Grown Ups (repiew)


Apakah yang terjadi dengan kita semua 30 tahun yang akan datang? (*anggap saat ini berumur 11 tahun). Kayaknya itu gak realistis. Anggap saja sekarang ya, umur 23 tahun. Kisaran 20 tahun lagi apa yang kita bayangkan? (*anggap kiamat belum terjadi yaa, hehe). Di umur 43 tahun. Apakah kehidupan kita udah mapan? Apakah silaturahim dengan kawan-kawan seperjuangan dulu masih terjaga? Dan lain-lain. Mari kita bayangkan kawan.

Poster Grown Ups
Poster Grown Ups

Ide ini terpikir setelah menonton film Grown Ups (2010). Kenal Adam sandler? ya dia salah satu aktornya. Awalnya tertarik nonton film ini gegara mamang sikok ini. Akting komedinya keren. Teringat film Click yang juga ia bintangi. Di film ini aktingnya juga keren lah. Kembali ke topik film ini. Berawal di tahun 1978, ketika si Adam masih kecil. Bersama tim basket sekolahnya, ia menjuarai sebuah kejuaraan. Efek motivasi dari pelatih basket membekas ke seluruh anggota tim. Hingga 30 tahun kemudian ketika si pelatih masuk peti dan mereka pun berkumpul kembali sambil reunian.

Disinilah ceritanya dimulai. Mereka heran dengan perilaku anak-anak mereka sendiri. Anak-anak yang terlalu bergantung dengan teknologi, hingga mereka tersekat dengan dunia masing-masing, padahal mereka ingin anak-anak mereka membaur dengan alam sekitar. Akhirnya dengan domain kekuasaan seorang ayah, mereka menyeret anak-anak tuk meninggalkan semua gadget dan sebangsanya di rumah. Saatnya ke luar tuk berbaur dengan alam dan rasakan sensasinya. Persis saat mereka muda dulu, mengembara dan meng-gokil dengan alam. Time for fun!!

Akan ada domain privasi yang harus dikorbankan ketika ingin mengencangkan ikatan silaturahim. Disini pun juga berlaku. Ketika karir dan sejenisnya diutamakan, itu bisa mengendorkan ikatan jikalau tak disikapi dengan bijak. Bagaimana rencana pamily si Adam yang hendak ke Milan akhirnya batal disebabkan berbagai hal. Serta domain amniyah yang akhirnya dibongkar demi mengutuhkan kembali ikatan yang hampir putus.

“Setidaknya ia bisa merasakan sensasi kemenangan dan si anak bisa menyikapi kekalahan dan belajar karenanya”.

Salah satu pesan yang tersirat muncul di ending film. Ketika dendam akan kekalahan masa lalu yang tersimpan rapi, serta kehendak si anak yang ingin berada dalam keadaan always win. Semua request harus terkabulkan. Ahay.

Paska nonton, terjadilah bincang singkat dengan ATP. Membayangkan 10-20 yang akan datang. Masih bisakah kita ngumpul bersama lagi. Dengan membawa jagoan kecil pastinya. Ah, terlalu rumit tuk dipikirkan. Saatnya mup on. Yeah! Pastinya elu kudu nonton deh. Udah pernah nongol juga di transtipi tu pilem. *Jebret dah!

3 thoughts on “Grown Ups (repiew)

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s