3puncak 2hari 1lembah


”Kita hanya butuh kaki yang berjalan lebih jauh, tangan yang akan berbuat lebih banyak, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras, serta mulut yang akan selalu berdoa.“ [5cm]

Kata-kata diatas awalnya kuanggap biasa saja, sebatas pemanis tuk menjadi Trending Topic tuk novel 5cm. Yap, kan menjadi kata-kata yg selalu diingat ketika terlintas ‘5cm’. Tapi sekarang tidak lagi bagi diriku, sebab kata-kata diatas sungguhlah keramat terhitung sejak 5 Januari 2013. Sebuah rangkaian kata yang saling terhubung, yang saling melengkapi pastinya. Sebuah quotes yang benar-benar akan dirasakan ketika kita menjadi aktor di lapangan. Pengalaman itu memang mahal harganya. Makanya tak salah ketika pengalaman akan menjadi guru yang paling berharga, saking mahalnya harga yang harus ditebus.

Dempo yg kokoh !
Dempo yg kokoh !

***

040113 – merupakan tanggal keberangkatan tuk menuju puncak keajaiban. Beranggotakan 11 orang kami berangkat menuju Pagar Alam. Menggunakan pesawat darat “Melati Indah” kami take-off jam 4an. Dari 11 orang yang ada ini, hanya 1 orang saja yang telah pernah merasakan puncak Dempo. Yap, Dempo merupakan tujuan kami kali ini. Kami harus bisa menaklukkannya, meskipun itu masih berada di lintasan pikiran kami semua. Canda tawa mengiringi perjalanan kami, dibumbui cerita-cerita gokil tentang “mereka”, tentang tujuan kami nantinya, tentang mimpi-mimpi kami, dan cerita-cerita aneh bin ceria lainnya.

050113 – Tiba saatnya tuk pendakian. Personal kami bertambah menjadi 13 orang, transferan dari Lahat. Cuaca dingin menyambut kami ketika bangun tidur dan bergegas ke Mesjid pada subuh hari. Cuaca dingin khas pegunungan meresap ke tulang-tulang ceking kami semua. Geli-geli sedap rasanya. Sekitar jam 8an kami sudah berada di Rimau. Rimau merupakan salah satu gerbang pendakian ke puncak Dempo. Tepat pk 8.50 setelah terlebih dahulu Dhuha dan pemanasan, kami memasuki gerbang Dempo. Kami memasuki altar pekarangan Dempo. Kami disambut kicauan para penghuni kaki Dempo. Dempo sangat kokoh berada didalam sana. Oiya, ketika di Rimau kami disambut kawanan kabut, sehingga kami seolah-olah berada di dunia lain. Kebun teh yang menjadi landmark Pagar Alam pun tidak bisa kami nikmati keelokannya.

Rimau
Rimau
Rimau Euy!
Posko Rimau
Gerbang Rimau
Gerbang Rimau

Target waktu sampai ke puncak tidak bisa kami putuskan, sebab kami hanya sekumpulan pemula. Kami sangat berterima kasih kepada 2 guide kami, bang AA dan bang IFW. Tanpa mereka mungkin saja pertualangan kami ini tidak kesampaian. Dank yu;Syukron;Arigato Gozaimasu; hanya itu mungkin yang bisa kami berikan bang. Terutama bang AA yang keren banget, kami memanggilnya Big Bos. Salute for you bro!!

Awalnya perjalanan kami ceria banget. Udara khas pegunungan kami hirup dalam-dalam. Sangat langka kami rasakan sensasi seperti ini jika berada di Palembang ataupun Indralaya. Lebih kurang 1jam-an kami sampai di shelter1 (tempat pemberhentian resmi). Yeah! Dengan asumsi hanya 2 shelter yang ada, kami berharap puncak semakin mendekat ke kami. Shelter 2 pasti juga dekat, ternyata itu semua hanya ilusi. Semakin kepuncak kadar oksigen yang ada semakin menipis, semakin jauh pula shelter 2.

Shelter 2
Shelter 2

Perjuangan baru terasa ketika telah melewati shelter 1. Fisik yang sudah ngos-ngosan. Daya tahan tubuh yang semakin redup. Semakin ke atas, detak jantung semakin berlari. Berdetak dengan dug dug dug lebih cepat dari normalnya. Kondisi trek yang semakin ekstrim. Beruntungnya kami hari itu tidak turun hujan selama pendakian ke puncak, hanya disambut gerimis dan nyanyian angin. Tentang nyanyian angin ini awalnya kupikir gemuruh ombak lautan, ternyata salah. Suaranya cetar membahana banget. 2 jam sudah berlalu. 3 jam pun terlewati. Puncak pun masih belum ingin bertemu dengan kami.

Pendakian Dimulai
Pendakian Dimulai
Memanjat Dimulai
Memanjat Dimulai

Kondisi trek yang becek dan berlumpur tak menghalangi semangat kami menuju puncak. Disini kan terasa quotes 5cm diatas. Benar-benar diuji semua kompetensi kita. Aku pun sempat berniat tuk berhenti sajalah di pertengahan jalan, kondisi fisik saat itu memang benar-benar terkuras. Untung saja materi ukhuwah sudah khatam semua di antara kami. Itsar benar-benar diuji disini. Memang dibutuhkan semua hal yang terdapat dalam quotes 5cm tadi.

Aku pun teringat salah satu rekan Pagar Alam yang mengantarkan kami ke Rimau, “kalian jangan sampai kalah sama akhwat (cewek), kemaren ada mbak dari Unsri juga yang mengarang novel Pegunungan telah sampai ke puncak.” Itu juga menjadi trigger bagi kami tuk bisa ke puncak. Masak sama akhwat be kalah, apa kata dunia persilatan.hehe. Aku juga baru tahu bahwasanya Dempo pernah dilanda kebakaran, dimana puing-puing hitam legam yang masih membekas disana. Bekas kebakaran itu malah menjadikan tempat ini WOW banget. Kami berhenti sejenak disini tuk merasakan pemandangan dibawah sana. Serasa berada di atas samudra langit. Subhanallah !! Fabiayyiala irabbikuma  tukaziban.

Samudera di atas awan
Samudera di atas awan
Subhanallah !
Subhanallah !
amazing !!
amazing !!

Jalanan yang terjal, oksigen yang mulai langka, kabut yang menghadang, pori-pori yang semakin menciut, kicauan yang mulai sunyi, dingin yang mulai menggelitik, hutan yang semakin eksotis. Sensasinya sungguh berbeda.

***

Memasuki pk. 15an kami sampai di suatu tempat. Aku berada dibelakang, istilahnya sweeper. Mengapa rombongan depan teriak-teriak. Ada apa gerangan disana. Ketika itu terjadi aku masih berada di hutan yang karakteristiknya seperti hutan-hutan di film Harry Potter. Eksotis banget. Aku pun tersadar ketika sampai ditempat rekan-rekan tadi. Ternyata itu salah satu puncak Dempo, puncak Catim namanya. Akupun sujud syukur disertai turunnya butiran air mata. Aku benar-benar merasakan sensasi yang berbeda saat itu. Beberapa rekan juga sujud dan ada juga yang menitikkan air mata, ternyata aku gak sendirian,hehe. Kami pun tak lupa tuk mengabadikan momen ini.

sujud di puncak Catim, Dempo
sujud di puncak Catim, Dempo

Bahkan kami membuka sebuah majelis disana atas inisiatif salah satu rekan. Basmallah, puji-pujian, shalawat dan pembacaan Ar-Rahman pun terurai disana, dilanjutkan sedikit materi dari Masul Safar (pemimpin perjalanan).

“Bagi anak mapala naik gunung bukanlah kegiatan tuk menaklukkan gunung, melainkan tuk menaklukkan diri sendiri”, ujar Masul kami. Bang AA juga berkata, “melawan gunung pun kalian kewalahan, gimana mau melawan Allah”. Benar-benar menyegat pikiran dan jiwa kami saat itu.

Hari itu kami benar-benar merasakan energi Sang Kuasa yang telah mengantar kami selamat hingga ke Puncak. Alhamdulillah !!

hanya di Dempo !
hanya di Dempo !

***

Kami pun segera turun menuju tempat berkemah. Lembah Parapuyang namanya. Tempatnya keren banget, banyak tanaman “panjang umur” disini. Mereka membentuk koloni tuk menyambut kami. Segera tenda ditegakkan. Malam pun menyapa kami. Sekitar pk. 20an badai mulai menghampiri kami. Kami pun hanya pasrah di dalam tenda, semoga besok pagi badai telah reda hingga kami bisa mampir ke puncak Merapi. Aku pun berujar, “badai pasti berlalu, esok hari yang cerah kan menyambut kami”. Badai malam itu menjadi teman tidur kami, mereka senantiasa menjaga mimpi-mimpi kami meskipun beberapa dari kami masih ada yang terjaga. Malam itu kan menjadi malam minggu terkenang dalam diary_perjuangan kami.

Suhu kisaran 5-10 derajat, kaki yang menggigil, pakaian yang menebal, gigi yang selalu berdentum, kopi yang selalu dinanti, malam yang cepat ingin dilalui. Malam itu kami berasa menjadi orang Afrika yang bertahan hidup di Moskow. Unforgettable moment. Unforgettable night!

lembah parapuyang
lembah parapuyang

060113 – Alarm subuh berteriak lantang. Ternyata badai masih setia menunggui kami di luar sana. Berbekal keyakinan yang mengerucut, semoga badai cepat berlalu ya Allah. Pk.7 telah menghampiri. Kami bahkan tidak sadar jikalau sudah pagi jika kami tidak membawa jam, matahari saat itu seolah malu menyapa kami. Ia hanya bisa menyapa kami dibelakang kawanan kabut tebal. 2 jam berlalu masih sama seperti tadi, badai setia banget sama kami. Care banget ngawasin kami. Akhirnya diputuskan pk. 9an kami nge-pack barang, dan mampir sebentar ke puncak Merapi meskipun badai masih berjaga-jaga di lembah.

Dengan tekad kuat dan memanfaatkan momen yang jarang seperti ini, kami beranikan tuk menggapai puncak Merapi. Tempat dimana kawah Dempo berada. Sambil berharap ketika dipuncak nanti badai bisa berdamai sebentar dengan kami. Hingga bisa menikmati keelokan kawah belerang Dempo. Perjuangan menuju puncak Merapi ini ternyata tidaklah mudah. Terbayang adegan mendaki puncak Semeru di film 5cm.Kami harus susah payah menjaga ritme mendaki. Batu kerikil yang rapuh bisa saja mengenai rekan-rekan yang berada di belakang. Kami harus waspada, ditambah pula terpaan angin kuencang. Sedikit banyak membuat diriku dan beberapa rekan agak pesimis mencapai puncak. Lagi-lagi rekan lainnya saling menguatkan. Alhamdulillah sampai puncak, meskipun badai dan angin belum bersahabat dengan kami kala itu. Mau tak mau kami tidak bisa menikmati kawah Dempo. Sayang sekali.

Puncak Merapi Dempo
Puncak Merapi Dempo

Pk.11an kami turun lagi ke lembah dan bergegas tuk turun gunung. Dengan badai yang masih mengintai, kami tekadkan tuk keluar dari sana. Goodbye parapuyang!

Kami berencana turun Dempo lewat gerbang kampung 4. Terpaksa harus mendaki lagi ke puncak Dempo tuk bisa melewatinya. Tak disangka-sangka kami masih mampir di Puncak Dempo. Awalnya aku pikir salah tempat, sebab kemaren pas di puncak bukan disini. Ternyata aku salah, puncak Dempo memang ada 3; puncak Catim, puncak Merapi, dan puncak Dempo. Subhanallah!!

puncak Dempo
puncak Dempo

Perjalanan turun kami disuguhi sensasi yang berbeda lagi. Hentakan kaki mewarnai kali ini. Jikalau ketika naik Dempo, jantung yang bermain; disini kekokohan kaki yang diuji. Ruar biasa. Banyak rekan-rekan yang terpeleset karena tanah yang lembab dan becek, termasuk aku. Bahkan aku sering pelosotan jikalau ada tanah yang landai. Asyik! Hehe.

Tepat jam 4.10an kami sampai di gerbang Dempo jalur kampung 4. Yeah! Kami berteriak semua, akhirnya selamat anak Agenda08 Unsri disini. Tidak kan muncul headline berita di koran esok hari,hehe.

Pengalaman ini sungguh berbeda. Ruar biasa !!!

Pengalaman naik gunung yang pertama dan tak terlupakan!!

Pintu Rimba Dempo
Pintu Rimba Dempo
Gerbang Kampung 4 Dempo
Gerbang Kampung 4 Dempo
Kebun Teh Dempo
Kebun Teh Dempo

***

Dank yu buat Andi Ahmad ‘Big Boss’ kami hari itu, mantap kali broo!! Dank yu juga buat Kak Ike yang berani menjadi Masul Safar kami.hehe. Buat rekan-rekan Agenda08 : Ricky, Dimas, Zen, Dami, Hendra, Yuanda, Nanang, Syawal, Bani ‘Shinobi’ dan Chory. YEAH!

berhenti sejenak tuk futu-futu
berhenti sejenak tuk futu-futu
Advertisements

(Ku)bang Jalanan


Berawal dari sebuah rasa, yang saling bergemul dalam panci ukhuwah. Panasnya cukup, tidak panas banget tapi cukup menghangatkan.

Kedatanganya telah lama ditunggu, berhari-hari…mungkin saja berbulan-bulan. Akhirnya dia bisa menghirup oksigen asli buatan alam sriwijaya.

^#^

Hari itu, gue kedatangan teman sedarah-perjuangan, seasal-daerahan, seikat-persahabatan. RN, itulah inisialnya. Telah lama hasratnya tuk berkunjung ke Tanah Musi, namun baru hari itu kesampaian.  Alhamdulillah yaa brot. Taksi motor siap menempuh 30an KM tuk sekedar men-service kedatangannya. Waktu kedatangannya tak disangka lebih cepat 2jam dibanding waktu kedatangan normal. Dengan bermodalkan semangat dan ikatan perjuangan Lillahi taala, motor wapres pun digeber. Tak disangka jalanan telah bersolek ria. Tidak butuh waktu lama ternyata buat jalanan tuk menelurkan kubangan baru. Inilah negaraku !! Akhirnya taksi sampai di pool kedatangan, langsung diservice seadanya.

(*)

Ternyata jadwal padat tak bisa gue hindari selama 3 hari terhitung sejak kedatangannya. Terpaksa dia dikurung dulu dirumah, bahkan sampai ku obral ke sodara lain yg bisa mengajaknya jalan-jalan. Sorry brot 🙂 Itu kan menjadi kenangan terbaik buat dirimu selama di tanah Layo ini,hehe. (Semoga dia tidak membacanya). Setelah dirasa cukup matang di rumah, akhirnya gue ajak dia seharian full tuk bisa berekspresi ke kota pempek. Dengan mengajak oom EI dan kakek SH, kami berangkat ke kota. Puas deh mereka berekspresi.

+_+

Awalnya bukan cerita diatas yang ingin ditulis, tapi dak po po toh. Direkam dulu di blog, biar dak lupa suatu saat nanti.

Bermotor. Itulah yg gue lakukan selama cerita diatas. Sering hilir mudik Palbang-Layo rasanya gimana gitu. Sebab, telah muncul kubang-kubang baru. Entah itu hasil rekayasa si Pembuat Jalan atau akumulasi himpitan yang dilakukan kendaraan bermotor (baik yang rodanya dua,tiga,empat maupun lebih). Wallahualam. Tapi bagi gue itu juga berkah lho. Sebuah rekayasa yang mungkin dibuat oleh Sang Pencipta bagi makhluk-Nya yang berkecimpung di atas jalanan.

perlu dicoba juga neh !

Betapa tidak, pertama; ketika mungkin ada kubang yang baru tercipta, bisa saja ada pengendara yang lalai sehingga berkesempatan nyicip dulu kubang itu. Ntah nantinya akan “mencium” kubang itu atau bisa mengelak. Bagi yang berkesempatan tuk nyium kubang dan sebangsanya, itu kan menjadi bekal buat mereka agar lebih hati-hati lagi. Mereka udah tahu rasanya nyium kubang jalanan. Pasti mereka lebih waspada dalam berkendara, sebab mereka tidak ingin masuk ke lubang yang sama (berarti boleh masuk kubang yg lain,hehe). Bagi yang ngelak, mereka pasti kan tersadar. Ternyata meliuk-liuk tuk tidak nyium kubang gimana gitu. Pasti ketagihan,hehe.

Kedua; kubang itu tuk membuat kita terbangun dari mimpi-mimpi kita. Siapa hayo yang sering temimpi-mimpi ketika mengendarai kendaraan? Makdusnya yang sering tengantok-ngantok di motor, baik itu si supir atau si penumpang. Seringkali kelopak mata ini menyipit kayak si……………(isi sendiri aja deh\#noMensyion). Nah, daripada nyenggol mobil atau truk, makanya ada kubangan yang sekedar hadir membangunkan kelopak mata kita. Tapi kondisi ini biasanya ketika kecepatan motor tidak seperti kecepatan Rossi ataupun Lorenzo, kecepatan ketika didusun lah kiro-kiro.

Ketiga; kubang itu juga membuat gue tersadar, hidup itu kayak jalanan. Tidak selamanya mulus, ada kubangan baru yang sengaja/tidak sengaja tercipta khusus buat kita. Jadi kita gak bisa ngebut aja di jalanan ini, kita harus waspada dan santai. Nikmati jalanan ini. Rasakan makna-makna yang lahir selama di jalanan. Resapi dan ambil hikmahnya.

foto-kerusakan-jalan1
perlu banyak manuver
roads_in_russia_640_05
jangan ditiru !!

%#%

Bahkan kubang jalanan pun mengandung makna (bagi gue ya, gak tau elu yang baca gimana). Menurut teman-teman yang kesasar disini gimana? ada makna lainkah? ditunggu “kacamata” lainnya kalo ada…

Midang Lahat


Yoihh! Lebaran Idul Adha kali ini diberi kesempatan tuk menyicipi suasana Lahat. Jikalau tahun lalu di Lampung, tahun ini di Lahat. Sudah menjadi tradisi jikalau lebaran Idul Adha tidak pulang ke kampoeng halaman di Padang. Maklum, banyak menghabiskan waktu di jalan, jadi takutnya sok gak produktif.

Ini tuk kedua kalinya mampir di kota Batubaranya Sumsel. Jikalau terdahulu hanya sebentar saja, Alhamdulillah sekarang bisa bermalam hingga 3kali. Mencari insipirasi itu tak gampang | Alhamdulillah ada secuil inspirasi yang bisa ditambang di sini.

Enaknya itu bercerita lewat futu-futu, jadi nanti kan ditampilkan best futu yang layak dikonsumsi khalayak banyak 🙂

rider kesiangan

Masa reses kami kali ini beranggotakan 4 orang. Memacu si kuda besi dengan kecepatan “standar” kami tiba di kota Lahat dengan waktu tempuh hampir 4 jam. Disambut hangat oleh jeme Lahat rasanya sesuatu banget. Berkesan deh 🙂

Selama di perjalanan kami di sambut orang-orang yang tak henti tuk tersenyum. Ada yang make baju koko, ada yang make jas, ada yang kameja rapi, de el el. Kita bahas itu di lain waktu aja yaa. Hehe. Oiya, kami berangkat ke Lahat tepat di Hari Arafah.

Banyak hal baru yang kudapat di sana; mulai dari kance-kance, kosa kata yang kupikir gak masuk di akal (tapi tetap diterima ajalah), tempat-tempat yang layak dikunjungi yang ternyata cuma secuil disini, aspirasi warga asli lahat, masakan-masakan Lahat yg terkadang hanya berbeda nama dg daerah lain, dan keunikan lainnya.

/ 26 oktober \ setelah solad Ied kami segera bergegas balik ke rumah | Alhamdulillah tepat ketika doa selesai dilantunkan | gerimis hujan mulai menyerbu bumi | subhanallah, adem banget!! | seharian pull kami di lingkungan dekat rumah saja| kumpulan air tak hentinya diturunkan hingga siang hari dari kolong langit |end

calon keluarga bahagia

/ 27 oktober \ berencana tuk mengunjungi jeme Lahat lainnya | masih sodaranya babang PH| daerah Gn. Batu | ini unforgettable moment for me | why? | akses masuk ke daerah ini via jembatan gantung | ada 3 buah lagi |bisa jadi ini jembatan gantung terpanjang di Indonesia|kurasa adalah panjangnya 600-800m | disaat bang ATP udah give up | gak mau kendarai motor lewat jembatan gantung [JG] | naluri lelakiku muncul seketika | orang lain bisa kenapa kita tidak | modal cuman intuisi yang menggelora |maklum anak muda, yg penting prosesnya |cceeezzz, berbonceng dengan babang NJ dalam menunggangi Vario baru yg body-nya gede banget |waswas selama di pucuk jembatan | jalanan ini serasa berpuluh-puluh kilometer ujungnya | ngesot bersama Vario di atas tumpukan kayu yang saling bergesekan ke kanan-kiri |akhirnya sampai jua di ujung JG | dengan tangan yang kram, muka agak pucat, detak jantung ditabuh dg kuenceng | completo deh, tapi itulah sensasinya | selagi muda yaa dicoba toh nduk |

JG gunung batu
JG gunung batu
ngesot kiri kanan
ekspresi setelah ngesot di JG
JG dari bawah
cubo tuk belagak
dak lagi ngesot | bejalan bae
mau ke Jagungan

disinilah unek-unek warga sekitar ditumpahkan | saat ini kalian hanya mahasiswa, tapi bangsa ini akan dipimpin oleh kalian nak | jangan lupakan kampungmu! | mereka (warga disana) pengen sekali daerah mereka disinggahi oleh mahasiswa KKN | mereka butuh ilmu-ilmu pertanian | mereka butuh ilmu-ilmu terapan | semoga bisa terwujud, aamiin | masih lanjut, tapi cukup sampai sini aja lah yoo | malamnya kami lanjut tuk nyate | hasil daging kurban yg di didapat kemaren di buatkan sate | tapi sayang ada 1 orang babang kita yang gak bisa makan daging sapi | katanya gak bisa makan daging hewan berkaki empat | kata tuan rumah itu menghilangkan ½ kenikmatan makan di dunia, haha | caknyo cukup be lah | end

sate cs
special for dinner

/ 28 oktober \ tepat dengan hari Soempah Pemoeda | udah tua aja ne umur Pemoeda Indonesia | masuk ke 84, ngalahin umur Kemerdekaan Bangsa | tanggal ini waktunya pulang | ya, kembali ke aktivitas seperti sedia kala | kami mampir dulu ke rumah oom Y di Muare Enim| biasalah, silaturahim dulu ama calon penguasa setempat | dari sekarang harus dibangun basis massa disini #eh | sudahlah, udah malam dan mulai menggila | end

sok jadi rider sejati
hasil penjarahan kami di enim
mesranya mereka berdua 🙂
dak afdhol kalo idak moto bukit sikok ini

Mengunjungi Sebiduk Semare


Hari itu tuk pertama kalinya berkunjung ke kota yang konon katanya kota ter-Barat di Sumatera Selatan. Kota yang langsung terhubung ke Bengkulu. Ya, kota Lubuk Linggau. Hari itu tanggal 17 Juni kami memasuki kota “Sebiduk Semare” itu. Berawal dari undangan walimahan (baralek-dibaca) seorang senior di kampus saya, kakanda Irmansa, seorang Guru yang akan mengukir tinta-tinta prestasi di sebuah SDIT di Musi Rawas.aamiin.

Saya berpergian bersembilan orang dengan memakai mobil sewaan. Awalnya kami bersepakat tuk berangkat pukul 8 teng, kumpul di depan sebuah hotel di Indralaya. Namun apa dikata, kesibukan “beberapa orang” mengharuskan berangkat agak molor 2jam-an lebih. Dalam hati terbersit perasaan, “pasti berangkat nanti akan lebih telat lagi”. Ternyata benar sekali perasaan ini, baru yang “sebenarnya” berangkat jam 2 siang lewat sedikit setelah sebelumnya mengisi tangki perut dahulu dengan tongseng,maknyus!! Tapi ada yang menarik, sebab salah satu teman saya baru saja terkena jebakan “akam” (alias Ayam Kampung). Budget tuk menu salah satu hidangan “akam” tadi membludak hampir 2x lipat dari hidangan sejenis dengan isinya yang berbeda. Tapi, disinilah asyiknya, kita jadi tahu bahwa hidangan itu harganya segono, jadi kami-kami yang lain mendapatkan hikmah dari sana. #sokBijak #yangSabarTeman

Waktu delay keberangkatan yang hampir 6 jam lebih tidak kami ambil pusing, sebab kami semua jejaka yang rame, sehingga tidak bosan berlama-lama di dalam mobil. Dengan formasi 2-4-3 di dalam mobil, kami berangkat dengan bermodalkan cemungudh jomblo 🙂 Selalu ada saja bahasan yang terlontarkan di dalam Avanza ini, baik itu tentang kuliah, dakwah, pengalaman konyol, cerita-cerita lama, hingga cinta.

Oiya, kami yang bepergian ini mayoritas angkatan 2008, jadi sesuhu. Ada sempilan 1 orang yang angkatan 2010, yang mau tak mau dia harus bisa akselerasi sikon yang terjadi, agar bisa menyamakan suhu dengan kami, atau lambat laun dia akan tertindas. Wow :D. Kondisi mobil yang udah benges dengan kehadiran jejaka-jejaka ini sebab idealnya bermuatan 8 orang, kami paksa dengan 9 orang, sehingga formasi 2-4-3 mau tak mau yg dipakai.

Tapi yang paling tersiksa yang duduk dibelakang, sebab perjalanan dari Palembang ke Sekayu selalu ada saja hiasan yang mau tak mau kudu dicicipi. Gak afdhol kalo gak nyicipnya. Buat dari Sekayu ke Linggau hanya sedikit hiasan yang muncul, alhamdulillah 🙂

Tapi bagi saya pribadi, saya salut ama sopirnya (*pasti langsung nyegir pas baca ini), disaat orang lain terlelap oleh rayuan bunga tidur, dia tetap dengan asyiknya menyetirkan mobil ini buat kami :D. Perjalanan yang normalnya hanya 7 jam (kata orang Linggau), kami habiskan hampir 10 jam, rekor baru tercipta hari itu. Wow 🙂 Siapa dulu sopirnya *_*. Sesampainya di rumah teman tuk bermalam, saya langsung tepar di atas kasur.

Dering alarm membangunkan kami semua tuk segera subuh. Ingin rasanya tuk segera ke luar rumah, menghirup udara segar. Namun, apalah daya. Masih pekatnya sisa-sisa semalam membuatku urung tuk keluar. Paginya kami diajak oleh pribumi asli tuk menikmati segarnya aliran sungai asli Linggau. Segerrrr benerr. Sayang handycam kami ketinggalan dirumah. Suasana asri yang masih hijau dengan latar belakang bukit (*bukit apalah namanya) terasa menyegarkan mata ini kembali. Beban-beban yang selama ini bergelantungan di pundak ini, serasa melayang meski hanya sebentar. Unforgettable moment, i think.

Bujang Galo

Setelah beres-beres dan bersiap hendak walimahan, kami disuguhkan hidangan. Sarapan. Kami mau tak mau harus mencicipinya dahulu, tidak enak ketika makanan itu telah dihidangkan tuan rumah. Meskipun nanti akan makan kembali di walimahan. kami berencana tuk Dhuha terlebih dahulu di luar, tidak di rumah. Pengennya di Mesjid Agung Lubuk Linggau. Ironis, pagar Mesjid masih digembok.

Amazingggg at Masjid Agung Lubuk Linggau

Terkadang muncul pikiran dalam hati, buat apa rumah Allah masih saja dikunci, padahal banyak mungkin hamba-hambaNya diluar sana yang hendak berinteraksi langsung denganNya di rumahNya sendiri. Terpaksa kami mutar arah melihat ke langit, melihat menara-menara mesjid lainnya. Yang saya kagumi disini, jarak antar mesjid disini rata-rata cukup berdekatan. Bisa dilihat dari menara-menara yang “nyembul” ke langit. Semoga jemaah solat berjemaah di mesjid itu sama dengan jemaah Jum’atnya,aamiin.

Dalam Mesjid Agung Lubuk Linggau
Kubah Mesjid Agung Lubuk Linggau

Setelah puas keliling dulu, jam telah menunjukkan 10.30. Waduh bisa telat ne pergi walimahannya. Ketika sampai di TKP, ternyata acara belum mulai. Alhamdulillah. Kayaknya menunggu kami datang terlebih dahulu. 🙂

Pukul 2 kami sepakati tuk pulang ke Palembang, kami hendak konvoi dengan rombongan lainnya.  Akhirnya jm 3an lebih kami baru bisa keluar dari  kota Lubuk Linggau. *ngaret_lagi 🙂

Banyak hal-hal menarik lainnya yang kami bahas di dalam mobil ini. Pastinya ketika kita melakukan perjalanan jauh, kita akan bisa mengetahui kepribadian teman-teman kita. Yang tadinya seperti ini, rupanya seperti itu. Bukankah Rasul telah berkata seperti itu. Sering-seringlah berpergian dengan sahabat, maka persahabatan, solidaritas, ukhuwah akan semakin erat, insyaAllah.

Ada pesan-pesan “penting takpenting” yang didapat dari perjalanan kali ini, diantaranya :

1. Kalo naik mobil sewaan dengan kapasitas 8 orang, jangan paksakan 9 orang. Kasihan yang 1 orang itu.

2. Kalo bepergian dengan sahabat se-angkatan, jangan pernah ajak yang beda angkatan, terutama angkatan muda. Banyak hal-hal “ghaib” yang akan terlontarkan selama di jalan, atau rahasia itu akan terbongkar 🙂

3. Kalo nak mandi di kali/sungai, jangan lupa bawa handycam. Banyak tempat-tempat asri nan hijau ketika menuju sungai yang sayang ketika tidak diikat dengan kamera.

4. Selalu ambil hikmah ketika perjalanan, jangan sampai perjalanan yang dilakukan tidak berbekas sama sekali.

5. Jangan pernah letih tuk menebar kebaikan. Lakukan dimanapu, kapanpun, bagaimanapun, siapapun, apapun….(*apa seh)

Sekian bekas perjalanan yang masih terikat di otak, yang bisa terketik di atas tut keyboard ini. Banyak hal yang tidak bisa disampaikan disini, dikarenakan saya tidak bisa merangkainya. Semoga indah pada waktunya 🙂

lagi di [katanya]Paris van Sumatera


Sudah 2bulan 6 hari saya berada di kota Binjai, Sumater Utara. Rasanya baru kemaren saja saya menginjakkan kaki di tanah deli ini, dimana dalam keheningan malam yang ditemani rintik hujan didalam pool bus Lo**** yang membawa saya dari tanah Sriwijaya. Banyak hal tentunya yang dapat saya ceritakan dalam jangka waktu 2 bulan selama disini, sebenarnya saya udah pernah menulis pengalaman saya yang ini medanpart1, cuma itu baru sekelumit saja,hehe.

Banyak hal yang saya dapat petik selama disini, baik mengenai tingkahlaku orang Medan, apa aja keunikan di Medan, rute angkot mana saja, bahkan tau daerah mana aja yang jalannya macet dan forbidden.hehe. Tujuan utama saya berada di sini sebenarnya buat KerjaPraktek, tapi ada misi lain yang tersembunyi yaitu ingin jalan-jalan Sumatera Utara.haha. Makanya saya rela jauh-jauh KP dari tempat menuntut ilmu (indralaya) atau kampung saya (padang) demi menuntaskan misi saya buat jalan-jalan (diam2 aja ya:) ).

Ajaibnya misi saya tersebut udah terealisasi di minggu pertama KP, dimana saya udah diajak untuk “jalan-jalan” ke BTS di daerah Tj Morawa, 1jam-an lebih dari Kota Medan. Tepatnya daerah Tanjung Purba,saya pikir lumayanlah meski tidak seperti jalan-jalan yang sebenarnya. Disana saya disuruh mengecek kondisi BTS, padahal itu baru pertama kalinya saya menge-cek BTS. Tak apalah, dapat ilmu juga meskipun sekarang saya ragu apakah masih ingat apa tidak dengan ilmu disana,hehe.

Masuk minggu kedua saya diajak jalan lagi, tempatnya lebih jauh, yaitu ke Berastagi Kab Karo. Pertama saya dan teman-teman mengelak, sebab ilmu ketika diajak ke lapangan aka jalan-jalan itu banyak yg gak cocok ama basic jurusan saya, iseng-iseng saya search di gugel bagaimanakah Berastagi itu. Sebab yang saya tau dari Berastagi itu adalah jeruknya yang terkenal. Setelah dapat info ttg Berastagi, ternyata tempatnya bagus buat jalan-jalan,kayak daerah pegunungan begitu. Saya pun mengiyakan jua ajakan buat “jalan-jalan” tadi.

Pukul 14an lebih kurang saya sampai di Berastagi. Eh ternyata untuk pergi ke lapangan buat mengganti sebuah modem atm bank baru bisa dilaksanak pukul 8 malam. Ada lebih kurang 6jam-an saya menjadi pengganguran disana. Gak jelas mau ngapain. Akhirnya saya dan teman berani untuk keluar sekedar menghirup udara dingin tanah Karo. Kata orang sana pergi aja ke Gundaling. Letaknya di atas bukit gitu,tapi saya gagal kesana dikarenakan rintik hujan mulai menyerang. Jadi selama itu saya hanya terpaku di sekitar kantor. Jam 10 malam kami telah selesai bekerja, jadi kami siap-siap untuk pulang dengan perut yang udah “konser” dari tadi. Diputuskan kami makan di daerah Sibolangit, nama rumah makannya lupa saya yang pasti HALAL, sebab sangat sulit menemukan rumah makan Halal disana. Jam 2 malam kami sampai rumah, melelahkan.

Sehabis itu praktis KP saya hanya berkutat di kantor tanpa ada “jalan-jalan” lagi.

Waktu terus berlalu hingga sampailah saya di awal Ramadhan, ini merupakan Ramadhan pertama saya di kota Binjai, sahur dan berbuka  ditemani nenek dan atuk tercinta. Akhirnya KP saya selesai di akhir minggu pertama Ramadhan, teman KP saya mulai beranjak ke kampung masing-masing di Dumai dan Padang Panjang.

Buka bareng dengan teman-teman merupakan momen yang tak bisa dihindarkan selama Ramadhan ini, kali ini saya sempatkan Buka Bareng di Ramadhan Fair sebab saya sering lihat di tipi-tipi ini merupakan tempat khas kuliner di Medan selama Ramadhan, tapi sangat disayangkan disini gak ada khasnya Medan, adanya Mie Aceh, Sate Padang, Soto Betawi, dan lain-lain. Mungkin saja saya yang tidak menemukan makanan khasnya ya saking ramainya pengunjung dan penjual disini. Ditambah lagi makanan Mie Aceh yang saya makan agak kurang enak, seperti (#maaf) agak basi. Tapi yang namanya perut udah lapar makanya langsung aja masukin ke perut, efeknya nyampe rumah langsung dikeluarin lagi tuh makanan :(.

Ramadhan telah sampai di penghujung menandakan semakin dekatnya Hari Kemenangan itu, oiya saya setelah KP kenapa masih di Binjai gak pulang ke Padang sebab saya Idul Fitri disini, semua keluarga besar dari Padang, Palembang, Gresik, Bandung, Kuala Lumpur  dan Pekanbaru balek kandang ke Binjai. Tanggal 29 keluarga udah pada ngumpul semua disini. Makin ramai aja neh rumah nenek apalagi ada anak kecil yang bikin gemesin dan ngeselin, tau ndiri lah sifat anak kecil bijimane.


Akhirnya misi saya untuk jalan-jalan kembali terwujud, sebab keluarga besar berencana untuk tour ke Berastagi dan Bukit Lawang. Pergi ke Berastagi merupakan untuk kedua kalinya, saya hanya bisa membaca novel “2” selama perjalanan sebab saya udah bosan melihat jalanan ke Berastagi (padahal baru sekali pergi#sombong). Akhirnya kesampaian juga untuk ke Gundaling, benar-benar Subhanallah dari atas sini, bisa melihat seluruh Kota Berastagi yang di kelilingi Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung. Ini baru namanya Indonesia.


Lusanya baru kami sekeluarga ke Bukit Lawang yang notabene masih dalam komplek TN Gunung Leuser. Bukit Lawang ini gak sama lo kayak Taman Lawang, jauh bedanya. Di perjalanan ini baru saya merasakan suasana baru tapi tetap ngantuk juga,hehe. Akhirnya sampai di Bukit Lawang meskipun banyak “pungutan” sana sini. Untung kami perginya pagi sebab kalo udah masuk siang tempat ini kayak tempat pemandian umum, tumpek banget isinya. Bukit Lawang ini hampir sama kayak Lubuk Minturun dan sejenisnya kalo di Padang tapi disini dikelola dengan baik, dimana kiri kana aliran sungai dibuat beberapa pondok kecil, losmen, rumah makan, warung kecil dan tempat bilas. Antara sisi sungai satu dengan yang lain dibuatkan jembatanya jadi kelihatan enak dipandang. Benar-benar Indonesia bangetlah.


Akhirnya malam ini menjadi malam terakhir saya di Binjai, sengaja saya menulis pengalaman ini sekarang takutnya nanti kalo udah sampai di bumi Sriwijaya, kenangang-kenangan ini akan menguap begitu saja, dengan dituangkan dalam blog ini minimal saya dapat mengenangnya. 😀

Mungkin sekian journey saya di North Sumatera yang katanya Paris van Sumatera ini, entah iya entah tidak sebab yang saya tau Paris Van Sumatera yaitu Kota Bukittinggi. Wallahu’alam.

 

 

 

medanPart1


Kali ini saya ingin berbagi pengalaman ketika awal datang saya ke kota Medan, setelah sekian lama tak kesini (kalo gak salah tahun 2000).

Saya berangkat dari Kota Pempek menuju kota Medan dengan sabuah misi, yang tak lain dan tak bukan yaitu KP, atau kata teman2 artinya Kerja Praktek.hehe… Saya berangkat ke medan dengan menggunakan Pesawat Darat.

Ada satu hal yang mengusik saya ketika masuk perbatasan Sumut dg Riau yaitu doorsmeer, ya #doorsmeer. Bagi teman2 yg baru berkunjung ke Sumut atau Aceh merupakan menambah kosa kata baru. Awalnya saya tak ambil pusing, mungkin istilah di daerah2 biasa aja, sebab yg saya lewati desa2, tapi ketika sampai di kota Medan, ternyata #doorsmeer itu merupakan tempat pencucian mobil, istilah kampung sayanya CarWash. Nah lho…kok jauh amat yak hubunganya?? atau saya aja yg memang gapbada (gagap bahasa daerah).hehe…Tak masalah lah, ngapain juga di ambil pusing.betul tidak??

Banyak hal yg bisa saya komentari ttg kota Medan (begitulah manusia, hanya bisa berkoar-koar tak jelas,hehe), salah satunya tentang sistem transportasinya. Ketika masih di palembang, saya diwanti-wanti sama teman2 kampus, “ko mau ke Medan ya?? hati2 aja nanti ko pening lihat angkotnya”, ada lagi yang ngomong, “moga2 ko gak tersesat aja naek angkot disana ya, sebab jumlah nomornya ampe ratusan”; dalam hati mikir juga ” kayak parah kali lah transportasi disana, but never mind, dicoba dulu biar tau”. Ternyata emang benar, transportasi disini bisa dikatakan “kacau balau” kalo menurut ane yo (nanti marah pulak orang medan ama aku),hehe. Oya,saya “ngantornya” disini naek angkot, biasalah maske (mahasiswa kere),hehe…

Untung aja pertama naek angkot udah ditunjuki sama om saya disini buat naek angkot yg mana aja agar “selamat dan aman” ampe tujuan. Dari rumah saya yang jaraknya lebih kurang 40km ke kantor tmpat KP, saya naek 2x angkot. Angkot Binjei ama angkot 65 ( Tembung,Aksara – P.Baris ). Yup,saya tinggal di Binjei di tempat nenek tercinta. Ternyata memang benar angkot disini sangat buanyaaaakkk…..nomor angkotnya aja ampe seratusan,kira2 orang medan sendiri hafal gak ya nomornya serta trayeknya kemana aja??
Oya, kemaren sempat nanya ama pak pol, “pak,kalo angkot jurusan Tembung yang mana ya?? nomor berapa??” , eh malah dijawab “gak tau dek, kamu tunggu aja disana, lihat aja trayek yg ada di kacanya”, dalam hati mikir “pak pol aja gak tau, apalagi yg lain ya??”, hehe…#geleng2Kepala. Mungkin itu dulu yg dapet saya sharing sementara, kita nantikan di edisi selanjutnya. 🙂

to be continued….

NetreTelkom;9:53AM…

KelilingSumbar (gagal)


Ya kali ini mau berbagi cerita dikit mengenai jalan2 ama sahabat sebelum balek kembali ke “medan jihad ilmu”…ciellee…

Yap..mari kita mulai…siapkan kopi secangkir dulu agar dapat menemani cerita saya kali ini…:D

Rencana awal, kami mau jalan2 dimulai dari Padang jam 1 siang…tapi berhubung empunya mobil gak bisa…maka diundur pk 16.00…tapi lagi dan lagi empunya mobil berhalangan dikarenakan mobil mau digunakan orangtuanya, mau tak mau diundur lagi jam 8 malam (ba’da isya)…huft…kami yang telah berkumpul ada 3 org ( TKH, RN, FAE ) harap maklum kepada empu mobil (DH) yang kayaknya sibuk banget….menunggu…menunggu…itulah yang kami alami ampe jam 11 malam yang akhirnya rencana perjalanan kami “sepertinya” akan lanjut besok pagi…..(ternyata emg iya)… Kami bertiga udah kecewa banget ama empu mobil…tapi karena si empu mobil ini orangnya pragmatis kalo minta maaf…kami pun luluh karenanya, malah merasa paling bersalah sebab si empu mobil ini lama datang ternyata lagi cari mobil lain (mobil pak eteknya) dikarenakan mobil dia gak bisa dipakai…Subhanallah…karena dari kemaren2 udah janji mungkin ya?? jadi dia gak mau buat kecewa teman2nya…jadi ampe malam pun tetap dicari… Kami pun merasa bersalah…sebab telah membebani beliau…tapi syukurlah dia gak terbebani ( *mungkin gak ya 😀 ),jadi kami sepakati tetap enjoy walau mulai berangkat keesokan harinya dikarenakan hari telah larut malam…terpaksa kami malam itu nginap di rumah sepupu saya (FD).

Oiya, rencana kami mau jalan2 ini jika sesuai draft ( mulai jm 1 siang ) dimulai dari Padang – Solok – KebunTeh AlahanPanjang – DanauSingkarak – Payakumbuh (nginap di salah satu crew yg ikut) – BukitTinggi – Padang Panjang – Pariaman – Padang.  Lumayanlah lah gak?? Tapi sirna sudah draft tujuan kami tersebut. Jadi kita fokus pada yang akan terjadi aja. Saatnya memejamkan mata.

Oya,tak lupa kami memasang alarm Hp agar bisa bangun sebelum adzan subuh…tak lama kemudian keadaan kamar pun senyappppp….zzZZzz…

krrriinggg….krrriinggg….krrriinggg….

assalamu’alaikum…ya akhi ya ukhti…assalamu’alaikum…ya akhi ya ukhti…( ada yg nyetel laguOpick jadi alarm,,siapa yach?? 😀 )

Bunyi alarm diatas membangunkan seluruh penghuni kamar yang sedang enaknya bermimpi indah…tak lama berkumandanglah adzan Subuh…baru terbangun galo para “budak-budak” tadi…

Kami pun sepakat untuk solat subuh di mesjid Al-Marhamah di daerah ujung gurun…brrr…dinginnnya air mampu membuat berdiri bulu kuduk saya…brrr…kami pun segar setelah solat subuh berjemaah, emang dahsyat efek solat berjemaah!!!

Saatnya tancap gas…oya,ada satu lagi teman yangg perlu dijemput…yaitu VS, seorang wirausahawan muda asal Unand…hehe…

Akhirnya mobil yang kami tumpangi melaju cepat membelah jalanan bypas tanpa basa basi…supir kami yg juga empunya mobil membawa laju mobil ini seperti dia yang punya jalanan sendiri…(mungkin merasa bersalah atas keterlambatan semalam..ah biarlah, batinku dalam hati…kapan lagi…ckckck).

Lebih kurang 1 jam mobil yang telah kami tumpangi sampai di Malibou Anai…wwuiihh…cepatnya supir…*sambil geleng2 kepala…

Kami pun sempat ribut akan mandi dimana? sebab waktu di Malibou baru menunjukan jam 7 pagi…mana buka MalibouAnai jam segitu…kami pun sepakat untuk sarapan dulu di Padang Panjang…makan luontong gulai buncih angek-angek…Mantap nian coz udara dingin banget…

a

f

Setelah perut kenyang.kami pun kembali diskusi dimana hendak mandi, kami pun sepakat buat berenang aja di Payakumbuh, rencanca awal di Batang Tabik tapi berhubung guide kita, TKH lupa jalan kesana (*diragukan kualitas Payakumbuhnya)…kami pun mandi sekaligus berenang di kolam renang Ngalau, dekat gerbang masuk kota Payakumbuh.

d

Setelah berenang lebih kurang 1,5 jam kami pun mampir dulu ke rumah nenek guide kami, TKH di daerah gurun apo lah namonyo ko ha…daerah sesudah Mal payakumbuh kalo dari Padang..hehe.. Habis dari sana kami lanjut ke DANGUNG2 buat mencicipi satenya…c0z kata orang yo bana lamak satenya…wak ma pacayo gitu seh…ckck…

Ternyata jauuuuaaahhh bana ko haaa….lah konser lo paruik kami ko dek manuju ka daerah Dangung2 tu… Akhirnya setelah perjalanan 40 menitan lebih…terbayar sudah konser paruik ko… Yo bana lamak ruponyo ma… tapi maha bana ma buat kantong anak kos bantuak wak ko, 1 tusuk daging = Rp.2500…kami makan lah sampe 40 tusuak…lah saratuih ribu lo buek dagiang se…lun katupek lai…tapi bahubuang guide kami sedang elok (ruponyo hari itu jatah hiduiknyo bakurang,hehe 😀 ), dak jadi ambo dan kawan-kawan yg bertiga lainya keluar fulus dari dompet tipis kami…hhmmmm…Alhamdullilah… Yo bana elok kwan surang tu (*ajaib mah). Semoga tambah banyak rajaki kwan wak surang tu,aamiin…

e

g

f

Habih dari sinan ado lo rencana jadi juo ka Batang Tabik tu…dak taulah matahari lah diateh kapalo… Akhirnya dek mamikian ambo yang ka nio pulang ka parantauan…diputuskan ka Kota Wisata BukikTinggi agar dapek ambo mambali keperluan buek urang-urang di rantau.

Di perjalanan dari Payakumbuh ka Bukik…muncul lah ide-ide narsis para crew yang di ateh oto untuk bakodak-kodak dulu…sabalun masuk ka Bukiktinggi..kami baranti di suatu daerah kayak lembah gitu..dak tau lah apo namonyo (maklum kami kan wisatawan)…ancak bana ko haaaaa suasananya…hamparan sawah dikelilingi bukit-bukit dengan latar belakang gunung Singgalang dan Merapi….ANCAK BANA…!!! 😀

b

h

t

a

Kami pun sampai di Bukiktinggi…mulailah kami melancong lai…mengitari kawasan pasa Ateh dan sekelilingnya…akhirnya barang yg dicari buek oleh-oleh basobok juo di pasa Ateh…mulailah kalua jiwa Minang kami…(jreng..jreng…menawar setengah harga)…hahaha….tapi panjua tu dak lo amuah kalah jo jiwa tawa-manawa kami…setelah alot bernegosiasi akhirnya tercapailah kata : yo ambiaklah diak… (hahaahaha :D)

q

t

Setelah puas cuci mata di Pasa Ateh…saatnya bakodak lo liak di kawasan Jam Gadang Bukik…

h

n

Setelah puas bakodak-kodak di sekitar Jam Gadang, jam ketek di tangan lah manunjuakan pukul 17.35…kami pun bergegas pulang ke Padang lai…tapi sabalun pulang…wisata kuliner salayang lu di Bakso Samping Yasri Bukik….hmmm…lamak ma…

lah jam 6.10 sore, saatnya pulang wak lai…akhirnya tibo rumah pukua 8 malam…

Perjalanan yang melelahkan walaupun dak jadi keliling Sumbar….tetap seroooooooooooooo lahh… 😀

*annual report ini sengaja memakai dwi bahasa (Indonesia & Minang) 😀