Sriwijaya Party : Bedagang


19 Oktober 2013. Hari itu untuk pertama kalinya saya mengikuti seminar dengan niat dari hati. Dan juga harus mengeluarkan budget sendiri tuk beli tiketnya. Maklumlah, saya orang yang tidak terlalu berminat dengan yang namanya seminar, kecual seminar proposal *eh. Makanya bisa dikatakan saya minim sekali mempunyai “cinderamata”mengikuti  seminar, yaa sertifikat. Sebab sekarang ini sertifikat dianggap menjadi barang sakti yang dicari mahasiswa. Tanpa tahu jenis seminar apa yang diadakan. Mental sertifikat ini juga yang membuat organisasi selalu menghadiahkan cinderamata agar acara yang mereka adakan ramai oleh mahasiswa. Selalu ada kata-kata “ada Sertifikat !!” di hampir mayoritas poster atau pun pamflet. Semoga kita tidak menjadi mahasiswa pemburu sertifikat.

Oya, seminar ini pun saya ikuti karena ada embel-embel Pesta-nya. Yap, pesta wirausaha sriwijaya 2013. Pesta selalu identik dengan meriah dan tidak membosankan. Kontras dengan persepsi seminar selama ini yang selalu monoton *versiGue. Pilihan kata yang tepat tuk dijadikan titel seminar kali ini. Great! Dan yang datang pun orang-orang yang saya kenal di tuiter, jadi sedikit banyak tau background mereka. Entah apa yang merasuki saya saat itu, langsung saja saya mendaftarkan diri tuk ikut pesta itu dengan junior di kampus.

Maksud hati ingin ikut full session, mulai pagi ampe sore. Tapi apa daya manusia. Malam sebelum acara ketika hijrah dari Layo ke Palembang tanpa disangka si ban pecah, dan si ban ini pun tidak mau dibongkar di sembarang tempat. Jadilah malam itu kembali ke Layo lagi. Dan besoknya pas hari H baru bisa ke palembang jam 11.

DSC_3979

Akhirnya bada zuhur baru bisa bergabung ke pesta itu. Saat itu mas Fauzi Rahcmanto lagi manggung di depan. Dengan pembawaan yang santai dan menarik, beliau mencoba untuk merekonstruksi mindset peserta; bagaimana kita harus bisa bervisualisasi, bahkan sejak kecil harus dilatih bermimpi. Kemudian menjelaskan tentang betapa berharganya yang namanya gagasan. Gagasan itu lebih mahal dibanding pitih (uang). Gagasan itu bisa beranak pinak, mudah menyebar kemana-mana. Serta menjelaskan faktor sukses berbisnis; disukai-dikuasai-dibutuhkan. Trilogi yang harusnya ditanamkan pengusaha muda Indonesia jikalau ingin kuasai dunia. Hhmm.

Ternyata paginya yang manggung mas Jay Terroris dan mas Elang Gumilang. Dan saya melewatkan aksi panggung mereka. Semoga bersua di lain waktu. Masuk ke sesi terakhir bada ashar, yang nampil si Embah Saptuari. Aseeliii, nampol banget budak sikok ini. Supperrr saaakkkseeesss-lah. Beliau menceritakan kisah pedessss-nya menjadi pengusaha. Inspiratif banget. Beliau juga memaparkan kesalahan yang sering dilakukan pengusaha, antara lain :

  • Tidak fokus/tekun

  • Ikut-ikutan/miskin ide, harusnya berani beda donkss

  • Gampang percaya sehingga mudah ditipu

  • Maunya instan, gak mau proses

  • Terlalu banyak gaya, untung dikit belikan barang mewah

  • Mudah hutang hingga gak bisa bayar

  • Buta akan keuangan, padahal ini URGENT bangeetttsss. Apa itu omzet, profit dan bla bla.

  • Cepat puas sehingga berhenti belajar

  • Salah niat sehingga orientasi bisa ngawur ngidul.

DSC_3980

Gendeng bangeth lah si embah sikok ini. Penyampaiannya seger banget. Beliau juga tekankan bahwasanya kita sebagai muslim harus bisa berbisnis dengan Allah sehingga niat kita selalu benar, insyaAllah. Dan senantiasa gelar sajadah, yang Wajib pasti dikerjain, sunnah-nya di kencengin !! Sila cek Ali Imran:26 biar lebih memotivasi kita semua, ujarnya di penghujung acara.

DSC_3985

** insting nyeleneh saya berujar bahwasanya modal tuk jadi pengusaha yaitu niat, fokus, berbagi serta ‘gelar sajadah’. Sebab melihat pengusaha-pengusaha sukses saat ini, mereka juga pernah mengalami titik kritis dan mereka imbangi itu semua dengan modal diatas. Yaap, tidak ada pengusaha sukses tanpa titik kritis. Itulah yang menjadi value dari seorang pengusaha, mereka lebih cepat berkembang dikarenakan titik kritis mereka yang mendongkrak mindset. Terutama poin berbagi diatas, mereka sangat jor-joran. Layaknya para sahabat Rasul yang tak mau kalah satu sama lain ketika hartanya disedekahkan kepada yang membutuhkan. Semoga tulisan ini melecut penulis agar lebih josh lagi. Yeah!! **

Bersama mbah Saptuari & mbah Erdian

2 thoughts on “Sriwijaya Party : Bedagang

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s