Junction

Konspirator


Trio Konspirator

Bulan Muharram selalu menjadi momentum perubahan dalam agama Islam, sebab saat itulah awal mula hijrah Rasul dari Mekkah ke Madinah. Meskipun hijrah disini lebih bermakna perubahan ke arah yang lebih baik yang tidak menunggu siklus tahun baru Islam, tapi hijrah disetiap desah nafas yang kita hembuskan. Muharram 1435H kali ini saya jalani dengan membaca buku, lebih tepatnya buku cerita fiksi a.k.a novel. Entah mengapa keinginan membaca novel lebih tinggi dibandingkan membaca kitab jurnal yang berserakan di lantai #eh #abaikan.

Muharram kali ini dicelupkan kedalam novel genre konspirasi. Bermula di Negeri Para Bedebah, lanjut ke Neraka-nya Dan Brown si Inferno hingga berakhir di Negeri di Ujung Tanduk. Total halaman yang saya baca mencapai 1200-an lembar kayaknya. Padahal untuk membaca jurnal yang hanya beberapa lembar saja rasanya dimabuk kepayang #abaikanLagi. Ternyata efek ilusi tuk berkahayal keadaan waktu, tempat, dan kondisi psikologi di novel memang candu. Gak bisa berhenti karena efeknya yang addict.

Tanpa sadar ternyata novel yang dibaca ber-mahzab-kan konspirasi. Tema konspirasi memang tak akan habis tuk dikuliti. Selalu ada kulit baru yang bermunculan. Dari zaman dolo kala hingga sekarang si konspirasi ini selalu menjadi pahatan sejarah orang-orang besar, terlepas dari sejarah gemilang atau sejarah kelam. Si Anu yang di anggap pahlawan di desanya, bisa jadi menjadi bandit di kota. Ataupun sebaliknya. Dan sejarah akan memajang cerita-cerita konspirasi sesuai zamannya. Tinggal sudut pandang bagaimana yang kita kenakan tuk mengukurnya.

Setidaknya dari 3 novel tadi, ada beberapa poin yang saya garis bawahi, antara lain :

  1. Kekuatan tekad
  2. Keluasan jaringan
  3. Berpikir 1 langkah didepan ‘musuh’
  4. Optimisme perubahan
  5. Manajerial psikologi
  6. Wawasan global
  7. Keteguhan karakter

Lebih kurang ada 7 poin yang bisa saya simpulkan saat ini. Membuat cerita konspirasi tidaklah mudah. Kecerdasan logika ditambah pengalaman bertarung dengan realitas menjadikan alur cerita yang hidup. Entah itu pengalaman si penulis atau benar-benar merekayasa keseluruhan cerita. Yang pasti efek dramatisir diperlukan tuk membuat ending cerita yang unpredictable.

Junction

7 poin diatas seharusnya bisa menjadi modal bagi kita tuk bertarung di dunia ini. Sadar atau tidak, kita menjadi pelaku atau korban konspirasi. Kita harus bisa merekayasa kondisi apa yang kita inginkan. Kemampuan untuk merekayasa sangat jarang dimiliki orang-orang saat ini, mereka hanya mengikuti alur rekayasa cerita orang lain. Memang dibutuhkan latihan yang tidak instan, bermula dari lingkungan sekitar hingga meluas ke tataran global. Selamat berimajinasi kawan !!

7 thoughts on “Konspirator

  1. ini tulisannya juga keren, klo pengen jadi orang keren harus yang dituliskan mas nya diatas Kekuatan tekad
    Keluasan jaringan, Berpikir 1 langkah didepan ‘musuh’, Optimisme perubahan, Manajerial psikologi, Wawasan global dan
    Keteguhan karakter 😀

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s