kapeka


beberapa tahun belakangan menjadi ‘puncak’ pemberantasan korupsi di Indonesia. mayoritas kalangan menilai kapeka sukses bekerja sesuai fungsi dan kewajibannya. segala action yang Kapeka perbuat disodorkan ke media agar segera ditayangkan melalui corong-corong publikasi supaya publik tahu. bahkan johan budi menjadi jubir papan atas negeri ini, mengalahkan jubir presiden saking sering nongolnya di tipi-tipi. apalagi tahun depan yang tinggal terhitung puluhan hari, yang akan memasuki gerbang pesta demokrasi. pasti semakin banyak broker di pusat sana yang bekerja ekstra untuk mengamankan modal individu ataupun golongan dalam menyambut pesta terbesar negeri ini.

kita patut mengapresiasi kinerja kapeka, terlepas ada salah atau tidaknya. sebab kontribusi penyidik dan staff kantoran kapeka bisa meminimalisir kerugian negara. wajar gaji yang mereka terima konon kabarnya cukup melangit, setimpal dengan kontribusi mereka. bayangkan kalo tidak ada kapeka, bisa saja mas anas urbaningrum masih duduk empuk menjadi ketum demokrat, bahkan janjinya tuk digantung di monas tak akan terdeklarasikan.

tapi menyakralkan kapeka dalam semua hal tidaklah baik. mereka juga manusia biasa yang berlumuran hawa nafsu. tapi bangsa ini terlanjur mendewakan kapeka. seolah-olah kapeka ini maksum layaknya nabi-nabi agama samawi. A kata kapeka, pasti A jualah kata masyarakat. sekarang popularitas kapeka udah bisa mengalahkan emka yang kemaren runtuh wibawanya oleh ulah hakimnya. kapeka telah menjadi lembaga super bodi, mungkin cuma presiden yang bisa mengalahkan kepopulerannya dengan sekali tunjuk.

layaknya manusia yang tidak ada pengawasnya, mereka akan bertindak sesuka hati meski mereka itu orang-orang baik. sisi kebinatangan manusia selalu ada, butuh momentum yang pas untuk menampilkannya. biasanya muncul ketika tidak ada yang mengawasinya, meski mereka tahu ada Sang Pengawas yang senantiasa mengamati gerak gerik mereka. tapi itulah manusia. sebuah “benda” yang acap kali salah karena ada sisi kebinatangannya, dan sering pula benar karena ada sisi nuraninya. akhirnya kita harus mampu menilai action kapeka mana yang salah, dan mana pula yang benar. selamat menilai.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s