Dunia tanpa batas (2)


Ternyata di pelatihan ini, waktu yang digunakan seefektif dan seefisien mungkin. Awalnya kita pikir pasti menjelimet nih materi-materi yang diberikan, ternyata materinya sangat padat dan kece. Bayangkan dalam satu hari saja kelas kami menampilkan hampir sepuluh pemateri, yang gak monoton pastinya. Kalo monoton pucing pala babang, hehe.

Memasuki sesi kedua, menampilkan selebtwit yang followernya ratusan ribu. Beuh, ketemu juga nih sama orang yang kontroversial di jagad tuit tuit. Kontroversial menurut kaca mata saya mungkin ya, karena ketika ditanya ke teman sebelah mah itu udah biasalah, karena ‘gerbong’ ini butuh orang-orang yang tak lazim seperti itu. Bagaimana gerbong ini tidak hanya dinaiki oleh satu jenis watak dan kepribadian, tapi bermacam-macam watak yang saling berkolaborasi untuk satu tujuan yang sama. Gayanya yang blak-blakan ternyata sesuai dengan karakter sosmednya, hajar bleh.

Doi mengatakan, sosmed ini membuat orang-orang menjadi egaliter. Tidak ada lagi kasta yang menjadi sekat diantara kita, ketika rakyat ingin bertanya ke Presidennya tidak perlu melalui layer-layer yang berlapis, cukup twit ke Presiden dan akan dibalas. Ketika bingung dihadapkan oleh sistem biroksasi yang amburadul contohnya, ada sosmed atau kontak email pengaduan yang available 24 jam. Bagaimana birokrat pun telah memasuki era digital ini. Mau tak mau, suka tak suka. Bahkan di salah satu kota Hujan di seberang sana, diwajibkan semua SKPD mempunyai sosmed tempat berinteraksi dengan warganya. Canggih.

Tapi sosmed bukan hanya sebatas tempat kita ‘mengadu’ atau curhat semata, harus ada yang kita pelopori disana. Ya karena ini yang masih minim disosmed kita semua, Narasi. Kita harus bisa mempelopori narasi atau ide-ide. Betapa banyak akun sosmed hanya tempat memuntahkan keluh kesal personal ataupun kelompok, namun minim memberikan solusi dalam bentuk narasi. Membangun narasi memang tidak gampang, tapi harus dicoba. Narasi seorang Gajah Mada untuk menyatukan Nusantara saja baru terealisasi ratusan tahun kemudian oleh Soekarno Hatta, lalu bagaimana dengan kita? Tidak ada yang instan namun sosmed bisa melakukannya. Tidak kah kita berkaca ke Timur Tengah sana, dimana pecahnya revolusi suatu bangsa bermula dari narasi di sosmed, yang akhirnya menyebar bak virus ke seantero negeri.

sumber : google
sumber : google

Membangun narasi menjadi tugas kita bersama. Jikalau lah kita kumpulkan semua postingan sosmed kita, bisa saja itu akan menjadi narasi, seandainya saja. Akhirnya semua celotehan kita di sosmed menjadi branding personal kita masing-masing. Ada yang kontoversial, ada yang mengalir mengikuti kekinian, ada yang tetap menjadi ustadz sosmed dan banyak lainnya lagi. Muaranya hanya satu, Trust. Bagaimana kita telah ‘dianggap’ orang banyak akan suatu solusi dari masalah yang ada. Dan ini menjadi modal kita dalam menjalani hiruk pikuk dunia maya yang crowded. Branding bukan apa yang kita katakan kepada orang lain, kata Om Subiakto, tapi apa yang orang katakan mengenai kita. Selamat membangun personal branding !

(bersambung…)

Advertisements

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s