Merantau Ke Deli


Entah mengapa hasrat membaca itu muncul tiba-tiba ketika terhampar sastra klasik Buya Hamka, Merantau Ke Deli di sudut kamar itu. Langsung ku sobek-sobek plastik yang membungkusinya. Langsung kuhirup aroma sastra khas Minangkabau yang menjadi andalan sang Buya. Selamat memasuki lorong waktu.

***

Merantau Ke Deli
Merantau Ke Deli

Namanya Leman. Seorang pemuda Minang asli yang merantau ke Tanah Deli, Sumatera Utara. Daerah Deli yang saat itu digambarkan oleh Buya Hamka sebagai kota yang maju terutama dalam hal perkebunan membuat Leman berani mencoba peruntungan di sana. Kemudia ia dipertemukan dengan Poniem, gadis asal Jawa yang merupakan istri muda bos besar perkebunan sawit. Seringnya interaksi diantara mereka, menumbuhkan benih-benih cinta, dan mereka bersepakat untuk kawin lari demi masa depan yang lebih baik. Lalu menikahlah mereka, pernikahan antar etnis Minang-Jawa. Seperti yang diketahui, sangat tidak lazim saat itu orang Minang menikah dengan orang non Minang.

Tak terasa telah berlalu 5 tahun umur pernikahan mereka. Pernikahan yang bahagia dan romantis, karena mereka memulai hidup dari nol hingga menjadi pedagang yang sukses. Tetapi dibalik kesuksesan selalu ada kisah kelam yang mewarnaninya. Mereka masih belum bisa mempunyai keturunan.

Pantang pulang sebelum sukses pun menjadi patokan Leman untuk mudik ke kampung halaman. Sejak pertama kali merantau hingga menikah belum satupun ia berkunjung ke sanak saudara di kampung. Hingga tiba saatnya Leman untuk mudik ke Ranah Minang, menyambung silaturahim dengan sanak saudara.

Tiba di kampung, Leman dan Poniem disambut bak pahlawan dikarenakan banyak membawa buah tangan. Tapi bagi para tetua adat, Leman dianggap sial karena menikahi gadis non Minang sehingga belum bisa jua mempunyai keturunan. Maka berbicaralah orang yang dituakan adat kepada Leman secara empat mata dengan maksud untuk menikahkan kembali Leman dengan gadis Minang asli. Disinilah mulanya konflik yang diracik sangat apik oleh Buya.

Tak berselang lama, menikahlah Leman dengan Mariatun, gadis cantik yang masih muda asli Minang. Poniem dengan karakteristik Jawa-nya yang penurut hanya bisa patuh kepada suaminya. Menikah dengan dua istri membuat Leman harus kerja ekstra memikirkan keduanya, meskipun kenyataannya Leman sering terbuai oleh mulut manis Mariatun sehingga dia lah yang selalu dibela ketika bertengkar dengan Poniem.

Tak tahan dengan kondisi seperti itu, Leman pun menceraikan Poniem. Padahal dahulu ketika menikahi Poniem, Leman telah bersumpah dengan sepenuh hati, “Demi Allah, biarlah keatas kanda tak berpucuk, ke bawah tak berurat seandainya engkau kusia-siakan“. Sungguh sedih hati Poniem dicampakkan seperti itu. Dia selalu mengingat hidupnya dahulu kala yang memulai dari nol bersama Leman. Dia pun pindah ke Medan. Paska kepergian Poniem, porak-porandalah perniagaan Leman. Sebab selama ini Poniem lah menjadi tulang punggungnya.

3 tahun berlalu. Poniem telah membuka lembaran baru kehidupannya. Dia telah sukses berniaga kembali di Medan, persis saat dia memulai kehidupan di Deli bersama Leman. Sedangkan Leman sendiri menjadi pedagang keliling serta menyewa kosan bersama dengan orang lain. Kehidupan yang miris mengingat kisahnya dahulu bersama Poniem.

***

Buya ingin mendobrak tradisi pernikahan se-etnis yang selama ini mengakar di ranah Minang. Pernikahan antar etnis seolah-olah hal yang tabu bagi orang Minang. Buya ingin menyampaikan semangat nasionalisme, yang mana tidak ada perbedaan etnis dalam membangun rumah tangga.

Buya juga ingin mengkritik gadis Minang yang terlalu matrealistis. Sebab dalam adat semua harta dibawah kendali istri. Ketika terjadi masalah keluarga hingga perceraian, suami-lah yang harus ditendang dari rumah tanpa membawa satu buah pun harta.

***

Novel klasik yang perlu dibaca oleh orang Minang. Jan lupo baco yo sanak.

Advertisements

KelilingSumbar (gagal)


Ya kali ini mau berbagi cerita dikit mengenai jalan2 ama sahabat sebelum balek kembali ke “medan jihad ilmu”…ciellee…

Yap..mari kita mulai…siapkan kopi secangkir dulu agar dapat menemani cerita saya kali ini…:D

Rencana awal, kami mau jalan2 dimulai dari Padang jam 1 siang…tapi berhubung empunya mobil gak bisa…maka diundur pk 16.00…tapi lagi dan lagi empunya mobil berhalangan dikarenakan mobil mau digunakan orangtuanya, mau tak mau diundur lagi jam 8 malam (ba’da isya)…huft…kami yang telah berkumpul ada 3 org ( TKH, RN, FAE ) harap maklum kepada empu mobil (DH) yang kayaknya sibuk banget….menunggu…menunggu…itulah yang kami alami ampe jam 11 malam yang akhirnya rencana perjalanan kami “sepertinya” akan lanjut besok pagi…..(ternyata emg iya)… Kami bertiga udah kecewa banget ama empu mobil…tapi karena si empu mobil ini orangnya pragmatis kalo minta maaf…kami pun luluh karenanya, malah merasa paling bersalah sebab si empu mobil ini lama datang ternyata lagi cari mobil lain (mobil pak eteknya) dikarenakan mobil dia gak bisa dipakai…Subhanallah…karena dari kemaren2 udah janji mungkin ya?? jadi dia gak mau buat kecewa teman2nya…jadi ampe malam pun tetap dicari… Kami pun merasa bersalah…sebab telah membebani beliau…tapi syukurlah dia gak terbebani ( *mungkin gak ya 😀 ),jadi kami sepakati tetap enjoy walau mulai berangkat keesokan harinya dikarenakan hari telah larut malam…terpaksa kami malam itu nginap di rumah sepupu saya (FD).

Oiya, rencana kami mau jalan2 ini jika sesuai draft ( mulai jm 1 siang ) dimulai dari Padang – Solok – KebunTeh AlahanPanjang – DanauSingkarak – Payakumbuh (nginap di salah satu crew yg ikut) – BukitTinggi – Padang Panjang – Pariaman – Padang.  Lumayanlah lah gak?? Tapi sirna sudah draft tujuan kami tersebut. Jadi kita fokus pada yang akan terjadi aja. Saatnya memejamkan mata.

Oya,tak lupa kami memasang alarm Hp agar bisa bangun sebelum adzan subuh…tak lama kemudian keadaan kamar pun senyappppp….zzZZzz…

krrriinggg….krrriinggg….krrriinggg….

assalamu’alaikum…ya akhi ya ukhti…assalamu’alaikum…ya akhi ya ukhti…( ada yg nyetel laguOpick jadi alarm,,siapa yach?? 😀 )

Bunyi alarm diatas membangunkan seluruh penghuni kamar yang sedang enaknya bermimpi indah…tak lama berkumandanglah adzan Subuh…baru terbangun galo para “budak-budak” tadi…

Kami pun sepakat untuk solat subuh di mesjid Al-Marhamah di daerah ujung gurun…brrr…dinginnnya air mampu membuat berdiri bulu kuduk saya…brrr…kami pun segar setelah solat subuh berjemaah, emang dahsyat efek solat berjemaah!!!

Saatnya tancap gas…oya,ada satu lagi teman yangg perlu dijemput…yaitu VS, seorang wirausahawan muda asal Unand…hehe…

Akhirnya mobil yang kami tumpangi melaju cepat membelah jalanan bypas tanpa basa basi…supir kami yg juga empunya mobil membawa laju mobil ini seperti dia yang punya jalanan sendiri…(mungkin merasa bersalah atas keterlambatan semalam..ah biarlah, batinku dalam hati…kapan lagi…ckckck).

Lebih kurang 1 jam mobil yang telah kami tumpangi sampai di Malibou Anai…wwuiihh…cepatnya supir…*sambil geleng2 kepala…

Kami pun sempat ribut akan mandi dimana? sebab waktu di Malibou baru menunjukan jam 7 pagi…mana buka MalibouAnai jam segitu…kami pun sepakat untuk sarapan dulu di Padang Panjang…makan luontong gulai buncih angek-angek…Mantap nian coz udara dingin banget…

a

f

Setelah perut kenyang.kami pun kembali diskusi dimana hendak mandi, kami pun sepakat buat berenang aja di Payakumbuh, rencanca awal di Batang Tabik tapi berhubung guide kita, TKH lupa jalan kesana (*diragukan kualitas Payakumbuhnya)…kami pun mandi sekaligus berenang di kolam renang Ngalau, dekat gerbang masuk kota Payakumbuh.

d

Setelah berenang lebih kurang 1,5 jam kami pun mampir dulu ke rumah nenek guide kami, TKH di daerah gurun apo lah namonyo ko ha…daerah sesudah Mal payakumbuh kalo dari Padang..hehe.. Habis dari sana kami lanjut ke DANGUNG2 buat mencicipi satenya…c0z kata orang yo bana lamak satenya…wak ma pacayo gitu seh…ckck…

Ternyata jauuuuaaahhh bana ko haaa….lah konser lo paruik kami ko dek manuju ka daerah Dangung2 tu… Akhirnya setelah perjalanan 40 menitan lebih…terbayar sudah konser paruik ko… Yo bana lamak ruponyo ma… tapi maha bana ma buat kantong anak kos bantuak wak ko, 1 tusuk daging = Rp.2500…kami makan lah sampe 40 tusuak…lah saratuih ribu lo buek dagiang se…lun katupek lai…tapi bahubuang guide kami sedang elok (ruponyo hari itu jatah hiduiknyo bakurang,hehe 😀 ), dak jadi ambo dan kawan-kawan yg bertiga lainya keluar fulus dari dompet tipis kami…hhmmmm…Alhamdullilah… Yo bana elok kwan surang tu (*ajaib mah). Semoga tambah banyak rajaki kwan wak surang tu,aamiin…

e

g

f

Habih dari sinan ado lo rencana jadi juo ka Batang Tabik tu…dak taulah matahari lah diateh kapalo… Akhirnya dek mamikian ambo yang ka nio pulang ka parantauan…diputuskan ka Kota Wisata BukikTinggi agar dapek ambo mambali keperluan buek urang-urang di rantau.

Di perjalanan dari Payakumbuh ka Bukik…muncul lah ide-ide narsis para crew yang di ateh oto untuk bakodak-kodak dulu…sabalun masuk ka Bukiktinggi..kami baranti di suatu daerah kayak lembah gitu..dak tau lah apo namonyo (maklum kami kan wisatawan)…ancak bana ko haaaaa suasananya…hamparan sawah dikelilingi bukit-bukit dengan latar belakang gunung Singgalang dan Merapi….ANCAK BANA…!!! 😀

b

h

t

a

Kami pun sampai di Bukiktinggi…mulailah kami melancong lai…mengitari kawasan pasa Ateh dan sekelilingnya…akhirnya barang yg dicari buek oleh-oleh basobok juo di pasa Ateh…mulailah kalua jiwa Minang kami…(jreng..jreng…menawar setengah harga)…hahaha….tapi panjua tu dak lo amuah kalah jo jiwa tawa-manawa kami…setelah alot bernegosiasi akhirnya tercapailah kata : yo ambiaklah diak… (hahaahaha :D)

q

t

Setelah puas cuci mata di Pasa Ateh…saatnya bakodak lo liak di kawasan Jam Gadang Bukik…

h

n

Setelah puas bakodak-kodak di sekitar Jam Gadang, jam ketek di tangan lah manunjuakan pukul 17.35…kami pun bergegas pulang ke Padang lai…tapi sabalun pulang…wisata kuliner salayang lu di Bakso Samping Yasri Bukik….hmmm…lamak ma…

lah jam 6.10 sore, saatnya pulang wak lai…akhirnya tibo rumah pukua 8 malam…

Perjalanan yang melelahkan walaupun dak jadi keliling Sumbar….tetap seroooooooooooooo lahh… 😀

*annual report ini sengaja memakai dwi bahasa (Indonesia & Minang) 😀

Secuil makna ketika Pulkam


Setelah lama vakum dari dunia per-wordpresan akibat koneksi modem salah satu provider yg saya gunakan tidak tersedia d Padang…sehingga saya mulailah menghilang…hehe…baiklah..saya cuma pengen cerita dikit aja tentang pengalaman saya pulkam kemaren di atas “pesawat darat” yg masih mau mengangkut saya…
Ketika didalam “pesawat darat” itu saya kebetulan duduk bersebelahan dengan seorang wanita setengah baya yg mulai bermunculan keriput di wajah beliau…saya memanggil beliau dengan sebutan amak ( sering digunakan untuk memanggil ibu-ibu yg belum dikenal di ranah minang ).
Amak tersebut banyak bercerita kepada saya pengalaman hidupnya baik ketika di Palembang maupun di kampungya di dekat Danau Singkarak.

Tetapi ada 1 hal yang amak tekankan kepada saya yang mungkin keadaan ini juga banyak dialamai para Perantau Minang yaitu jangan pernah meninggalkan/melupakan bahasa minang,  sebab sangat banyak dampaknya jikalau kita sebagai Minangers melupakan bahasa kampung kita, diantaranya kita akan malas pulang kampung (alasannya sering sederhana : aq gak ngerti bahasa Minang, jadi ntar malu ama orang2 d kampung,takut diketawain,bla bla bla), ketika ada pertemuan ikatan/persatuan/organisasi Minang akan malas juga buat hadir dan alasan lainyalah. Oleh karena itu pengaruh orang tua sangatlah besar, dimana kalo bisa sejak anak2 mereka kecil ajarkanlah bahasa Minang sebagai bahasa sehari-hari di dalam rumah…cz ini mungkin juga pengalaman dari teman2 yg besar dan tumbuh di rantau jadi bahasa Minang mereka kebanyakan gak bisa…

Bahasa Minang juga merupakan identitas kita sebagai Minangers, jadi jangan takut untuk bercuap-cuap memakai bahasa Minang,walaupun masih sering salah…namanya juga belajar…

Saya pun menjadi tersentak..benar juga ya…sebab saya sendiri juga jarang pulang ke kampung saya di Sulit Air dikarenakan bahasa disana juga agak berbeda dengan Bahasa Minang secara umum… Semoga ini menjadi pembelajaran bagi rekan2  yang masih mau membaca blog saya ini.

Wallahu’alam.:D