…M…U…


Semua terjadi berawal ketidak sengajaan saya di ajak oleh ketua salah satu organisasi di kampus untuk mengikuti kunjungan Legislatif ke kampus Biru di Depok. Sebenarnya saya tercatat sebagai anggota di organisasi itu tetapi jarang berkordinasi dengan kawan-kawan di organisasi itu dikarenakan kesibukan dan ketidak tahuan saya…

Kembali ke cerita yak, manisnya ukhuwah ini tercipta di kampus Biru tersebut, kebetulan saya berada di komisi 4 yang kebetulan sama dengan si X (*nama Samaran aja yak),  jujur saya tidak mengerti apa saja pembahasan masalah yang ada di komisi 4 ini, tetapi saya berbicara ama siX ini seolah-olah paham apa-apa yang terjadi disana. Maafkanlah saya ini ya om X :). Berawal dari sana semuanya is the beginning, jreng jreng…. Saya selalu dicecar pertanyaan A, B, C ampe Z lah, yang membuat saya mengeluarkan kemampuan menangkis pertanyaan dengan mengalihkannya kemana-mana , bipbipbip…*pahlawan bertopeng.

Pasca dari sana saya pun bertukar nomor hp, sebab nanti foto-foto dokumentasi selama disana mau saya bagi juga ke kawan-kawan kampus biru. Gak tau nya ne om X kocak juga, aneh bin ajaib. Saya berfikir dia ne manusia langka yang hanya ada di Indonesia saja, jarang ditemukan “makhluk” kayak gini.hehe. Kami pun saling bercengkrama baik di sms maupun di Fb, sampai-sampai ada adek tingkat yang sms saya bilang, “Uda, malawak bana kawan uda yang acok ma wall ka uda tu ma, samo-samo dak jaleh”, akhirnya adek saya itu nge-add makhluk langka ini juga karena ke unikanya itu. Kami saling bertukar info dan ngebanyol, dia minta saya ajarin bahasa padang (mungkin mau cari orang rumah padang,hehe), nanya itu nanya ini. Saya pun juga begitu, minta diajari bahasa sunda (kalo-kalo dapat orang sana kan bisa berabe kalo gak bisa), nanya ini,ini dan ini. Begitulah kami, sering pula saling menasehati dan mengingatkan. Seperti anak muda kebanyakan, ternyata dia juga lagi jaNta. Alhamdulilah, masih normal juga ne makhluk.

Itulah manisnya ukhuwah, tetap terjaga meskipun baru pertama kali bertatap muka, tapi rasanya udah kenal lama sekali.

Itulah manisnya ukhuwah, tetap saling mengingatkan dan menasehati dalam kebaikan dan kesabaran.

Itulah manisnya ukhuwah, berusaha menjadi tameng-tameng kemalasan.

Itulah manisnya ukhuwah….

Advertisements

TalkMore=DoMore


Terinspirasi dari sebuah ayat suci Al-Quran yaitu

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. #AsShaf (61) : 2-3

Yap, ayat diatas sangat “menyentil” akal pikiran saya , betapa tidak…, Allah sangat benci terhadap orang-orang yang “besar omong”, dimana kata-kata manis yang di keluarkan dari mulut tidak sesuai dengan apa yang dikerjakan. Hanya besar di perkataan. Naudzubillah mindzalik. Terjemahan ayat ini sering di “dengungkan” oleh kakak senior saya di kosan maupun di kampus, pertama saya dengar malah saya anggap sepele, tetapi setelah dibaca lagi artinya secara mendalam, saya tersadar betapa ayat ini merupakan peringatan dari Allah SWT kepada kita semua.

Sekarang pertanyaan besar muncul, apakah kita semua seperti itu?? Saya mulai menyadari akan hal itu, terkadang kita hanya pandai “berkata-kata” namun untuk berbuat sangatlah minim. Mungkin pada kondisi ini benar adakalanya pepatah lawas, “Diam itu Emas”. Tapi tunggu dulu, kalo kita diam terus kapan mau majunya?? Ada sebagian orang yang beranggapan Diam sajalah sebagai alternatif untuk “bermain aman”, tapi kehidupan ini selalu bergerak teman, tidak ada kehidupan  yang statis, boleh saja diam akan “kata-kata” namun berontak dalam “aplikasinya”. Tapi ingat….harus bergerak sesuai rule yang kita yakini benar.

Tetapi di lain cerita, kadangkala kita memang gemar untuk berkata-kata manis seperti dalam hal menasehati teman, sodara, keluarga dan bangsa Indonesia (buset dah udah Negara yg di kelolanya,hehe…jangan serius amat yak…), tapi kita kadangkala lupa mengaplikasikan apa yg kita ucapkan tersebut, apakah kita termasuk pada orang-orang seperti ayat diatas?? Itu semua kembali kepada NIAT kita semua, sebab menasehati orang lain, dalam hal ini mengingatkan dengan santun bukannya mengingatkanya dengan menghardik, juga merupakan kewajiban kita sebagai manusia sebagaimana firman Allah dalam QS. AlAshr (103):2-3, yang isinya lebih kurang “sungguh rugi manusia yang tidak menasehati dalam kebaikan”.

Kadangkala seking getolnya kita menasehati orang lain dengan kata-kata (pada umumnya seperti ini neh), kita lupa menasehati orang lain dengan PERBUATAN. Coba kita menasehati orang lain dengan PERKATAAN disertai dengan PERBUATAN, jadi kan maknyus tu ama Surat AsShaf:2-3, dimana kita BANYAK BERKATA, BANYAK BERBUAT, yang kita katakan sesuai ama yang kita kerjakan.
Sekarang diperlukan lah niat TULUS IKHLAS kita untuk dapat BERKATA-KATA yang diikuti PERBUATAN yang konkrit.

Oleh karena itu marilah kita jaga lisan yang sering kita “cipratkan” kepada orang lain hendaklah membawa kebaikan bagi orang lain tersebut. Semoga tulisan ini tidak hanya sebagai “ketikan keyboard tanpa aplikasi yang nyata bagi saya pribadi”

Waalahu’alam

#Tulisan ini dedikasikan buat kakak senior yang selalu mengeluarkan jurus pamungkasnya yaitu QS(61):2-3.