Mudahnya Membuat Website Sendiri


Era digital hari ini mengharuskan semua orang berhubungan dengan internet, tanpa ada terkecuali. Laju pertumbuhan semua sektor kehidupan ditopang oleh sistem yang dijalankan secara online. Mau tak mau, suka tak suka kita harus bisa menjadi pengguna internet yang baik dan bijak, jangan sampai kita diperbudak oleh sistem internet. Berdasarkan survey salah satu asosiasi, pengguna internet di Indonesia di bulan Juli 2015 mencapai 88 juta, hampir 1/3 jumlah populasi Indonesia. Diprediksi di tahun 2018, pengguna internet di Indonesia mencapai 200 juta, hampir sama dengan populasi rakyat Indonesia. Disini bisa kita lihat pertumbuhan yang sangat signifikan untuk pengguna internet di Indonesia. Hal semacam ini bisa menjadi ancaman dan peluang, tergantung bagaimana kita memanfaatkannya sejak hari ini. Banyak orang – orang yang tidak ada basic pengetahuan mengenai internet sama sekali, bisa memanfaatkannya menjadi rupiah, begitupun sebaliknya.

Kalau kita lihat profil pengguna internet Indonesia di tahun 2016 ini, mayoritas mereka mengakses internet untuk tujuan mengupdate berita dan informasi, melakukan jual beli online dan bersosial media untuk menyambung tali silaturahim dengan teman – teman. Peluang seperti ini harusnya bisa kita manfaatkan semaksimal mungkin. Makanya tak heran, beberapa hari yang lalu ada senior ( kakak tingkat di kampus ) yang menghubungi saya sekedar untuk bertanya dan belajar bagaimana membuat website sendiri. Padahal beliau jurusan Teknik Kimia yang notabene pekerjaannya gak ada hubungannya dengan website dan internet. Namun, ketika ditanya, “buat apa kakak belajar buat website sendiri?”, beliau jawab untuk menambah pengetahuan dan upgrade diri, serta kalau bisa punya website pribadi. Bahkan beliau sudah beli beberapa buku tentang internet dan website namun masih belum mengerti karena pembahasan di buku yang agak ribet. “Lebih enak belajar dengan yang sudah pernah buat website”, ujar beliau. Sebegitu ingin taunya orang awam untuk tahu bagaimana cara membuat website sendiri.

Lalu saya kasih penjelasan semudah mungkin untuk bisa di mengerti oleh beliau, serta dengan analogi – analogi yang gampang untuk dipahami. Seperti apa itu domain? Domain itu alamat web yang akan kita tuju, misal nama senior saya itu Fauzan, lalu beliau ingin membuat website dengan namanya sendiri, jadi bisa nantinya fauzan.com, fauzan.net, fauzan.id, fauzan.co dan alamat web lainnya. Lalu apa itu hosting? Hosting ibarat tempat kita menaruhkan konten – konten web kita, seperti fungsi hardisk di komputer. Bedanya, hosting berada di server atau komputer orang lain, yang mana akan kita sewa per satuan waktu ( mayoritas sewa tahunan ). Jadi kita butuh berapa space yang akan kita sewa, beragam pilihan space hosting, mulai dari 100 MB, 300 MB, 1 GB bahkan unlimited space, tergantung konten apa yang akan kita masukan ke hosting. File video dan gambar resolusi tinggi biasanya mempunyai size file yang besar dan akan menguras space dari hosting kita.

Tak lupa juga saya kasih rekomendasi website untuk belajar membuat website sendiri, salah satunya di Domainesia. Karena hampir 3 tahun saya menjadi member disana dan pelayanan yang diberikan cukup baik. Makanya tak ragu saya rekomendasikan kepada senior saya tadi. Apalagi sekarang telah hadir fitur Instant Deploy di Domainesia, dimana hanya dengan sekali klik saja kita sudah bisa membuat website dengan mudah. Bahkan untuk kita yang tidak mengerti bahasa pemrograman computer sama sekali serta gak pengen ribet buat website dari nol, akan sangat terbantu sekali dengan adanya fitur Instant Deploy Domainesia. Senior saya tersebut sangat antusias dengan penjelasan saya itu, dan berharap bisa merealisasikan segera untuk membuat website. Semoga sukses kak.

Dunia tanpa batas (2)


Ternyata di pelatihan ini, waktu yang digunakan seefektif dan seefisien mungkin. Awalnya kita pikir pasti menjelimet nih materi-materi yang diberikan, ternyata materinya sangat padat dan kece. Bayangkan dalam satu hari saja kelas kami menampilkan hampir sepuluh pemateri, yang gak monoton pastinya. Kalo monoton pucing pala babang, hehe.

Memasuki sesi kedua, menampilkan selebtwit yang followernya ratusan ribu. Beuh, ketemu juga nih sama orang yang kontroversial di jagad tuit tuit. Kontroversial menurut kaca mata saya mungkin ya, karena ketika ditanya ke teman sebelah mah itu udah biasalah, karena ‘gerbong’ ini butuh orang-orang yang tak lazim seperti itu. Bagaimana gerbong ini tidak hanya dinaiki oleh satu jenis watak dan kepribadian, tapi bermacam-macam watak yang saling berkolaborasi untuk satu tujuan yang sama. Gayanya yang blak-blakan ternyata sesuai dengan karakter sosmednya, hajar bleh.

Doi mengatakan, sosmed ini membuat orang-orang menjadi egaliter. Tidak ada lagi kasta yang menjadi sekat diantara kita, ketika rakyat ingin bertanya ke Presidennya tidak perlu melalui layer-layer yang berlapis, cukup twit ke Presiden dan akan dibalas. Ketika bingung dihadapkan oleh sistem biroksasi yang amburadul contohnya, ada sosmed atau kontak email pengaduan yang available 24 jam. Bagaimana birokrat pun telah memasuki era digital ini. Mau tak mau, suka tak suka. Bahkan di salah satu kota Hujan di seberang sana, diwajibkan semua SKPD mempunyai sosmed tempat berinteraksi dengan warganya. Canggih.

Tapi sosmed bukan hanya sebatas tempat kita ‘mengadu’ atau curhat semata, harus ada yang kita pelopori disana. Ya karena ini yang masih minim disosmed kita semua, Narasi. Kita harus bisa mempelopori narasi atau ide-ide. Betapa banyak akun sosmed hanya tempat memuntahkan keluh kesal personal ataupun kelompok, namun minim memberikan solusi dalam bentuk narasi. Membangun narasi memang tidak gampang, tapi harus dicoba. Narasi seorang Gajah Mada untuk menyatukan Nusantara saja baru terealisasi ratusan tahun kemudian oleh Soekarno Hatta, lalu bagaimana dengan kita? Tidak ada yang instan namun sosmed bisa melakukannya. Tidak kah kita berkaca ke Timur Tengah sana, dimana pecahnya revolusi suatu bangsa bermula dari narasi di sosmed, yang akhirnya menyebar bak virus ke seantero negeri.

sumber : google
sumber : google

Membangun narasi menjadi tugas kita bersama. Jikalau lah kita kumpulkan semua postingan sosmed kita, bisa saja itu akan menjadi narasi, seandainya saja. Akhirnya semua celotehan kita di sosmed menjadi branding personal kita masing-masing. Ada yang kontoversial, ada yang mengalir mengikuti kekinian, ada yang tetap menjadi ustadz sosmed dan banyak lainnya lagi. Muaranya hanya satu, Trust. Bagaimana kita telah ‘dianggap’ orang banyak akan suatu solusi dari masalah yang ada. Dan ini menjadi modal kita dalam menjalani hiruk pikuk dunia maya yang crowded. Branding bukan apa yang kita katakan kepada orang lain, kata Om Subiakto, tapi apa yang orang katakan mengenai kita. Selamat membangun personal branding !

(bersambung…)

Dunia Tanpa Batas


Hari Jumat sampai Ahad kemaren (7-9 Oktober 2016) diminta menjadi delegasi sebuah komunitas kebaikan ke Jakarta tuk ikut serta dalam pelatihan Era Digital. Awalnya ada kegundahan ketika mengikuti pelatihan ini karena 2 orang sahabat terbaik mengundang ke walimatul ursy-nya. Betapa tidak, momen walimahan ini hanya sekali seumur hidup kita lakukan sedangkan ikut pelatihan seperti ini bisa kapan pun, kata Taufiq Akbar, menimpali kegundahan hati ini. Namun kita yang berencana namun Yang diatas jualah yang menentukan, bismillah aja. Sori ya bro Daud Zen dan bro Wahyu ‘Dark Knight’ belum bisa datang, mungkin kalo nambah istri nak nikah lagi insyaAllah datang, hihi.

Isi materi pada acara tersebut ternyata sangat daging, istilah kekiniannya hari ini. Pembicara yang didatangkan sangat kompeten namun sayang mepetnya waktu membuat sesi diskusi terasa cepat berlalu. Bahkan di tengah acara kami kedatangan pak Menteri Kominfo Era SBY. Beliau sangat peduli pada komunitas-komunitas yang berbasis digital hari ini, karena ke depannya Indonesia kan menjadi ‘madu’ dalam industri digital dunia.

Sesi pertama membahas Digital Mindset. Bagaimana hidup di era digital ini, semua yang laku di pasar bermula dari mindset kita sebagai pelakunya. Hampir semua kaum urban memiliki gadget dan terkoneksi ke jaringan internet. Semua orang asyik bahkan menjadi candu dengan jejaring sosial medianya. Digital mindset berarti semua yang akan kita lakukan, yang ingin kita buat dan kerjakan berawal dari bagaimana mendigitalisasi tuh acara, bagaimana supaya crowded dulu tuh di sosial media, ciptakan dulu keriuhan massa, lalu ciptakan gelombang viral yang membuat orang-orang penasaran. Makanya tak heran banyak orang-orang yang sengaja mencuri perhatian kita dengan berbuat yang tak lazim dan manusiawi.

digital-mindset

 

Kita bisa liat tren terbaru yang sempat booming, si Awkarin dan Anya Geraldine. Mereka posting tuh gaya hidup pacaran ala barat dan menjadi viral di yutub, tau gak berapa rupiah yang mereka dapatkan? ratusan juta men. Di luar logika gak? bagi saya iya tapi itulah era digital. Mereka berhasil mendigitalisasi anak-anak muda Indonesia yang sedang mencari jati diri. Kalo yang nyeleneh aja bisa dapat duit, kenapa hal-hal yang baik gak bisa juga? inilah yang menjadi tugas kita semua. Mindset orang-orang yang mengaku gen Y harus kita benahi dari sekarang. Teruntuk gen X pun harus kita berikan insight, karena amanah mereka sebagai orang tua membuat mereka juga harus adaptif dengan era digital ini. Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya, kata Imam Ali, karena mereka bukan hidup di zamanmu.

Di akhir sesi pertama, kami berkesimpulan bahwasanya merubah mindset ini bukanlah tugas satu atau dua orang tapi tugas bersama. Mari kita tularkan semangat pembelajaran digital ke orang banyak, agar mereka tidak ditelantarkan zaman.

(bersambung…)

fullmoon

Purnama


Siapa yang tidak kenal Purnama. Belakangan ini Purnama menjadi terkenal disebabkan ia menjadi saksi atas rumitnya kisah Cinta dan Rangga.

Melihat Purnama subuh tadi mengingatkan ku atas karunia Ilahi yang patutnya menjadi pelajaran bagi kita. Sebab Purnama menjadi sumber cahaya ditengah gelapnya malam. Kita semua bisa menjadi Purnama itu, menjadi cahaya ditengah kegelapan yang menyelimuti sekitar kita. Tapi Purnama ada jua masanya. Ia hanya menampakkan diri 3-4 hari saja. Selebihnya ia kan menjadi penghias langit, semakin hari kan semakin “membelah diri”, semakin runcing dan akhirnya menjadi senyuman di pekatnya malam. Jikalau tidak ada yang tersenyum padamu, tengoklah Sabit di malam hari. Ia kan senantiasa tersenyum padamu. Itulah Purnama sesungguhnya.

child-socialization-program

Orang-orang


Tak terasa hampir 9 bulan meninggalkan dashboard ini. Yuk tinggalin jejak.

***

Bincang mengenai orang tidaklah cukup 1 atau 2 hari, butuh waktu lama tuk bisa menggambarkan orang-orang yang sering kita temui. Itu yang baru sering kita jumpai, bagaimana dengan yang jarang kita jumpai? Sulit! Sebab di era globalisasi ini membuat orang berubah sangat cepat. Yang dahulunya pendiam, acuh tak acuh dan introfert tiba-tiba menjadi ekstrofert di kemudian hari, bahkan ketika ngobrol pun tanpa jeda, tidak ada titik koma. Begitupun sebaliknya.

Banyak orang, banyak yang kita kenal. Banyak keragaman yang mestinya kita petik. Benar perkataan Rasulullah, menjaga silaturahim (termasuk mengenal banyak orang) bisa memanjangkan umur dan menambah rejeki.

Semakin banyak orang, harusnya kita bisa membuat semacam “bank perlakuan”. Sebab tiap orang kadangkala ingin perlakuan yang berbeda. Ingin perhatian yang berbeda. Kita ingin memanusiakan mereka, maka cara manusiawi ala mereka yang kita terapkan. Itulah hidup. Bagaimana memanusiakan manusia itu sendiri.

Bergabung di sekumpulan orang-orang pastilah membuat kita kadangkala ingin kita yang dimengerti oleh mereka. Lumrah, sebab kita jua manusia biasa. Tapi bagi seorang pemilik “bank perlakuan”, mereka tidak mempersalahkan bentuk pengertian dari orang lain. Sebab itu yang mereka cari, yaa untuk menambah deposit bank perlakuannya.

Sekarang pilihan kita, maukah menjadi pemilik bank perlakuan itu?

 

5-anak-muda-ini-layak-jadi-teladan-pemuda-indonesia

Anak Muda, Bisnis dan Kemajuan Politik sebuah Bangsa


Malam ini adik saya menghubungi Saya via WA. Sebagai panitia seminar, beliau minta saran tentang sebuah tema besar : sustainable development sebuah negeri. Topiknya dikhususkan pada peran bisnis anak muda dalam memajukan kondisi politik sebuah bangsa.

Sambil saya menjawab pertanyaan adik Saya, tidak ada salahnya jika Saya menuliskannya disini. Sehingga bisa dinikmati oleh semuanya.

Setidaknya ada 3 peran sentral bisnis anak muda, dalam kemajuan politik sebuah negeri.

  1. Terkait kedewasaan pemilih dalam menghasilkan produk politik.
  1. Hubungan antara kesejahteraan dengan stabilitas politik.
  1. Arus masuk generasi politisi muda yang berenergi dan kompeten.

 

Mari kita bahas satu persatu.

***

Pertama, Bisnis anak muda secara tidak langsung dapat menghasilkan produk politik yang lebih baik. Mengapa demikian?

Kita menyadari bahwa hari ini Indonesia menganut sistem demokrasi dalam proses politiknya. Artinya, kedaulatan diserahkan kepada Rakyat. Kita bukan Kerajaan yang mana pemimpin negeri ditentukan oleh garis keturunan. Pemerintahan lahir dari gerak partisipasi publik dalam pemilu. Dan inilah semangat demokrasi.

Karena Rakyat yang berdaulat, maka rakyat diminta untuk terlibat membentuk pemerintahan. Negeri ini memilih wakil rakyatnya dan juga kepala Negara serta kepala daerahnya. Rumit memang. Ada pileg, pilpres dan pilkada. Tapi itulah Indonesia.

Keterlibatan rakyat itu dicerminkan dari proses pemilu : one man, one vote. 1 orang, 1 suara. Maka siapapun warga negara Indonesia, apapun warna kulitnya, agama, gender, bahkan tingkat pendidikan, memiliki hak yang sama secara politik : 1 hak suara dalam pemilu.

Sistem one man-one vote ini memang terlihat adil. Namun kita lupa satu hal bahwa sistem “one man one vote” sebenarnya hanya dapat berjalan ideal pada masyarakat yang mampu memutuskan hak politiknya secara dewasa, tanpa intervensi apapun.

Kondisi ekonomi masyarakat Indonesia, yang masih kerepotan dalam mencukupi basic need, membuat hampir sebagian masyarakat Indonesia sangat mudah terpengaruh dengan politik uang.

Mengapa politik uang bisa bekerja di Indonesia? karena sebagian besar masyarakatnya masih dalam taraf mencukupi kebutuhan hidup yang teramat dasar. Dalam piramida maslow disebut dengan lapis basic needs. Mereka masih sibuk mencari makan tuk hari ini dan esok. Mereka baru sampai pada taraf berjibaku mencari kontrakan. Jangan harap mereka berfikir tentang negeri, kontribusi, negara, bangsa, karena posisi hidup mereka masih dalam tahap sangat dasar.

Manusia yang masih dalam taraf basic need, susah berfikir panjang tentang makna politik dan kontribusi kebangsaan. Mereka sedang lapar dan butuh hidup.

Cobalah cek data kemiskinan penduduk RI, berapa orang yang hidup dengan 2$ per hari. Hampir puluhan juta orang. Dan inilah penyumbang terbesar suara demokrasi.

Saya tidak bilang, bahwa semua orang yang di bawah garis kemiskinan akan terbawa money politic, namun itulah kenyataan hari ini. menurut saya, mereka pun tidak bisa disalahkan. Mereka lapar, dan siapa yang bawa amplop, tentu mereka pilih.

Memang benar, partai memiliki fungsi edukasi. Banyak orang bilang : didiklah pemilih, agar tidak kena money politic. Namun, bagaimana anda mendidik orang yang lapar?

Nah, kelaparan ini harus dijawab dengan kesejahteraan. Dan salah satu kunci keberhasilan kesejahteraan suatu bangsa adalah kemampuan bangsa itu untuk mengahsilkan keuntungan ekonomi. Dan keuntungan ekonomi dapat diraih dengan bisnis.

Hari ini, 250 juta penduduk Indonesia hanya menjadi bantalan market dari produk Asing. Lihatlah market share pasta gigi, berapa persen pasta gigi berkebangsaan inggris itu menguasai pasar Indonesia? Dan masih banyak lagi kebutuhan-kebutuhan bangsa ini yang tidak dipenuhi oleh bangsa kita sendiri.

Lihatlah pakan ternak, lihatlah dunia farmasi, lihatlah pasar dunia iklan sekalipun, siapa yang menikmati kue besar itu semua? Apakah pengusaha nasional?

Hal ini terjadi, karena anak Muda Indonesia tidak mau “fight” memenuhi kebutuhan negeri mereka sendiri. Uang bangsa ini kembali keluar dari negerinya sendiri. Disinilah jawaban atas kemiskinan yang terjadi : Gagal merebut market share.

Jika anak muda Indonesia turun tangan berbisnis membangun produk unggulan, maka tenaga kerja akan terserap. Kita tidak hanya mengirim komoditas alam yang rendah harganya, tapi produk yang punya nilai tambah.

Kita keruk emas, kita kirim, kita jual. Berarti kita mencangkul dari alam dan jual. Berbeda dengan jika kita membuatnya menjadi jam tangan, atau chip TV. Ia akan menjadi produk bernilai tambah, tentu gerak ekonominya lebih masif.

Dan setelah sejahtera, masyarakat akan dapat memilih dengan akal sehat dan hati nurani yang jernih. Disinilah pemilu akan berkualitas. Tiap-tiap orang telah dewasa dan waras dalam menentukan pilihan.

Masyarakat yang telah tercukupi kebutuhan pokoknya, akan relatif mandiri dalam menentukan pilihan politiknya. Akan lahir wakil rakyat yang benar, gubernur yang benar dan walikota serta bupati yang benar.

Hari ini kelas menengah negeri ini banyak mencaci wakil rakyat dan pemerintahnya. Padahal wakil rakyat dan pemerintah adalah hasil dari proses politik negeri ini. Mengapa mereka marah? Bukankah mereka yang memilih?itu semua Karena sebagian besar pemilih adalah bukan kelas menengah. Sebagian besar pemilih adalah mereka yang masih lapar.

 

Jadi, alur pemikiran dalam poin saya yang pertama adalah : anak muda berbisnis dengan benar -> bangsa sejahtera -> pemilu sehat -> produk politik mantap -> maka politik sebuah bangsa akan maju.

 

***

 

Yang Kedua, hubungan antara kesejahteraan dan stabilitas politik sebuah negeri.

Negeri yang gaduh, jelas mempengaruhi stabilitas politik. Dan ketidak stabilan politik ini akan berdampak pada runyamnya situasi ekonomi.

Mengapa masyarakat gaduh berkelahi? Mengapa orang-orang memilih turun ke jalan? Mengapa banyak orang mengadu nasib memburu rente di kursi dewan? Itu semua terjadi salah satunya karena ketidak sejahteraan. Maka orang mudah untuk tidak puas. Lalu ekspresif ke jalanan.

Orang yang lapar relatif mudah tersulut. Seperti jerami yang kering. Mudah terbakar. Gampang tersulut.

Kondisi politik yang tidak stabil juga disebabkan karena sebuah bangsa senang bergaduh ria. Senang konflik. Senang bertengkar. Senang membahas yang remeh temeh. Mengapa semua itu terjadi? Karena banyak pengangguran, banyak orang yang tidak punya aktivitas positif, akhirnya mereka gaduh.

Sekumpulan masyarakat yang lapar memang mengerikan. Dan jangan harap politik bisa maju jika tidak didorong dengan kesejahteraan.

Memang seperti ayam dan telur, mana yang lebih dulu. Apakah politik maju lalu ekonomi maju, atau ekonomi dahulu lalu politik maju.

Saya lebih berkeyakinan pada ekonomi terlebih dahulu. Disinilah tugas anak muda Indonesia untuk mendorong kesejahteraan. Bekerja serius mengisi ruang kosong pembangunan. Bukan malah gaduh memperkeruh kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

***

 

Yang ketiga adalah, kesejahteraan anak muda akan mendorong suplai bahan baku politik yang berkualitas.

Kita tahu bahwa pemilu hanyalah proses. Pemilihan legislatif adalah proses memilih wakil rakyat yang ditawarkan oleh partai politik. Jadi sudah “given” dari langit. Calon-calon itu sudah terjajar di lembar pemilih. Kita hanya bisa memilih mereka yang tersaji di lembar suara.

Pertanyannya? Bagaimana jika calon wakil rakyat yang tersedia adalah orang-orang yang tidak kompeten? Ini adalah tantangan demokrasi kita hari ini : bahan baku politik yang rendah kualitasnya.

Pemilu adalah proses. Wakil rakyat dan kepala daerah adalah hasil atau output dari proses. Dan disinilah yang kita tidak sadari, seperti apakah inputnya?

Sehebat hebat tukang masak nasi goreng, jika nasinya busuk, hancur juga masakannya. Got it?

Saya yakin, banyak anak-anak muda yang penuh energi, tulus, berkemampuan dan berdedikasi, yang siap untuk duduk di legislatif. Mereka siap untuk mengawal RUU, mereka siap untuk menyuarakan aspirasi, tapi mereka lamban membangun kesejahteraan hidup. Andai mereka sudah selesai di taraf kehidupannya, pastilah mereka akan turun bertarung di pemilu.

“Lho, kan jadi anggota dewan digaji”…

Ijinkan saya menjelaskan kepada Anda sekalian.

Misal, Anda berniat menjadi anggota DPR RI dapil V jabar misalnya. Kabupaten bogor.

Untuk menjadi wakil rakyat dari Dapil V jabar kabupaten bogor, anda harus bertarung memperebutkan 9 kursi dewan.

Jika total jumlah pemilih tetap adalah 3,3 juta orang, lalu anggaplah yang memilih berjumlah 2,7 juta orang, maka 1 kursi ekivalen dengan 300.000 suara.

Jika Anda ingin duduk di DPR RI, maka Anda harus kejar capaian 300 ribu suara. maka Anda harus bekerja ke masyarakat secara organik setidak tidaknya 3 tahun sebelum pemilihan. Anda harus fokus bersentuhan dengan 4 juta masyarakat kab Bogor. Anda harus membangun jaringan di 40 kecamatan yang ada di Kabupaten Bogor. Anda harus membangun kekuatan personal di hampir 310 desa yang ada, belum dengan kelurahannya. Dan itu semua kerja sosial yang menuntut dedikasi, tanpa harap balas money!

Dalam benak saya, hanya anak muda yang berhasil membangun arus income dalam bisnislah yang mampu melakukan hal itu. Jika masih terikat pekerjaan dan banyak hal, saya yakin hal itu sulit dilakukan. Bisa saja ada anak muda yang menang cepat, tapi kemungkinan besar ia menang secara “sintetik” : (maaf) pake duit.

Dalam analisa Saya secara pribadi, jika banyak anak muda yang mampu membangun bisnis secara mapan di usia produktif, maka dia dapat mendedikasikan sisa usia produktifnya untuk melayani masyarakat. Semoga dia tidak korupsi, karena arus uang dalam bisnis nya sudan cukup menjawab penasarannya tentang hidup kaya. Di titik inilah politik kita maju. Di titik inilah politik kita berkualitas.

Jika generasi muda Indonesia banyak yang berbisnis dan segera “ON Busines”, maka Saya yakin, secara psikologis, mereka akan berfikir untuk mengaktualisasikan dirinya. Pasti ada dorongan berbuat untuk masyarakat. Dan langkah kontribusi pelayanan yang terbaik adalah melalui jalur politik, disanalah urusan publik difikirkan dan dieksekusi.

Sekali lagi, kita membutuhkan bahan baku politisi yang segar, muda, energik, dan memiliki sumber daya (duit). Dan menurut Saya, sosok itu ada pada pengusaha muda.

Fakta pedih hari ini adalah : sistem pemilu liberal negeri ini telah menutup pintu bagi anak muda yang “kekurangan sumber daya”. Bahkan, sekalipun Anda tidak berniat untuk money politic, kerja politik seperti sosialisasi, bangun timses, operasional tim ahli, program program ke konstituen bahkan living cost Anda, pastilah membutuhkan banyak sumber daya (baca : duit). Itu fakta yang harus dibeberkan..

Jika ada anak Muda yang bisnisnya baik, niatnya baik dan kemampuannya baik. InsyaAllah majulah Politik negeri ini. Amiin.

 

***

 

Semoga manfaat.

Rendy Saputra

– CEO KeKe Busana

– Sekjend JPMI Pusat (Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia)

Angeline dan Sejuta Tanda Tanya.


Menarik jikalau kita menarik benang merah masalah ini.

Tatty Elmir

Awalnya saya tidak tahu soal Angeline sampai suatu ketika saya ditanya seorang aktivis pendidikan. Saya memang tengah berusaha diet TV, sudah bertahun-tahun lalu. Tapi semenjak itu jadi rajin menyimak progress report penyidikan. Bayangan jasad Angeline yang  tengah meringkuk memeluk bonekanya  menari-nari di pelupuk mata. Lalu wajah cantik mungil Angeline semasa hidup, juga hadir silih berganti dengan  wajah-wajah cucu saya dan anak-anak Indonesia lainnya. Susah sekali untuk menahan air mata yang mengalir di tengah rasa sedih, kecewa dan murka.

Begitu banyak tanda tanya yang menghampiri, seperti;  Apa motif adopsi keluarga TM terhadap Angeline ? mengingat Keluarga TM sebelumnya sudah memiliki 2 anak perempuan? Benarkah almarhum suami TM meninggalkan wasiat untuk menyerahkan 60% warisannya?Siapa sebenarnya TM ? Siapa sebenarnya suaminya ? Bagaimana relasi mereka dengan H? Tidakkah ada yang melihat keanehan sebuah keluarga yang terbiasa hidup dengan standar tinggi mau memelihara ayam untuk dijual dan tinggal berkubang dalam bau busuk? Tidakkah ada yang melihat…

View original post 658 more words

Merantau Ke Deli


Entah mengapa hasrat membaca itu muncul tiba-tiba ketika terhampar sastra klasik Buya Hamka, Merantau Ke Deli di sudut kamar itu. Langsung ku sobek-sobek plastik yang membungkusinya. Langsung kuhirup aroma sastra khas Minangkabau yang menjadi andalan sang Buya. Selamat memasuki lorong waktu.

***

Merantau Ke Deli
Merantau Ke Deli

Namanya Leman. Seorang pemuda Minang asli yang merantau ke Tanah Deli, Sumatera Utara. Daerah Deli yang saat itu digambarkan oleh Buya Hamka sebagai kota yang maju terutama dalam hal perkebunan membuat Leman berani mencoba peruntungan di sana. Kemudia ia dipertemukan dengan Poniem, gadis asal Jawa yang merupakan istri muda bos besar perkebunan sawit. Seringnya interaksi diantara mereka, menumbuhkan benih-benih cinta, dan mereka bersepakat untuk kawin lari demi masa depan yang lebih baik. Lalu menikahlah mereka, pernikahan antar etnis Minang-Jawa. Seperti yang diketahui, sangat tidak lazim saat itu orang Minang menikah dengan orang non Minang.

Tak terasa telah berlalu 5 tahun umur pernikahan mereka. Pernikahan yang bahagia dan romantis, karena mereka memulai hidup dari nol hingga menjadi pedagang yang sukses. Tetapi dibalik kesuksesan selalu ada kisah kelam yang mewarnaninya. Mereka masih belum bisa mempunyai keturunan.

Pantang pulang sebelum sukses pun menjadi patokan Leman untuk mudik ke kampung halaman. Sejak pertama kali merantau hingga menikah belum satupun ia berkunjung ke sanak saudara di kampung. Hingga tiba saatnya Leman untuk mudik ke Ranah Minang, menyambung silaturahim dengan sanak saudara.

Tiba di kampung, Leman dan Poniem disambut bak pahlawan dikarenakan banyak membawa buah tangan. Tapi bagi para tetua adat, Leman dianggap sial karena menikahi gadis non Minang sehingga belum bisa jua mempunyai keturunan. Maka berbicaralah orang yang dituakan adat kepada Leman secara empat mata dengan maksud untuk menikahkan kembali Leman dengan gadis Minang asli. Disinilah mulanya konflik yang diracik sangat apik oleh Buya.

Tak berselang lama, menikahlah Leman dengan Mariatun, gadis cantik yang masih muda asli Minang. Poniem dengan karakteristik Jawa-nya yang penurut hanya bisa patuh kepada suaminya. Menikah dengan dua istri membuat Leman harus kerja ekstra memikirkan keduanya, meskipun kenyataannya Leman sering terbuai oleh mulut manis Mariatun sehingga dia lah yang selalu dibela ketika bertengkar dengan Poniem.

Tak tahan dengan kondisi seperti itu, Leman pun menceraikan Poniem. Padahal dahulu ketika menikahi Poniem, Leman telah bersumpah dengan sepenuh hati, “Demi Allah, biarlah keatas kanda tak berpucuk, ke bawah tak berurat seandainya engkau kusia-siakan“. Sungguh sedih hati Poniem dicampakkan seperti itu. Dia selalu mengingat hidupnya dahulu kala yang memulai dari nol bersama Leman. Dia pun pindah ke Medan. Paska kepergian Poniem, porak-porandalah perniagaan Leman. Sebab selama ini Poniem lah menjadi tulang punggungnya.

3 tahun berlalu. Poniem telah membuka lembaran baru kehidupannya. Dia telah sukses berniaga kembali di Medan, persis saat dia memulai kehidupan di Deli bersama Leman. Sedangkan Leman sendiri menjadi pedagang keliling serta menyewa kosan bersama dengan orang lain. Kehidupan yang miris mengingat kisahnya dahulu bersama Poniem.

***

Buya ingin mendobrak tradisi pernikahan se-etnis yang selama ini mengakar di ranah Minang. Pernikahan antar etnis seolah-olah hal yang tabu bagi orang Minang. Buya ingin menyampaikan semangat nasionalisme, yang mana tidak ada perbedaan etnis dalam membangun rumah tangga.

Buya juga ingin mengkritik gadis Minang yang terlalu matrealistis. Sebab dalam adat semua harta dibawah kendali istri. Ketika terjadi masalah keluarga hingga perceraian, suami-lah yang harus ditendang dari rumah tanpa membawa satu buah pun harta.

***

Novel klasik yang perlu dibaca oleh orang Minang. Jan lupo baco yo sanak.

Kreatif

Batas Kreatifitas


Dewasa ini semua hal dikaitkan dengan kreatifitas. Mulai dari teknologi, pendidikan, politik, ekonomi bahkan pelayanan masyarakat, semuanya sangat mengandalkan kreatifitas. Sebab laju pertumbuhan negara berkembang sangat dipengarahui oleh faktor kreatifitas orang-orangnya, terutama anak mudanya.

Lalu apa itu kreatifitas? Banyak psikolog yang mendefinisikannya menurut versi masing-masing, tapi hemat saya kreatifitas itu merupakan kombinasi antara kemampuan + hal baru + bermanfaat. Yap, entah apa itu definisi yang cocok mendeskripsikannya, yang pasti 3 komponen diatas terangkum kedalam yang namanya kreatifitas.

Kemampuan, merupakan sebuah anugerah yang Allah berikan kepada setiap manusia. Bersyukurlah hari ini kita bisa menyadari kemampuan apa yang kita miliki. Sebab banyak orang-orang di luar sana yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya hanya untuk mencari tau apa saja kemampuan mereka tanpa mau mengoptimalkannya. Padahal setiap manusia punya kemampuan yang unik dan berbeda, cukuplah kita mengasah kemampuan yang telah ada. Bukankah besi yang tumpul bisa menyayat-nyanyat jikalau kita rajin mengasahnya menjadi sebuah pisau?

Hal baru, mungkin nama kerennya inovasi. Ini biasanya yang menjadi ciri khas kreatifitas. Sebab punya kemampuan saja dianggap lumrah oleh orang banyak. Inovasi yang menjadi pembedanya. Singkong yang dijual oleh pedagang di pasar dengan harga 5 ribu bisa menjadi 50 ribu di tangan seorang inovator. Masa depan butuh hal-hal baru. Hal-hal yang bisa membuat kehidupan di masa depan lebih baik lagi.

Bermanfaat, merupakan tujuan kreatifitas itu sendiri. Banyak orang dengan kemampuan hebat nan terasah serta berfikir inovatif mengenai hal-hal baru, namun ketika tidak bermanfaat buat orang banyak sama saja dengan nihil. Mungkin bisa kita lihat adegan-adegan film hari ini. Sangat banyak pertentangan antara hasil kreatifitas yang bermanfaat bagi khalayak banyak dengan yang tidak.

sumber :: google
sumber :: google

Menjadi kreatif telah menjadi sebuah gaya hidup hari ini. Bagaimana semua orang berlomba agar dikatakan kreatif. Setidaknya ada 4 gaya proses kreatifitas itu sendiri, yaitu :

  1. Pengumpul informasi : tahapan awal untuk mencari tahu atau memperhatikan sekeliling sembari mencari ide. Ide tidaklah datang secara mendadak, dibutuhkan inspirasi-inspirasi yang bisa merangsang lahirnya ide.
  2. Pengembang ide : setelah lahirnya ide, dibutuhkan ekplorasi lebih lanjut mau dikemanakan ide ini. Ke depannya ide-ide ini pasti semakin berkembang dan liar, harus bisa dijinakkan segera agar tak lari entah kemana.
  3. Pemersatu : semakin berkembangnya ide, semakin banyak lahir anak-anak ide dengan karakteristiknya. Dibutuhkan pemersatu anak-anak tadi sehingga ide besarnya tetap tercapai nantinya.
  4. Pelaksana : tahapan terakhir dan terpanjang, sebab disini akan dibenturkan dengan hal-hal kekinian. Seberapa besar ide besar kreatifitas tadi terimplementasikan di kehidupan nyata. Seberara besar efeknya buat sekitar.

*minimal 2 point diatas yang akan dominan dalam diri kita masing-masing.

Selanjutya ada 3 jenis tipikal orang kreatif, yaitu

  1. Pencipta : dia mampu membuat hal-hal yang baru, menjadi berbeda dari orang lain. Malahan kreatifitas yang dia ciptakan bisa mempengaruhi orang lain untuk mengikutinya.
  2. Modifikasi : dia mencermati kreatifitas orang lain, kemudian melakukan modifikasi ide.
  3. Kombinasi : dia mencermati kreatifitas orang lain serta berpetualang ke masa lalu. Dengan bekal produk masa lalu, dia kombinasikan dengan kreatifitas orang lain. Sehingga tercipta kreatifitas baru yang unik.

Kreatifitas tidaklah menguras pikiran, sebab mereka selalu punya bahan bakar inspirasi yang selalu ada tuk melahirkan ide-ide baru. Jadi beruntunglah orang-orang yang bisa memetik inspirasi dimanapun, apalagi inspirasi gratis yang kadangkala tidak diperhatikan orang sama sekali. Jadi, selama inspirasi masih bisa kita cari & rasakan, selalu kita bisa berkreatifitas tanpa batas.

Nah, lalu dimana letak Batas Kreatifitas itu sendiri? Tidak dimana-mana, tidak perlu mencari jauh-jauh. Sebab letaknya sangat dekat dengan kita. Yaitu Kemauan. Semuanya berawal dari Kemauan. Dialah yang menggerakkan semua pikiran dan badan kita agar mau mau mau. Selagi ada kemauan, yakinlah kreatifitas itu tak akan terbatas, unlimited !

Kalau kata orang bijak; kita tidak bisa mengarahkan angin mau kemana berhembusnya, tapi kita bisa mengarahkan layarnya sesuai kemauan kita.

***

*disampaikan saat Kelas Inspirasi Rumah Belajar Ceria 🙂

Kreatif

creative

Why Asian are Less Creative !


asianswesterners-462x462
sumber : google

University of Queensland, dalam bukunya “Why Asians Are Less Creative Than Westerners” (2001) yg dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi “best seller”, mengemukakan beberapa hal tentang bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata & pikiran banyak orang, yaitu :

1. Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam kehidupan adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang & harta lain). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, pengacara, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang untuk kaya.

2. Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai cerita, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran. Tidak heran pula bila prilaku koruptif pun ditolerir / diterima sebagai sesuatu yang wajar.

3. Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis “kunci jawaban” bukan pada pengertian / pemahaman. Ujian Nasional dan tes masuk Universitas semuanya berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya, bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.

4. Karena berbasis hafalan, murid-murid sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi “Jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit-sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun).

5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia yang jadi juara dalam Olympiade Fisika dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.

6. Orang Asia takut salah dan takut kalah. Akibatnya sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai.

7. Bagi kebanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah.

8. Karena takut salah & takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru / narasumber untuk minta penjelasan tambahan.

Dalam bukunya, Prof. Aik Kwang menawarkan beberapa solusi, yaitu :

1. Hargai proses. Hargailah orang karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya. Percuma saja bangga telah naik Haji atau membangun Mesjid atau Pesantren tapi duitnya dari hasil korupsi.

2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya.

3. Jangan jejali murid dengan banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban untuk X x Y harus dihapalkan? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya.

4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang.

5. Dasar kreatifitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko. AYO BERTANYA!

6. Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui dengan bangga kalau MEREKA TIDAK TAU!

7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan, sebagai orang tua kita bertanggungjawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya & mendukungnya.

***

Mudah-mudahan dengan begitu, anak cucu kita bisa kreatif dan inovatif yang memiliki integritas dan idealisme.

creative

sumber : https://mujitrisno.wordpress.com/2015/02/09/why-asians-are-less-creative-than-westerners/

Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh


Entah mengapa saya pengen banget nonton film Supernova; Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh. Mungkin novelnya yang begitu laris di Tanah Air membuat saya penasaran seperti apa ceritanya. Novel best seller karya Dee (Dewi Lesatri) yang sampai tulisan ini dibuat telah mencapai sekuel ke 5 dengan judul Supernova; Gelombang. Dengan penamaan unik tiap seri dari Supernova itu sendiri, membuat saya semakin “berambisi” tuk menontonnya (*sepertinya lebih baik menonton daripada membaca novelnya).

Overall, cerita film ini biasa saja bagi saya, sebab bercerita tentang kisah cinta kehidupan metropolis yang hampir sama seperti sinetron-sinetron, dimana adanya perselingkuhan disebabkan merasa tidak bahagia dengan pernikahan sebelumnya. Kerumitan cerita mungkin terletak pada percakapan yang menggunakan bahasa intelektual (*saya langsung ingat Vikinisasi) yang mana penonton awam harus mencerna dulu bahasa-bahasa langit itu. Animasi yang ada pada film ini lumayan bagus untuk ukuran film Indonesia. Salut buat tim animasi, semoga creatornya orang Indonesia asli.

Supernova Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh

Kemudian saya juga beranggapan film ini “titipan” tuk dapat membiasakan kisah hidup Gay (*gak tau di novel asli seperti itukah). Yaaa, tren LGBT saat ini lagi ramai digencarkan oleh pihak-pihak yang katanya Pro-HAM (*liberal cs). Bahkan di film ini juga ada adegan menentang Tuhan. Dan di film ini masuk banget kisahnya. Film ini termasuk dalam kategori Remaja, oleh karena itu perlu perhatian dan edukasi dari orang tua/ mereka yang paham tentang LGBT sehingga remaja kita tidak menganggap biasa saja kisah-kisa seperti ini.

Sepertinya saya perlu membaca novelnya agar terjadi kesamaan sudut pandang, siapa yang mau meminjami saya?? hehe 🙂

Ibu Septi Peni Wulandani, Dikau Luar Biasa!


Ibu Modern masa kini !!

Life of Iwaza

Ibu Septi Peni Wulandani

Tiga anaknya tidak sekolah di sekolah formal layaknya anak-anak pada umumnya. Tapi ketiganya mampu menjadi anak teladan, dua di antaranya sudah kuliah di luar negeri di usia yang masih sangat muda. Saya cuma berdecak gemetar mendengarnya. Bagaimana bisa?

Namanya Ibu Septi Peni Wulandani.

Kalau kita search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia. Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya. Beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream. It’s like watching 3 Idiots. But this is not a film. This is a real story from Salatiga, Indonesia.

Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa…

View original post 1,196 more words

Hiburan Terpelajar


Semakin hari acara hiburan televisi semakin tak jelas kontennya. Ada yang cuman menontonkan aurat belaka, ada yang goyang disertai suara yang tak terlalu syahdu dan lain sebagainya. Namun diantara banyak acara hiburan tersebut, selalu ada muncul acara yang lumayan bagus dan mendidik menurut saya, ibarat oase di padang sahara. Meskipun termasuk salah satu tivi baru, namun acara-acara yang ditayangkan lumayan menghibur dan berkelas.
Salah satu acara tivi favorit saya saat ini yaitu INI Talk Show. Konsep acara talkshow yang berbeda dengan lainnya. Acara yang tidak hanya berisi talkshow, namun menghibur dengan humor segar mendidik dan tak berlebihan pastinya. Disaat acara talkshow dan humor lawakan lain saling membully satu sama lain antar pengisi acaranya, entah saling mengata-i yang mungkin bagi mereka wajar tapi bagi anak-anak sekolah itu bisa menjadi contoh. Wajar saja kasus pelecehan dan bully merebak di sekolah-sekolah saat ini.
Konsepan di Ini TS patut ditiru tivi lain saya pikir. Sebab mereka menghandalkan lawakan segar tanpa menyakiti orang lain dengan bully yang sungguh tak etis. Lawakan yang diplot dengan bahasa-bahasa renyah namun membuat penonton tertawa. Boleh saja menertawakan diri sendiri, tapi secukupnya.
Dan satu point yang saya senang yaitu ketika pengisi acara di Ini TS, entah itu Sule atau Andre membully tamunya maka mereka akan didenda dengan membayar goceng yang ditabung ke dalam toples. Ini memberikan pendidikan bahwasanya membully orang lain itu merupakan perbuatan yang salah dan mereka harus dihukum. Ini hal kecil namun sangat berarti.
Yaa, semua hal besar berawal dari hal yang kecil. Semoga tivi lain bisa mencontoh dan merevolusi konsepan acara-acara lawakan mereka.

Mudik


Mudik Lebaran kali ini banyak mendapat cerita, keluh kesah, masalah, hingga romantika percintaan. Ntah mengapa semuanya begitu berkesan. Mungkin benar jikalau perubahan kepribadian seseorang terbagi dalam beberapa fase kehidupan,
Fase-fase yang bisa mengubah cara berpikir kita semua mungkin cuma saya aja ya, yaitu fase pertama ketika kita masuk sekolah entah itu TK atau SD, mungkin lingkungan yang ramai dan bersosialisasi dengan teman seumuran membuat kita peka terhadap yang namanya interaksi sosial. Kita awalnya malu-malu tuk dtinggalkan orang tua kita di sekolahan, sehingga banyak orang tua yang jarang meninggalkan anaknya sendirian di sekolah. Anaknya gak mau lepas dari orang tua, selalu digandeng tuh nyokap kemanapun. Ada yang seperti itu dahulunyaa?? 🙂 Begitulah mungkin hingga ke tataran memasuki dunia remaja. Ada yang masih ngandalin orang tua dalam berbagai hal, entah itu mudah sebenrnya kita hadapi namun orang tua masih tetap menjadi andalan utama. Sehingga kepribadian tuk ketergantungan sama orang tua masih ajaaa.

Kedua, ketika masuk kuliah. Dunia kampus yang menjadi miniatur tuk belajar kehidupan yang sebenarnya. Bagi yang merantau apalagi, beban hidup sendirian mulai diasah. Perkuliahan yang tidak hanya di kelas, namun di luar kelas. Waktu di kelas yg hanya secuil dibandingkan waktu di luar kelas, hingga merugilah orang-orang yang hanya berkutat di kelas mulu. Lalu bagaimana ideologi memasuki pikiran mahasiswa, berseliweran di dalam kepala. Mana yang kira2 mau kita ikuti, atau bertindak acuh tak acuh terhadap semua itu sehingga apatisme merajalela. Kepribadian yang mau belajar dari lingkungan heterogen akibat banyaknya pikiran2 nyeleneh yang beranak pinak dikampus. Dan itu semua kan menjadi modal bagi seorang mahasiswa kelak ketika dia telah keluar dari kampus.

Ketiga, ini yang mungkin lagi….

(bersambung…)

Kemenangan


Juli 2014. Bulan yang kan menjadi catatan sejarah. Bulan sibuk seantero dunia.

Disaat sang matahari hadir menyapa turnamen tertua di belahan bumi barat, saat bersamaan pertunjukan orkestra dentuman peluru dan roket menjadi hal yang lumrah di belahan bumi timur.

Disaat sorak gaduh manusia bersuka cita dimulainya event akbar empat tahunan di benua sana, suara tangis menjadi melodi yang mengukir pilu sanubari manusia yang merasakannya.

Disaat manusia belahan bumi lain bingung memilih menu hidangan berbuka apa yang hendak disantap, mereka disana kebingungan masihkah sempat berbuka meski dengan setetes air pelepas dahaga.

***

Banyak hal yang terjadi di luar prediksi pengamat sepakbola (dadakan), timnas yang tak masuk hitungan mendadak menjadi pusat perhatian dunia. Membenamkan mantan juara piala dunia menjadi kebanggaan tersendiri, cukup menjadi modal berharga tuk disambut pahlawan setibanya di kampung halaman. Begitupula sebuah negara merdeka yang ingin tanah air-nya kembali ke pangkuan mereka. Tak disangka diluar nalar kemanusiaan, Zionis menyerang sebuah kota kecil dengan jumlah Syuhada terbanyak mungkin saat ini. Disaat calon syuhada masih merencanakan amalan apa yang hendak menjadi unggulan di hadapan Sang Hakim nantinya, tak disangka panggilan jihad itu membersamai mereka. 

Wangilah darahnya, berserilah wajahnya, malaikat pun turun tuk mencatat siapa-siapa yang hendak dimasukan ke syurga terlebih dahulu.

Mungkin hari ini kita harus iri terhadap mereka, amalan terbaik yang kita rencanakan jauh hari mungkin saja belum kita laksanakan hingga minggu terakhir Ramadhan ini. Mereka dengan gampangnya mendapatkan kunci syurga. Itulah kemenangan sejati. Kemenangan mencari ridho Ilahi hingga bisa membuka pintu surga. Tak usahlah kita pikirkan juara dunia si Jerman itu, tak usah jua kita berpusing ria pikirkan hasil pilpres, serahkan semuanya kepada Sang Hakim. Tapi pikirkan kembali kemenangan diri ini. Pantaskah 1 Syawal nanti kita menggenggam Kemenangan yang dijanjikan itu ??

Reborn !


Kampus menjadi tempat yang ideal tuk belajar kepemimpinan. Semua elemen yang digunakan untuk mencetak pemimpin sangatlah lengkap, dimulai dari objek yang dipimpin, atas hal apa memimpin, serta bagaimana mengelola konflik baik horizontal maupun vertikal. Kepemimpinan itu tidaklah instan, butuh waktu panjang tuk merangkainya hingga kokoh dasarnya. Merugilah mahasiswa/i yang selama di kampus hanya berkutat dengan laptop, laporan, ms word, kantin dan kosan, tanpa bisa berbaur dengan kawan-kawan tuk bisa menjadi pemimpin atau yang dipimpin.

Laboratorium kepemimpinan selama di kampus kan teruji ketika kita berada di luar kampus. Dimana kondisi ideal dahulu kala, romantisme perjuangan bersama, harmonisnya hubungan dengan penyokong dana seolah hilang tak membekas gegara dibenturkan dengan kondisi baru yang mau tak mau kita harus siap meladeninya.

Kita yang telah terbiasa menjadi pemimpin, harus siap menjadi yang dipimpin.

Kita yang terbiasa dipimpin oleh orang-orang sepikiran, harus terbiasa dipimpin oleh orang-orang berbeda pikiran.

Kita yang terbiasa memerintah, harus terbiasa diperintah.

Kita yang terbiasa menjaga etika bersuara, harus terbiasa mengeluarkan suara-suara sumbing.

Kita yang terbiasa bersikap otoriter, harus terbiasa disuruh sana sini.

Adaptasi cara berpikir ideal dahulu kala, harus bisa kita ubah menjadi setidak ideal mungkin. Karena semuanya telah berubah, semuanya berputar cepat. Ketidaksiapan kita karena selalu berjalan lurus ketika di kampus janganlah menjadi alasan di kemudian hari. Adakalanya kita harus bisa mengambil persimpangan jalan itu, jalan yang juga lurus namun agak menyimpang. Rasakanlah sensasinya dan nikmatilah perjalanannya.

Sungai Pedado


Merantaulah !! kau akan temui keluarga baru, lingkungan baru, dan orang-orang baru yang siap berbagi bersamamu.

Kupacu supraku menuju daerah yang tak terkenal itu. Sebuah tempat yang katanya kecerian berkumpul disana, menghilangkan letih yang telah kau pikul. Tempatnya jauh dari keramain kota, sangat tenang. Ah, apakah benar itu.

Akhirnya sampai jua di tempat itu. Dengan jalan masuk yang sudah di cor beton, lancar jaya lah masuk ke daerah itu. Bangunan itu tak menandakan sedikitpun tentang aktivitas belajar didalamnya. Yang ada dihadapanku saat itu sebuah rumah kayu yang dibawahnya terdapat kubangan air, seandainya Musi meluap bisa saja kubangan itu terkena muntahannya. Dengan atap seng yang kayaknya baru direnovasi, bersandar pada tiang-tiang mungil penyangga bangunan.

Sebelum Ada Jembatan

Di mulut rumah itu sedang berkumpul ibu-ibu lagi bercerita, ada yang sesekali celingukan ke dalam rumah tuk melihat sesuatu. Sempat terpikirkan, apakah gue salah tempat. Kerumunan di seberang itu apakah arisan ibu-ibu atau apakah?

Kuberanikan diri ini melewati jembatan mungil yang sengaja dibuat tuk bisa menghantarkan manusia ke rumah itu. Terbersit dalam hati, apakah jembatan ini kuat menahan bobot ku yang ringan ini. Bismillah aja.

Didalam rumah ku lihat beberapa manusia yang kukenal sepertinya. Wajahnya tak asing, tapi kegiatannya yang asing bagiku. Mereka dikerumuni kumpulan anak kecil berwajah polos. Seakan anak kecil itu tersihirkan oleh mantra yang disebutkan manusia-manusia tadi.

Menyihir Anak Kecil

Masuk ke dalam rumah, suasana hangat menyerbuku. Ramenya anak kecil didalamnya membuat suhu ruangan jadi sesak. Kulihat keatas, tak ada plafon yang menggantung, yang ada hanya atap seng. Klop banget suasana saat itu. Arah jam 1 dari pintu masuk terdapat jendela, dan itulah satu-satunya jendela disana.

Sejenak, ku mulai tenangkan diri. Agar bisa sesuai dengan tempat seperti ini. Ke depan aku harus bisa menyesuaikan diri disini. Sebab aku hanyalah pendatang baru. Mau tahukah kau apa nama daerah itu? Sungai Pedado.