Mengunjungi Sebiduk Semare


Hari itu tuk pertama kalinya berkunjung ke kota yang konon katanya kota ter-Barat di Sumatera Selatan. Kota yang langsung terhubung ke Bengkulu. Ya, kota Lubuk Linggau. Hari itu tanggal 17 Juni kami memasuki kota “Sebiduk Semare” itu. Berawal dari undangan walimahan (baralek-dibaca) seorang senior di kampus saya, kakanda Irmansa, seorang Guru yang akan mengukir tinta-tinta prestasi di sebuah SDIT di Musi Rawas.aamiin.

Saya berpergian bersembilan orang dengan memakai mobil sewaan. Awalnya kami bersepakat tuk berangkat pukul 8 teng, kumpul di depan sebuah hotel di Indralaya. Namun apa dikata, kesibukan “beberapa orang” mengharuskan berangkat agak molor 2jam-an lebih. Dalam hati terbersit perasaan, “pasti berangkat nanti akan lebih telat lagi”. Ternyata benar sekali perasaan ini, baru yang “sebenarnya” berangkat jam 2 siang lewat sedikit setelah sebelumnya mengisi tangki perut dahulu dengan tongseng,maknyus!! Tapi ada yang menarik, sebab salah satu teman saya baru saja terkena jebakan “akam” (alias Ayam Kampung). Budget tuk menu salah satu hidangan “akam” tadi membludak hampir 2x lipat dari hidangan sejenis dengan isinya yang berbeda. Tapi, disinilah asyiknya, kita jadi tahu bahwa hidangan itu harganya segono, jadi kami-kami yang lain mendapatkan hikmah dari sana. #sokBijak #yangSabarTeman

Waktu delay keberangkatan yang hampir 6 jam lebih tidak kami ambil pusing, sebab kami semua jejaka yang rame, sehingga tidak bosan berlama-lama di dalam mobil. Dengan formasi 2-4-3 di dalam mobil, kami berangkat dengan bermodalkan cemungudh jomblo 🙂 Selalu ada saja bahasan yang terlontarkan di dalam Avanza ini, baik itu tentang kuliah, dakwah, pengalaman konyol, cerita-cerita lama, hingga cinta.

Oiya, kami yang bepergian ini mayoritas angkatan 2008, jadi sesuhu. Ada sempilan 1 orang yang angkatan 2010, yang mau tak mau dia harus bisa akselerasi sikon yang terjadi, agar bisa menyamakan suhu dengan kami, atau lambat laun dia akan tertindas. Wow :D. Kondisi mobil yang udah benges dengan kehadiran jejaka-jejaka ini sebab idealnya bermuatan 8 orang, kami paksa dengan 9 orang, sehingga formasi 2-4-3 mau tak mau yg dipakai.

Tapi yang paling tersiksa yang duduk dibelakang, sebab perjalanan dari Palembang ke Sekayu selalu ada saja hiasan yang mau tak mau kudu dicicipi. Gak afdhol kalo gak nyicipnya. Buat dari Sekayu ke Linggau hanya sedikit hiasan yang muncul, alhamdulillah 🙂

Tapi bagi saya pribadi, saya salut ama sopirnya (*pasti langsung nyegir pas baca ini), disaat orang lain terlelap oleh rayuan bunga tidur, dia tetap dengan asyiknya menyetirkan mobil ini buat kami :D. Perjalanan yang normalnya hanya 7 jam (kata orang Linggau), kami habiskan hampir 10 jam, rekor baru tercipta hari itu. Wow 🙂 Siapa dulu sopirnya *_*. Sesampainya di rumah teman tuk bermalam, saya langsung tepar di atas kasur.

Dering alarm membangunkan kami semua tuk segera subuh. Ingin rasanya tuk segera ke luar rumah, menghirup udara segar. Namun, apalah daya. Masih pekatnya sisa-sisa semalam membuatku urung tuk keluar. Paginya kami diajak oleh pribumi asli tuk menikmati segarnya aliran sungai asli Linggau. Segerrrr benerr. Sayang handycam kami ketinggalan dirumah. Suasana asri yang masih hijau dengan latar belakang bukit (*bukit apalah namanya) terasa menyegarkan mata ini kembali. Beban-beban yang selama ini bergelantungan di pundak ini, serasa melayang meski hanya sebentar. Unforgettable moment, i think.

Bujang Galo

Setelah beres-beres dan bersiap hendak walimahan, kami disuguhkan hidangan. Sarapan. Kami mau tak mau harus mencicipinya dahulu, tidak enak ketika makanan itu telah dihidangkan tuan rumah. Meskipun nanti akan makan kembali di walimahan. kami berencana tuk Dhuha terlebih dahulu di luar, tidak di rumah. Pengennya di Mesjid Agung Lubuk Linggau. Ironis, pagar Mesjid masih digembok.

Amazingggg at Masjid Agung Lubuk Linggau

Terkadang muncul pikiran dalam hati, buat apa rumah Allah masih saja dikunci, padahal banyak mungkin hamba-hambaNya diluar sana yang hendak berinteraksi langsung denganNya di rumahNya sendiri. Terpaksa kami mutar arah melihat ke langit, melihat menara-menara mesjid lainnya. Yang saya kagumi disini, jarak antar mesjid disini rata-rata cukup berdekatan. Bisa dilihat dari menara-menara yang “nyembul” ke langit. Semoga jemaah solat berjemaah di mesjid itu sama dengan jemaah Jum’atnya,aamiin.

Dalam Mesjid Agung Lubuk Linggau
Kubah Mesjid Agung Lubuk Linggau

Setelah puas keliling dulu, jam telah menunjukkan 10.30. Waduh bisa telat ne pergi walimahannya. Ketika sampai di TKP, ternyata acara belum mulai. Alhamdulillah. Kayaknya menunggu kami datang terlebih dahulu. 🙂

Pukul 2 kami sepakati tuk pulang ke Palembang, kami hendak konvoi dengan rombongan lainnya.  Akhirnya jm 3an lebih kami baru bisa keluar dari  kota Lubuk Linggau. *ngaret_lagi 🙂

Banyak hal-hal menarik lainnya yang kami bahas di dalam mobil ini. Pastinya ketika kita melakukan perjalanan jauh, kita akan bisa mengetahui kepribadian teman-teman kita. Yang tadinya seperti ini, rupanya seperti itu. Bukankah Rasul telah berkata seperti itu. Sering-seringlah berpergian dengan sahabat, maka persahabatan, solidaritas, ukhuwah akan semakin erat, insyaAllah.

Ada pesan-pesan “penting takpenting” yang didapat dari perjalanan kali ini, diantaranya :

1. Kalo naik mobil sewaan dengan kapasitas 8 orang, jangan paksakan 9 orang. Kasihan yang 1 orang itu.

2. Kalo bepergian dengan sahabat se-angkatan, jangan pernah ajak yang beda angkatan, terutama angkatan muda. Banyak hal-hal “ghaib” yang akan terlontarkan selama di jalan, atau rahasia itu akan terbongkar 🙂

3. Kalo nak mandi di kali/sungai, jangan lupa bawa handycam. Banyak tempat-tempat asri nan hijau ketika menuju sungai yang sayang ketika tidak diikat dengan kamera.

4. Selalu ambil hikmah ketika perjalanan, jangan sampai perjalanan yang dilakukan tidak berbekas sama sekali.

5. Jangan pernah letih tuk menebar kebaikan. Lakukan dimanapu, kapanpun, bagaimanapun, siapapun, apapun….(*apa seh)

Sekian bekas perjalanan yang masih terikat di otak, yang bisa terketik di atas tut keyboard ini. Banyak hal yang tidak bisa disampaikan disini, dikarenakan saya tidak bisa merangkainya. Semoga indah pada waktunya 🙂

Advertisements

Merantau


“Merantaulah, maka kau akan mendapatkan pengganti kerabat dan kawan !!!”

Mungkin itu sekilas kata-kata penuh hikmah dari Imam Syafi’i yang dapat saya petik dari novel 5 Menara (karya A.Fuadi). Kalimat itu sungguh menginpirasi saya ketika saya mencoba merenungi kembali makna dari tiap kata-katanya. Betapa tidak, dengan kita merantau-istilah kerennya HIJRAH,hehe- maka tak usah pusing kita akan berpisah dengan kerabat maupun sahabat-sahabat yang akan kita tinggalkan sementara waktu, sebab posisi mereka di hati kita  saya akan hadir kembali di tempat baru dengan orang baru namun sifatnya yang masih sama.

Sifat yang sama disini bukanlah melihat secara subjektif naum melihat dari berbagai sisi, saya mengalami itu. Ketika saya memutuskan untuk merantau dari buminya “rendang” ke buminya “pempek”, sempat ada keraguan saya akan kehilangan sahabat-sahabat yang mereka semua sangat berharga bagi saya (kayak harta karun aje..hehe). Namun, seiring berjalannya waktu keraguan itu perlahan-lahan mulai sirna, sebab saya menemukan sahabat-sahabat saya yang ada di Padang kembali hadir di bumi Pempek ini tapi dengan wujud fisik yang lain namun kesamaan sifat. Amazing, sungguh Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk dapat saling mengenal.

Bahkan tidak hanya sifatnya yang sama, namun kebiasaan, pola pikir, ke-galauan-nya, spesialisasi ilmunya dan lain lain hampir menyerupai sahabat-sahabat saya yang ada di bumi Ranah Minang. Ada sahabat yang calon Hakim Agung di masa depan, saya menemukannya kembali di tanah Sriwijaya ini, bahkan dengan tingkat ke-galauan-nya yang hampir overdosis (peace bro), ada lagi yang calon Dokter Spesialis Bedah (kalo gak salah,hehe) yang dapat ditemukan di bumi Tekwan ini, namun beda jurusan tapi sifatnya kebanyakan samaaaaaaaaaaaaa…..mulai dari berbicara, gaya pergaulannya, dan lain-lain deh. Tapi satu yang belum ketemu disini (Indralaya-red), seorang sahabat calon Ekonom Indonesia masa mendatang, mungkin karena dia langka kali yaa?? jadi gak ada duplikatnya…hehe… Tapi saya yakin suatu saat nanti akan bertemu orang saperti dia.
Masih banyak sahabat-sahabat saya yang mungkin masih belum ada “duplikatnya” disini, semoga walau telah ada duplikatnya tidak akan mengurangi manisnya ukhuwah yang selama ini kita rajut…

…M…U…


Semua terjadi berawal ketidak sengajaan saya di ajak oleh ketua salah satu organisasi di kampus untuk mengikuti kunjungan Legislatif ke kampus Biru di Depok. Sebenarnya saya tercatat sebagai anggota di organisasi itu tetapi jarang berkordinasi dengan kawan-kawan di organisasi itu dikarenakan kesibukan dan ketidak tahuan saya…

Kembali ke cerita yak, manisnya ukhuwah ini tercipta di kampus Biru tersebut, kebetulan saya berada di komisi 4 yang kebetulan sama dengan si X (*nama Samaran aja yak),  jujur saya tidak mengerti apa saja pembahasan masalah yang ada di komisi 4 ini, tetapi saya berbicara ama siX ini seolah-olah paham apa-apa yang terjadi disana. Maafkanlah saya ini ya om X :). Berawal dari sana semuanya is the beginning, jreng jreng…. Saya selalu dicecar pertanyaan A, B, C ampe Z lah, yang membuat saya mengeluarkan kemampuan menangkis pertanyaan dengan mengalihkannya kemana-mana , bipbipbip…*pahlawan bertopeng.

Pasca dari sana saya pun bertukar nomor hp, sebab nanti foto-foto dokumentasi selama disana mau saya bagi juga ke kawan-kawan kampus biru. Gak tau nya ne om X kocak juga, aneh bin ajaib. Saya berfikir dia ne manusia langka yang hanya ada di Indonesia saja, jarang ditemukan “makhluk” kayak gini.hehe. Kami pun saling bercengkrama baik di sms maupun di Fb, sampai-sampai ada adek tingkat yang sms saya bilang, “Uda, malawak bana kawan uda yang acok ma wall ka uda tu ma, samo-samo dak jaleh”, akhirnya adek saya itu nge-add makhluk langka ini juga karena ke unikanya itu. Kami saling bertukar info dan ngebanyol, dia minta saya ajarin bahasa padang (mungkin mau cari orang rumah padang,hehe), nanya itu nanya ini. Saya pun juga begitu, minta diajari bahasa sunda (kalo-kalo dapat orang sana kan bisa berabe kalo gak bisa), nanya ini,ini dan ini. Begitulah kami, sering pula saling menasehati dan mengingatkan. Seperti anak muda kebanyakan, ternyata dia juga lagi jaNta. Alhamdulilah, masih normal juga ne makhluk.

Itulah manisnya ukhuwah, tetap terjaga meskipun baru pertama kali bertatap muka, tapi rasanya udah kenal lama sekali.

Itulah manisnya ukhuwah, tetap saling mengingatkan dan menasehati dalam kebaikan dan kesabaran.

Itulah manisnya ukhuwah, berusaha menjadi tameng-tameng kemalasan.

Itulah manisnya ukhuwah….