Salah kagum


Teringat perkataan salah satu senior, menyukai lawan jenis itu fitrah kita sebagai insan. Nah, masalahnya kita seringkali menyukai seseorang sebatas kagum. Hanya kagum, tapi kita ke-geer-an menganggapnya sebagai cinta. Nah, inilah asal muasal virus anak muda. Benar gak? Malam ini kok ngetik beginian? Let it be-bae lah kalo kata tetangga sebelah.
Lanjut, kekaguman kita seharusnya lebih kepada kepribadian, bukan rupa.*sokBijak Tapi kita, mungkin saya aja ya, berorientasi kepada rupa. Ingin sedikit meluruskan kekaguman yg agak berbahaya ini.
Ujung-ujungnya kita, mungkin saya aja, terjebak kepada rupa lawan jenis. Maka tak heran, hari ini kagum pada A, besok nampak anak baru si-B lebih rupawan, berganti ke B. Esoknya ketemu junior si-C lebih lebih lagi rupawannya. Terus begitu siklusnya ampe Z. Gak bakal habis-habis. Begitulah mungkin yang kita alami saat ini, mungkin saya aja deh, takut ada yang kesinggung ntar. Itu emang biasa lho, udah fitrahnya. Tapi kita sebagai orang luar biasa harus beda lho.

Makanya tak heran ada kawan yg hafal nama lawan jenis hingga ke junior, padahal mereka yang sejenis aja gak hafal nama juniornya. Apakah kebetulan atau efek silaturahim? Wallahualam.
Daripada sibuk mikirin siklus tadi, coba deh tawakal aja ama Sang Kuasa. Ngapain hafalin nama, toh gak keluar waktu ujian. Biarlah nama itu dirangkai di langit.
Ayo lebih produktif sob.
Daripadau galau mulu.
Yuk muv on.
#ctds

_nyobaNgeBlogDariGejet_

Advertisements

Ironi Teplikatif


Bicara tentang teoritis tidak semua orang mampu untuk memahaminya secara cepat. Hanya orang-orang tingkat kecerdasan menengah ke atas yang dengan cepat bisa menangkap maksud dan tujuannya. Dibutuhkan waktu dan proses dalam memahamkan sebuah teori. Biasanya orang-orang teoritis sangat lancar dalam berdialektika dan berwacana, sebab mereka telah mempunyai khazanah berpikir yang cakupannya luas. Tak heran banyak wakil-wakil kita di Senayan sana yang mudah dalam berdialektika. Sebab mayoritas mereka berada di tataran teoritis ulung negeri ini.

Mengejawantahkan dari teori ke aplikasi tidaklah mudah. Sebab butuh proses. Adapun proses situ relatif, bisa cepat bisa lama. Ada orang-orang yang gemar berkutat di daerah teoritis saklek sehingga pemahamannya luas namun tidak bermanfaat bagi orang lain. Mereka selalu mencari model yang menuju kesempurnaan tanpa mengakomodir realita yang ada di lapangan. Padahal realita yang ada bisa menjadi batu pijakan menuju model yang sempurna.

Bisa kita lihat pada kondisi kita, apakah dengan modal teoritis yang kita miliki sudah bisa mencapai model yang kita inginkan. Atau teori itu sendiri hanya tertampung di otak tanpa bisa kita ejawantahkan. Menjadi seorang teplikatif dibutuhkan ramuan produktifitas dan kesabaran. Dengan produktifitas kita bisa mengukur sejauh mana model yang telah kita produksi. Apakah telah sesuai dengan harapan atau tidak. Selanjutnya dengan kesabaran kita berproses, sebab proses situ relatif. Dibutuhkan tools tuk menjaga semangat dan gairah dalam proses tersebut agar keseimbangan tercipta. Banyak terkadang realita yang tidak kita inginkan menghampiri dan menjatuhkan. Disini dibutuhkan kesabaran dalam menghadapinya. Selalu berprasangka baik bisa menjadi pengawan kesabaran.

Menjadi tugas kita bersama tuk bisa mendayagunakan realita yang ada sehingga model yang ideal ‘katakanlah’ bisa kita lewati. Harapanya diri ini bisa lebih baik lagi tuk mengelola realita yang selalu muncul ke permukaan. Wallahu’alam.