Salah kagum


Teringat perkataan salah satu senior, menyukai lawan jenis itu fitrah kita sebagai insan. Nah, masalahnya kita seringkali menyukai seseorang sebatas kagum. Hanya kagum, tapi kita ke-geer-an menganggapnya sebagai cinta. Nah, inilah asal muasal virus anak muda. Benar gak? Malam ini kok ngetik beginian? Let it be-bae lah kalo kata tetangga sebelah.
Lanjut, kekaguman kita seharusnya lebih kepada kepribadian, bukan rupa.*sokBijak Tapi kita, mungkin saya aja ya, berorientasi kepada rupa. Ingin sedikit meluruskan kekaguman yg agak berbahaya ini.
Ujung-ujungnya kita, mungkin saya aja, terjebak kepada rupa lawan jenis. Maka tak heran, hari ini kagum pada A, besok nampak anak baru si-B lebih rupawan, berganti ke B. Esoknya ketemu junior si-C lebih lebih lagi rupawannya. Terus begitu siklusnya ampe Z. Gak bakal habis-habis. Begitulah mungkin yang kita alami saat ini, mungkin saya aja deh, takut ada yang kesinggung ntar. Itu emang biasa lho, udah fitrahnya. Tapi kita sebagai orang luar biasa harus beda lho.

Makanya tak heran ada kawan yg hafal nama lawan jenis hingga ke junior, padahal mereka yang sejenis aja gak hafal nama juniornya. Apakah kebetulan atau efek silaturahim? Wallahualam.
Daripada sibuk mikirin siklus tadi, coba deh tawakal aja ama Sang Kuasa. Ngapain hafalin nama, toh gak keluar waktu ujian. Biarlah nama itu dirangkai di langit.
Ayo lebih produktif sob.
Daripadau galau mulu.
Yuk muv on.
#ctds

_nyobaNgeBlogDariGejet_

8 thoughts on “Salah kagum

  1. maslah ini cm menarik perhatian k,,😀 lgsung ni sy kasih perkataan kk saya hehehe

    Mahkota Cinta (By Habiburrahman El Shirazy – dlm buku Dalam Mihrab Cinta)
    “Mencintai dengan timbangan fithrah dan bashirah. Mencintai dengan kesucian dan mata hati. Fitrah dan bashirah yang jadi timbangannya. Yaitu, Jika kau mencintai wanita bukan karena tertipu oleh kecantikan paras wajahnya dan keelokan bentuk tubuhnya. Bukan karena tersihir oleh matanya yang berkilat-kilat indah seperti bintang kejora. Bukanlah pula terpikat karena bibirnya yang ranum segar seperti mawar merekah. Juga bukan karena keindahan suaranya yang susah dilupakan. Bukan karena hartanya yang melimpah ruah. Bukan karena kehormatannya, yang kau akan jadi ikut terhormat karena menikahinya. Tapi kau mencintai karena dengan memakai timbangan fitrahmu dan mata batinmu. Kau mencintai dia karena merasakan kesucian jiwanya dan agamanya, dan mata batinmu condong karena kecantikan akhlak dan wataknya. Hatimu terpikat karena harumnya kalimat-kalimat yang keluar dari lidahnya. Saat itu kau telah mencintai lawan jenis dengan benar.”

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s