Dunia Tanpa Batas


Hari Jumat sampai Ahad kemaren (7-9 Oktober 2016) diminta menjadi delegasi sebuah komunitas kebaikan ke Jakarta tuk ikut serta dalam pelatihan Era Digital. Awalnya ada kegundahan ketika mengikuti pelatihan ini karena 2 orang sahabat terbaik mengundang ke walimatul ursy-nya. Betapa tidak, momen walimahan ini hanya sekali seumur hidup kita lakukan sedangkan ikut pelatihan seperti ini bisa kapan pun, kata Taufiq Akbar, menimpali kegundahan hati ini. Namun kita yang berencana namun Yang diatas jualah yang menentukan, bismillah aja. Sori ya bro Daud Zen dan bro Wahyu ‘Dark Knight’ belum bisa datang, mungkin kalo nambah istri nak nikah lagi insyaAllah datang, hihi.

Isi materi pada acara tersebut ternyata sangat daging, istilah kekiniannya hari ini. Pembicara yang didatangkan sangat kompeten namun sayang mepetnya waktu membuat sesi diskusi terasa cepat berlalu. Bahkan di tengah acara kami kedatangan pak Menteri Kominfo Era SBY. Beliau sangat peduli pada komunitas-komunitas yang berbasis digital hari ini, karena ke depannya Indonesia kan menjadi ‘madu’ dalam industri digital dunia.

Sesi pertama membahas Digital Mindset. Bagaimana hidup di era digital ini, semua yang laku di pasar bermula dari mindset kita sebagai pelakunya. Hampir semua kaum urban memiliki gadget dan terkoneksi ke jaringan internet. Semua orang asyik bahkan menjadi candu dengan jejaring sosial medianya. Digital mindset berarti semua yang akan kita lakukan, yang ingin kita buat dan kerjakan berawal dari bagaimana mendigitalisasi tuh acara, bagaimana supaya crowded dulu tuh di sosial media, ciptakan dulu keriuhan massa, lalu ciptakan gelombang viral yang membuat orang-orang penasaran. Makanya tak heran banyak orang-orang yang sengaja mencuri perhatian kita dengan berbuat yang tak lazim dan manusiawi.

digital-mindset

 

Kita bisa liat tren terbaru yang sempat booming, si Awkarin dan Anya Geraldine. Mereka posting tuh gaya hidup pacaran ala barat dan menjadi viral di yutub, tau gak berapa rupiah yang mereka dapatkan? ratusan juta men. Di luar logika gak? bagi saya iya tapi itulah era digital. Mereka berhasil mendigitalisasi anak-anak muda Indonesia yang sedang mencari jati diri. Kalo yang nyeleneh aja bisa dapat duit, kenapa hal-hal yang baik gak bisa juga? inilah yang menjadi tugas kita semua. Mindset orang-orang yang mengaku gen Y harus kita benahi dari sekarang. Teruntuk gen X pun harus kita berikan insight, karena amanah mereka sebagai orang tua membuat mereka juga harus adaptif dengan era digital ini. Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya, kata Imam Ali, karena mereka bukan hidup di zamanmu.

Di akhir sesi pertama, kami berkesimpulan bahwasanya merubah mindset ini bukanlah tugas satu atau dua orang tapi tugas bersama. Mari kita tularkan semangat pembelajaran digital ke orang banyak, agar mereka tidak ditelantarkan zaman.

(bersambung…)

Advertisements

Anak Muda, Bisnis dan Kemajuan Politik sebuah Bangsa


Malam ini adik saya menghubungi Saya via WA. Sebagai panitia seminar, beliau minta saran tentang sebuah tema besar : sustainable development sebuah negeri. Topiknya dikhususkan pada peran bisnis anak muda dalam memajukan kondisi politik sebuah bangsa.

Sambil saya menjawab pertanyaan adik Saya, tidak ada salahnya jika Saya menuliskannya disini. Sehingga bisa dinikmati oleh semuanya.

Setidaknya ada 3 peran sentral bisnis anak muda, dalam kemajuan politik sebuah negeri.

  1. Terkait kedewasaan pemilih dalam menghasilkan produk politik.
  1. Hubungan antara kesejahteraan dengan stabilitas politik.
  1. Arus masuk generasi politisi muda yang berenergi dan kompeten.

 

Mari kita bahas satu persatu.

***

Pertama, Bisnis anak muda secara tidak langsung dapat menghasilkan produk politik yang lebih baik. Mengapa demikian?

Kita menyadari bahwa hari ini Indonesia menganut sistem demokrasi dalam proses politiknya. Artinya, kedaulatan diserahkan kepada Rakyat. Kita bukan Kerajaan yang mana pemimpin negeri ditentukan oleh garis keturunan. Pemerintahan lahir dari gerak partisipasi publik dalam pemilu. Dan inilah semangat demokrasi.

Karena Rakyat yang berdaulat, maka rakyat diminta untuk terlibat membentuk pemerintahan. Negeri ini memilih wakil rakyatnya dan juga kepala Negara serta kepala daerahnya. Rumit memang. Ada pileg, pilpres dan pilkada. Tapi itulah Indonesia.

Keterlibatan rakyat itu dicerminkan dari proses pemilu : one man, one vote. 1 orang, 1 suara. Maka siapapun warga negara Indonesia, apapun warna kulitnya, agama, gender, bahkan tingkat pendidikan, memiliki hak yang sama secara politik : 1 hak suara dalam pemilu.

Sistem one man-one vote ini memang terlihat adil. Namun kita lupa satu hal bahwa sistem “one man one vote” sebenarnya hanya dapat berjalan ideal pada masyarakat yang mampu memutuskan hak politiknya secara dewasa, tanpa intervensi apapun.

Kondisi ekonomi masyarakat Indonesia, yang masih kerepotan dalam mencukupi basic need, membuat hampir sebagian masyarakat Indonesia sangat mudah terpengaruh dengan politik uang.

Mengapa politik uang bisa bekerja di Indonesia? karena sebagian besar masyarakatnya masih dalam taraf mencukupi kebutuhan hidup yang teramat dasar. Dalam piramida maslow disebut dengan lapis basic needs. Mereka masih sibuk mencari makan tuk hari ini dan esok. Mereka baru sampai pada taraf berjibaku mencari kontrakan. Jangan harap mereka berfikir tentang negeri, kontribusi, negara, bangsa, karena posisi hidup mereka masih dalam tahap sangat dasar.

Manusia yang masih dalam taraf basic need, susah berfikir panjang tentang makna politik dan kontribusi kebangsaan. Mereka sedang lapar dan butuh hidup.

Cobalah cek data kemiskinan penduduk RI, berapa orang yang hidup dengan 2$ per hari. Hampir puluhan juta orang. Dan inilah penyumbang terbesar suara demokrasi.

Saya tidak bilang, bahwa semua orang yang di bawah garis kemiskinan akan terbawa money politic, namun itulah kenyataan hari ini. menurut saya, mereka pun tidak bisa disalahkan. Mereka lapar, dan siapa yang bawa amplop, tentu mereka pilih.

Memang benar, partai memiliki fungsi edukasi. Banyak orang bilang : didiklah pemilih, agar tidak kena money politic. Namun, bagaimana anda mendidik orang yang lapar?

Nah, kelaparan ini harus dijawab dengan kesejahteraan. Dan salah satu kunci keberhasilan kesejahteraan suatu bangsa adalah kemampuan bangsa itu untuk mengahsilkan keuntungan ekonomi. Dan keuntungan ekonomi dapat diraih dengan bisnis.

Hari ini, 250 juta penduduk Indonesia hanya menjadi bantalan market dari produk Asing. Lihatlah market share pasta gigi, berapa persen pasta gigi berkebangsaan inggris itu menguasai pasar Indonesia? Dan masih banyak lagi kebutuhan-kebutuhan bangsa ini yang tidak dipenuhi oleh bangsa kita sendiri.

Lihatlah pakan ternak, lihatlah dunia farmasi, lihatlah pasar dunia iklan sekalipun, siapa yang menikmati kue besar itu semua? Apakah pengusaha nasional?

Hal ini terjadi, karena anak Muda Indonesia tidak mau “fight” memenuhi kebutuhan negeri mereka sendiri. Uang bangsa ini kembali keluar dari negerinya sendiri. Disinilah jawaban atas kemiskinan yang terjadi : Gagal merebut market share.

Jika anak muda Indonesia turun tangan berbisnis membangun produk unggulan, maka tenaga kerja akan terserap. Kita tidak hanya mengirim komoditas alam yang rendah harganya, tapi produk yang punya nilai tambah.

Kita keruk emas, kita kirim, kita jual. Berarti kita mencangkul dari alam dan jual. Berbeda dengan jika kita membuatnya menjadi jam tangan, atau chip TV. Ia akan menjadi produk bernilai tambah, tentu gerak ekonominya lebih masif.

Dan setelah sejahtera, masyarakat akan dapat memilih dengan akal sehat dan hati nurani yang jernih. Disinilah pemilu akan berkualitas. Tiap-tiap orang telah dewasa dan waras dalam menentukan pilihan.

Masyarakat yang telah tercukupi kebutuhan pokoknya, akan relatif mandiri dalam menentukan pilihan politiknya. Akan lahir wakil rakyat yang benar, gubernur yang benar dan walikota serta bupati yang benar.

Hari ini kelas menengah negeri ini banyak mencaci wakil rakyat dan pemerintahnya. Padahal wakil rakyat dan pemerintah adalah hasil dari proses politik negeri ini. Mengapa mereka marah? Bukankah mereka yang memilih?itu semua Karena sebagian besar pemilih adalah bukan kelas menengah. Sebagian besar pemilih adalah mereka yang masih lapar.

 

Jadi, alur pemikiran dalam poin saya yang pertama adalah : anak muda berbisnis dengan benar -> bangsa sejahtera -> pemilu sehat -> produk politik mantap -> maka politik sebuah bangsa akan maju.

 

***

 

Yang Kedua, hubungan antara kesejahteraan dan stabilitas politik sebuah negeri.

Negeri yang gaduh, jelas mempengaruhi stabilitas politik. Dan ketidak stabilan politik ini akan berdampak pada runyamnya situasi ekonomi.

Mengapa masyarakat gaduh berkelahi? Mengapa orang-orang memilih turun ke jalan? Mengapa banyak orang mengadu nasib memburu rente di kursi dewan? Itu semua terjadi salah satunya karena ketidak sejahteraan. Maka orang mudah untuk tidak puas. Lalu ekspresif ke jalanan.

Orang yang lapar relatif mudah tersulut. Seperti jerami yang kering. Mudah terbakar. Gampang tersulut.

Kondisi politik yang tidak stabil juga disebabkan karena sebuah bangsa senang bergaduh ria. Senang konflik. Senang bertengkar. Senang membahas yang remeh temeh. Mengapa semua itu terjadi? Karena banyak pengangguran, banyak orang yang tidak punya aktivitas positif, akhirnya mereka gaduh.

Sekumpulan masyarakat yang lapar memang mengerikan. Dan jangan harap politik bisa maju jika tidak didorong dengan kesejahteraan.

Memang seperti ayam dan telur, mana yang lebih dulu. Apakah politik maju lalu ekonomi maju, atau ekonomi dahulu lalu politik maju.

Saya lebih berkeyakinan pada ekonomi terlebih dahulu. Disinilah tugas anak muda Indonesia untuk mendorong kesejahteraan. Bekerja serius mengisi ruang kosong pembangunan. Bukan malah gaduh memperkeruh kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

***

 

Yang ketiga adalah, kesejahteraan anak muda akan mendorong suplai bahan baku politik yang berkualitas.

Kita tahu bahwa pemilu hanyalah proses. Pemilihan legislatif adalah proses memilih wakil rakyat yang ditawarkan oleh partai politik. Jadi sudah “given” dari langit. Calon-calon itu sudah terjajar di lembar pemilih. Kita hanya bisa memilih mereka yang tersaji di lembar suara.

Pertanyannya? Bagaimana jika calon wakil rakyat yang tersedia adalah orang-orang yang tidak kompeten? Ini adalah tantangan demokrasi kita hari ini : bahan baku politik yang rendah kualitasnya.

Pemilu adalah proses. Wakil rakyat dan kepala daerah adalah hasil atau output dari proses. Dan disinilah yang kita tidak sadari, seperti apakah inputnya?

Sehebat hebat tukang masak nasi goreng, jika nasinya busuk, hancur juga masakannya. Got it?

Saya yakin, banyak anak-anak muda yang penuh energi, tulus, berkemampuan dan berdedikasi, yang siap untuk duduk di legislatif. Mereka siap untuk mengawal RUU, mereka siap untuk menyuarakan aspirasi, tapi mereka lamban membangun kesejahteraan hidup. Andai mereka sudah selesai di taraf kehidupannya, pastilah mereka akan turun bertarung di pemilu.

“Lho, kan jadi anggota dewan digaji”…

Ijinkan saya menjelaskan kepada Anda sekalian.

Misal, Anda berniat menjadi anggota DPR RI dapil V jabar misalnya. Kabupaten bogor.

Untuk menjadi wakil rakyat dari Dapil V jabar kabupaten bogor, anda harus bertarung memperebutkan 9 kursi dewan.

Jika total jumlah pemilih tetap adalah 3,3 juta orang, lalu anggaplah yang memilih berjumlah 2,7 juta orang, maka 1 kursi ekivalen dengan 300.000 suara.

Jika Anda ingin duduk di DPR RI, maka Anda harus kejar capaian 300 ribu suara. maka Anda harus bekerja ke masyarakat secara organik setidak tidaknya 3 tahun sebelum pemilihan. Anda harus fokus bersentuhan dengan 4 juta masyarakat kab Bogor. Anda harus membangun jaringan di 40 kecamatan yang ada di Kabupaten Bogor. Anda harus membangun kekuatan personal di hampir 310 desa yang ada, belum dengan kelurahannya. Dan itu semua kerja sosial yang menuntut dedikasi, tanpa harap balas money!

Dalam benak saya, hanya anak muda yang berhasil membangun arus income dalam bisnislah yang mampu melakukan hal itu. Jika masih terikat pekerjaan dan banyak hal, saya yakin hal itu sulit dilakukan. Bisa saja ada anak muda yang menang cepat, tapi kemungkinan besar ia menang secara “sintetik” : (maaf) pake duit.

Dalam analisa Saya secara pribadi, jika banyak anak muda yang mampu membangun bisnis secara mapan di usia produktif, maka dia dapat mendedikasikan sisa usia produktifnya untuk melayani masyarakat. Semoga dia tidak korupsi, karena arus uang dalam bisnis nya sudan cukup menjawab penasarannya tentang hidup kaya. Di titik inilah politik kita maju. Di titik inilah politik kita berkualitas.

Jika generasi muda Indonesia banyak yang berbisnis dan segera “ON Busines”, maka Saya yakin, secara psikologis, mereka akan berfikir untuk mengaktualisasikan dirinya. Pasti ada dorongan berbuat untuk masyarakat. Dan langkah kontribusi pelayanan yang terbaik adalah melalui jalur politik, disanalah urusan publik difikirkan dan dieksekusi.

Sekali lagi, kita membutuhkan bahan baku politisi yang segar, muda, energik, dan memiliki sumber daya (duit). Dan menurut Saya, sosok itu ada pada pengusaha muda.

Fakta pedih hari ini adalah : sistem pemilu liberal negeri ini telah menutup pintu bagi anak muda yang “kekurangan sumber daya”. Bahkan, sekalipun Anda tidak berniat untuk money politic, kerja politik seperti sosialisasi, bangun timses, operasional tim ahli, program program ke konstituen bahkan living cost Anda, pastilah membutuhkan banyak sumber daya (baca : duit). Itu fakta yang harus dibeberkan..

Jika ada anak Muda yang bisnisnya baik, niatnya baik dan kemampuannya baik. InsyaAllah majulah Politik negeri ini. Amiin.

 

***

 

Semoga manfaat.

Rendy Saputra

– CEO KeKe Busana

– Sekjend JPMI Pusat (Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia)

Jangan Bawa Agama dalam Politik !


oleh : Ustadz Dr. Warsito, Lc

“Munafik !!! Jangan bawa-bawa agama ke dalam politik” demikian komentar banyak orang kepada partai dakwah…
Luar biasanya kader partai dakwah menjawab : Kami memang BERBEDA dengan Anda dan kebanyakan yang berpolitik di Indonesia…

Anda dan kebanyakan orang tidak pernah membawa agama ke dalam POLITIK maka PENYUAPAN UANG (MONEY POLITICS) dalam politik adalah biasa…

Anda dan kebanyakan orang tidak pernah membawa agama ke dalam POLITIK maka PENIPUAN dan DUSTA dalam politik adalah Tidak BERDOSA…

Anda dan kebanyakan orang tidak pernah membawa agama ke dalam POLITIK maka ĶÒRUPSI di Indonesia semakin MERAJALELA…

Anda dan kebanyakan orang tidak pernah membawa agama ke dalam POLITIK maka yang menjadi KORBAN adalah RAKYAT JELATA…

Anda dan kebanyakan orang tidak pernah membawa agama ke dalam POLITIK maka RAHMAT dan KEBERKAHAN TUHAN entah kemana…

Kami memang BERBEDA…

Baik ke meja makan, ke wc, ke kamar tidur, ke tempat kerja, ke pasar, kami akan SELALU BAWA AGAMA kami kemanapun kami melangkah….

Baik dalam beraktifitas ekonomi, sosial, pendidkan, budaya dan apalagi POLITIK yang PENUH dengan FITNAH…

AGAMA kami akan SELAKU DIBAWA dan DIPEGANG TEGUH…

Karena kami BUKAN orang-orang SEKULER !!

ODOJ Satu Tiga Enam


Tak terasa telah sebulan saya bergabung di sebuah komunitas kebajikan. Komunitas manusia yang disatukan dalam nikmat Iman, nikmat Islam, dan ukhuwah. Sekumpulan manusia biasa yang ingin menjadi luar biasa. Sekumpulan manusia super sibuk, berbagai profesi terkumpulkan disana. Mulai dari manajer perusahaan, pengusaha, peneliti, sales kendaraan bermotor, presiden mahasiswa salah satu kampus di Borneo, mahasiswa dan profesi-profesi lainnya. Komunitas ini pun terpisah oleh jarak yang bervariatif, ada yang di Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Jogja, Banten, Sukabumi, Tegal, Kendal, Kalimantan hingga Makasar.

Awalny kami tak saling kenal, bertatap muka pun hanya via foto profil di whatsapp. Tapi ntah kenapa ikatan persaudaraan disini semakin kuat. Mereka berlomba saling menguatkan, saling mengingatkan dalam tugasnya masing-masing. Dengan dibantu mimin yang kece badai, komunitas ini pun solid menguatkan. Bahasan didalamnya pun tidak hanya mengkhatamkan Quran, karena banyaknya profesi kita bisa sharing pengalaman. Dan sharing tentang kejombloan menjadi porsi yang menggalaukan bagi yang belom menikah, hehe.

Komunitas ini dinamakan ODOJ. Saya udah lama tahu perihal ODOJ, tapi belum mengenalnya secara mendalam. Di bulan desember ini saya beranikan diri tuk bergabung di komunitas ini. Awalnya memang terbersit ketakutan dalam diri. Apakah bisa selesaikan target 1 juz sehari. Toh selama ini bisa dihitung berapa hari (di luar ramadan) yang bisa nge-juz sehari. Terlalu banyak pikiran negatif yang membentengi diri tuk bisa masuk ke ODOJ ini. Akhirnya Bismillah aje lah. Jebol juga tuh benteng, hehe.

ODOJ 136

Telah sebulan di ODOJ ini, berarti telah khatam 1x membaca Quran. Alhamdulillah. Sebuah keajaiban bagi saya pribadi tuk bisa khatam Quran 1 bulan kalo bukan di Ramadan. Berkaca dari testimoni teman-teman yg udah dulu merasakan efek positif sebulan khatam, saya pun merasakannya juga. Testimoni kebaikan ini lah yang harus disebarkan, sebab di zaman ketidakpercayaan ini yang mana testimoni keburukan menghimpit testimoni kebaikan sehingga wajar bangsa ini gak baik-baik.

Banyak masalah pribadi yang membuat diri ini galau, alhamdulillah satu persatu mulai rontok itu masalah. Saya sebut itu keajaiban Al Quran. Bagaimana salah satu fungsi Quran sbg Asy Syifa. Berharap akumulasi keajaiban ini berlanjut di tahun 2014 ini. Aamiin.

Ide komunitas ODOJ ini simpel, bagaimana orang bisa mengaji walaupun dengan terpaksa. Yaaa, memang harus dipaksa sebuah kebaikan agar berujung kepada kebiasaan. Kebiasaan yang akan membentuk karakter personal, terus meluas hingga mempengaruhi lingkungan sekitar. Hingga terbentuklah lingkungan kebajikan. Tercatat per 5 Januari 2014, telah terbentuk 1.713 komunitas ODOJ dengan manusianya sebanyak 51.390 orang. Luar biasa. Berarti di Indonesia telah khatam Quran sebanyak 1.713 kali setiap harinya. Semoga Allah memberkahi bangsa ini.

Efek domino dari ODOJ mulai bermunculan ide One-bla bla. Yang saya tahu telah ada One Day One Page dan One Month One Book, menarik kita tunggu One-apa lagi yang bermunculan. Efek kebajikan yang luar biasa. Semoga akumulasi ide kebaikan ini bisa membuat bangsa ini lebih baik dan senantiasa diberkahi Allah swt. Aamiin.

Salam cinta buat mimin Oom Andri, bro Abu Reza, ust Adam Ibrahim, bro Aji Seto, bro Aldi, bro Ali, bro Ari, bro Aria, bro Arian, bro Asep, bro Ashari, bro Bheri, bro Eko, bro Erik, bro Fahmi, bro Firman, bro Genki, bro Galih, bro Handri, bro Jefri, bro Kurniawan, bro Iqna, bro Mahdi, bro Maryadi, bro Miswan, bro Muammar, bro Priyatno, bro Redha, uda dokter Ronald, dan bro Septian. Semoga kita tetap istiqomah brother. Salam cinta dari Bumi Sriwijaya. *berharap bisa tatap muka secara langsung 🙂

Testimoni bro Aldi >> http://aldidesmet.blogspot.com/2014/01/43-one-day-one-juz-membaca-alquran-jadi.html

 

Ayat :: Proyek Besar Quran


KING SAUD UNIVERSITY MEMBUAT PROYEK BESAR 
AL QUR’AN DIGITAL
***

Banyaknya pengguna komputer, laptop, tablet hari ini, menyebabkan kebutuhan akan software / aplikasi demikian tinggi. Berbagai software dibuat untuk membantu para pengguna komputer. Salah satunya adalah proyek besar dari King Saud University, yaitu membuat Al Qur’an Digital Terlengkap.

King Saud University adalah salah satu universitas terbesar di Arab Saudi. Software Al Qur’an Digital ini digarap dengan serius dan profesional serta didanai secara penuh oleh King Saud University.

Quran Karim
Quran Karim

Diharapkan dengan kehadiran Software yang diberi nama Ayat ini dapat membantu umat muslim seluruh dunia untuk terus berinteraksi dengan Al Qur’an, dan menghafal Al Qur’an. Software Ayat dapat di download secara Gratis. Saat ini sudah diluncurkan Versi 1.2.2 dengan fasilitas antara lain :

1.    Terjemah Bahasa Indonesia dan 20 Bahasa Lainnya
2.    Tafsir Bahasa Indonesia dari Al Jalalayn
3.    Murottal MP3 Al Qur’an lebih dari 20 Qori / Imam
4.    Putar Murottal MP3 Per Ayat
5.    Dirancang untuk membantu menghafal Al Qur’an
6.    Pengulangan Per Ayat / Halaman yang ingin dihafal
7.    Mode Latihan Hafalan dengan Highlight Ayat
8.    Mode Tilawah untuk membaca Al Qur’an
9.    Pencarian Ayat / Terjemah
10.    Tersedia untuk Windows / Mac / Linux/ Android

Salah satu kelebihan software Ayat ini yaitu adanya fasilitas untuk membantu menghafal Al Qur’an, pengguna bisa memilih menu Latihan Hafalan dan pengulangan ayat per ayat.

Untuk versi bahasa Indonesia lengkap dengan tafsir dan terjemahnya kini sudah bisa di download secara gratis di sini >> AYAT — Software Quran (118 MB). Khusus versi Mac klik disini.

Setelah download aplikasi ayat, download murottal juga, agar file audionya bisa dijalankan. Silahkan pilih :
1. Syekh Hudaifi (409 MB) klik disini
2. Syekh Al Ghomidi (423 MB) klik disini
3. Syekh Abdul Basit (537 MB) klik disini
4. Syekh Husari (734 MB) klik disini
5. Syekh Misyari Rasyid Alafasy (819 MB) klik disini
Untuk menginstall murottal bisa juga dari Aplikasi Ayat masuk ke menu Download lalu pilih Qori yang diinginkan.

Semoga dengan mengInstall aplikasi Al Qur’an Digital di laptop / komputer kita menjadikan hari-hari kita bekerja didepan laptop / komputer menjadi penuh keberkahan.

Sriwijaya Party : Bedagang


19 Oktober 2013. Hari itu untuk pertama kalinya saya mengikuti seminar dengan niat dari hati. Dan juga harus mengeluarkan budget sendiri tuk beli tiketnya. Maklumlah, saya orang yang tidak terlalu berminat dengan yang namanya seminar, kecual seminar proposal *eh. Makanya bisa dikatakan saya minim sekali mempunyai “cinderamata”mengikuti  seminar, yaa sertifikat. Sebab sekarang ini sertifikat dianggap menjadi barang sakti yang dicari mahasiswa. Tanpa tahu jenis seminar apa yang diadakan. Mental sertifikat ini juga yang membuat organisasi selalu menghadiahkan cinderamata agar acara yang mereka adakan ramai oleh mahasiswa. Selalu ada kata-kata “ada Sertifikat !!” di hampir mayoritas poster atau pun pamflet. Semoga kita tidak menjadi mahasiswa pemburu sertifikat.

Oya, seminar ini pun saya ikuti karena ada embel-embel Pesta-nya. Yap, pesta wirausaha sriwijaya 2013. Pesta selalu identik dengan meriah dan tidak membosankan. Kontras dengan persepsi seminar selama ini yang selalu monoton *versiGue. Pilihan kata yang tepat tuk dijadikan titel seminar kali ini. Great! Dan yang datang pun orang-orang yang saya kenal di tuiter, jadi sedikit banyak tau background mereka. Entah apa yang merasuki saya saat itu, langsung saja saya mendaftarkan diri tuk ikut pesta itu dengan junior di kampus.

Maksud hati ingin ikut full session, mulai pagi ampe sore. Tapi apa daya manusia. Malam sebelum acara ketika hijrah dari Layo ke Palembang tanpa disangka si ban pecah, dan si ban ini pun tidak mau dibongkar di sembarang tempat. Jadilah malam itu kembali ke Layo lagi. Dan besoknya pas hari H baru bisa ke palembang jam 11.

DSC_3979

Akhirnya bada zuhur baru bisa bergabung ke pesta itu. Saat itu mas Fauzi Rahcmanto lagi manggung di depan. Dengan pembawaan yang santai dan menarik, beliau mencoba untuk merekonstruksi mindset peserta; bagaimana kita harus bisa bervisualisasi, bahkan sejak kecil harus dilatih bermimpi. Kemudian menjelaskan tentang betapa berharganya yang namanya gagasan. Gagasan itu lebih mahal dibanding pitih (uang). Gagasan itu bisa beranak pinak, mudah menyebar kemana-mana. Serta menjelaskan faktor sukses berbisnis; disukai-dikuasai-dibutuhkan. Trilogi yang harusnya ditanamkan pengusaha muda Indonesia jikalau ingin kuasai dunia. Hhmm.

Ternyata paginya yang manggung mas Jay Terroris dan mas Elang Gumilang. Dan saya melewatkan aksi panggung mereka. Semoga bersua di lain waktu. Masuk ke sesi terakhir bada ashar, yang nampil si Embah Saptuari. Aseeliii, nampol banget budak sikok ini. Supperrr saaakkkseeesss-lah. Beliau menceritakan kisah pedessss-nya menjadi pengusaha. Inspiratif banget. Beliau juga memaparkan kesalahan yang sering dilakukan pengusaha, antara lain :

  • Tidak fokus/tekun

  • Ikut-ikutan/miskin ide, harusnya berani beda donkss

  • Gampang percaya sehingga mudah ditipu

  • Maunya instan, gak mau proses

  • Terlalu banyak gaya, untung dikit belikan barang mewah

  • Mudah hutang hingga gak bisa bayar

  • Buta akan keuangan, padahal ini URGENT bangeetttsss. Apa itu omzet, profit dan bla bla.

  • Cepat puas sehingga berhenti belajar

  • Salah niat sehingga orientasi bisa ngawur ngidul.

DSC_3980

Gendeng bangeth lah si embah sikok ini. Penyampaiannya seger banget. Beliau juga tekankan bahwasanya kita sebagai muslim harus bisa berbisnis dengan Allah sehingga niat kita selalu benar, insyaAllah. Dan senantiasa gelar sajadah, yang Wajib pasti dikerjain, sunnah-nya di kencengin !! Sila cek Ali Imran:26 biar lebih memotivasi kita semua, ujarnya di penghujung acara.

DSC_3985

** insting nyeleneh saya berujar bahwasanya modal tuk jadi pengusaha yaitu niat, fokus, berbagi serta ‘gelar sajadah’. Sebab melihat pengusaha-pengusaha sukses saat ini, mereka juga pernah mengalami titik kritis dan mereka imbangi itu semua dengan modal diatas. Yaap, tidak ada pengusaha sukses tanpa titik kritis. Itulah yang menjadi value dari seorang pengusaha, mereka lebih cepat berkembang dikarenakan titik kritis mereka yang mendongkrak mindset. Terutama poin berbagi diatas, mereka sangat jor-joran. Layaknya para sahabat Rasul yang tak mau kalah satu sama lain ketika hartanya disedekahkan kepada yang membutuhkan. Semoga tulisan ini melecut penulis agar lebih josh lagi. Yeah!! **

Bersama mbah Saptuari & mbah Erdian

Malcolm X


Sebenarnya udah lama film Malcolm X (1992) ini memenuhi isi hardisk laptop, tapi baru semalam dan hari ini berkesempatan nontonnya. Durasi film yg hampir 4 jam membuatku tuk mencari waktu yang tepat untuk menontonnya. Lebih lama dari durasi film-film India kebanyakan. Film Veer Zaraa yang aku anggap sebagai film terlama, hampir 3jam-an lebih. Ternyata disalip durasinya sama Malcolm X. Itu pun nonton dengan 2 chapter waktu, semalam dan hari ini. Sebagai penganut simple-isme, menonton film dengan durasi yang lama pastilah membosankan. Serta kebingungan tuk mencari benang merah dari si film. Alhamdulillah Malcolm X is done.

Oiya, ternyata bornday si Malcolm X sama kayak bornday-nya si Fajar Aditya Emozha, amejingg !! Terus usia Malcolm X yang ternyata berhenti di umur 39 tahun. Sungguh usia emas seorang pahlawan. Kematianya pun diterjang gerombolan peluru. Mengingatkan ku pada sosok ustadz Hasan Al Banna.

Ekspektasi di awal nonton sungguh biasa saja, sebab kisah Malcolm X dimulai dari kisah masa kecil, ayah seorang aktivis pendeta negro. Terus beranjak remaja yang mana menganut pergaulan bebas, ciri khas Amerika-lah. Hingga akhirnya berujung di penjara. Disinilah dia menemukan jalan hidupnya. Sepertinya sudah menjadi jalannya para pahlawan, pernah merasakan dinginnya lantai penjara.

malcolm X

Ekspektasiku mulai berubah ketika Malcolm masuk Islam, sebab Islam yang diterimanya hanya sebatas mengangkat supremasi orang negro saat itu, ibarat  perjuangan Nelson Mandel di Afsel. Dia juga mempunyai murobbi, Elijah Muhammad namanya. Elijah adalah pendiri dan ketua Nation of Islam (NOI), sebuah organisasi tempat berkumpulnya orang-orang kulit hitam (negro) yang bernafaskan Islam. Nah, sosok Elijah ini mencerminkan sosok Rasulullah, sebab dia mengaku sebagai nabi utusan Allah di muka bumi. Menarik tuk ditonton, mungkin sekian sedikit mukaddimah film Malcolm X. Ceritanya sungguh mengharu biru.

Cocok ditonton buat yang katanya sebagai aktivis Islam kontemporer. Banyak kisah dan pesan yang bisa kita ambil dari film ini. Sosok Malcolm X sendiri diperankan oleh Denzel Washington. Seorang aktor negro yang telah sukses di Hollywood. Oiya, disini Denzel Wahington masih muda. Sekarang udah tua ;D

Selamat menonton 🙂

Sedikit biografi singkat MALCOLM X >> http://id.wikipedia.org/wiki/Malcolm_X

Ekstase Miraj


 

Sekiranya ku menjadi Muhammad
Takkan sudi ku beranjak ke bumi
Setelah sampai di dekat ’Arsyi
-’Abdul Quddus, Sufi Ganggoh-

Buraq namanya. Maka ia serupa barq, kilat yang melesat dengan kecepatan cahaya. Malam itu diiring Jibril, dibawanya seorang Rasul mulia ke Masjidil Aqsha. Khadijah, isteri setia, lambang cinta penuh pengorbanan itu telah tiada. Demikian juga Abu Thalib, sang pelindung yang penuh kasih meski tetap enggan beriman. Ia sudah meninggal. Rasul itu berduka. Ia merasa sebatang kara. Ia merasa sendiri menghadapi gelombang pendustaan, penyiksaan, dan penentangan terhadap seruan sucinya yang kian meningkat seiring bergantinya hari. Ia merasa sepi. Maka Allah hendak menguatkannya. Allah memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda kuasaNya.

Buraq namanya. Ia diikat di pintu Masjid Al Aqsha ketika seluruh Nabi dan Rasul berhimpun di sana. Mereka shalat. Dan penumpangnya itu kini mengimami mereka semua. Tetapi dari sini Sang Nabi berangkat untuk perjalanan yang menyejarah. Disertai Jibril ia naik ke langit, memasuki lapis demi lapis. Bertemu Adam, Yahya serta ’Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim. Lalu terus ke Sidratul Muntaha, Baitul Ma’mur, dan naik lagi menghadap Allah hingga jaraknya kurang dari dua ujung busur. Allah membuka tabirNya..

Allah.. Allah.. Jika melihat Yusuf yang tampan sudah membuat jari para wanita teriris mati rasa, apa gerangan rasa melihat Sang Pencipta yang Maha Indah? Atau katakan padaku shahabat, apa yang kau rasakan saat melihat Ka’bah yang mulia untuk pertama kalinya? Ya, sebuah ekstase. Kita haru. Kita syahdu. Air mata menitik. Raga terasa ringan. Jiwa kita penuh. Mulut kita ternganga. Maka apa kira-kira yang dirasakan Muhammad, Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam ketika ia mi’raj bertemu Rabbnya? Kesyahduan. Keterpesonaan. Kesejukan. Kenikmatan ruhani. Kelegaan jiwa. Tiada tara. Tiada tara. Tiada tara.

Demi Allah, alangkah indahnya, betapa nikmatnya..

Maka ada benarnya Sufi Ganggoh itu. Di saat mengalami puncak kenikmatan ruhani itu, tentu ada goda untuk bertahan lama-lama di sana. Kalau bisa, kita ingin menikmatinya selamanya. Atau setidaknya mengulanginya. Lagi dan lagi. Kesyahduan yang tak terlukiskan, ruhani yang terasa penuh, berkecipak, mengalun. Jiwa yang terpana bagaikan titik air menyatu dengan samudera, kedirian kita hilang lenyap ditelan kemuliaan dan keagungan Ilahi. Kita ingin mereguknya, menyesapnya, lalu rebah, dipeluk, direngkuh, dan menyandarkan hati di situ saja. Selama-lamanya.

Kenikmatan ruhani. Kekhusyu’an batin. Kita pasti ingin menikmatinya selalu. Kita menghasratkannya tiap waktu. Tetapi justru di situlah salahnya. Justru di situlah kekeliruan terbesar kita.

Coba tengok perjalanan mi’raj Sang Nabi. Ia tidak terjadi setiap hari. Ia terjadi sekali, hanya ketika deraan rasa sakit, badai kepiluan, dan himpitan beban telah melampaui daya tahan kemanusiaan. Ia terjadi ketika sang Rasul merasakan puncak kepayahan jiwa; da’wah yang ditolak, seruan yang diabaikan, pengikut yang tak seberapa, sahabat-sahabat yang disiksa, dan para penyokong utama satu demi satu mencukupkan usia. Maka satu hal yang kita maknai dari perjalanan mi’raj adalah, bahwa ia sekedar sebuah waqfah. Ia sebuah perhentian sejenak. Sebuah oase tempat Sang Nabi mengisi ulang bekal perjalanannya. Bekal perjuangannya.

Mi’raj bukanlah titik akhir dari perjalanan itu. Merasakan kenikmatan ruhani yang dahsyat bukanlah tujuan dari perjalanan hidup dan risalahnya. Itulah yang membuat Sang Nabi dan Sang Sufi dari Ganggoh bertolak belakang. Jika Sang Sufi memandang ekstase kenikmatan ruhani itu sebagai tujuan hidupnya, Sang Nabi sekedar menjadikannya sebuah rehat. Sejenak mengambil kembali energi ruhani, mengisi ulang stamina jiwa. Sesudah itu dunia menantinya untuk berkarya bagi kemanusiaan. Dan iapun, kata Muhammad Iqbal dalam Ziarah Abadi, menyisipkan diri ke kancah zaman.

Padaku malaikat menawarkan,
”Tinggallah di langit ini, bersama syahdu sujud-sujud kami
Bersama kenikmatan-kenikmatan suci”
”Tidak!”, kataku, ”Di bumi masih ada angkara aniaya
Di sanalah aku mengabdi, berkarya, berkorban
Hingga batas waktu yang telah ditentukan.”

Inilah jalan cinta para pejuang. Para penitinya bukanlah para pengejar ekstase dan kenikmatan ruhani. Mereka adalah pejuang yang mengajak pada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. Dalam kerja-kerja besar itu, terkadang mereka merasa lelah, merasa lemah, merasa terkuras. Maka Allah menyiapkan mi’raj bagi mereka. Sang Nabi yang cinta dan kerja da’wahnya tiada tara itu memang mendapat mi’raj istimewa; langsung menghadap Allah ’Azza wa Jalla. Kita, para pengikutnya, berbahagia mendapat sabdanya, ”Saat mi’raj seorang mukmin adalah shalat!”

Shalat, kata Sayyid Quthb, adalah hubungan langsung antara manusia yang fana dan kekuatan yang abadi. Ia adalah waktu yang telah dipilih untuk pertemuan setetes air yang terputus dengan sumber yang tak pernah kering. Ia adalah kunci perbendaharaan yang mencukupi, memuaskan, dan melimpah. Ia adalah pembebasan dari batas-batas realita bumi yang kecil menuju realita alam raya. Ia adalah angin, embun, dan awan di siang hari di siang hari bolong nan terik. Ia adalah sentuhan yang lembut pada hati yang letih dan payah.

Maka shalat adalah rehat. Ketika tulang-tulang terasa berlolosan dalam jihad, rasa kebas di otot dan kulit berkuah keringat, Sang Nabi bersabda pada muadzinnya, ”Yaa Bilal, Arihna bish shalaah.. Hai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat!”

Berhala Kekhusyu’an

Seorang musafir berhenti di sebuah Masjid. Ia lelah, gerah, penat, pegal, dan pening. Terlebih, sepanjang jalan ia merasa sepi di tengah ramai, dan asing di tengah khalayak. Di masjid itu ia menemukan ketenangan. Wudhunya serasa membasuh seluruh jiwa raga. Ketika air itu menyapu, ia seperti bisa melihat noktah-noktah hitam dosanya luntur berleleran, mengalir hanyut bersama air. Dalam shalatnya ia benar-benar merasa berdiri di hadapan Sang Pencipta. Tiap bacaannya seolah dijawab olehNya. Ia merasakan getar keagungan. Ini pertama kalinya ia bisa terisak-isak dalam sujudnya. Hatinya diselimuti perasaan tenteram, sejuk, penuh makna. Dia merasakan sebuah ekstase.

Saat lain ia lewat di masjid itu. Ia memang sengaja ingin shalat di sana. Ia rindu kekhusyu’annya. Masjid ini memancarkan keagungan. Pilar-pilarnya tegak kokoh, berlapis marmer kelabu. Kolom-kolom setengah lingkarannya manis dengan ukiran geometris. Lampu-lampunya remang dibingkai logam mengilat bersegi delapan. Lantainya lembut menyambut tiap sujud, dingin menyejukkan khas granit hitam.

Ia memilih shalat di sebalik tiang berbalut kuningan yang berukir ayat suci. Ia mencoba menghayati shalatnya. Tapi aneh. Kali ini, ia tak menemukan getar itu. Ia kehilangan kekhusyu’annya. Benar. Ia kehilangan semua perasaan itu. Tak ada ekstase. Tak ada kelezatan ruhani. Tak setitikpun air matanya sudi meleleh. Dalam sesal ia menguluk salam. Ke kanan, lalu ke kiri. Dan matanya menumbuk terjemah sebuah kaligrafi di dinding selatan. Terbaca olehnya, ”Barangsiapa mencari Allah, ia mendapatkan kekhusyu’an. Barangsiapa mengejar kekhusyu’an, ia kehilangan Allah.”

♥♥♥

Alangkah malang para penyembah kekhusyu’an. Khusyu’ menjadi tujuan, bukan sarana menuju Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Maka perhatian utama dalam shalatnya terletak pada bagaimana caranya agar khusyu’, atau setidaknya terlihat khusyu’. Ayuhai, andai kau tahu bagaimana Sang Nabi dan sahabat-sahabatnya shalat. Mereka mendapatkan kekhusyu’an bukan karena mencarinya. Mereka khusyu’ karena shalat benar-benar perhentian dari aktivitas maha menguras di sepanjang jalan cinta para pejuang. Mereka khusyu’ karena payahnya diri dan kelelahan yang membelit melahirkan rasa kerdil dan penghambaan sejati.

Seperti para penyembah Al Masih merumit-rumitkan trinitas ketuhanan, berhala kekhusyu’an juga sering disulit-sulitkan. Tak salah sebenarnya mengutip kisah bahwa ’Ali ibn Abi Thalib meminta dicabut panahnya ketika beliau shalat. Agar sakitnya tak terasa karena khusyu’ shalatnya. Tak salah juga meneladani ’Abbad ibn Bisyr yang tetap melanjutkan shalat meski satu demi satu anak panah mata-mata musuh menancap di tubuh. Tapi apakah hanya itu yang disebut khusyu’?

Sang Nabi adalah manusia yang paling khusyu’. Dan alangkah indah kekhusyu’annya. Kekhusyu’an yang seringkali mempercepat shalat ketika terdengar olehnya tangis seorang bayi. Atau memperpendek bacaan saat menyadari kehadiran beberapa jompo dalam jama’ahnya. Kekhusyu’an yang tak menghalanginya menggendong Umamah binti Abil ’Ash atau Al Hasan ibn ’Ali dalam berdirinya dan meletakkan mereka ketika sujud. Kekhusyu’an yang membuat sujudnya begitu panjang karena Al Husain ibn ’Ali main kuda-kudaan di punggungnya.

Sahabat, inilah jalan cinta para pejuang. Khusyu’ dan gelora kenikmatan ruhani hanyalah hiburan dan rehat, tempat kita mengisi kembali perbekalan dan melepas penat. Ini adalah jalan cinta para pejuang. Bukan jalan para pengejar kenikmatan ruhani, hingga harus mengulang-ulang takbiratul ihram sampai sang imam ruku’. Ini bukan jalan para penikmat kelaparan yang ketakutan berkumur saat puasa tapi diam saja menyaksikan kezhaliman. Juga bukan jalan penikmat Ka’bah yang kecanduan berhaji sementara fakir miskin lelah mengetuk pintu rumahnya yang selalu terkunci.

Senarai sejarah memberi pelajaran tentang para pengejar kenikmatan ruhani. Mereka jauh terlempar dari jalan cinta ini. Ada yang merasa diri menjadi mukmin yang baik; karena bisa menangis saat shalat, bisa terharu saat membagi zakat, bisa berdzikir hingga hilang kesadaran saat berpuasa, atau berhaji setahun sekali; terbuta mereka dari dunia Islam yang serak memangil-manggil.

Inilah mereka yang selalu bicara agama sebagai urusan pribadi. Urusan pribadi untuk menikmati kesyahduan spiritual. Bagi mereka, alangkah nikmatnya shalat khusyu’ di atas sajadah mahal, dalam ruangan berpendingin, dengan setting pemandangan yang bisa diatur berganti-ganti. Khusyu’ adalah menikmati bacaan imam bersertifikat dari audio premium, dalam hembusan harum parfum aromaterapi. Jauh di sana, di jalan cinta para pejuang, Sang Nabi shalat di sela-sela jihad menegakkan syari’at. Dengan debu, dengan darah, dengan lelah, dengan payah.

Yang lain, mencari pelarian dari tekanan dunia yang menghimpit. Menikmati rasa tenteram karena dzikirnya, rasa melayang karena laparnya, rasa syahdu karena gigil tubuhnya. Ia bertapa dalam pakaian campingnya, hidup dalam kefakirannya, lalu merasa menjadi makhluq yang paling dicintai Allah. Tapi tak pernah wajahnya memerah ketika syari’at Allah dilecehkan. Tak pernah ia merasa terluka melihat kezhaliman. Tak pernah hatinya tergetar melihat nestapa sesama. Orang-orang semacam si Sufi dari Ganggoh. Dialah si burung unta yang merasa aman saat membenamkan kepalanya ke dalam pasir. Padahal tubuhnya terguguk tepat di depan pelupuk pemburu.

Ekstase. Kenikmatan ruhani. Kekhusyu’an. Jangan kau kejar rasa itu. Dia bukan tuhanmu. Dan tak hanya seorang muslim yang beroleh kemungkinan merasakan ekstase macam itu. Tanyakan pada seorang beragama Budha, penganut Zen, Tao, atau praktikan Yoga. Merekapun mengalaminya lewat meditasi dan rerupa puja. Seorang Nasrani dari Ordo Fransiskan yang melarat merasakannya dalam pengembaraan bertelanjang kaki ala kemiskinan Kristus. Seorang Nasrani dari Ordo Benediktin yang mewah menikmatinya dalam mengoleksi relik-relik suci peninggalan para bapa gerejawi.

Bukan itu.

Bukan itu yang kita cari.

Di jalan cinta para pejuang, berbaktilah pada Allah dalam kerja-kerja besar da’wah dan jihad. Menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban, menyeru pada iman. Larilah hanya menujuNya. Meloncatlah hanya ke haribaanNya. Walau duri merantaskan kaki. Walau kerikil mencacah telapak. Sampai engkau lelah. Sampai engkau payah. Sampai keringat dan darah tumpah. Maka kekhusyu’an akan datang kepadamu ketika engkau beristirahat dalam shalat. Saat kau rasakan puncak kelemahan diri di hadapan Yang Maha Kuat. Lalu kaupun pasrah, berserah..
Saat itulah, engkau mungkin melihatNya, dan Dia pasti melihatmu..

Sepenuh cinta,

Salim A. Fillah

Sumber >> salimafillah.com/ekstase-miraj

Jilbab pekaes


Mami : dit, teman cewek kamu itu ikut pekaes ya?

Gue : memang kenapa mam?

Mami : gak, cuman nanya. Lihat tuh jilbabnya besar-besar semua. Kayak jilbabnya istri wakil walikota, pak Mahyeldi. Istrinya juga pake jilbab besar kayak gitu. Kayaknya semua cewek pekaes pake jilbab yang besar.

Gue : ooo, mungkin saja. Mereka kawan-kawan di kampus kok. Kalo gak salah mereka ikut pesantren (pesantren kampus a.k.a tarbiyah ujarku dalam hati).

Mami : hhmmm…

 anak-kecil-berjilbab

Itu sedikit dialog singkat yang terjadi di awal tahun 2012. Kebetulan saat itu rombongan kawan-kawan kampus berkunjung ke kota Padang. Mereka menginap dirumah selama 2 hari. Kalo di kota Padang memang tak heran tuk berjumpa dengan cewek-cewek berjilbab. Sebab semua sekolah negeri dan sebagian sekolah swasta telah mewajibkan siswinya untuk menggunakan jilbab. Mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas telah mewajibkan berjilbab tuk semua siswinya.

Sedangkan di kampus-kampus, kondisi mahasiswi tidaklah jauh berbeda dengan di sekolah negeri. Kota Padang yang terkenal dengan nuansa Islam yang kental membuat mayoritas warganya memakai jilbab. Apalagi di kampus yang berisi kaum intelektual, mayoritas mahasiswinya memakai jilbab. Tapi, jilbab yang dipakai masih sekedar mengikuti tren saat ini. Belum memenuh standar jilbab syari.

Nah, jilbab teman-teman gue tadi ini besar-besar semua. Bisa dikatakan udah sesuai dengan kaidah syari. Sekarang pertanyaanya, kok bisa mami gue mengidentikan jilbab besar dengan jilbab pekaes. Padahal jilbab besar (kita anggap jilbab syari disini) adalah jilbab yang seharusnya digunakan muslimah. Bisa dikatakan jilbab ideal. Bukanlah jilbab yang ada tonjolan meruncing di atas kepala, atau jilbab dengan balutan yang tebal (berbelit pasti cara makainya yaa).

Sekarang ada 2 point bagi gue; pertama syiar pekaes yang udah membumi dalam hal mencerdaskan muslimah dimana mencontohkan jilbab yang ideal. Hingga dimanapun berada, ketika ada muslimah dengan jilbab besar (biasanya disebut jilbaber) bisa dikatakan jilbab pekaes. Padahal belum tentu muslimah itu ikut pekaes. Kedua, syiar dari masing-masing organisasi dakwah baik di kampus maupun di masyarakat tuk lebih gencar mensosialisasikan jilbab ideal tadi, sehingga  tidak ada lagi yang mengatakan jilabab pekaes, tapi jilbab yang benar-benar islami. Jilbab islam sesungguhnya sesuai dengan Quran dan Hadits [].

Ini ceritaku, bagaimana ceritamu?

Penjaga


Teringat salah satu pesan dari sahabat perjuangan. Bahwasanya yang bisa menjadi penjaga “kita” di jalan ini ada 3 hal : dibina, membina dan amanah.

Dibina

Bukan rahasia umum lagi kita sebagai manusia menjadi biangnya segala kesalahan, sumbernya maksiat. Kita yang “katanya” sebagai umat terbaik yang ada di muka bumi, malah kenyataan hari ini kita menjadi kebalikannya. Label umat terbaik yang diberikan langit kepada kita haruslah benar-benar kita buktikan adanya. Haruslah terejawantahkan kedalam sikap-sikap kita menghadapi dunia yang semakin ke ujung. Lalu bagaimana menjadi umat terbaik itu? Diperlukan sebuah pembinaan yang berkesinambungan. Harus ada yang menjadi rolemodel bagi kita. Adanya sebuah wadah tempat proses bertukarnya ilmu, bertukarnya ide-ide besar. Disana kita dibina tuk bisa menjadi kuntum khaira ummah yang sebenarnya. Meskipun masih ada maksiat-maksiat kasat mata yang dilakukan, kita jangan pernah merasa putus asa. Di wadah tadi yang biasanya disebut usroh, kita dibina untuk tidak berputus asa, sebab Allah selalu punya rencana terbaik yang spesial buat ummatnya. Wadah pembinaan ini yang selalu menjaga dan mengontrol amalan-amalan kita.

Membina

Ibarat air yang tergenang di dalam sebuah wadah, jikalau tidak dialirkan bisa jadi itu menjadi sarang penyakit. Tempat terbaik semisal nyamuk tuk beranak pinak. Begitu juga dengan ilmu-ilmu yang didapat dari proses pembinaan, jangan sampai ilmu itu berhenti di kita. Maka alirkanlah ia, salah satunya dengan membina. Bukankah pekerjaan membina itu pekerjaannya para nabi? Dengan membina kita bisa mengupgrade diri, meningkatkan kapasitas diri. Secara tidak langsung, membina akan menjaga kita tuk menghindari maksiat. Kita tentu akan malu ketika tahu maksiat kita ternyata lebih banyak dari binaan kita. Kita tentu menjadi envy bahwasanya amalan binaan kita lebih bermesraan dengan Sang Pencipta dibanding kita. Jangan sampai kita melewatkan pekerjaan mulia ini.

Amanah

Agak sulit mendeskripsikan mengenai amanah ini, sebab Imam Ghazali berkata, yang paling berat di dunia ini adalah amanah. Lalu bagaimana dengan logika bahwasanya amanah bisa menjaga kita? Setidaknya amanah kan menyibukkan kita dengan proyek kebaikan. Sebab waktu kosong bagi pemuda sangatlah rawan, jikalau tidak diisi dengan proyek kebaikan, maka sang syeitan yang mencoba tuk berinvestasi di waktu luang kita. Barangtentu sebuah kerugian tuk masa depan di akhirat ketika waktu luang diisi maksiat yang disponsori oleh syeitan.

Tulisan ini ditujukan terkhusus kepada diri sendiri (penulis-red) yang sering kehilangan penjaga, semoga tulisan ini bisa memantik diri ini tuk bisa terjaga lebih baik lagi. Wallahua’lam.

Menakar Kuantitas


Mendirikan imperium kebajikan tidaklah mudah. Dibutuhkan proses yang berkesinambungan didalamnya. Terkadang proses yang ada membuat kita terlena sehingga lupa tujuan awal kita berproses ingin seperti apa. Ibarat ingin mengubah sekumpulan bulir beras menjadi sepiring nasi dibutuhkanlah proses. Dimulai dari pembersihan bulir beras terlebih dahulu. Seleksi bulir beras mana yang benar-benar layak tuk diubah menjadi sebutir nasi. Sebab tidak semuanya sanggup berproses. Disingkirkan juga jikalau ada kutu atau sejenisnya yang masih bersemayam di tumpukan beras. Selanjutnya beras dicuci dengan air yang bersih. Setelah yakin beras sudah benar-benar bersih dan layak tuk dimasak, selanjutnya beras dimasukkan ke tempat pemasakan. Sesuaikan kadar air yang digunakan dengan kuantitas beras yang kita masak. Tunggu hingga beras tadi merekah hingga menjadi nasi yang siap tuk dihidangkan.

Itulah sekelumit proses dalam memasak nasi. Disini saya mencoba menganalogikan proses diatas ke dalam pembentukan seorang kader. Tidak semua orang yang layak menjadi kader, sebab tidak semuanya sanggup berproses. Makanya sebelum proses dilakukan, dilakukanlah terlebih dahulu penyeleksian. Kita bisa lihat atlet di luar sana yang dikirim untuk ikut kejuaraan haruslah diseleksi dahulu, begitu pula seorang kader. Setelah di seleksi, kemudian dilakukanlah penyucian jiwa. Disini kan terlihat mana yang benar-benar berkomitmen, yang tangguh, yang benar-benar siap tuk menjadi agent of change, dan benar-benar siap tuk dimatangkan lebih lanjut; baik ruhiyah, fikriyah dan jasadiyah.

Selanjutnya masuk ke proses inti dalam pembentukan seorang kader. Mereka akan ditempa, dibina, diuji dan dimatangkan. Proses ini haruslah tepat. Ketidaksabaran dalam menunggu hasil pematangan akan berefek tidak baik. Bayangkan jika beras yang kita masak tidak sesuai harapan kita. Bisa saja nasinya masih agak keras disebabkan kuantitas air yang tidak proporsional dengan kuantitas beras. Atau sebaliknya, nasinya menjadi terlalu lunak. Tentu mengurangi sedapnya nasi yang akan kita hidangkan.

Perlu kejelian dalam menakar kuantitas air dan beras yang hendak kita satukan. Bagi pemula mungkin agak sulit, sebab belum ada pengalaman tuk menakar. Sebaliknya, bagi yang pernah merasakan proses ini, barangtentu sudah bisa menakar-nakar kuantitas yang hendak digunakan. Proses pematangan ini merupakan hal yang menarik bagi saya, sebab mayoritas selama ini kita terkendala disini. Terlepas dari apakah saya telah bisa menakar atau tidak,hehe.

bersambung…

Revolusi Pendidikan


Oleh : Sholah Hasim ~ Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com.

***

“Didiklah anakmu dengan sungguh-sungguh, karena ia akan hidup di sebuah masa  selain zamanmu”, demikian kutipan Ali bin Abi Thalib. Kita bersyukur, berbagai intitusi pendidikan formal bermunculan di mana-mana baik yang bercorak konvensional ataupun yang terpadu, bak jamur di musim hujan di tanah air kita. Yang dikelola oleh pemerintah maupun pihak swasta.

Secara kuantitas, input dan lulusan pendidikan sejak Taman Kanan-kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) semakin bertambah. Tetapi, jika kita mencoba melihat ke dalam secara jujur dan obyektif kita mengakui, dan mencoba memberikan catatan ringan, sesungguhnya lembaga pendidikan yang ada tidak menggambarkan, mewakili dan mewujudkan idealisme pendirian sebuah lembaga pendidikan itu sendiri.

Pendidikan yang tidak melahirkan ilmuan yang memiliki kepribadian yang pemimpin. Dan pemimpin yang ‘alim (Al ‘Alimuz Za’im waz Za’imul ‘Alim). Yang bermanfaat ilmunya, baik untuk dirinya dan orang lain, ilmu nafi’ (ilmu yang membela pemiliknya di akhirat). Bukan kepandaiannya digunakan untuk memanipulasi angka-angka, menyalahgunakan wewenang. Ilmu yang menjadi penggugat pemiliknya di Mahkamah Ilahi, ilmun la yanfa’ (ilmu yang tidak bermanfaat). Sebagaimana doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam di atas.

Faktanya, pendidikan kita telah gagal melahirkan manusia yang berkarakter. Cenderung memperlakukan anak didik bagaikan robot. Bukan manusia, yang di dalamnya ada perasaan. Pendidikan yang kurang humanis. Tampilan manusia sipil yang berwatak militer, manusia cerdas yang miskin moralitas, manusia modern yang berwatak primitif, manusia yang sehat secara pisik tetapi sakit ruhaninya, manusia yang tinggi ilmunya tetapi terpuruk budi pekertinya, manusia yang tinggi kedudukannya tetapi berjiwa kerdil, fenomena diatas adalah produk/out put/lulusan pendidikan yang ada.

Sekolah yang didirikan bukan untuk meningkatkan derajat dan kualitas kehidupan anak didik, tetapi menambah income. Sekolah yang berbasis bisnis. Anak didik dimasukkan sekolah agar kelak mendapat pekerjaan yang layak, posisi yang bergengsi.

Revolusi Pendidikan

Hasil survey yang dilakukan oleh INSISTS, mahasiswa di PT kuliah tidak ingin membangun tradisi ilmu, tetapi kelak supaya mudah melamar pekerjaan. Ada sebuah ungkapan, SDIT identik dengan “Sekolah Dasar Iuran Terus”. Sekalipun statemen tersebut sulit dicari rujukan ilmiahnya, tetapi subtansi kebenarannya tidak mudah dipatahkan.

Sekolah memperlakukan anak didik hanya sebagai harddisk yang siap dimasuki informasi apa saja, tetapi tanpa program untuk mengolahnya, meminjam istilah penulis buku-buku parenting Fauzil Adhim.

Setiap hari mereka hanya belajar menyimpan informasi rapat-rapat ke dalam otak, dan mengingat kembali saat ulangan.

Dengan akselerasi media cetak dan elektronik, merupakan media pembelajaran untuk mengelola berbagai informasi. Tetapi, mereka tidak diajari bagaimana mensterilkannya dari sesuatu yang mengotorinya. Mereka trampil menggali informasi, tetapi tidak pandai memfilternya (menyaring), – memilah-milah – selektif dalam menyerapnya. Banyak penerbitan koran yang muncul, isinya hanya identik dengan “rongsokan”. Masyarakat sulit menerima informasi yang berimbang dan bermutu. Isi berita tidak mendidik, misalnya kritik yang bersifat konstruktif, obral doa. Tetapi bermuatan obral gosip (memakan bangkai).

Reduksi Pendidikan Agama

Pendidikan agama hanya sebagai suplemen pendidikan formal. Agama diceraikan dari kehidupan sosial. Tidak dilibatkan dalam mengelola kehidupan nyata. Disamping alokasi waktu yang sedikit, itu pun menggunakan pendekatan kognitif. Jadi, pendidikan agama nyaris tidak ada. Absen dari kehidupan anak didik. Agama hanya kumpulan pengetahuan. Sehingga lulusan ushuluddin menjadi manusia “ucul-uddin (ucul/lepas agamanya), ketika dirayu dengan harta, tahta dan wanita.

Agama dilepaskan ketika disuguhi kursi, nasi dan komisi. Bukankah di Departemen Agama, Departemen Pendidikan, Departemen Kesehatan, sebagai sarang korupsi insan berdasi (hasil penelitian ICW). Agama hanya sebagai isi otak, bukan sebagai tata acuan dan tata kelola kehidupan (minhajul hayah).

Batasan pendidikan agama di sekolah dipahami pelajaran menghafal dengan materi agama, dan dalam partisi otak, diberi nama pendidikan atau pelajaran agama. Ini sangat berakibat fatal terhadap perkembangan religiusitas lebih khusus lagi spiritualitas peserta didik. Gara-gara penanaman pelajaran menghafal sebagai pendidikan agama, peserta didik mengalami dereligiusisasi dan despiritualisasi yang menyedihkan.

Padahal agama adalah nasihat, untuk Allah, Rasul-Nya, Pemimpin dan masyarakat awam. Mereka semua sejatinya tunduk dibawah komando yang memberi nasihat (agama) agar selamat. Jika hidup tidak dikontrol oleh agama, orang kecil menjadi makanan pembesar, orang bodoh menjadi ajang kesewenang-wenangan orang pintar. Orang lemah menjadi makanan orang kuat. Orang miskin menjadi mangsa the have. Mereka yang kuat, pemodal dan yang menggenggam kekuasaan menjadi makanan empuk syetan. Demikianlah kelakar seorang tokoh ketika meresmikan IAIN Walisongo Semarang. Sekalipun disampaikan secara humoris, tetap memiliki kedalaman makna.

Model pendidikan yang mereduksi agama hanya menjadi seperti pelajaran IPA, Bahasa Indonesia, Matematika, atau bahkan lebih rendah dari itu, membuat potensi ruhiyah peserta didik tumpul dan mati. Bertambah jam pelajaran agama tidak membangkitkan kekuatan maknawiyyah (spirit moral) mereka. Sebaliknya, justru bisa rentan masalah. Mereka kehilangan kepercayaan pada agama, sekalipun mereka tetap memeluk agama. Agama hanya sebagai simbol. Hari ini, itulah yang sedang terjadi. Anak-anak kita banyak mengalami kelelahan batin dan disorientasi kehidupan.

Reduksi agama ini tidak boleh diteruskan. Kekuatan ruhiyah peserta didik harus ditumbuhkan dan dikuatkan, sehingga menjadi penggerak hidup yang sempurna. Pembangkit stamina lahir dan batin. Agama menggali potensi manusia untuk berinteraksi dengan metapisik, membangkitkan idealisme, mensucikan maksud dan tujuan, menguatkan azam (tekat) untuk bergerak menuju ke arah yang lebih baik, dan menghadirkan makna, nikmat (kepuasan batin) atas setiap tindakan yang dikerjakannya.

Kita teringat seorang ulama yang buta -Direktur Madrasah Ar Rasyad– sedang menguji hafalan Hadits Arbain Hasan Al Banna yang tersendat-sendat. Beliau langsung memberi motivasi yang terkesan dalam hati murid kesayangannya itu. Asri’ Ya Gharatallah! (wahai kuda-kuda Allah percepatlah larimu).

Setelah keluar dari kelas ucapan gurunya yang cacat pisik itu, tetapi karakternya kuat, berkesan di hatinya. Kata-kata ustadznya dipraktekkan dengan kawan-kawannya untuk lomba lari. Wahai kuda-kuda Allah, percepatlah larimu! Ucapan yang langsung direspon dan dijadikan acuan kehidupan.

Kita pula diingatkan dengan Lorraine Monroe. Ketika ia harus menangani sebuah SMA dengan latar belakang siswa yang sebagian besar berantakan, -broken home- (keluarga bermasalah), dan hidup dengan logika kekerasan. Ada dua hal yang menjadi program prioritas.

Pertama, membangkitkan high level of expectation (tingkat harapan yang tinggi). Mereka dimotivasi untuk memiliki target-target, tujuan dan cita-cita besar. Kedua, meletakkan landasan berupa keyakinan (belief) yang kuat sebagai penggerak untuk melakukan dan mencapai yang terbaik (the spirit of excellence).

Proses untuk membangkitkan kekuatan ruhiyah berupa keyakinan yang kuat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta kesadaran akan kasih sayang dan kekuasaan-Nya harus mencakup semua aspek.

Kedua, sudah saatnya pendidikan dirancang untuk secara seimbang memberi sentuhan yang menggerakkan aspek kognitif, afektif, psikomotorik, dan spiritual anak. Berbagai potensi tersbut tidak bisa/tidak boleh dipisah-pisahkan. Harus utuh, dan ditangani secara  holistik. Pendidikan yang hanya menyentuh salah satu aspek saja, akan lemah dan rapuh. Jiwanya retak-retak, terbelah (split personality). Boleh jadi tampaknya kuat, tetapi tidak memiliki landasan psikis yang kuat.

Hari ini kita menyaksikan bagaimana anak-anak sejak kecil dibiasakan dengan aktifitas keislaman berubah secara drastis (180 derajat) begitu mereka bersentuhan dengan lingkungan sosial, komunitas yang berbeda atau wacana yang lain dipersepsikan batil/salah. Akhirnya merasa paling benar sekalipun jauh dari kebenaran.

Hari ini kita juga menyaksikan bagaimana anak-anak yang hanya diaktifkan kompetensi kognitifnya yang paling rendah berupa menghafal, tetapi bobrok kepercayaan dirinya. Tidak teguh dalam memegang prinsip (landasan berpikir dan bertindak). Tidak memiliki keberanian berkorban dan mengambil resiko.

Hari ini banyak orang pintar,  ilmunya menjulang ke langit (sundhul langit, Bhs Jawa), tetapi betapa parah dan memprihatinkan mutu akhlaknya. Semakin memuncak karir yang dirintis tidak semakin takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bukankah kasus KKN, simbol penyakit moral, yang menggurita di negeri ini dilakukan oleh orang yang berpendidikan sarjana. Bukan dari kalangan masyarakat awam.

“Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh.” (al-Hadits).

Mereka menyerap pelajaran umum, pelajaran agama, tetapi tidak disertai dengan penghayatan dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam skala individu, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Agama hanya sebatas sebagai makanan logika, konsumsi otak. Sehingga kaya dengan serimonial keagamaan tetapi miskin aplikasi. Agama hanya sebagai simbol, kehilangan spirit.

Akibatnya, wawasan mereka luas dan banyak. Tetapi, hanya sebagai mantra, bukan resep untuk mengurai kerumitan kehidupan. Hampir-hampir tidak ada yang diingat ketika mereka menghadapi masalah.  Yang dipelajari tidak bisa menjadi acuan dalam mengatasi problem yang dihadapinya. Idealismenya melangit, tidak bisa dibumikan.

Rahibun fillail, Fursanun Finnahari

Sebabnya, proses pendidikannya salah. Input yang berbobot pun melahirkan out put yang tidak berkualitas. Perlakuan yang mereka terima di sekolah/universitas, hanya mencerdaskan otak, kemampuan manusia yang paling rendah (kognitif). Tidak peduli – dengan rasa dan karsa serta sikap mental -.

Berbagai upaya untuk melakukan revousi pendidikan mendesak dilakukan. Usaha yang terencana – yang mengaktifkan secara stimulan dan simultan berbagai potensi manusia, akliyah, ruhiyah dan jasadiyah – . Memadukan energi ijtihad, jihad dan mujahadah, perlu dilakukan sekarang juga. Sehingga mereka malam hari bagaikan pendeta, siang hari bagaikan panglima (rahibun fillail, fursanun finnahari).

Karenanya, proses pematangan konsep dan penerapan pendidikan yang holistik harus dipikirkan semua komponen bangsa sejak saat ini, sehingga cita-cita kita terwujudnya pendidikan integral, kurikulum berbasis tauhid tidak hanya berupa bayang-bayang.

***

Sumber tulisan : http://www.undergroundtauhid.com/pendidikan-yang-lahirkan-rahib-di-malam-hari-panglima-di-siang-hari/

Sumber gambar : Blog.unsri.ac.id

3puncak 2hari 1lembah


”Kita hanya butuh kaki yang berjalan lebih jauh, tangan yang akan berbuat lebih banyak, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras, serta mulut yang akan selalu berdoa.“ [5cm]

Kata-kata diatas awalnya kuanggap biasa saja, sebatas pemanis tuk menjadi Trending Topic tuk novel 5cm. Yap, kan menjadi kata-kata yg selalu diingat ketika terlintas ‘5cm’. Tapi sekarang tidak lagi bagi diriku, sebab kata-kata diatas sungguhlah keramat terhitung sejak 5 Januari 2013. Sebuah rangkaian kata yang saling terhubung, yang saling melengkapi pastinya. Sebuah quotes yang benar-benar akan dirasakan ketika kita menjadi aktor di lapangan. Pengalaman itu memang mahal harganya. Makanya tak salah ketika pengalaman akan menjadi guru yang paling berharga, saking mahalnya harga yang harus ditebus.

Dempo yg kokoh !
Dempo yg kokoh !

***

040113 – merupakan tanggal keberangkatan tuk menuju puncak keajaiban. Beranggotakan 11 orang kami berangkat menuju Pagar Alam. Menggunakan pesawat darat “Melati Indah” kami take-off jam 4an. Dari 11 orang yang ada ini, hanya 1 orang saja yang telah pernah merasakan puncak Dempo. Yap, Dempo merupakan tujuan kami kali ini. Kami harus bisa menaklukkannya, meskipun itu masih berada di lintasan pikiran kami semua. Canda tawa mengiringi perjalanan kami, dibumbui cerita-cerita gokil tentang “mereka”, tentang tujuan kami nantinya, tentang mimpi-mimpi kami, dan cerita-cerita aneh bin ceria lainnya.

050113 – Tiba saatnya tuk pendakian. Personal kami bertambah menjadi 13 orang, transferan dari Lahat. Cuaca dingin menyambut kami ketika bangun tidur dan bergegas ke Mesjid pada subuh hari. Cuaca dingin khas pegunungan meresap ke tulang-tulang ceking kami semua. Geli-geli sedap rasanya. Sekitar jam 8an kami sudah berada di Rimau. Rimau merupakan salah satu gerbang pendakian ke puncak Dempo. Tepat pk 8.50 setelah terlebih dahulu Dhuha dan pemanasan, kami memasuki gerbang Dempo. Kami memasuki altar pekarangan Dempo. Kami disambut kicauan para penghuni kaki Dempo. Dempo sangat kokoh berada didalam sana. Oiya, ketika di Rimau kami disambut kawanan kabut, sehingga kami seolah-olah berada di dunia lain. Kebun teh yang menjadi landmark Pagar Alam pun tidak bisa kami nikmati keelokannya.

Rimau
Rimau
Rimau Euy!
Posko Rimau
Gerbang Rimau
Gerbang Rimau

Target waktu sampai ke puncak tidak bisa kami putuskan, sebab kami hanya sekumpulan pemula. Kami sangat berterima kasih kepada 2 guide kami, bang AA dan bang IFW. Tanpa mereka mungkin saja pertualangan kami ini tidak kesampaian. Dank yu;Syukron;Arigato Gozaimasu; hanya itu mungkin yang bisa kami berikan bang. Terutama bang AA yang keren banget, kami memanggilnya Big Bos. Salute for you bro!!

Awalnya perjalanan kami ceria banget. Udara khas pegunungan kami hirup dalam-dalam. Sangat langka kami rasakan sensasi seperti ini jika berada di Palembang ataupun Indralaya. Lebih kurang 1jam-an kami sampai di shelter1 (tempat pemberhentian resmi). Yeah! Dengan asumsi hanya 2 shelter yang ada, kami berharap puncak semakin mendekat ke kami. Shelter 2 pasti juga dekat, ternyata itu semua hanya ilusi. Semakin kepuncak kadar oksigen yang ada semakin menipis, semakin jauh pula shelter 2.

Shelter 2
Shelter 2

Perjuangan baru terasa ketika telah melewati shelter 1. Fisik yang sudah ngos-ngosan. Daya tahan tubuh yang semakin redup. Semakin ke atas, detak jantung semakin berlari. Berdetak dengan dug dug dug lebih cepat dari normalnya. Kondisi trek yang semakin ekstrim. Beruntungnya kami hari itu tidak turun hujan selama pendakian ke puncak, hanya disambut gerimis dan nyanyian angin. Tentang nyanyian angin ini awalnya kupikir gemuruh ombak lautan, ternyata salah. Suaranya cetar membahana banget. 2 jam sudah berlalu. 3 jam pun terlewati. Puncak pun masih belum ingin bertemu dengan kami.

Pendakian Dimulai
Pendakian Dimulai
Memanjat Dimulai
Memanjat Dimulai

Kondisi trek yang becek dan berlumpur tak menghalangi semangat kami menuju puncak. Disini kan terasa quotes 5cm diatas. Benar-benar diuji semua kompetensi kita. Aku pun sempat berniat tuk berhenti sajalah di pertengahan jalan, kondisi fisik saat itu memang benar-benar terkuras. Untung saja materi ukhuwah sudah khatam semua di antara kami. Itsar benar-benar diuji disini. Memang dibutuhkan semua hal yang terdapat dalam quotes 5cm tadi.

Aku pun teringat salah satu rekan Pagar Alam yang mengantarkan kami ke Rimau, “kalian jangan sampai kalah sama akhwat (cewek), kemaren ada mbak dari Unsri juga yang mengarang novel Pegunungan telah sampai ke puncak.” Itu juga menjadi trigger bagi kami tuk bisa ke puncak. Masak sama akhwat be kalah, apa kata dunia persilatan.hehe. Aku juga baru tahu bahwasanya Dempo pernah dilanda kebakaran, dimana puing-puing hitam legam yang masih membekas disana. Bekas kebakaran itu malah menjadikan tempat ini WOW banget. Kami berhenti sejenak disini tuk merasakan pemandangan dibawah sana. Serasa berada di atas samudra langit. Subhanallah !! Fabiayyiala irabbikuma  tukaziban.

Samudera di atas awan
Samudera di atas awan
Subhanallah !
Subhanallah !
amazing !!
amazing !!

Jalanan yang terjal, oksigen yang mulai langka, kabut yang menghadang, pori-pori yang semakin menciut, kicauan yang mulai sunyi, dingin yang mulai menggelitik, hutan yang semakin eksotis. Sensasinya sungguh berbeda.

***

Memasuki pk. 15an kami sampai di suatu tempat. Aku berada dibelakang, istilahnya sweeper. Mengapa rombongan depan teriak-teriak. Ada apa gerangan disana. Ketika itu terjadi aku masih berada di hutan yang karakteristiknya seperti hutan-hutan di film Harry Potter. Eksotis banget. Aku pun tersadar ketika sampai ditempat rekan-rekan tadi. Ternyata itu salah satu puncak Dempo, puncak Catim namanya. Akupun sujud syukur disertai turunnya butiran air mata. Aku benar-benar merasakan sensasi yang berbeda saat itu. Beberapa rekan juga sujud dan ada juga yang menitikkan air mata, ternyata aku gak sendirian,hehe. Kami pun tak lupa tuk mengabadikan momen ini.

sujud di puncak Catim, Dempo
sujud di puncak Catim, Dempo

Bahkan kami membuka sebuah majelis disana atas inisiatif salah satu rekan. Basmallah, puji-pujian, shalawat dan pembacaan Ar-Rahman pun terurai disana, dilanjutkan sedikit materi dari Masul Safar (pemimpin perjalanan).

“Bagi anak mapala naik gunung bukanlah kegiatan tuk menaklukkan gunung, melainkan tuk menaklukkan diri sendiri”, ujar Masul kami. Bang AA juga berkata, “melawan gunung pun kalian kewalahan, gimana mau melawan Allah”. Benar-benar menyegat pikiran dan jiwa kami saat itu.

Hari itu kami benar-benar merasakan energi Sang Kuasa yang telah mengantar kami selamat hingga ke Puncak. Alhamdulillah !!

hanya di Dempo !
hanya di Dempo !

***

Kami pun segera turun menuju tempat berkemah. Lembah Parapuyang namanya. Tempatnya keren banget, banyak tanaman “panjang umur” disini. Mereka membentuk koloni tuk menyambut kami. Segera tenda ditegakkan. Malam pun menyapa kami. Sekitar pk. 20an badai mulai menghampiri kami. Kami pun hanya pasrah di dalam tenda, semoga besok pagi badai telah reda hingga kami bisa mampir ke puncak Merapi. Aku pun berujar, “badai pasti berlalu, esok hari yang cerah kan menyambut kami”. Badai malam itu menjadi teman tidur kami, mereka senantiasa menjaga mimpi-mimpi kami meskipun beberapa dari kami masih ada yang terjaga. Malam itu kan menjadi malam minggu terkenang dalam diary_perjuangan kami.

Suhu kisaran 5-10 derajat, kaki yang menggigil, pakaian yang menebal, gigi yang selalu berdentum, kopi yang selalu dinanti, malam yang cepat ingin dilalui. Malam itu kami berasa menjadi orang Afrika yang bertahan hidup di Moskow. Unforgettable moment. Unforgettable night!

lembah parapuyang
lembah parapuyang

060113 – Alarm subuh berteriak lantang. Ternyata badai masih setia menunggui kami di luar sana. Berbekal keyakinan yang mengerucut, semoga badai cepat berlalu ya Allah. Pk.7 telah menghampiri. Kami bahkan tidak sadar jikalau sudah pagi jika kami tidak membawa jam, matahari saat itu seolah malu menyapa kami. Ia hanya bisa menyapa kami dibelakang kawanan kabut tebal. 2 jam berlalu masih sama seperti tadi, badai setia banget sama kami. Care banget ngawasin kami. Akhirnya diputuskan pk. 9an kami nge-pack barang, dan mampir sebentar ke puncak Merapi meskipun badai masih berjaga-jaga di lembah.

Dengan tekad kuat dan memanfaatkan momen yang jarang seperti ini, kami beranikan tuk menggapai puncak Merapi. Tempat dimana kawah Dempo berada. Sambil berharap ketika dipuncak nanti badai bisa berdamai sebentar dengan kami. Hingga bisa menikmati keelokan kawah belerang Dempo. Perjuangan menuju puncak Merapi ini ternyata tidaklah mudah. Terbayang adegan mendaki puncak Semeru di film 5cm.Kami harus susah payah menjaga ritme mendaki. Batu kerikil yang rapuh bisa saja mengenai rekan-rekan yang berada di belakang. Kami harus waspada, ditambah pula terpaan angin kuencang. Sedikit banyak membuat diriku dan beberapa rekan agak pesimis mencapai puncak. Lagi-lagi rekan lainnya saling menguatkan. Alhamdulillah sampai puncak, meskipun badai dan angin belum bersahabat dengan kami kala itu. Mau tak mau kami tidak bisa menikmati kawah Dempo. Sayang sekali.

Puncak Merapi Dempo
Puncak Merapi Dempo

Pk.11an kami turun lagi ke lembah dan bergegas tuk turun gunung. Dengan badai yang masih mengintai, kami tekadkan tuk keluar dari sana. Goodbye parapuyang!

Kami berencana turun Dempo lewat gerbang kampung 4. Terpaksa harus mendaki lagi ke puncak Dempo tuk bisa melewatinya. Tak disangka-sangka kami masih mampir di Puncak Dempo. Awalnya aku pikir salah tempat, sebab kemaren pas di puncak bukan disini. Ternyata aku salah, puncak Dempo memang ada 3; puncak Catim, puncak Merapi, dan puncak Dempo. Subhanallah!!

puncak Dempo
puncak Dempo

Perjalanan turun kami disuguhi sensasi yang berbeda lagi. Hentakan kaki mewarnai kali ini. Jikalau ketika naik Dempo, jantung yang bermain; disini kekokohan kaki yang diuji. Ruar biasa. Banyak rekan-rekan yang terpeleset karena tanah yang lembab dan becek, termasuk aku. Bahkan aku sering pelosotan jikalau ada tanah yang landai. Asyik! Hehe.

Tepat jam 4.10an kami sampai di gerbang Dempo jalur kampung 4. Yeah! Kami berteriak semua, akhirnya selamat anak Agenda08 Unsri disini. Tidak kan muncul headline berita di koran esok hari,hehe.

Pengalaman ini sungguh berbeda. Ruar biasa !!!

Pengalaman naik gunung yang pertama dan tak terlupakan!!

Pintu Rimba Dempo
Pintu Rimba Dempo
Gerbang Kampung 4 Dempo
Gerbang Kampung 4 Dempo
Kebun Teh Dempo
Kebun Teh Dempo

***

Dank yu buat Andi Ahmad ‘Big Boss’ kami hari itu, mantap kali broo!! Dank yu juga buat Kak Ike yang berani menjadi Masul Safar kami.hehe. Buat rekan-rekan Agenda08 : Ricky, Dimas, Zen, Dami, Hendra, Yuanda, Nanang, Syawal, Bani ‘Shinobi’ dan Chory. YEAH!

berhenti sejenak tuk futu-futu
berhenti sejenak tuk futu-futu

Merubah Mindset


Kultwit “Merubah Mindset Frame Dakwah” by Nugroho Adinegoro | @kang_nugo

 

  1. Terkadang merubah frame perjuangan dawah itu membenturkan garis haroki dgn garis ukhuwah islamiyah yg hrsnya tertali.. #frame

 

  1. Apakah ada sebuah negara yg telah menerapkan sistem ekonomi, peradilan, politik yg sdh mencapai tingkat yg meyakinkan?

 

  1. Apakah pengagungan sistem kita baik politik, ekonomi Islam, dll sdh mencapai tgkt yg menjanjikan saat ini?

 

  1. Pertanyaan sederhana memang. Tetepi itulah “lubang besar” yang menganga ketika kita mengkomunikasikan Islam pd masyarakat.

 

  1. Kita menjelaskan keunggulan ideologi, konsep khilafah, dari starting point yg abstrak, smntara masy.mngharapkan contoh aplikasi yg nyata.

 

  1. Kita bangga akan keunggulan di dunia maya spiritual, masyarakat justru terpesona kepada yg unggul didunia empiris.

 

  1. Sadarkah, kita ketika kita menjelaskan kehebatan Islam dimasa lalu, masyarakat menyaksikan keterpurukan kita saat ini.

 

  1. Ketika kita berupaya menjelaskan kebenaran Islam, masyarakat justru menantikan kehebatan kaum Muslimin dlm berperan.

 

  1. Sementara kita menjelaskan teori, mereka kompetitor kita memahami teori lebih baik melalui contoh kasus.

 

  1. Mari pahami cermin realitas, kebanyakan org belajar scara visual, tp kita penggerak dakwah berkomunikasi secara abstrak ttg Islam.

 

  1. Itu hanya cth sederhana, tapi menjelaskan mengapa gerakan dakwah belum mampu membus pusaran logika massa,penetrasi jaringan pemikiran, sospol..

 

  1. Sudah seharusnya gerakan dakwah mampu mengubah, memobilisasi dan mengendalikan massa.

 

  1. Ditingkat opini publik, Islam dan gerakan dakwah dgn mudah diisolasi tanpa pembelaan spontanitas dr masyarakat.

 

  1. Masyarakat jg sptnya saat ini blm begitu percaya dgn kemampuan gerakan dakwah beserta para pemimpinnya mengelola negara.

 

  1. Potensi2 keunggulan kader islam memimpin negeri tak diragukan, banyak kader Islam yg unggul dan mampu mengelola system. tapi msh sgt kecil.

 

  1. Scara kseluruhan, Islam & gerakan dakwah belum memegang peranan kunci dlm pembentukan kesadaran publik. perlu kerja extra.

 

  1. Padahal pembentukan kesadaran publik trhdp Islam adlh kondisi pendahuluan yg mutlak dlm perjalanan menuju kekuasaan.

 

  1. Rendahnya tgkt penerimaan publik dan kapasitas serta citra kita, sbenarnya adalah realitas yg berakar pd cara kita berpikir.

 

  1. Pikiran adalah cermin besar yang memantulkan potret realitas kita secara apa adanya.

 

  1. Pikiran adlh ruang kemungkinan (space of possibility) dan realitas adlh ruang tindakan yg telah jd nyata (space of action).

 

  1. Seluruh realitas kita hanya bergerak pada ruang kemungkinan itu. Makin bsr ruang kemungkinannuya, makin besar ruang realitasnya

 

  1. Maka, realitas kita hari ini, sesungguhnya merupakan buah dari benih pikiran kita yang telah kita tanam bertahun2 yang lalu.

 

  1. Mencermati konflik dgn penguasa yg mewarnai gerakan dakwah, realitas berakar dr kumpulan persepsi harokah ttg penguasa sbg kumpulan thagut.

 

  1. Begitu persepsi ‘thagut’ ini menguasai pikiran harokah, sense of war lgsg menyalakan alarm perang ketika berhadapan dgn penguasa.

 

  1. Misalnya lagi, fenomena ekslusifnya aktifis dakwah. Fenomena ini berakar dr persepsi bhwa masyarakat kita hidup dlm kubangan jahiliyah modern.

 

  1. Begitu seseorang melekatkan diri sbg aktivis dakwah, sgera saja ia merasakan superioritas spiritual & moral, & menemukan tembok pemisah.

 

  1. Keterbatasan dana juga bagian dari ironi besar yang membatasi ruang gerak dakwah kita.

 

  1. Pikiran kita selalu terfokus pd bgmn menyiasati keterbatasn dana, bukan bgmn menciptakan kelimpahan.

 

  1. Jika #frame keterbatasan slalu menghiasi kehidupan dakwah kita, maka selamanya keterbatasan akan menjadi realitas kita.

 

  1. Maka kita perlu sepakat, bahwa tindakan kita muncul sbg buah dari benih2 pikiran kita.

 

  1. Jadi pikiran adlh pusat kekuatan yang mengendalikan tindakan2 dan menciptakan realitas2 kita. Dakwah jg begitu.

 

  1. Sudah saatnya gerakan dakwah memikirkan kembali caranya berpikir, memikirkan kembali apa yg slama ini dipikirkan.

 

  1. Generasi pertama pemikir dakwah spt Hasan Al Banna, Sayyid Qutb memfokuskan pd pembangunan ideologi..

 

  1. Generasi kedua spt Syeikh Yusuf Qardhawian Fathi Yakan dll memfokuskan perhatian membangun kerangka pemikiran pergerakan.

 

  1. Ketika gerakan dakwah masuk di era keterbukaan, bermain di domain publik, persoalan terbesar adalah sumber daya.

 

  1. Ini persoalan yang dihadapi hampir diseluruh gerakan Islam di dunia. Yang perlahan menunjukkan diri dr eksistensi pembelajaran.

 

  1. Dgn menggunakan cermin realitas, persoalan sumberdaya muncul krn pusat perhatian kita belum bergeser ke tema bsr generasi ke1 ke gnerasi ke-2.

 

  1. Kita mungkin masih fokus bicara ideologi, blm sumberdaya. Kita msh bcara sistem pemerintahan Islam, Khilafah, dsb. Tp tak bicara kompetensi umat.

 

  1. Kita bicara sistem Islam is solution, belum bicara agenda aksi penyelesaian persoalan bangsa.

 

  1. Kita masih bicara kegagalan musuh dan belum bicara kesuksesan2 kita secara keseluruhan.

 

  1. Dakwah Kita masih bicara ghawzul fikri dan belum bicara strategi kebudayaan.

 

  1. Dakwah kita masih bicara konspirasi asing dan belum memikirkan sistem pertahanan dakwah.

 

  1. Kita masih bicara ikhtilaf belum bicara management organisasi yang kokoh.

 

  1. Dakwah kita masih bicara kterbatasan dana, belum bicara cara menciptakan kelimpahan dana.

 

  1. Dan dakwah kita masih bicara apa yg kita inginkan dan belum bicara sumber daya yang diperlukan dlm mencapainya.

 

  1. Selama pusat perhatian kita belum bergeser ke masalah penciptaan sumberdaya berkualitas, maka slama itu dakwah akan mengalami kemunduran.

 

  1. Ini hanya konsekuensi antara ketidakseimbangan, beban dan daya pikul. tampak tua & lelah, tertatih2 memikul beban obsesi khilafah yg terasa jauh.

 

  1. Kita patut bersyukur para pendiri ideologi dakwah telah meletakkan ideologi yang kokoh bagi umat.

 

  1. Mereka telah merampungkan tugas mereka dgn sempurna sbg batu tapal kokoh kebangkitan umat.

 

  1. Para pemikir pergerakan, juga telah membangun kerangka pemikiran gerakan bg pertumbuhan gerakan dakwah menuju kematangan.

 

  1. Generasi ke dua spt Yusuf Qardhawi, Fathi Yakan jg telah menjalankan tugas dgn sempurna membangun kerangka pemikiran dan pertumbuhan.

 

  1. Nah, skrg tugas kita sbg generasi ketiga dakwah untuk membawa bendera, menunaikan tugas sejarah mereka. Generasi pencipta sumber daya.

 

  1. Biarlah ditangan kita kebenaran menjadi nyata, dibumi Allah kita menyatu dengan kekuatan membangun Islam.

 

  1. Sekian sarapan kultuit pagi ni. Mudah2n ghirah dakwah semakin memuncak, memberi harapan & masa depan cerah bagi umat khususnya Indonesia 🙂

 

Morning Prayer


Iseng-iseng browsing ke youtube, nemu backsound sebuah video yang kuuuerrreennn aabiisss… Langsung deh gugling buat cari tu musik siape. Alhamdulillah dapet, check this outtt…

Judul lagunya >> Morning Prayer, yang nyanyiin Mas Hamza Robertson. Ini liriknya :

There is a reason why to Allah we pray
In the morning on every day
It’s a meeting and we must not be late
If we want to have peace we must obey and pray

CHORUS:
There is no better feeling
Than when we pray on time
And we know the rest of our days
Will work out just fine
So we must work hard and wake up before sunrise
So we can leave our homes with the blessings of Allah

Idha hafadhta ‘alal salah
Hayatuka tumla’ baraka
Idha hafadhta ‘alal salah
Tanal ridhaa’ Allah
If you maintained your prayers
Your life will be filled with blessings
If you prayed on time
Allah will be pleased with you

No excuses of why you cannot pray
Coz we need him on everyday
So don’t tell me just why you turned up late
If we want to have peace we must obey and pray

CHORUS

Idha hafadhta ‘alal salah
Hayatuka tumla’ baraka
Idha hafadhta ‘alal salah
Tanal ridhaa’ Allah
If you maintained your prayers
Your life will be filled with blessings
If you prayed on time
Allah will be pleased with you

Listen brother and sister it’s all been said before
You’re too tired now so you sleep some more
But when you wake up there’s an emptiness inside
If we want to have peace we must swallow our pride

Bridge:
I know my friend it’s not easy
But we must try believe me
And we will feel a difference
In our lives and Allah will give us strength

CHORUS

 

#3 – Puncak Iman


Kamu takkan pernah sanggup mendaki sampai ke puncak gunung iman, kecuali dengan satu kata: cinta. Imanmu hanyalah kumpulan keyakinan semu dan beku, tanpa nyawa tanpa gerak, tanpa daya hidup tanpa daya cipta. Kecuali ketika ruh cinta menyentuhnya. Seketika ia hidup, bergeliat, bergerak tanpa henti, penuh vitalitas, penuh daya cipta, bertarung dan mengalahkan diri sendiri, angkara murka atau syahwat.

Iman itu laut, cintalah ombaknya.
Iman itu api, cintalah panasnya.
Iamn itu angin, cintalah badainya.
Iman itu salju, cintalah dinginnya.
Iman itu sungai, cintalah arusnya.

Seperti itulah cinta bekerja ketika kamu harus memenangkan Allah atas dirimu sendiri, atau bekerja dalam diri pemuda ahli ibadah itu. Kejadiaanya diriwayatkan Al Mubarrid dari Abu Kamil, dari Ishak bin Ibrahim dari Raja’ bin Amr Al Nakha’i. Seorang pemuda Kufa yang terkenal ahli ibadah suatu saat jatuh cinta dan tergila-gila pada seorang gadis. Cintanya berbalas. Gadis iru sama gilanya. Bahkan ketika lamaran sang pemuda ditolak karena sang gadis telah dijodohkan dengan saudara sepupunya, mereka tetap nekat, ternyata. Gadis itu bahkan menggoda kekasihnya, “Aku datang padamu, atau kuantar cara supaya kamu bisa menyelinap ke rumahku”. Itu jelas jalan sahwat.

“Tidak! Aku menolak kedua pilihan itu. Aku takut pada neraka yang nyalanya tak pernah padam!” Itu jawaban sang pemuda yang menghentak sang gadis. Pemuda itu memenangkan iman atas syahwatnya dengan kekuatan cinta. “Jadi dia masih takut pada Allah?” Gumam sang gadis. Seketika ia tersadar, dan dunia tiba-tiba jadi kerdil di matanya. Ia pun bertaubat dan kemudian mewakafkan dirinya untuk ibadah. Tapi cintanya pada sang pemuda tidak mati. Cintanya berubah jadi rindu yang menggelora dalam jiwa dan doa-doanya. Tubuhnya luluh lantak didera rindu. Ia mati, akhirnya.

Sang pemuda terhenyak. Itu mimpi buruk. Gadisnya telah pergi membawa semua cintanya. Maka kuburan sang gadislah tempat ia mencurahkan rindu dan doa-doanya. Sampai suatu saat ia tertidur di atas kuburan gadisnya. Tiba-tiba sang gadis hadir dalam tidurnya. Cantik. Sangat cantik. “Apa kabar? Bagaimana keadaanmu setelah kepergianku,” tanya sang gadis. “Baik-baik saja. Kamu sendiri disana bagaimana,” jawabnya sambil balik bertanya. “Aku disini, dalam surga abadi, dalam nikmat dan hidup tanpa akhir,” jawab gadisnya. “Doakan aku. Jangan pernah lupa padaku. Aku selalu ingat padamu. Kapan aku bisa bertemu denganmu,” tanya sang pemuda lagi. “Aku juga tidak pernah lupa padamu. Aku selalu berdoa kepada Allah menyatukan kita di surga. Teruslah beribadah. Sebentar lagi kamu akan menyusulku,” jawab sang gadis. Hanya tujuh malam setelah mimpi itu, sang pemuda pun menemui ajalnya.

Atas nama cinta ia memenangkan Allah atas dirinya sendiri, memenangkan iman atas syahwatnya sendiri. Atas nama cinta pula Allah mempertemukan mereka. Cinta selalu bekerja dengan cara itu.