Hirarki si-Maslow


Tak sengaja membuka notes lama di experia ini, kalo tak salah catatan ketika Ramadhan 1434H kemaren.

Image

Mencoba tuk mengingat ihwal sumber notes ini siapa. *loading. Ahaaa, kalo tak salah ceramah ust Yuwono ketika memberikan kuliah bada zuhur di masjid Aqobah. Tak sempat nyatat saat itu dikarenakan saking terpukaunya saya dengan penyampain beliau saat itu. *tsah. Cuma ada kata diatas, apalah maksudnya. Ujung-ujungnya mbah gugel-lah menjadi referensi tercepat & (hampir) terpercaya. Its bout psikologi manusia. *eeehhmmm.

Hirarki si Maslow ini berbentuk piramida, isinya menampilkan kebutuhan manusia. Ada 5 jenis kebutuhan manusia menurut si doi. Bermula dari yang dasar (basicly) hingga memuncak ke paling atas, yaitu being needs. Penjelasanya udah banyak di gugel, silahkan mampir disono aja yaa. Tertarik mungkin ke-being needs tadi, yaitu kepada aktualisasi diri. Persis seperti yang ada di notes saya diatas. 

###

Maslow melakukan sebuah studi kualitatif dengan metode analisis biografi guna mendapat gambaran jelas mengenai aktualisasi diri. Dia menganalisis riwayat hidup, karya, dan tulisan sejumlah orang yang dipandangnya telah memenuhi kriteria sebagai pribadi yang beraktualisasi diri. Termasuk dalam daftar ini adalah Albert Einstein, Abraham Lincoln, William James, dam Eleanor Roosevelt.

Berdasarkan berbagai kualifikasi yang ‘amat sulit’ tersebut, maka tidaklah heran kalau masih sedikit orang di dunia ini yang mencapai level aktualisasi diri tersebut. Bahkan Maslow mengatakan bahwa jumlah orang-orang yang telah beraktualisasi diri tidaklah lebih dari dua persen saja dari seluruh populasi dunia! Bagaimana dengan kita? sudahkah maksimal? atau belum sama sekali? Tidak usah terlalu dipikirkan. Bagi yang telah bisa mencapai taraf aktualisasi diri memang bagus, tetapi untuk sekadar bisa merasa bahagia dan menikmati hidup, kita hanya perlu menjadi diri sendiri apa adanya dan bermanfaat bagi orang lain. Wallahu’alam.

Jilbab pekaes


Mami : dit, teman cewek kamu itu ikut pekaes ya?

Gue : memang kenapa mam?

Mami : gak, cuman nanya. Lihat tuh jilbabnya besar-besar semua. Kayak jilbabnya istri wakil walikota, pak Mahyeldi. Istrinya juga pake jilbab besar kayak gitu. Kayaknya semua cewek pekaes pake jilbab yang besar.

Gue : ooo, mungkin saja. Mereka kawan-kawan di kampus kok. Kalo gak salah mereka ikut pesantren (pesantren kampus a.k.a tarbiyah ujarku dalam hati).

Mami : hhmmm…

 anak-kecil-berjilbab

Itu sedikit dialog singkat yang terjadi di awal tahun 2012. Kebetulan saat itu rombongan kawan-kawan kampus berkunjung ke kota Padang. Mereka menginap dirumah selama 2 hari. Kalo di kota Padang memang tak heran tuk berjumpa dengan cewek-cewek berjilbab. Sebab semua sekolah negeri dan sebagian sekolah swasta telah mewajibkan siswinya untuk menggunakan jilbab. Mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas telah mewajibkan berjilbab tuk semua siswinya.

Sedangkan di kampus-kampus, kondisi mahasiswi tidaklah jauh berbeda dengan di sekolah negeri. Kota Padang yang terkenal dengan nuansa Islam yang kental membuat mayoritas warganya memakai jilbab. Apalagi di kampus yang berisi kaum intelektual, mayoritas mahasiswinya memakai jilbab. Tapi, jilbab yang dipakai masih sekedar mengikuti tren saat ini. Belum memenuh standar jilbab syari.

Nah, jilbab teman-teman gue tadi ini besar-besar semua. Bisa dikatakan udah sesuai dengan kaidah syari. Sekarang pertanyaanya, kok bisa mami gue mengidentikan jilbab besar dengan jilbab pekaes. Padahal jilbab besar (kita anggap jilbab syari disini) adalah jilbab yang seharusnya digunakan muslimah. Bisa dikatakan jilbab ideal. Bukanlah jilbab yang ada tonjolan meruncing di atas kepala, atau jilbab dengan balutan yang tebal (berbelit pasti cara makainya yaa).

Sekarang ada 2 point bagi gue; pertama syiar pekaes yang udah membumi dalam hal mencerdaskan muslimah dimana mencontohkan jilbab yang ideal. Hingga dimanapun berada, ketika ada muslimah dengan jilbab besar (biasanya disebut jilbaber) bisa dikatakan jilbab pekaes. Padahal belum tentu muslimah itu ikut pekaes. Kedua, syiar dari masing-masing organisasi dakwah baik di kampus maupun di masyarakat tuk lebih gencar mensosialisasikan jilbab ideal tadi, sehingga  tidak ada lagi yang mengatakan jilabab pekaes, tapi jilbab yang benar-benar islami. Jilbab islam sesungguhnya sesuai dengan Quran dan Hadits [].

Ini ceritaku, bagaimana ceritamu?

Merubah Mindset


Kultwit “Merubah Mindset Frame Dakwah” by Nugroho Adinegoro | @kang_nugo

 

  1. Terkadang merubah frame perjuangan dawah itu membenturkan garis haroki dgn garis ukhuwah islamiyah yg hrsnya tertali.. #frame

 

  1. Apakah ada sebuah negara yg telah menerapkan sistem ekonomi, peradilan, politik yg sdh mencapai tingkat yg meyakinkan?

 

  1. Apakah pengagungan sistem kita baik politik, ekonomi Islam, dll sdh mencapai tgkt yg menjanjikan saat ini?

 

  1. Pertanyaan sederhana memang. Tetepi itulah “lubang besar” yang menganga ketika kita mengkomunikasikan Islam pd masyarakat.

 

  1. Kita menjelaskan keunggulan ideologi, konsep khilafah, dari starting point yg abstrak, smntara masy.mngharapkan contoh aplikasi yg nyata.

 

  1. Kita bangga akan keunggulan di dunia maya spiritual, masyarakat justru terpesona kepada yg unggul didunia empiris.

 

  1. Sadarkah, kita ketika kita menjelaskan kehebatan Islam dimasa lalu, masyarakat menyaksikan keterpurukan kita saat ini.

 

  1. Ketika kita berupaya menjelaskan kebenaran Islam, masyarakat justru menantikan kehebatan kaum Muslimin dlm berperan.

 

  1. Sementara kita menjelaskan teori, mereka kompetitor kita memahami teori lebih baik melalui contoh kasus.

 

  1. Mari pahami cermin realitas, kebanyakan org belajar scara visual, tp kita penggerak dakwah berkomunikasi secara abstrak ttg Islam.

 

  1. Itu hanya cth sederhana, tapi menjelaskan mengapa gerakan dakwah belum mampu membus pusaran logika massa,penetrasi jaringan pemikiran, sospol..

 

  1. Sudah seharusnya gerakan dakwah mampu mengubah, memobilisasi dan mengendalikan massa.

 

  1. Ditingkat opini publik, Islam dan gerakan dakwah dgn mudah diisolasi tanpa pembelaan spontanitas dr masyarakat.

 

  1. Masyarakat jg sptnya saat ini blm begitu percaya dgn kemampuan gerakan dakwah beserta para pemimpinnya mengelola negara.

 

  1. Potensi2 keunggulan kader islam memimpin negeri tak diragukan, banyak kader Islam yg unggul dan mampu mengelola system. tapi msh sgt kecil.

 

  1. Scara kseluruhan, Islam & gerakan dakwah belum memegang peranan kunci dlm pembentukan kesadaran publik. perlu kerja extra.

 

  1. Padahal pembentukan kesadaran publik trhdp Islam adlh kondisi pendahuluan yg mutlak dlm perjalanan menuju kekuasaan.

 

  1. Rendahnya tgkt penerimaan publik dan kapasitas serta citra kita, sbenarnya adalah realitas yg berakar pd cara kita berpikir.

 

  1. Pikiran adalah cermin besar yang memantulkan potret realitas kita secara apa adanya.

 

  1. Pikiran adlh ruang kemungkinan (space of possibility) dan realitas adlh ruang tindakan yg telah jd nyata (space of action).

 

  1. Seluruh realitas kita hanya bergerak pada ruang kemungkinan itu. Makin bsr ruang kemungkinannuya, makin besar ruang realitasnya

 

  1. Maka, realitas kita hari ini, sesungguhnya merupakan buah dari benih pikiran kita yang telah kita tanam bertahun2 yang lalu.

 

  1. Mencermati konflik dgn penguasa yg mewarnai gerakan dakwah, realitas berakar dr kumpulan persepsi harokah ttg penguasa sbg kumpulan thagut.

 

  1. Begitu persepsi ‘thagut’ ini menguasai pikiran harokah, sense of war lgsg menyalakan alarm perang ketika berhadapan dgn penguasa.

 

  1. Misalnya lagi, fenomena ekslusifnya aktifis dakwah. Fenomena ini berakar dr persepsi bhwa masyarakat kita hidup dlm kubangan jahiliyah modern.

 

  1. Begitu seseorang melekatkan diri sbg aktivis dakwah, sgera saja ia merasakan superioritas spiritual & moral, & menemukan tembok pemisah.

 

  1. Keterbatasan dana juga bagian dari ironi besar yang membatasi ruang gerak dakwah kita.

 

  1. Pikiran kita selalu terfokus pd bgmn menyiasati keterbatasn dana, bukan bgmn menciptakan kelimpahan.

 

  1. Jika #frame keterbatasan slalu menghiasi kehidupan dakwah kita, maka selamanya keterbatasan akan menjadi realitas kita.

 

  1. Maka kita perlu sepakat, bahwa tindakan kita muncul sbg buah dari benih2 pikiran kita.

 

  1. Jadi pikiran adlh pusat kekuatan yang mengendalikan tindakan2 dan menciptakan realitas2 kita. Dakwah jg begitu.

 

  1. Sudah saatnya gerakan dakwah memikirkan kembali caranya berpikir, memikirkan kembali apa yg slama ini dipikirkan.

 

  1. Generasi pertama pemikir dakwah spt Hasan Al Banna, Sayyid Qutb memfokuskan pd pembangunan ideologi..

 

  1. Generasi kedua spt Syeikh Yusuf Qardhawian Fathi Yakan dll memfokuskan perhatian membangun kerangka pemikiran pergerakan.

 

  1. Ketika gerakan dakwah masuk di era keterbukaan, bermain di domain publik, persoalan terbesar adalah sumber daya.

 

  1. Ini persoalan yang dihadapi hampir diseluruh gerakan Islam di dunia. Yang perlahan menunjukkan diri dr eksistensi pembelajaran.

 

  1. Dgn menggunakan cermin realitas, persoalan sumberdaya muncul krn pusat perhatian kita belum bergeser ke tema bsr generasi ke1 ke gnerasi ke-2.

 

  1. Kita mungkin masih fokus bicara ideologi, blm sumberdaya. Kita msh bcara sistem pemerintahan Islam, Khilafah, dsb. Tp tak bicara kompetensi umat.

 

  1. Kita bicara sistem Islam is solution, belum bicara agenda aksi penyelesaian persoalan bangsa.

 

  1. Kita masih bicara kegagalan musuh dan belum bicara kesuksesan2 kita secara keseluruhan.

 

  1. Dakwah Kita masih bicara ghawzul fikri dan belum bicara strategi kebudayaan.

 

  1. Dakwah kita masih bicara konspirasi asing dan belum memikirkan sistem pertahanan dakwah.

 

  1. Kita masih bicara ikhtilaf belum bicara management organisasi yang kokoh.

 

  1. Dakwah kita masih bicara kterbatasan dana, belum bicara cara menciptakan kelimpahan dana.

 

  1. Dan dakwah kita masih bicara apa yg kita inginkan dan belum bicara sumber daya yang diperlukan dlm mencapainya.

 

  1. Selama pusat perhatian kita belum bergeser ke masalah penciptaan sumberdaya berkualitas, maka slama itu dakwah akan mengalami kemunduran.

 

  1. Ini hanya konsekuensi antara ketidakseimbangan, beban dan daya pikul. tampak tua & lelah, tertatih2 memikul beban obsesi khilafah yg terasa jauh.

 

  1. Kita patut bersyukur para pendiri ideologi dakwah telah meletakkan ideologi yang kokoh bagi umat.

 

  1. Mereka telah merampungkan tugas mereka dgn sempurna sbg batu tapal kokoh kebangkitan umat.

 

  1. Para pemikir pergerakan, juga telah membangun kerangka pemikiran gerakan bg pertumbuhan gerakan dakwah menuju kematangan.

 

  1. Generasi ke dua spt Yusuf Qardhawi, Fathi Yakan jg telah menjalankan tugas dgn sempurna membangun kerangka pemikiran dan pertumbuhan.

 

  1. Nah, skrg tugas kita sbg generasi ketiga dakwah untuk membawa bendera, menunaikan tugas sejarah mereka. Generasi pencipta sumber daya.

 

  1. Biarlah ditangan kita kebenaran menjadi nyata, dibumi Allah kita menyatu dengan kekuatan membangun Islam.

 

  1. Sekian sarapan kultuit pagi ni. Mudah2n ghirah dakwah semakin memuncak, memberi harapan & masa depan cerah bagi umat khususnya Indonesia 🙂

 

#35 – Indahnya Jiwa Cinta


Tidak ada yang lebih indah dalam sejarah perasaan manusia seperti saat ketika ia sedang jatuh cinta. Bukan karena dunia di sekeliling kita berubah pada kenyataannya. Tapi saat-saat jatuh cintalah yang seketika mengubah persepsi kita tentang dunia disekeliling kita. Tidak selalu karena wanita yang kita cintai itu memang cantik pada kenyataannya. Tapi cinta kita padanya yang membuatnya cantik dimata kita.

Saat jatuh cinta adalah saat dimana persepsi kita mengalami shifting pada semua realitas yang ada disekeliling kita. Kadang kita mungkin mengelabuhi diri kita sendiri. Tapi itu puncak subjektivitas yang justru mengubah kita menjadi lebih positif dalam cara kita memandang segala sesuatunya. Dan disitulah letak keindahannya. Seperti indahnya subjektivitas pada dunia anak-anak. Bagi mereka realitas sesungguhnya adalah realitas yang mereka persepsikan. Bukan realitas yang ada diluar sana seperti yang dilihat oleh orang dewasa. Bangku bisa dipersepsi sebagai rumah. Tongkat bisa dipersepsi sebagai senjata. Dunia menjadi sangat ringan dan fleksibel di mata mereka. Karena itu dunia anak selalu indah, selalu penuh kenangan.

Begitu juga saat kita jatuh cinta. Shifting pada persepsi kita membuat dunia serasa jadi realitas lain yang begitu indah. Dan itu membawa kenyamanan pada rongga dada kita. Karena perasaan kita seketika berbunga-bunga. Karena, seperti kata Ibnu Hazem, ruh kita seketika menjadi ringan dan lembut, badan kita seketika jadi wangi , senyum kita seketika mengembang lebar, benci dan dendam dan angkara murka seketika lenyap dari ruang hati kita, dan tiba-tiba saja yang bukan penyair jadi penyair, yang tidak bisa bernyanyi jadi penyanyi.

Suatu saat seorang raja bingung menyaksikan putra mahkotanya begitu pemalas, apatis, tidak bergairah, tidak berminat pada ilmu pengetahuan, tidak bisa berpidato. Ia gundah, karena putra mahkotanya sama sekali tidak layak jadi raja. Maka sang raja memerintahkan seorang dayang cantik istana untuk menggoda sang putra mahkota. Bilang padanya, pesan sang raja ada pada dayang cantik, aku sangat mencintaimu dan aku bersedia jadi permaisurinya. Nanti kalau hatinya sudah berbungan-bunga, bilang lagi padanya lanjut sang raja tapi ada syaratnya, kamu harus lebih bersemangat, lebih rajin dan mau menyiapkan diri menjadi raja, dan aku percaya kamu bisa. Firasat sang raja ternyata benar. Putra mahkotanya seketika bangkit berubah: ia mengubah penampilannya menjadi keren dan wangi, ia mempelajari berbagai macam ilmu, ia juga tampil berpidato, ia juga menulis. Saat jatuh cinta telah mengubah persepsinya tentang dirinya dan dunianya, seketika membangkitkan semangat hidupnya, dan meledakkan semua potensinya.

Shifting pada persepsi mengembalikan sisi kekanakan kita saat kita jatuh cinta. Itu keindahan yang mempertemukan kita dengan sisi dalam kemanusiaan kita; subjektif, melankolik, kekanakan, tapi positif. Dan indah.

Dimana Itsar ?


Ku tanya padamu?
Dimana itsar berada?
Adakah ia padamu
Jika padaku ia telah tiada….
 
Ingatkah kau kaum anshor?
Menyambut si muhajirin dengan itsar
Ambil saja segala yang ada!
Tapi muhajirin tenang berujar, “ Tunjukkan kami jalan ke pasar!”
 
Ini Bagianku
Ini tempatku
Ini hakku
Ini, yang ini, yang ini, itu juga, kemudian itu, itu, ini…
Semua milikku
Jangan ganggu!!!
 
Itsar kini langka
Ntah kemana rimbanya
 
Adakah ia padamu
Jika ada
Maukah kau bagi sedikit untukku?
by : yona harianti putri
Glek…glek…glek.
Tersengatkah engkau kawan?
Aku iya.
Iya.
Cukup.titik.

TalkMore=DoMore


Terinspirasi dari sebuah ayat suci Al-Quran yaitu

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. #AsShaf (61) : 2-3

Yap, ayat diatas sangat “menyentil” akal pikiran saya , betapa tidak…, Allah sangat benci terhadap orang-orang yang “besar omong”, dimana kata-kata manis yang di keluarkan dari mulut tidak sesuai dengan apa yang dikerjakan. Hanya besar di perkataan. Naudzubillah mindzalik. Terjemahan ayat ini sering di “dengungkan” oleh kakak senior saya di kosan maupun di kampus, pertama saya dengar malah saya anggap sepele, tetapi setelah dibaca lagi artinya secara mendalam, saya tersadar betapa ayat ini merupakan peringatan dari Allah SWT kepada kita semua.

Sekarang pertanyaan besar muncul, apakah kita semua seperti itu?? Saya mulai menyadari akan hal itu, terkadang kita hanya pandai “berkata-kata” namun untuk berbuat sangatlah minim. Mungkin pada kondisi ini benar adakalanya pepatah lawas, “Diam itu Emas”. Tapi tunggu dulu, kalo kita diam terus kapan mau majunya?? Ada sebagian orang yang beranggapan Diam sajalah sebagai alternatif untuk “bermain aman”, tapi kehidupan ini selalu bergerak teman, tidak ada kehidupan  yang statis, boleh saja diam akan “kata-kata” namun berontak dalam “aplikasinya”. Tapi ingat….harus bergerak sesuai rule yang kita yakini benar.

Tetapi di lain cerita, kadangkala kita memang gemar untuk berkata-kata manis seperti dalam hal menasehati teman, sodara, keluarga dan bangsa Indonesia (buset dah udah Negara yg di kelolanya,hehe…jangan serius amat yak…), tapi kita kadangkala lupa mengaplikasikan apa yg kita ucapkan tersebut, apakah kita termasuk pada orang-orang seperti ayat diatas?? Itu semua kembali kepada NIAT kita semua, sebab menasehati orang lain, dalam hal ini mengingatkan dengan santun bukannya mengingatkanya dengan menghardik, juga merupakan kewajiban kita sebagai manusia sebagaimana firman Allah dalam QS. AlAshr (103):2-3, yang isinya lebih kurang “sungguh rugi manusia yang tidak menasehati dalam kebaikan”.

Kadangkala seking getolnya kita menasehati orang lain dengan kata-kata (pada umumnya seperti ini neh), kita lupa menasehati orang lain dengan PERBUATAN. Coba kita menasehati orang lain dengan PERKATAAN disertai dengan PERBUATAN, jadi kan maknyus tu ama Surat AsShaf:2-3, dimana kita BANYAK BERKATA, BANYAK BERBUAT, yang kita katakan sesuai ama yang kita kerjakan.
Sekarang diperlukan lah niat TULUS IKHLAS kita untuk dapat BERKATA-KATA yang diikuti PERBUATAN yang konkrit.

Oleh karena itu marilah kita jaga lisan yang sering kita “cipratkan” kepada orang lain hendaklah membawa kebaikan bagi orang lain tersebut. Semoga tulisan ini tidak hanya sebagai “ketikan keyboard tanpa aplikasi yang nyata bagi saya pribadi”

Waalahu’alam

#Tulisan ini dedikasikan buat kakak senior yang selalu mengeluarkan jurus pamungkasnya yaitu QS(61):2-3.

MP3 Murottal Al Qur’an dan Terjemahan Bahasa Indonesia


d

Alhamdulillah, kini kita bisa mengunduh lantunan ayat suci Al Qur’an yang diikuti pembacaan terjemahannya ayat per ayat sampai 30 Juz. Mendengarkan tilawah Al Qur’an sungguh akan membuat jiwa merasakan ketenangan. Apalagi jika ayat-ayat tersebut diterjemahkan ke bahasa kita, sehingga kita bisa langsung mengetahui artinya. Insya Allah,  Ini akan memudahkan kita dalam memahami ayat-ayat Al Qur’an. Tilawah dibawakan dengan merdu oleh Syaikh Misyari Rasyid Al Afasy dalam format mp3. Semoga Allah memberikan pahala yang berlimpah kepada orang-orang yang rela menyisihkan waktunya untuk mengerjakan proyek luar biasa yang sangat bermanfaat ini. Aamiin.

silahkan di download dari link di bawah ini menurut nomor surat :

001 | 002 | 003 | 004 | 005 | 006 | 007 | 008 | 009 | 010 | 011 | 012 | 013 | 014 | 015 | 016 | 017 | 018 | 019 | 020 | 021 | 022 | 023 | 024 | 025 | 026 | 027 | 028 | 029 | 030 | 031 | 032 | 033 | 034 | 035 | 036 | 037 | 038 | 039 | 040 | 041 | 042 | 043 | 044 | 045 | 046 | 047 | 048 | 049 | 050 | 051 | 052 | 053 | 054 | 055 | 056 | 057 | 058 | 059 | 060 | 061 | 062 | 063 | 064 | 065 | 066 | 067 | 068 | 069 | 070 | 071 | 072 | 073 | 074 | 075 | 076 | 077 | 078 | 079 | 080 | 081 | 082 | 083 | 084 | 085 | 086 | 087 | 088 | 089 | 090 | 091 | 092 | 093 | 094 | 095 | 096 | 097 | 098 | 099 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114

sumber : klik disini

Reupload :

Juz Amma

Nasehat Cegah Maksiat


Berikut ini sepuluh nasihat Ibnul Qayyim Rahimahullah untuk menggapai kesabaran diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat:

Pertama, hendaknya hamba menyadari betapa buruk, hina dan rendah perbuatan maksiat. Dan hendaknya dia memahami bahwa Allah mengharamkannya serta melarangnya dalam rangka menjaga hamba dari terjerumus dalam perkara-perkara yang keji dan rendah sebagaimana penjagaan seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya demi menjaga anaknya agar tidak terkena sesuatu yang membahayakannya.

Kedua, merasa malu kepada Allah… Karena sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari pandangan Allah yang selalu mengawasi dirinya dan menyadari betapa tinggi kedudukan Allah di matanya. Dan apabila dia menyadari bahwa perbuatannya dilihat dan didengar Allah tentu saja dia akan merasa malu apabila dia melakukan hal-hal yang dapat membuat murka Rabbnya… Rasa malu itu akan menyebabkan terbukanya mata hati yang akan membuat Anda bisa melihat seolah-olah Anda sedang berada di hadapan Allah…

Ketiga, senantiasa menjaga nikmat Allah yang dilimpahkan kepadamu dan mengingat-ingat perbuatan baik-Nya kepadamu.
Apabila engkau berlimpah nikmat maka jagalah, karena maksiat akan membuat nikmat hilang dan lenyap Barang siapa yang tidak mau bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah kepadanya maka dia akan disiksa dengan nikmat itu sendiri.

Keempat, merasa takut kepada Allah dan khawatir tertimpa hukuman-Nya

Kelima, mencintai Allah… karena seorang kekasih tentu akan menaati sosok yang dikasihinya… Sesungguhnya maksiat itu muncul diakibatkan oleh lemahnya rasa cinta.

Keenam, menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikannya… Sebab perkara-perkara inilah yang akan bisa membuat dirinya merasa mulia dan rela meninggalkan berbagai perbuatan maksiat…

Ketujuh, memiliki kekuatan ilmu tentang betapa buruknya dampak perbuatan maksiat serta jeleknya akibat yang ditimbulkannya dan juga bahaya yang timbul sesudahnya yaitu berupa muramnya wajah, kegelapan hati, sempitnya hati dan gundah gulana yang menyelimuti diri… karena dosa-dosa itu akan membuat hati menjadi mati…

Kedelapan, memupus buaian angan-angan yang tidak berguna. Dan hendaknya setiap insan menyadari bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di alam dunia. Dan mestinya dia sadar kalau dirinya hanyalah sebagaimana tamu yang singgah di sana, dia akan segera berpindah darinya. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang akan mendorong dirinya untuk semakin menambah berat tanggungan dosanya, karena dosa-dosa itu jelas akan membahayakan dirinya dan sama sekali tidak akan memberikan manfaat apa-apa.

Kesembilan, hendaknya menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan, minum dan berpakaian. Karena sesungguhnya besarnya dorongan untuk berbuat maksiat hanyalah muncul dari akibat berlebihan dalam perkara-perkara tadi. Dan di antara sebab terbesar yang menimbulkan bahaya bagi diri seorang hamba adalah… waktu senggang dan lapang yang dia miliki… karena jiwa manusia itu tidak akan pernah mau duduk diam tanpa kegiatan… sehingga apabila dia tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat maka tentulah dia akan disibukkan dengan hal-hal yang berbahaya baginya.

Kesepuluh, sebab terakhir adalah sebab yang merangkum sebab-sebab di atas… yaitu kekokohan pohon keimanan yang tertanam kuat di dalam hati… Maka kesabaran hamba untuk menahan diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan imannya. Setiap kali imannya kokoh maka kesabarannya pun akan kuat… dan apabila imannya melemah maka sabarnya pun melemah… Dan barang siapa yang menyangka bahwa dia akan sanggup meninggalkan berbagai macam penyimpangan dan perbuatan maksiat tanpa dibekali keimanan yang kokoh maka sungguh dia telah keliru.

Diterjemahkan dari artikel berjudul ‘Asyru Nashaa’ih libnil Qayyim li Shabri ‘anil Ma’shiyah,
http://www.ar.islamhouse.com,
Alih Bahasa: Abu Muslih Ari Wahyudi

Kunci Sukses


Yang mana mau kita lakukan??? Atau sudah ada dalam diri kita..
Sukses bermula dari mental. Anda bisa saja miskin namun jika Anda yakin bahwa Anda bisa sukses, maka itulah yang akan Anda raih. Demikian juga sebaliknya, jika seseorang terlahir kaya, namun tidak memiliki mental sukses, maka kelak ia pun bisa jatuh melarat.
Tak peduli apa pun yang menjadi profesi kerja Anda sekarang, apakah karyawan rendahan atau bos sekalipun, Anda bisa meraih sukses dengan mengembangkan 50 kebiasaan sukses ini.
Namun, ingat juga bahwa ukuran kesuksesan bukanlah uang, melainkan mental puas itu sendiri.

1.Carilah dan temukan kesempatan di mana orang lain ketika melakukan gagal menemukannya.
2.Orang sukses melihat masalah sebagai bahan pembelajaran bukannya kesulitan belaka.
3.Fokus pada solusi, bukan berkubang pada masalah yang ada.
4.Menciptakan jalan suksesnya sendiri dengan pemikiran dan inovasi yang ada.
5.Orang sukses bisa saja merasa takut, namun mereka kemudian mengendalikan dan mengatasinya.

6.Mereka mengajukan pertanyaan yang tepat, sehingga menegaskan kualitas pikiran dan emosional yang positif.

7.Mereka jarang mengeluh.
8.Mereka tidak menyalahkan orang lain, namun mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka.
9.Mereka selalu menemukan cara untuk mengembangkan potensi mereka dan menggunakannya dengan efektif.
10.Mereka sibuk, produktif, dan proaktif, bukan luntang-lantung.
11.Mereka mau menyesuaikan diri dengan sifat dan pemikiran orang lain.
12.Mereka memiliki ambisi atau semangat.
13.Tahu benar apa yang diinginkan.
14.Mereka inovatif dan bukan plagiat.
15.Mereka tidak menunda-nunda apa yang ada.
16.Mereka memiliki prinsip bahwa hidup adalah proses belajar yang tiada henti.
17.Mereka tidak menganggap diri sempurna sehingga sudi/rela belajar dari orang lain.
18.Mereka melakukan apa yang seharusnya, bukan apa yang mereka mau lakukan.
19.Mereka mau mengambil resiko, tapi bukan nekat.
20.Mereka menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan segera.
21.Mereka tidak menunggu datangnya keberuntungan, atau kesempatan. Merekalah yang menciptakannya.
22.Mereka bertindak bahkan sebelum disuruh/ diminta.
23.Mereka mampu mengendalikan emosi dan bersikap profesional.
24.Mereka adalah komunikator yang handal.
25.Mereka mempunyai rencana dan berusaha membuatnya menjadi kenyataan.
26.Mereka menjadi luar biasa karena mereka memilih untuk itu.
27.Mereka berhasil melalui masa-masa berat yang biasanya membuat orang lain menyerah.
28.Mereka tahu apa yang penting bagi mereka dan melakukan yang terbaik yang mereka bisa.
29.Mereka memiliki keseimbangan. Mereka tahu bahwa uang hanya alat, bukan segalanya.
30.Mereka paham betul pentingnya disiplin dan pengendalian diri.
31.Mereka merasa aman karena mereka tahu mereka berharga.
32.Mereka juga murah hati dan baik hati.
33.Mereka mau mengakui kesalahan dan tidak segan untuk minta maaf.
34.Mereka mau beradaptasi dengan perubahan.
35.Mereka menjaga kesehatan dan performa tubuh.
36.Mereka rajin.
37.Ulet
38.Mereka terbuka dan mau menerima masukan dari orang lain.
39.Mereka tetap bahagia saat menghadapi pasang surut kehidupan.
40.Mereka tidak bergaul dengan orang-orang yang salah/ merusak.
41.Mereka tidak membuang waktu dan energi emosional untuk sesuatu yang di luar kendali mereka.
42.Mereka nyaman bekerja di tempat yang ada.
43.Mereka memasang standar yang tinggi bagi diri sendiri.
44.Mereka tidak mempertanyakan mengapa mereka gagal namun memetik pelajaran dari itu semua.
45.Mereka tahu bagaimana harus rileks, menikmati apa yang ada, dan mampu bersenang-senang dalam kecerobohan sekalipun.
46.Karir mereka bukanlah siapa mereka, itu hanyalah pekerjaan.
47.Mereka lebih tertarik pada apa yang efektif ketimbang pada apa yang mudah.
48.Mereka menyelesaikan apa yang telah mereka mulai.
49.Mereka menyadari bahwa mereka bukan hanya makhluk hidup belaka, namun juga makhluk rohani.
50..Mereka melakukan pada yang mereka katakan.

Jadi, apakah ada beberapa kebiasaan yang sudah menjadi bagian dari hidup Anda saat ini?! Jika
ada, kembangkan itu, dan tambahkan peluang sukses Anda dengan melakukan yang lain.
Ingat, sukses bukanlah milik orang yang tidak pernah gagal, melainkan milik orang yang tidak
pernah menyerah….