Hiburan Terpelajar


Semakin hari acara hiburan televisi semakin tak jelas kontennya. Ada yang cuman menontonkan aurat belaka, ada yang goyang disertai suara yang tak terlalu syahdu dan lain sebagainya. Namun diantara banyak acara hiburan tersebut, selalu ada muncul acara yang lumayan bagus dan mendidik menurut saya, ibarat oase di padang sahara. Meskipun termasuk salah satu tivi baru, namun acara-acara yang ditayangkan lumayan menghibur dan berkelas.
Salah satu acara tivi favorit saya saat ini yaitu INI Talk Show. Konsep acara talkshow yang berbeda dengan lainnya. Acara yang tidak hanya berisi talkshow, namun menghibur dengan humor segar mendidik dan tak berlebihan pastinya. Disaat acara talkshow dan humor lawakan lain saling membully satu sama lain antar pengisi acaranya, entah saling mengata-i yang mungkin bagi mereka wajar tapi bagi anak-anak sekolah itu bisa menjadi contoh. Wajar saja kasus pelecehan dan bully merebak di sekolah-sekolah saat ini.
Konsepan di Ini TS patut ditiru tivi lain saya pikir. Sebab mereka menghandalkan lawakan segar tanpa menyakiti orang lain dengan bully yang sungguh tak etis. Lawakan yang diplot dengan bahasa-bahasa renyah namun membuat penonton tertawa. Boleh saja menertawakan diri sendiri, tapi secukupnya.
Dan satu point yang saya senang yaitu ketika pengisi acara di Ini TS, entah itu Sule atau Andre membully tamunya maka mereka akan didenda dengan membayar goceng yang ditabung ke dalam toples. Ini memberikan pendidikan bahwasanya membully orang lain itu merupakan perbuatan yang salah dan mereka harus dihukum. Ini hal kecil namun sangat berarti.
Yaa, semua hal besar berawal dari hal yang kecil. Semoga tivi lain bisa mencontoh dan merevolusi konsepan acara-acara lawakan mereka.

Advertisements

Revolusi Pendidikan


Oleh : Sholah Hasim ~ Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com.

***

“Didiklah anakmu dengan sungguh-sungguh, karena ia akan hidup di sebuah masa  selain zamanmu”, demikian kutipan Ali bin Abi Thalib. Kita bersyukur, berbagai intitusi pendidikan formal bermunculan di mana-mana baik yang bercorak konvensional ataupun yang terpadu, bak jamur di musim hujan di tanah air kita. Yang dikelola oleh pemerintah maupun pihak swasta.

Secara kuantitas, input dan lulusan pendidikan sejak Taman Kanan-kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) semakin bertambah. Tetapi, jika kita mencoba melihat ke dalam secara jujur dan obyektif kita mengakui, dan mencoba memberikan catatan ringan, sesungguhnya lembaga pendidikan yang ada tidak menggambarkan, mewakili dan mewujudkan idealisme pendirian sebuah lembaga pendidikan itu sendiri.

Pendidikan yang tidak melahirkan ilmuan yang memiliki kepribadian yang pemimpin. Dan pemimpin yang ‘alim (Al ‘Alimuz Za’im waz Za’imul ‘Alim). Yang bermanfaat ilmunya, baik untuk dirinya dan orang lain, ilmu nafi’ (ilmu yang membela pemiliknya di akhirat). Bukan kepandaiannya digunakan untuk memanipulasi angka-angka, menyalahgunakan wewenang. Ilmu yang menjadi penggugat pemiliknya di Mahkamah Ilahi, ilmun la yanfa’ (ilmu yang tidak bermanfaat). Sebagaimana doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam di atas.

Faktanya, pendidikan kita telah gagal melahirkan manusia yang berkarakter. Cenderung memperlakukan anak didik bagaikan robot. Bukan manusia, yang di dalamnya ada perasaan. Pendidikan yang kurang humanis. Tampilan manusia sipil yang berwatak militer, manusia cerdas yang miskin moralitas, manusia modern yang berwatak primitif, manusia yang sehat secara pisik tetapi sakit ruhaninya, manusia yang tinggi ilmunya tetapi terpuruk budi pekertinya, manusia yang tinggi kedudukannya tetapi berjiwa kerdil, fenomena diatas adalah produk/out put/lulusan pendidikan yang ada.

Sekolah yang didirikan bukan untuk meningkatkan derajat dan kualitas kehidupan anak didik, tetapi menambah income. Sekolah yang berbasis bisnis. Anak didik dimasukkan sekolah agar kelak mendapat pekerjaan yang layak, posisi yang bergengsi.

Revolusi Pendidikan

Hasil survey yang dilakukan oleh INSISTS, mahasiswa di PT kuliah tidak ingin membangun tradisi ilmu, tetapi kelak supaya mudah melamar pekerjaan. Ada sebuah ungkapan, SDIT identik dengan “Sekolah Dasar Iuran Terus”. Sekalipun statemen tersebut sulit dicari rujukan ilmiahnya, tetapi subtansi kebenarannya tidak mudah dipatahkan.

Sekolah memperlakukan anak didik hanya sebagai harddisk yang siap dimasuki informasi apa saja, tetapi tanpa program untuk mengolahnya, meminjam istilah penulis buku-buku parenting Fauzil Adhim.

Setiap hari mereka hanya belajar menyimpan informasi rapat-rapat ke dalam otak, dan mengingat kembali saat ulangan.

Dengan akselerasi media cetak dan elektronik, merupakan media pembelajaran untuk mengelola berbagai informasi. Tetapi, mereka tidak diajari bagaimana mensterilkannya dari sesuatu yang mengotorinya. Mereka trampil menggali informasi, tetapi tidak pandai memfilternya (menyaring), – memilah-milah – selektif dalam menyerapnya. Banyak penerbitan koran yang muncul, isinya hanya identik dengan “rongsokan”. Masyarakat sulit menerima informasi yang berimbang dan bermutu. Isi berita tidak mendidik, misalnya kritik yang bersifat konstruktif, obral doa. Tetapi bermuatan obral gosip (memakan bangkai).

Reduksi Pendidikan Agama

Pendidikan agama hanya sebagai suplemen pendidikan formal. Agama diceraikan dari kehidupan sosial. Tidak dilibatkan dalam mengelola kehidupan nyata. Disamping alokasi waktu yang sedikit, itu pun menggunakan pendekatan kognitif. Jadi, pendidikan agama nyaris tidak ada. Absen dari kehidupan anak didik. Agama hanya kumpulan pengetahuan. Sehingga lulusan ushuluddin menjadi manusia “ucul-uddin (ucul/lepas agamanya), ketika dirayu dengan harta, tahta dan wanita.

Agama dilepaskan ketika disuguhi kursi, nasi dan komisi. Bukankah di Departemen Agama, Departemen Pendidikan, Departemen Kesehatan, sebagai sarang korupsi insan berdasi (hasil penelitian ICW). Agama hanya sebagai isi otak, bukan sebagai tata acuan dan tata kelola kehidupan (minhajul hayah).

Batasan pendidikan agama di sekolah dipahami pelajaran menghafal dengan materi agama, dan dalam partisi otak, diberi nama pendidikan atau pelajaran agama. Ini sangat berakibat fatal terhadap perkembangan religiusitas lebih khusus lagi spiritualitas peserta didik. Gara-gara penanaman pelajaran menghafal sebagai pendidikan agama, peserta didik mengalami dereligiusisasi dan despiritualisasi yang menyedihkan.

Padahal agama adalah nasihat, untuk Allah, Rasul-Nya, Pemimpin dan masyarakat awam. Mereka semua sejatinya tunduk dibawah komando yang memberi nasihat (agama) agar selamat. Jika hidup tidak dikontrol oleh agama, orang kecil menjadi makanan pembesar, orang bodoh menjadi ajang kesewenang-wenangan orang pintar. Orang lemah menjadi makanan orang kuat. Orang miskin menjadi mangsa the have. Mereka yang kuat, pemodal dan yang menggenggam kekuasaan menjadi makanan empuk syetan. Demikianlah kelakar seorang tokoh ketika meresmikan IAIN Walisongo Semarang. Sekalipun disampaikan secara humoris, tetap memiliki kedalaman makna.

Model pendidikan yang mereduksi agama hanya menjadi seperti pelajaran IPA, Bahasa Indonesia, Matematika, atau bahkan lebih rendah dari itu, membuat potensi ruhiyah peserta didik tumpul dan mati. Bertambah jam pelajaran agama tidak membangkitkan kekuatan maknawiyyah (spirit moral) mereka. Sebaliknya, justru bisa rentan masalah. Mereka kehilangan kepercayaan pada agama, sekalipun mereka tetap memeluk agama. Agama hanya sebagai simbol. Hari ini, itulah yang sedang terjadi. Anak-anak kita banyak mengalami kelelahan batin dan disorientasi kehidupan.

Reduksi agama ini tidak boleh diteruskan. Kekuatan ruhiyah peserta didik harus ditumbuhkan dan dikuatkan, sehingga menjadi penggerak hidup yang sempurna. Pembangkit stamina lahir dan batin. Agama menggali potensi manusia untuk berinteraksi dengan metapisik, membangkitkan idealisme, mensucikan maksud dan tujuan, menguatkan azam (tekat) untuk bergerak menuju ke arah yang lebih baik, dan menghadirkan makna, nikmat (kepuasan batin) atas setiap tindakan yang dikerjakannya.

Kita teringat seorang ulama yang buta -Direktur Madrasah Ar Rasyad– sedang menguji hafalan Hadits Arbain Hasan Al Banna yang tersendat-sendat. Beliau langsung memberi motivasi yang terkesan dalam hati murid kesayangannya itu. Asri’ Ya Gharatallah! (wahai kuda-kuda Allah percepatlah larimu).

Setelah keluar dari kelas ucapan gurunya yang cacat pisik itu, tetapi karakternya kuat, berkesan di hatinya. Kata-kata ustadznya dipraktekkan dengan kawan-kawannya untuk lomba lari. Wahai kuda-kuda Allah, percepatlah larimu! Ucapan yang langsung direspon dan dijadikan acuan kehidupan.

Kita pula diingatkan dengan Lorraine Monroe. Ketika ia harus menangani sebuah SMA dengan latar belakang siswa yang sebagian besar berantakan, -broken home- (keluarga bermasalah), dan hidup dengan logika kekerasan. Ada dua hal yang menjadi program prioritas.

Pertama, membangkitkan high level of expectation (tingkat harapan yang tinggi). Mereka dimotivasi untuk memiliki target-target, tujuan dan cita-cita besar. Kedua, meletakkan landasan berupa keyakinan (belief) yang kuat sebagai penggerak untuk melakukan dan mencapai yang terbaik (the spirit of excellence).

Proses untuk membangkitkan kekuatan ruhiyah berupa keyakinan yang kuat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta kesadaran akan kasih sayang dan kekuasaan-Nya harus mencakup semua aspek.

Kedua, sudah saatnya pendidikan dirancang untuk secara seimbang memberi sentuhan yang menggerakkan aspek kognitif, afektif, psikomotorik, dan spiritual anak. Berbagai potensi tersbut tidak bisa/tidak boleh dipisah-pisahkan. Harus utuh, dan ditangani secara  holistik. Pendidikan yang hanya menyentuh salah satu aspek saja, akan lemah dan rapuh. Jiwanya retak-retak, terbelah (split personality). Boleh jadi tampaknya kuat, tetapi tidak memiliki landasan psikis yang kuat.

Hari ini kita menyaksikan bagaimana anak-anak sejak kecil dibiasakan dengan aktifitas keislaman berubah secara drastis (180 derajat) begitu mereka bersentuhan dengan lingkungan sosial, komunitas yang berbeda atau wacana yang lain dipersepsikan batil/salah. Akhirnya merasa paling benar sekalipun jauh dari kebenaran.

Hari ini kita juga menyaksikan bagaimana anak-anak yang hanya diaktifkan kompetensi kognitifnya yang paling rendah berupa menghafal, tetapi bobrok kepercayaan dirinya. Tidak teguh dalam memegang prinsip (landasan berpikir dan bertindak). Tidak memiliki keberanian berkorban dan mengambil resiko.

Hari ini banyak orang pintar,  ilmunya menjulang ke langit (sundhul langit, Bhs Jawa), tetapi betapa parah dan memprihatinkan mutu akhlaknya. Semakin memuncak karir yang dirintis tidak semakin takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bukankah kasus KKN, simbol penyakit moral, yang menggurita di negeri ini dilakukan oleh orang yang berpendidikan sarjana. Bukan dari kalangan masyarakat awam.

“Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh.” (al-Hadits).

Mereka menyerap pelajaran umum, pelajaran agama, tetapi tidak disertai dengan penghayatan dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam skala individu, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Agama hanya sebatas sebagai makanan logika, konsumsi otak. Sehingga kaya dengan serimonial keagamaan tetapi miskin aplikasi. Agama hanya sebagai simbol, kehilangan spirit.

Akibatnya, wawasan mereka luas dan banyak. Tetapi, hanya sebagai mantra, bukan resep untuk mengurai kerumitan kehidupan. Hampir-hampir tidak ada yang diingat ketika mereka menghadapi masalah.  Yang dipelajari tidak bisa menjadi acuan dalam mengatasi problem yang dihadapinya. Idealismenya melangit, tidak bisa dibumikan.

Rahibun fillail, Fursanun Finnahari

Sebabnya, proses pendidikannya salah. Input yang berbobot pun melahirkan out put yang tidak berkualitas. Perlakuan yang mereka terima di sekolah/universitas, hanya mencerdaskan otak, kemampuan manusia yang paling rendah (kognitif). Tidak peduli – dengan rasa dan karsa serta sikap mental -.

Berbagai upaya untuk melakukan revousi pendidikan mendesak dilakukan. Usaha yang terencana – yang mengaktifkan secara stimulan dan simultan berbagai potensi manusia, akliyah, ruhiyah dan jasadiyah – . Memadukan energi ijtihad, jihad dan mujahadah, perlu dilakukan sekarang juga. Sehingga mereka malam hari bagaikan pendeta, siang hari bagaikan panglima (rahibun fillail, fursanun finnahari).

Karenanya, proses pematangan konsep dan penerapan pendidikan yang holistik harus dipikirkan semua komponen bangsa sejak saat ini, sehingga cita-cita kita terwujudnya pendidikan integral, kurikulum berbasis tauhid tidak hanya berupa bayang-bayang.

***

Sumber tulisan : http://www.undergroundtauhid.com/pendidikan-yang-lahirkan-rahib-di-malam-hari-panglima-di-siang-hari/

Sumber gambar : Blog.unsri.ac.id

Hebatnya Akademi Khan


Bukalah: www.khanacademy.org, Anda akan menyimak di sebuah kiri sebuah logo sosok sebelah jari tangan abu-abu dan 21 helai daun hijau mengitari. Di sampingnya tulisan Khan Academy. Inilah situs internet diprakarsai Salman Khan, memuat semua materi pelajaran berbentuk visual, memanfaatkan youtube.com. Setiap hari kini setidaknya 50 ribu murid sejagad belajar materi ajar “mahaguru” online, termasuk anak-anak SD negeri Cina. Ini semua dilakukan gratis sosok mudaSalman Khan. Bandingkan dengan laku Kemenkominfo ingin menenderkan pinjaman lunak JICAsenilai Rp 38 miliar untuk membuat materi ajar online khusus untuk daerah Jogjakarta tok? Komunitas open source di Bandung seperti Crayonpedia.org, sudah lebih dulu memulai. Gratis pula. Uang Rp 38 miliar pinjaman lunak JICA bisa dialihkan mendukung pengembangan konten dan aplikasi Indonesia go global, jika cerdas, tentu!.

JAKARTA masih bersuasana lebaran. Rabu pagi , 15 September 2010, saya hendak menyalakan komputer desktop tua. Seorang kenalan bergerak di dunia programing menyapa.

“Apakah Anda sudah pernah membuka Khan Academy?”

Saya jawab belum.

Melalui komputer i-pad-nya, saya diperlihatkan khanacademy.org.

Amboiii! Betapa telatnya saya baru tahu hal luar biasa telah dilakukan sosok Salman Kahn.

Ya, namanya Salman Khan!

Ia mendirikan Akademi Khan bertujuan menggunakan teknologi informasi bagi mendidik dunia.

Peraih gelar MBA dari Harvard Business School, meraih Master di bidang teknik listrik dan ilmu komputer, gelar BS (Bachelor of Science) di bidang teknik listrik dan ilmu komputer, dan gelar BS dalam matematika dari Institut Teknologi Massachusetts Intitute of Technology (MIT), Amerika Serikat (AS), itu seharusnya gamblang saja mendapatkan kerja di perusahaan papan atas AS.

Tetapi ia lebih memilih memanfaatkan www.youtube.com untuk menayangkan materi pelajaran. Kini jumlah video pelajaran telah digarapnya tak kepalang tanggung. Sudah lebih 18 ribu video. Saktinya, semua dikerjakannya sendiri, mulai dari menyusun materi, memvideokan, menjadi guru sekaligus. .

Kini dalam sehari tak kurang dari 50 ribu muridnya mengkases khanacademy.org, termasuk anak-anak SD dari negeri tirai bambu, Cina,mengikuti pelajarannya secara online.

Sosok bocah dari Korea menuliskan komentarnya:

“I’m from Korea, a small country and I’m eleven. Your lecture is so famous so we could know your skill! I’m loving this alot~  , “ him204@naver.com, yang diposting lima hari lalu, di mata pelajaran video aljabar.

Dalam tutorial online-nya, Khan menyajikan berbagai materi pelajaran memudahkan pelajar memahami. Di antara pelajaran itu; matematika, kimia, biologi, sejarah, probabilitas, trigonometri, permainan asah otak, aljabar, ekonomi, perbankan dan uang, keuangan, geometri, statistik, kalkulus, fisika, persamaan diferensial. Tentu masih banyak lainnya.

Ada pula komentar orang tua murid, ”Saya tidak tahu siapa Anda. Tapi dalam pikiran saya, Anda adalah penyelamat. Anak-anak saya benar-benar bersemangat dengan matematikanya. Terima kasih.”

Pria kelahiran New Orleans, Louisiana, AS, dengan orang tua imigran India dan Bangladesh, ini hanyalah mengawali Khan Academy untuk membantu keponakannya belajar matematika dengan menggunakan Yahoo! notepad pada tahun 2004. Lalu berkembang hingga seperti hari ini. Kini di bagian kanan situs internetnya, Salman Khan sudah berani menarok ikon donasi, dapat diklik bagi pengunjung yang mau menyumbang bagi upaya mulia itu.

Ketika orang lain melamar pekerjaan menjadi guru, Khan memilih menjadi guru praktis mendistribusikan tutorial di YouTube.

Hingga kini Salman Khan telah menerima 2009 Tech Award untuk Pendidikan. Tech Award merupakan program penghargaan internasional menghormati inovator dari seluruh dunia menerapkan teknologi bagi manfaat kemanusiaan.

Pada Desember 2009, Khan YouTube-host tutorial dilihat oleh 35.000 orang per hari. Setiap video Khan rata-rata berdurasi sepuluh menit. Hingga kini, versi offline video-video Khan telah didistribusikan secara gratis ke daerah-daerah pedesaan Asia, Amerika Latin, dan Afrika

SosokKhan, pernah tampil di jaringan teve CNN. Pada event Aspen Ideas 2010, sosok Bill Gates pendiri Microsoft, sengaja memaparkan keberhasilan prestasi Akademi Khan pada pada forum bergengi ajang bergengsi yang berlangusng pada Juli 2010 lalu di Kolorado, AS.. Upaya Salama Khan menjadi perbincangan hangat di forum itu.

Untuk skala nasional, khuisusnya lingkup komunitas open source di Bandung, pembuatan materi ajar baik sekadar dibaca, lengkap dengan audio visual itu sudah dimulai oleh www.crayonpedia.org. Melalui basis mesin wikipedia, para guru di seluruh tanah air dapat mengisi berkolaborasi materi ajar terbaik. Para murid di seluruh Indonesia dapat mengakses gratis.

Untuk upaya ini diperlukan energi melibatkan guru-guru berkenan mengisi konten.

Maka ketika di Kementerian Informasi dan Komunikasi saya dapatkan data ada rencana pengadaan materi ajar, hanya untuyk lingkup satu propinsi Jogjakarta. Saya lalu bertanya, mengapa bisa anggaran linjaman lunak dari JICA, harus mencapai Rp 38 miliar. Tak sampai separuh dana itu itu, seharusnay sudah mampu untuk melangkapi seluruh materi ajar tampil di crayonpedia. Misalnya.

sumber : blog IwanPiliang

ya itulah sepenggal tulisan dari pak Iwan Piliang, yang beberapa hari ini mulai terkenal dikarenakan menjadi “jubirnya” om Nazarudin. Yap…saya tertarik untuk menelusuri profilnya pak Iwan sebab beliau mulai ramai dibicarakan di media massa, jadi saya bertanya, siapa seh IWAN PILIANG ini, sampai-sampai seorang Nazarudin mau untuk wawancara lewat Skype dengan beliau, pastinya beliau bukan orang sembarangan, sebab Nazarudin pastilah sangat hati-hati untuk mencari teman yang mungkin bisa jadi “musuh dalam selimut” selama pelarian dirinya. Yang ingin saya bahasa sebenarnya bukan masalah siapa Iwan Piliang atau mengenai Nazarudin, saya hanya ingin mengomentari isi salah satu dari blog Iwan Piliang, mengenai Khan Akademy. Dimana kita bisa melihat profil rendah hati seorang lulusan universitas terkemuka di dunia yang mau mendermakan waktunya untuk kegiatan sosial seperti web http://www.khanacademy.org ini. Dia rela mengahbiskan waktunya untuk “berbuat lebih” yang dimana tidak semua orang sadar akan hal itu.

Saya mempunyai mimpi agar nantinya Indonesia dapat melahirkan the next SalmanKhan berikutnya meskipun saat ini telah ada web sejenis dari Indonesia yang telah bermunculan ( www.crayonpedia.org ). aamiin…