Sebab ada pengobatan tradisional di Bukit Tinggi, Payakumbuh, Lubuk Alung dan tempat lainnya yang selama ini bisa menyembuhkan pasien tumor. Maka 1 bulan lebih orang tuaku bolak balik Pdg-keluar kota tuk merawat adekku. Mamiku yang seorang PNS pun ternyata mendapat support dari kawan-kawan di kantornya. Kalau tidak salah bos mami memberikan cuti hingga adekku itu sembuh, sebab mereka juga merasakan apa yang mami kurasakan.

Ketika di Bukit Tinggi, orang sana menyarankan tuk mengganti panggilan si Razzaq, sebab asma Allah itu yang artinya Pemberi Rizki terasa berat tuk menjadi panggilan si Razzaq. Maka saat itu diganti panggilanya jadi Ryan. Aku tak tau pasti masalah “berat atau tidaknya” seperti apa, sebab masih kecil saat itu.

Dulunya aku masih bertanya dalam hati mengapa si Razzaq tidak kunjung dioperasi, namun aku takut untuk menanyakannya. Sebab ku pikir kan menambah beban moral orang tuaku yg dijejali pertanyaan kayak itu. Mereka lebih pahamlah, sebab banyak juga kawan papi dan mami yang dokter. Sekarang baru ku paham, ternyata operasi itu tidak lah menyenangkan. Terutama untuk anak kecil. Ibarat kata membunuh secara perlahan-lahan.

Setelah hampir 1 bulan tidak ada kemajuan yang berarti di Bukit Tinggi, maka Razzaq dibawa kembali ke Padang dan diopname di RSK. Yos Sudarso. Waktu itu Yos Sudarso ialah RS terlengkap dan terbagus kalo tidak salah. Yang membuat aku tidak sanggup melihat si Razzaq ialah kumpulan alat bantu yang hinggap di tubuhnya. Dimulai dari oksigen buatan yang nempel di hidung, tali infus, alat sedot dahak di mulut, dan lain-lain. Aku membayangkannya sekarang ketika semua alat bantu itu hinggap di badan kita. Kalo tidak salah ketika beberapa hari opname di Yos Sudarso keadaan Razzaq sudah koma.

Waktu itu aku masih belum mengerti, sungguh malangnya diriku saat itu. Tugasku saat itu cuma satu, jaga adek-adekku. Mami papi fokus ke Razzaq. Nenek dan atuk didatangkan dari Binjai. Sebagai abang sulung, aku bertanggung jawab penuh pada adekku.

Ku perhatikan lekat wajah mungilnya yang sungguh tidak berdaya bersama alat-alat itu. Membayangkan tawa riangnya. Razzaq itu anak yang cerdas, anak yang suka menyapa. Dulu ketika pulang sekolah sering mampir ke rumah oma, hampir semua orang disapanya. Makanya banyak yang bertanya-tanya pada oma ketika dia tidak lagi kelihatan. Ketika dia diopname, banyak yang kehilangan senyum polosnya. Bahkan ada keluarga yang tidak kami kenal sama sekali, kenalnya pas di RSUP, sesama pasien. Waktu itu Razzaq masih bisa berbicara dan tertawa. Keluarga ini menjadikan Razzaq seperti anaknya sendiri, sebab sifatnya yang penyapa dan riang itu. Setelah keluarga itu keluar rumah sakit, mereka masih sering melihat Razzaq.

Awal Mei 2003

Kondisi Razzaq semakin memburuk. Seluruh keluarga disuruh tuk berkumpul. Bahkan yang dari Jawa kalo bisa pulang ya pulang. Jadi hasil kesepakatan keluarga si Razzaq (kalo tidak salah) tanggal 9 atau 10 Mei dibawa pulang saja. Sebab kami tak tega melihat kondisi balita mungil dengan seabrek peralatan medis yang antah berantah melilit tubuhnya. Serta adanya tanda-tanda agar dibawa pulang saja, sebab kayaknya “pengen pergi dari rumah”. Setelah konsultasi dengan dokter, Razzaq pun dibawa pulang. Ada beberapa alat yang ikut serta diboyong kerumah (tabung oksigen dll).

Kami dirumah beranggapan si Razzaq sehat, jadi terus kami ajak bicara dan ngobrol. Meski kami tidak tau apakah dia mengerti atau tidak, dikarenakan masih dalam keadaan koma tadi. Masih tak terbayang bagiku badan kecil itu dililiti tali oksigen dan infus.

razzaq

Dini hari 12 Mei 2003

Tengah malam kondisi si Razzaq mulai kejang-kejang. Maka semua anggota rumah dibangunkan. Atuk memeriksa kaki si Razzaq yang mulai mendingin. Maka untaian adzan dikumandangkan di telinganya. Keluarga di luar kota (Pekanbaru, Palembang, Jakarta, Medan dll) segera dihubungi tuk bisa segera ke Padang. Keadaan rumah saat itu tak terbayangkan lagi. Bergantian papi dan atuk mengumandankan adzan dan syahadat ditelinganya. Akhirnya bagian dingin dari kaki menjalar ke tubuh bagian atas. Semuanya berkumpul. Selang oksigen pun dilepas. Kami harus ikhlas. Maka semua keluarga yang ada di rumah ditanyakan satu persatu. Jangan sampai keengganan melepasnya menjadi pemberat sakaratul maut. Akhirnya sebelum subuh Razzaq menghembuskan nafas terakhir. Kami semua disuruh tuk menciumnya untuk yang terakhir kalinya. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Yang bernyawa pasti akan mati. Seketika pecahlah tangis di subuh hari itu. Langsung atuk yang solat subuh di mesjid memberitahukan kabar ini ke takmir mesjid supaya menginfokan lewat pengeras suara bada subuh. Sepertinya Razzaq memang ingin pergi di rumah.

Selamat tinggal adekku,

Semoga engkau menjadi pemberat amalan kebajikan papi mami nantinya,

Semoga engkau yang menunggu papi mami di depan pintu surga,

Semoga engkau nantinya yang menjadi penolong kami semua di akhirat kelak,

Semoga engkau tenang dan bahagia menjadi anak-anak surga.

Tepat 4 tahun kurang 10 hari engkau mencicipi dunia yang fana ini.

22 Mei 1999 – 12 Mei 2003

***

Sungguh keheningan malam ini mengharu biru.

Air mata seakan ingin tumpah ketika menyelami pensieve dan mengukirnya di lembaran ini.

Sungguh, kematian tidak mengenal usia.

Sungguh, kenangan indah bersamamu harus diukir.

Semoga rupamu yang sangat mirip dengan Farhan bisa mengingatkan kami kembali.

***

Ya Allah, lapangkanlah dan terangilah kuburnya.

Ya Allah, jadikanlah ia sahabat para Rasul dan Nabi di surgamu.

Ya Allah, jadikanlah ia modal bagi orang tuaku memasuki jannah-Mu.

Maaf dik, sudah lama bang Adit gak ziarah ke kuburmu.

InsyaAllah secepatnya bang Adit kesana yaaa 😦

***

Sekarang….

Pasti engkau telah berumur 14 tahun kurang 10 hari,

Telah bersekolah kelas 2 SMP,

Pasti SMP 1 kayak SMP bang Adit dan bang Rhaka,

Kalo gak SMP 1, yaaa pasti SMP 2 kayak bang Dheo,

Pasti engkau jadi juara kelas,

Pasti temanmu banyak karena sifat penyapamu,

Pasti udah bisa berangkat sekolah sendiri,

Zak, seandainya….

Advertisements

6 thoughts on “alm.Razzaq

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s