fullmoon

Purnama


Siapa yang tidak kenal Purnama. Belakangan ini Purnama menjadi terkenal disebabkan ia menjadi saksi atas rumitnya kisah Cinta dan Rangga.

Melihat Purnama subuh tadi mengingatkan ku atas karunia Ilahi yang patutnya menjadi pelajaran bagi kita. Sebab Purnama menjadi sumber cahaya ditengah gelapnya malam. Kita semua bisa menjadi Purnama itu, menjadi cahaya ditengah kegelapan yang menyelimuti sekitar kita. Tapi Purnama ada jua masanya. Ia hanya menampakkan diri 3-4 hari saja. Selebihnya ia kan menjadi penghias langit, semakin hari kan semakin “membelah diri”, semakin runcing dan akhirnya menjadi senyuman di pekatnya malam. Jikalau tidak ada yang tersenyum padamu, tengoklah Sabit di malam hari. Ia kan senantiasa tersenyum padamu. Itulah Purnama sesungguhnya.

child-socialization-program

Orang-orang


Tak terasa hampir 9 bulan meninggalkan dashboard ini. Yuk tinggalin jejak.

***

Bincang mengenai orang tidaklah cukup 1 atau 2 hari, butuh waktu lama tuk bisa menggambarkan orang-orang yang sering kita temui. Itu yang baru sering kita jumpai, bagaimana dengan yang jarang kita jumpai? Sulit! Sebab di era globalisasi ini membuat orang berubah sangat cepat. Yang dahulunya pendiam, acuh tak acuh dan introfert tiba-tiba menjadi ekstrofert di kemudian hari, bahkan ketika ngobrol pun tanpa jeda, tidak ada titik koma. Begitupun sebaliknya.

Banyak orang, banyak yang kita kenal. Banyak keragaman yang mestinya kita petik. Benar perkataan Rasulullah, menjaga silaturahim (termasuk mengenal banyak orang) bisa memanjangkan umur dan menambah rejeki.

Semakin banyak orang, harusnya kita bisa membuat semacam “bank perlakuan”. Sebab tiap orang kadangkala ingin perlakuan yang berbeda. Ingin perhatian yang berbeda. Kita ingin memanusiakan mereka, maka cara manusiawi ala mereka yang kita terapkan. Itulah hidup. Bagaimana memanusiakan manusia itu sendiri.

Bergabung di sekumpulan orang-orang pastilah membuat kita kadangkala ingin kita yang dimengerti oleh mereka. Lumrah, sebab kita jua manusia biasa. Tapi bagi seorang pemilik “bank perlakuan”, mereka tidak mempersalahkan bentuk pengertian dari orang lain. Sebab itu yang mereka cari, yaa untuk menambah deposit bank perlakuannya.

Sekarang pilihan kita, maukah menjadi pemilik bank perlakuan itu?

 

5-anak-muda-ini-layak-jadi-teladan-pemuda-indonesia

Anak Muda, Bisnis dan Kemajuan Politik sebuah Bangsa


Malam ini adik saya menghubungi Saya via WA. Sebagai panitia seminar, beliau minta saran tentang sebuah tema besar : sustainable development sebuah negeri. Topiknya dikhususkan pada peran bisnis anak muda dalam memajukan kondisi politik sebuah bangsa.

Sambil saya menjawab pertanyaan adik Saya, tidak ada salahnya jika Saya menuliskannya disini. Sehingga bisa dinikmati oleh semuanya.

Setidaknya ada 3 peran sentral bisnis anak muda, dalam kemajuan politik sebuah negeri.

  1. Terkait kedewasaan pemilih dalam menghasilkan produk politik.
  1. Hubungan antara kesejahteraan dengan stabilitas politik.
  1. Arus masuk generasi politisi muda yang berenergi dan kompeten.

 

Mari kita bahas satu persatu.

***

Pertama, Bisnis anak muda secara tidak langsung dapat menghasilkan produk politik yang lebih baik. Mengapa demikian?

Kita menyadari bahwa hari ini Indonesia menganut sistem demokrasi dalam proses politiknya. Artinya, kedaulatan diserahkan kepada Rakyat. Kita bukan Kerajaan yang mana pemimpin negeri ditentukan oleh garis keturunan. Pemerintahan lahir dari gerak partisipasi publik dalam pemilu. Dan inilah semangat demokrasi.

Karena Rakyat yang berdaulat, maka rakyat diminta untuk terlibat membentuk pemerintahan. Negeri ini memilih wakil rakyatnya dan juga kepala Negara serta kepala daerahnya. Rumit memang. Ada pileg, pilpres dan pilkada. Tapi itulah Indonesia.

Keterlibatan rakyat itu dicerminkan dari proses pemilu : one man, one vote. 1 orang, 1 suara. Maka siapapun warga negara Indonesia, apapun warna kulitnya, agama, gender, bahkan tingkat pendidikan, memiliki hak yang sama secara politik : 1 hak suara dalam pemilu.

Sistem one man-one vote ini memang terlihat adil. Namun kita lupa satu hal bahwa sistem “one man one vote” sebenarnya hanya dapat berjalan ideal pada masyarakat yang mampu memutuskan hak politiknya secara dewasa, tanpa intervensi apapun.

Kondisi ekonomi masyarakat Indonesia, yang masih kerepotan dalam mencukupi basic need, membuat hampir sebagian masyarakat Indonesia sangat mudah terpengaruh dengan politik uang.

Mengapa politik uang bisa bekerja di Indonesia? karena sebagian besar masyarakatnya masih dalam taraf mencukupi kebutuhan hidup yang teramat dasar. Dalam piramida maslow disebut dengan lapis basic needs. Mereka masih sibuk mencari makan tuk hari ini dan esok. Mereka baru sampai pada taraf berjibaku mencari kontrakan. Jangan harap mereka berfikir tentang negeri, kontribusi, negara, bangsa, karena posisi hidup mereka masih dalam tahap sangat dasar.

Manusia yang masih dalam taraf basic need, susah berfikir panjang tentang makna politik dan kontribusi kebangsaan. Mereka sedang lapar dan butuh hidup.

Cobalah cek data kemiskinan penduduk RI, berapa orang yang hidup dengan 2$ per hari. Hampir puluhan juta orang. Dan inilah penyumbang terbesar suara demokrasi.

Saya tidak bilang, bahwa semua orang yang di bawah garis kemiskinan akan terbawa money politic, namun itulah kenyataan hari ini. menurut saya, mereka pun tidak bisa disalahkan. Mereka lapar, dan siapa yang bawa amplop, tentu mereka pilih.

Memang benar, partai memiliki fungsi edukasi. Banyak orang bilang : didiklah pemilih, agar tidak kena money politic. Namun, bagaimana anda mendidik orang yang lapar?

Nah, kelaparan ini harus dijawab dengan kesejahteraan. Dan salah satu kunci keberhasilan kesejahteraan suatu bangsa adalah kemampuan bangsa itu untuk mengahsilkan keuntungan ekonomi. Dan keuntungan ekonomi dapat diraih dengan bisnis.

Hari ini, 250 juta penduduk Indonesia hanya menjadi bantalan market dari produk Asing. Lihatlah market share pasta gigi, berapa persen pasta gigi berkebangsaan inggris itu menguasai pasar Indonesia? Dan masih banyak lagi kebutuhan-kebutuhan bangsa ini yang tidak dipenuhi oleh bangsa kita sendiri.

Lihatlah pakan ternak, lihatlah dunia farmasi, lihatlah pasar dunia iklan sekalipun, siapa yang menikmati kue besar itu semua? Apakah pengusaha nasional?

Hal ini terjadi, karena anak Muda Indonesia tidak mau “fight” memenuhi kebutuhan negeri mereka sendiri. Uang bangsa ini kembali keluar dari negerinya sendiri. Disinilah jawaban atas kemiskinan yang terjadi : Gagal merebut market share.

Jika anak muda Indonesia turun tangan berbisnis membangun produk unggulan, maka tenaga kerja akan terserap. Kita tidak hanya mengirim komoditas alam yang rendah harganya, tapi produk yang punya nilai tambah.

Kita keruk emas, kita kirim, kita jual. Berarti kita mencangkul dari alam dan jual. Berbeda dengan jika kita membuatnya menjadi jam tangan, atau chip TV. Ia akan menjadi produk bernilai tambah, tentu gerak ekonominya lebih masif.

Dan setelah sejahtera, masyarakat akan dapat memilih dengan akal sehat dan hati nurani yang jernih. Disinilah pemilu akan berkualitas. Tiap-tiap orang telah dewasa dan waras dalam menentukan pilihan.

Masyarakat yang telah tercukupi kebutuhan pokoknya, akan relatif mandiri dalam menentukan pilihan politiknya. Akan lahir wakil rakyat yang benar, gubernur yang benar dan walikota serta bupati yang benar.

Hari ini kelas menengah negeri ini banyak mencaci wakil rakyat dan pemerintahnya. Padahal wakil rakyat dan pemerintah adalah hasil dari proses politik negeri ini. Mengapa mereka marah? Bukankah mereka yang memilih?itu semua Karena sebagian besar pemilih adalah bukan kelas menengah. Sebagian besar pemilih adalah mereka yang masih lapar.

 

Jadi, alur pemikiran dalam poin saya yang pertama adalah : anak muda berbisnis dengan benar -> bangsa sejahtera -> pemilu sehat -> produk politik mantap -> maka politik sebuah bangsa akan maju.

 

***

 

Yang Kedua, hubungan antara kesejahteraan dan stabilitas politik sebuah negeri.

Negeri yang gaduh, jelas mempengaruhi stabilitas politik. Dan ketidak stabilan politik ini akan berdampak pada runyamnya situasi ekonomi.

Mengapa masyarakat gaduh berkelahi? Mengapa orang-orang memilih turun ke jalan? Mengapa banyak orang mengadu nasib memburu rente di kursi dewan? Itu semua terjadi salah satunya karena ketidak sejahteraan. Maka orang mudah untuk tidak puas. Lalu ekspresif ke jalanan.

Orang yang lapar relatif mudah tersulut. Seperti jerami yang kering. Mudah terbakar. Gampang tersulut.

Kondisi politik yang tidak stabil juga disebabkan karena sebuah bangsa senang bergaduh ria. Senang konflik. Senang bertengkar. Senang membahas yang remeh temeh. Mengapa semua itu terjadi? Karena banyak pengangguran, banyak orang yang tidak punya aktivitas positif, akhirnya mereka gaduh.

Sekumpulan masyarakat yang lapar memang mengerikan. Dan jangan harap politik bisa maju jika tidak didorong dengan kesejahteraan.

Memang seperti ayam dan telur, mana yang lebih dulu. Apakah politik maju lalu ekonomi maju, atau ekonomi dahulu lalu politik maju.

Saya lebih berkeyakinan pada ekonomi terlebih dahulu. Disinilah tugas anak muda Indonesia untuk mendorong kesejahteraan. Bekerja serius mengisi ruang kosong pembangunan. Bukan malah gaduh memperkeruh kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

***

 

Yang ketiga adalah, kesejahteraan anak muda akan mendorong suplai bahan baku politik yang berkualitas.

Kita tahu bahwa pemilu hanyalah proses. Pemilihan legislatif adalah proses memilih wakil rakyat yang ditawarkan oleh partai politik. Jadi sudah “given” dari langit. Calon-calon itu sudah terjajar di lembar pemilih. Kita hanya bisa memilih mereka yang tersaji di lembar suara.

Pertanyannya? Bagaimana jika calon wakil rakyat yang tersedia adalah orang-orang yang tidak kompeten? Ini adalah tantangan demokrasi kita hari ini : bahan baku politik yang rendah kualitasnya.

Pemilu adalah proses. Wakil rakyat dan kepala daerah adalah hasil atau output dari proses. Dan disinilah yang kita tidak sadari, seperti apakah inputnya?

Sehebat hebat tukang masak nasi goreng, jika nasinya busuk, hancur juga masakannya. Got it?

Saya yakin, banyak anak-anak muda yang penuh energi, tulus, berkemampuan dan berdedikasi, yang siap untuk duduk di legislatif. Mereka siap untuk mengawal RUU, mereka siap untuk menyuarakan aspirasi, tapi mereka lamban membangun kesejahteraan hidup. Andai mereka sudah selesai di taraf kehidupannya, pastilah mereka akan turun bertarung di pemilu.

“Lho, kan jadi anggota dewan digaji”…

Ijinkan saya menjelaskan kepada Anda sekalian.

Misal, Anda berniat menjadi anggota DPR RI dapil V jabar misalnya. Kabupaten bogor.

Untuk menjadi wakil rakyat dari Dapil V jabar kabupaten bogor, anda harus bertarung memperebutkan 9 kursi dewan.

Jika total jumlah pemilih tetap adalah 3,3 juta orang, lalu anggaplah yang memilih berjumlah 2,7 juta orang, maka 1 kursi ekivalen dengan 300.000 suara.

Jika Anda ingin duduk di DPR RI, maka Anda harus kejar capaian 300 ribu suara. maka Anda harus bekerja ke masyarakat secara organik setidak tidaknya 3 tahun sebelum pemilihan. Anda harus fokus bersentuhan dengan 4 juta masyarakat kab Bogor. Anda harus membangun jaringan di 40 kecamatan yang ada di Kabupaten Bogor. Anda harus membangun kekuatan personal di hampir 310 desa yang ada, belum dengan kelurahannya. Dan itu semua kerja sosial yang menuntut dedikasi, tanpa harap balas money!

Dalam benak saya, hanya anak muda yang berhasil membangun arus income dalam bisnislah yang mampu melakukan hal itu. Jika masih terikat pekerjaan dan banyak hal, saya yakin hal itu sulit dilakukan. Bisa saja ada anak muda yang menang cepat, tapi kemungkinan besar ia menang secara “sintetik” : (maaf) pake duit.

Dalam analisa Saya secara pribadi, jika banyak anak muda yang mampu membangun bisnis secara mapan di usia produktif, maka dia dapat mendedikasikan sisa usia produktifnya untuk melayani masyarakat. Semoga dia tidak korupsi, karena arus uang dalam bisnis nya sudan cukup menjawab penasarannya tentang hidup kaya. Di titik inilah politik kita maju. Di titik inilah politik kita berkualitas.

Jika generasi muda Indonesia banyak yang berbisnis dan segera “ON Busines”, maka Saya yakin, secara psikologis, mereka akan berfikir untuk mengaktualisasikan dirinya. Pasti ada dorongan berbuat untuk masyarakat. Dan langkah kontribusi pelayanan yang terbaik adalah melalui jalur politik, disanalah urusan publik difikirkan dan dieksekusi.

Sekali lagi, kita membutuhkan bahan baku politisi yang segar, muda, energik, dan memiliki sumber daya (duit). Dan menurut Saya, sosok itu ada pada pengusaha muda.

Fakta pedih hari ini adalah : sistem pemilu liberal negeri ini telah menutup pintu bagi anak muda yang “kekurangan sumber daya”. Bahkan, sekalipun Anda tidak berniat untuk money politic, kerja politik seperti sosialisasi, bangun timses, operasional tim ahli, program program ke konstituen bahkan living cost Anda, pastilah membutuhkan banyak sumber daya (baca : duit). Itu fakta yang harus dibeberkan..

Jika ada anak Muda yang bisnisnya baik, niatnya baik dan kemampuannya baik. InsyaAllah majulah Politik negeri ini. Amiin.

 

***

 

Semoga manfaat.

Rendy Saputra

– CEO KeKe Busana

– Sekjend JPMI Pusat (Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia)

Angeline dan Sejuta Tanda Tanya.


Menarik jikalau kita menarik benang merah masalah ini.

Tatty Elmir

Awalnya saya tidak tahu soal Angeline sampai suatu ketika saya ditanya seorang aktivis pendidikan. Saya memang tengah berusaha diet TV, sudah bertahun-tahun lalu. Tapi semenjak itu jadi rajin menyimak progress report penyidikan. Bayangan jasad Angeline yang  tengah meringkuk memeluk bonekanya  menari-nari di pelupuk mata. Lalu wajah cantik mungil Angeline semasa hidup, juga hadir silih berganti dengan  wajah-wajah cucu saya dan anak-anak Indonesia lainnya. Susah sekali untuk menahan air mata yang mengalir di tengah rasa sedih, kecewa dan murka.

Begitu banyak tanda tanya yang menghampiri, seperti;  Apa motif adopsi keluarga TM terhadap Angeline ? mengingat Keluarga TM sebelumnya sudah memiliki 2 anak perempuan? Benarkah almarhum suami TM meninggalkan wasiat untuk menyerahkan 60% warisannya?Siapa sebenarnya TM ? Siapa sebenarnya suaminya ? Bagaimana relasi mereka dengan H? Tidakkah ada yang melihat keanehan sebuah keluarga yang terbiasa hidup dengan standar tinggi mau memelihara ayam untuk dijual dan tinggal berkubang dalam bau busuk? Tidakkah ada yang melihat…

View original post 658 more words

Merantau Ke Deli


Entah mengapa hasrat membaca itu muncul tiba-tiba ketika terhampar sastra klasik Buya Hamka, Merantau Ke Deli di sudut kamar itu. Langsung ku sobek-sobek plastik yang membungkusinya. Langsung kuhirup aroma sastra khas Minangkabau yang menjadi andalan sang Buya. Selamat memasuki lorong waktu.

***

Merantau Ke Deli

Merantau Ke Deli

Namanya Leman. Seorang pemuda Minang asli yang merantau ke Tanah Deli, Sumatera Utara. Daerah Deli yang saat itu digambarkan oleh Buya Hamka sebagai kota yang maju terutama dalam hal perkebunan membuat Leman berani mencoba peruntungan di sana. Kemudia ia dipertemukan dengan Poniem, gadis asal Jawa yang merupakan istri muda bos besar perkebunan sawit. Seringnya interaksi diantara mereka, menumbuhkan benih-benih cinta, dan mereka bersepakat untuk kawin lari demi masa depan yang lebih baik. Lalu menikahlah mereka, pernikahan antar etnis Minang-Jawa. Seperti yang diketahui, sangat tidak lazim saat itu orang Minang menikah dengan orang non Minang.

Tak terasa telah berlalu 5 tahun umur pernikahan mereka. Pernikahan yang bahagia dan romantis, karena mereka memulai hidup dari nol hingga menjadi pedagang yang sukses. Tetapi dibalik kesuksesan selalu ada kisah kelam yang mewarnaninya. Mereka masih belum bisa mempunyai keturunan.

Pantang pulang sebelum sukses pun menjadi patokan Leman untuk mudik ke kampung halaman. Sejak pertama kali merantau hingga menikah belum satupun ia berkunjung ke sanak saudara di kampung. Hingga tiba saatnya Leman untuk mudik ke Ranah Minang, menyambung silaturahim dengan sanak saudara.

Tiba di kampung, Leman dan Poniem disambut bak pahlawan dikarenakan banyak membawa buah tangan. Tapi bagi para tetua adat, Leman dianggap sial karena menikahi gadis non Minang sehingga belum bisa jua mempunyai keturunan. Maka berbicaralah orang yang dituakan adat kepada Leman secara empat mata dengan maksud untuk menikahkan kembali Leman dengan gadis Minang asli. Disinilah mulanya konflik yang diracik sangat apik oleh Buya.

Tak berselang lama, menikahlah Leman dengan Mariatun, gadis cantik yang masih muda asli Minang. Poniem dengan karakteristik Jawa-nya yang penurut hanya bisa patuh kepada suaminya. Menikah dengan dua istri membuat Leman harus kerja ekstra memikirkan keduanya, meskipun kenyataannya Leman sering terbuai oleh mulut manis Mariatun sehingga dia lah yang selalu dibela ketika bertengkar dengan Poniem.

Tak tahan dengan kondisi seperti itu, Leman pun menceraikan Poniem. Padahal dahulu ketika menikahi Poniem, Leman telah bersumpah dengan sepenuh hati, “Demi Allah, biarlah keatas kanda tak berpucuk, ke bawah tak berurat seandainya engkau kusia-siakan“. Sungguh sedih hati Poniem dicampakkan seperti itu. Dia selalu mengingat hidupnya dahulu kala yang memulai dari nol bersama Leman. Dia pun pindah ke Medan. Paska kepergian Poniem, porak-porandalah perniagaan Leman. Sebab selama ini Poniem lah menjadi tulang punggungnya.

3 tahun berlalu. Poniem telah membuka lembaran baru kehidupannya. Dia telah sukses berniaga kembali di Medan, persis saat dia memulai kehidupan di Deli bersama Leman. Sedangkan Leman sendiri menjadi pedagang keliling serta menyewa kosan bersama dengan orang lain. Kehidupan yang miris mengingat kisahnya dahulu bersama Poniem.

***

Buya ingin mendobrak tradisi pernikahan se-etnis yang selama ini mengakar di ranah Minang. Pernikahan antar etnis seolah-olah hal yang tabu bagi orang Minang. Buya ingin menyampaikan semangat nasionalisme, yang mana tidak ada perbedaan etnis dalam membangun rumah tangga.

Buya juga ingin mengkritik gadis Minang yang terlalu matrealistis. Sebab dalam adat semua harta dibawah kendali istri. Ketika terjadi masalah keluarga hingga perceraian, suami-lah yang harus ditendang dari rumah tanpa membawa satu buah pun harta.

***

Novel klasik yang perlu dibaca oleh orang Minang. Jan lupo baco yo sanak.

Kreatif

Batas Kreatifitas


Dewasa ini semua hal dikaitkan dengan kreatifitas. Mulai dari teknologi, pendidikan, politik, ekonomi bahkan pelayanan masyarakat, semuanya sangat mengandalkan kreatifitas. Sebab laju pertumbuhan negara berkembang sangat dipengarahui oleh faktor kreatifitas orang-orangnya, terutama anak mudanya.

Lalu apa itu kreatifitas? Banyak psikolog yang mendefinisikannya menurut versi masing-masing, tapi hemat saya kreatifitas itu merupakan kombinasi antara kemampuan + hal baru + bermanfaat. Yap, entah apa itu definisi yang cocok mendeskripsikannya, yang pasti 3 komponen diatas terangkum kedalam yang namanya kreatifitas.

Kemampuan, merupakan sebuah anugerah yang Allah berikan kepada setiap manusia. Bersyukurlah hari ini kita bisa menyadari kemampuan apa yang kita miliki. Sebab banyak orang-orang di luar sana yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya hanya untuk mencari tau apa saja kemampuan mereka tanpa mau mengoptimalkannya. Padahal setiap manusia punya kemampuan yang unik dan berbeda, cukuplah kita mengasah kemampuan yang telah ada. Bukankah besi yang tumpul bisa menyayat-nyanyat jikalau kita rajin mengasahnya menjadi sebuah pisau?

Hal baru, mungkin nama kerennya inovasi. Ini biasanya yang menjadi ciri khas kreatifitas. Sebab punya kemampuan saja dianggap lumrah oleh orang banyak. Inovasi yang menjadi pembedanya. Singkong yang dijual oleh pedagang di pasar dengan harga 5 ribu bisa menjadi 50 ribu di tangan seorang inovator. Masa depan butuh hal-hal baru. Hal-hal yang bisa membuat kehidupan di masa depan lebih baik lagi.

Bermanfaat, merupakan tujuan kreatifitas itu sendiri. Banyak orang dengan kemampuan hebat nan terasah serta berfikir inovatif mengenai hal-hal baru, namun ketika tidak bermanfaat buat orang banyak sama saja dengan nihil. Mungkin bisa kita lihat adegan-adegan film hari ini. Sangat banyak pertentangan antara hasil kreatifitas yang bermanfaat bagi khalayak banyak dengan yang tidak.

sumber :: google

sumber :: google

Menjadi kreatif telah menjadi sebuah gaya hidup hari ini. Bagaimana semua orang berlomba agar dikatakan kreatif. Setidaknya ada 4 gaya proses kreatifitas itu sendiri, yaitu :

  1. Pengumpul informasi : tahapan awal untuk mencari tahu atau memperhatikan sekeliling sembari mencari ide. Ide tidaklah datang secara mendadak, dibutuhkan inspirasi-inspirasi yang bisa merangsang lahirnya ide.
  2. Pengembang ide : setelah lahirnya ide, dibutuhkan ekplorasi lebih lanjut mau dikemanakan ide ini. Ke depannya ide-ide ini pasti semakin berkembang dan liar, harus bisa dijinakkan segera agar tak lari entah kemana.
  3. Pemersatu : semakin berkembangnya ide, semakin banyak lahir anak-anak ide dengan karakteristiknya. Dibutuhkan pemersatu anak-anak tadi sehingga ide besarnya tetap tercapai nantinya.
  4. Pelaksana : tahapan terakhir dan terpanjang, sebab disini akan dibenturkan dengan hal-hal kekinian. Seberapa besar ide besar kreatifitas tadi terimplementasikan di kehidupan nyata. Seberara besar efeknya buat sekitar.

*minimal 2 point diatas yang akan dominan dalam diri kita masing-masing.

Selanjutya ada 3 jenis tipikal orang kreatif, yaitu

  1. Pencipta : dia mampu membuat hal-hal yang baru, menjadi berbeda dari orang lain. Malahan kreatifitas yang dia ciptakan bisa mempengaruhi orang lain untuk mengikutinya.
  2. Modifikasi : dia mencermati kreatifitas orang lain, kemudian melakukan modifikasi ide.
  3. Kombinasi : dia mencermati kreatifitas orang lain serta berpetualang ke masa lalu. Dengan bekal produk masa lalu, dia kombinasikan dengan kreatifitas orang lain. Sehingga tercipta kreatifitas baru yang unik.

Kreatifitas tidaklah menguras pikiran, sebab mereka selalu punya bahan bakar inspirasi yang selalu ada tuk melahirkan ide-ide baru. Jadi beruntunglah orang-orang yang bisa memetik inspirasi dimanapun, apalagi inspirasi gratis yang kadangkala tidak diperhatikan orang sama sekali. Jadi, selama inspirasi masih bisa kita cari & rasakan, selalu kita bisa berkreatifitas tanpa batas.

Nah, lalu dimana letak Batas Kreatifitas itu sendiri? Tidak dimana-mana, tidak perlu mencari jauh-jauh. Sebab letaknya sangat dekat dengan kita. Yaitu Kemauan. Semuanya berawal dari Kemauan. Dialah yang menggerakkan semua pikiran dan badan kita agar mau mau mau. Selagi ada kemauan, yakinlah kreatifitas itu tak akan terbatas, unlimited !

Kalau kata orang bijak; kita tidak bisa mengarahkan angin mau kemana berhembusnya, tapi kita bisa mengarahkan layarnya sesuai kemauan kita.

***

*disampaikan saat Kelas Inspirasi Rumah Belajar Ceria🙂

Kreatif

creative

Why Asian are Less Creative !


asianswesterners-462x462

sumber : google

University of Queensland, dalam bukunya “Why Asians Are Less Creative Than Westerners” (2001) yg dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi “best seller”, mengemukakan beberapa hal tentang bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata & pikiran banyak orang, yaitu :

1. Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam kehidupan adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang & harta lain). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, pengacara, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang untuk kaya.

2. Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai cerita, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran. Tidak heran pula bila prilaku koruptif pun ditolerir / diterima sebagai sesuatu yang wajar.

3. Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis “kunci jawaban” bukan pada pengertian / pemahaman. Ujian Nasional dan tes masuk Universitas semuanya berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya, bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.

4. Karena berbasis hafalan, murid-murid sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi “Jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit-sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun).

5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia yang jadi juara dalam Olympiade Fisika dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.

6. Orang Asia takut salah dan takut kalah. Akibatnya sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai.

7. Bagi kebanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah.

8. Karena takut salah & takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru / narasumber untuk minta penjelasan tambahan.

Dalam bukunya, Prof. Aik Kwang menawarkan beberapa solusi, yaitu :

1. Hargai proses. Hargailah orang karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya. Percuma saja bangga telah naik Haji atau membangun Mesjid atau Pesantren tapi duitnya dari hasil korupsi.

2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya.

3. Jangan jejali murid dengan banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban untuk X x Y harus dihapalkan? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya.

4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang.

5. Dasar kreatifitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko. AYO BERTANYA!

6. Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui dengan bangga kalau MEREKA TIDAK TAU!

7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan, sebagai orang tua kita bertanggungjawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya & mendukungnya.

***

Mudah-mudahan dengan begitu, anak cucu kita bisa kreatif dan inovatif yang memiliki integritas dan idealisme.

creative

sumber : https://mujitrisno.wordpress.com/2015/02/09/why-asians-are-less-creative-than-westerners/

Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh


Entah mengapa saya pengen banget nonton film Supernova; Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh. Mungkin novelnya yang begitu laris di Tanah Air membuat saya penasaran seperti apa ceritanya. Novel best seller karya Dee (Dewi Lesatri) yang sampai tulisan ini dibuat telah mencapai sekuel ke 5 dengan judul Supernova; Gelombang. Dengan penamaan unik tiap seri dari Supernova itu sendiri, membuat saya semakin “berambisi” tuk menontonnya (*sepertinya lebih baik menonton daripada membaca novelnya).

Overall, cerita film ini biasa saja bagi saya, sebab bercerita tentang kisah cinta kehidupan metropolis yang hampir sama seperti sinetron-sinetron, dimana adanya perselingkuhan disebabkan merasa tidak bahagia dengan pernikahan sebelumnya. Kerumitan cerita mungkin terletak pada percakapan yang menggunakan bahasa intelektual (*saya langsung ingat Vikinisasi) yang mana penonton awam harus mencerna dulu bahasa-bahasa langit itu. Animasi yang ada pada film ini lumayan bagus untuk ukuran film Indonesia. Salut buat tim animasi, semoga creatornya orang Indonesia asli.

Supernova Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh

Kemudian saya juga beranggapan film ini “titipan” tuk dapat membiasakan kisah hidup Gay (*gak tau di novel asli seperti itukah). Yaaa, tren LGBT saat ini lagi ramai digencarkan oleh pihak-pihak yang katanya Pro-HAM (*liberal cs). Bahkan di film ini juga ada adegan menentang Tuhan. Dan di film ini masuk banget kisahnya. Film ini termasuk dalam kategori Remaja, oleh karena itu perlu perhatian dan edukasi dari orang tua/ mereka yang paham tentang LGBT sehingga remaja kita tidak menganggap biasa saja kisah-kisa seperti ini.

Sepertinya saya perlu membaca novelnya agar terjadi kesamaan sudut pandang, siapa yang mau meminjami saya?? hehe🙂

Ibu Septi Peni Wulandani, Dikau Luar Biasa!


Ibu Modern masa kini !!

Life of Iwaza

Ibu Septi Peni Wulandani

Tiga anaknya tidak sekolah di sekolah formal layaknya anak-anak pada umumnya. Tapi ketiganya mampu menjadi anak teladan, dua di antaranya sudah kuliah di luar negeri di usia yang masih sangat muda. Saya cuma berdecak gemetar mendengarnya. Bagaimana bisa?

Namanya Ibu Septi Peni Wulandani.

Kalau kita search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia. Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya. Beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream. It’s like watching 3 Idiots. But this is not a film. This is a real story from Salatiga, Indonesia.

Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa…

View original post 1,196 more words

Hiburan Terpelajar


Semakin hari acara hiburan televisi semakin tak jelas kontennya. Ada yang cuman menontonkan aurat belaka, ada yang goyang disertai suara yang tak terlalu syahdu dan lain sebagainya. Namun diantara banyak acara hiburan tersebut, selalu ada muncul acara yang lumayan bagus dan mendidik menurut saya, ibarat oase di padang sahara. Meskipun termasuk salah satu tivi baru, namun acara-acara yang ditayangkan lumayan menghibur dan berkelas.
Salah satu acara tivi favorit saya saat ini yaitu INI Talk Show. Konsep acara talkshow yang berbeda dengan lainnya. Acara yang tidak hanya berisi talkshow, namun menghibur dengan humor segar mendidik dan tak berlebihan pastinya. Disaat acara talkshow dan humor lawakan lain saling membully satu sama lain antar pengisi acaranya, entah saling mengata-i yang mungkin bagi mereka wajar tapi bagi anak-anak sekolah itu bisa menjadi contoh. Wajar saja kasus pelecehan dan bully merebak di sekolah-sekolah saat ini.
Konsepan di Ini TS patut ditiru tivi lain saya pikir. Sebab mereka menghandalkan lawakan segar tanpa menyakiti orang lain dengan bully yang sungguh tak etis. Lawakan yang diplot dengan bahasa-bahasa renyah namun membuat penonton tertawa. Boleh saja menertawakan diri sendiri, tapi secukupnya.
Dan satu point yang saya senang yaitu ketika pengisi acara di Ini TS, entah itu Sule atau Andre membully tamunya maka mereka akan didenda dengan membayar goceng yang ditabung ke dalam toples. Ini memberikan pendidikan bahwasanya membully orang lain itu merupakan perbuatan yang salah dan mereka harus dihukum. Ini hal kecil namun sangat berarti.
Yaa, semua hal besar berawal dari hal yang kecil. Semoga tivi lain bisa mencontoh dan merevolusi konsepan acara-acara lawakan mereka.

Mudik


Mudik Lebaran kali ini banyak mendapat cerita, keluh kesah, masalah, hingga romantika percintaan. Ntah mengapa semuanya begitu berkesan. Mungkin benar jikalau perubahan kepribadian seseorang terbagi dalam beberapa fase kehidupan,
Fase-fase yang bisa mengubah cara berpikir kita semua mungkin cuma saya aja ya, yaitu fase pertama ketika kita masuk sekolah entah itu TK atau SD, mungkin lingkungan yang ramai dan bersosialisasi dengan teman seumuran membuat kita peka terhadap yang namanya interaksi sosial. Kita awalnya malu-malu tuk dtinggalkan orang tua kita di sekolahan, sehingga banyak orang tua yang jarang meninggalkan anaknya sendirian di sekolah. Anaknya gak mau lepas dari orang tua, selalu digandeng tuh nyokap kemanapun. Ada yang seperti itu dahulunyaa??🙂 Begitulah mungkin hingga ke tataran memasuki dunia remaja. Ada yang masih ngandalin orang tua dalam berbagai hal, entah itu mudah sebenrnya kita hadapi namun orang tua masih tetap menjadi andalan utama. Sehingga kepribadian tuk ketergantungan sama orang tua masih ajaaa.

Kedua, ketika masuk kuliah. Dunia kampus yang menjadi miniatur tuk belajar kehidupan yang sebenarnya. Bagi yang merantau apalagi, beban hidup sendirian mulai diasah. Perkuliahan yang tidak hanya di kelas, namun di luar kelas. Waktu di kelas yg hanya secuil dibandingkan waktu di luar kelas, hingga merugilah orang-orang yang hanya berkutat di kelas mulu. Lalu bagaimana ideologi memasuki pikiran mahasiswa, berseliweran di dalam kepala. Mana yang kira2 mau kita ikuti, atau bertindak acuh tak acuh terhadap semua itu sehingga apatisme merajalela. Kepribadian yang mau belajar dari lingkungan heterogen akibat banyaknya pikiran2 nyeleneh yang beranak pinak dikampus. Dan itu semua kan menjadi modal bagi seorang mahasiswa kelak ketika dia telah keluar dari kampus.

Ketiga, ini yang mungkin lagi….

(bersambung…)

Kemenangan


Juli 2014. Bulan yang kan menjadi catatan sejarah. Bulan sibuk seantero dunia.

Disaat sang matahari hadir menyapa turnamen tertua di belahan bumi barat, saat bersamaan pertunjukan orkestra dentuman peluru dan roket menjadi hal yang lumrah di belahan bumi timur.

Disaat sorak gaduh manusia bersuka cita dimulainya event akbar empat tahunan di benua sana, suara tangis menjadi melodi yang mengukir pilu sanubari manusia yang merasakannya.

Disaat manusia belahan bumi lain bingung memilih menu hidangan berbuka apa yang hendak disantap, mereka disana kebingungan masihkah sempat berbuka meski dengan setetes air pelepas dahaga.

***

Banyak hal yang terjadi di luar prediksi pengamat sepakbola (dadakan), timnas yang tak masuk hitungan mendadak menjadi pusat perhatian dunia. Membenamkan mantan juara piala dunia menjadi kebanggaan tersendiri, cukup menjadi modal berharga tuk disambut pahlawan setibanya di kampung halaman. Begitupula sebuah negara merdeka yang ingin tanah air-nya kembali ke pangkuan mereka. Tak disangka diluar nalar kemanusiaan, Zionis menyerang sebuah kota kecil dengan jumlah Syuhada terbanyak mungkin saat ini. Disaat calon syuhada masih merencanakan amalan apa yang hendak menjadi unggulan di hadapan Sang Hakim nantinya, tak disangka panggilan jihad itu membersamai mereka. 

Wangilah darahnya, berserilah wajahnya, malaikat pun turun tuk mencatat siapa-siapa yang hendak dimasukan ke syurga terlebih dahulu.

Mungkin hari ini kita harus iri terhadap mereka, amalan terbaik yang kita rencanakan jauh hari mungkin saja belum kita laksanakan hingga minggu terakhir Ramadhan ini. Mereka dengan gampangnya mendapatkan kunci syurga. Itulah kemenangan sejati. Kemenangan mencari ridho Ilahi hingga bisa membuka pintu surga. Tak usahlah kita pikirkan juara dunia si Jerman itu, tak usah jua kita berpusing ria pikirkan hasil pilpres, serahkan semuanya kepada Sang Hakim. Tapi pikirkan kembali kemenangan diri ini. Pantaskah 1 Syawal nanti kita menggenggam Kemenangan yang dijanjikan itu ??

Reborn !


Kampus menjadi tempat yang ideal tuk belajar kepemimpinan. Semua elemen yang digunakan untuk mencetak pemimpin sangatlah lengkap, dimulai dari objek yang dipimpin, atas hal apa memimpin, serta bagaimana mengelola konflik baik horizontal maupun vertikal. Kepemimpinan itu tidaklah instan, butuh waktu panjang tuk merangkainya hingga kokoh dasarnya. Merugilah mahasiswa/i yang selama di kampus hanya berkutat dengan laptop, laporan, ms word, kantin dan kosan, tanpa bisa berbaur dengan kawan-kawan tuk bisa menjadi pemimpin atau yang dipimpin.

Laboratorium kepemimpinan selama di kampus kan teruji ketika kita berada di luar kampus. Dimana kondisi ideal dahulu kala, romantisme perjuangan bersama, harmonisnya hubungan dengan penyokong dana seolah hilang tak membekas gegara dibenturkan dengan kondisi baru yang mau tak mau kita harus siap meladeninya.

Kita yang telah terbiasa menjadi pemimpin, harus siap menjadi yang dipimpin.

Kita yang terbiasa dipimpin oleh orang-orang sepikiran, harus terbiasa dipimpin oleh orang-orang berbeda pikiran.

Kita yang terbiasa memerintah, harus terbiasa diperintah.

Kita yang terbiasa menjaga etika bersuara, harus terbiasa mengeluarkan suara-suara sumbing.

Kita yang terbiasa bersikap otoriter, harus terbiasa disuruh sana sini.

Adaptasi cara berpikir ideal dahulu kala, harus bisa kita ubah menjadi setidak ideal mungkin. Karena semuanya telah berubah, semuanya berputar cepat. Ketidaksiapan kita karena selalu berjalan lurus ketika di kampus janganlah menjadi alasan di kemudian hari. Adakalanya kita harus bisa mengambil persimpangan jalan itu, jalan yang juga lurus namun agak menyimpang. Rasakanlah sensasinya dan nikmatilah perjalanannya.

Sungai Pedado


Merantaulah !! kau akan temui keluarga baru, lingkungan baru, dan orang-orang baru yang siap berbagi bersamamu.

Kupacu supraku menuju daerah yang tak terkenal itu. Sebuah tempat yang katanya kecerian berkumpul disana, menghilangkan letih yang telah kau pikul. Tempatnya jauh dari keramain kota, sangat tenang. Ah, apakah benar itu.

Akhirnya sampai jua di tempat itu. Dengan jalan masuk yang sudah di cor beton, lancar jaya lah masuk ke daerah itu. Bangunan itu tak menandakan sedikitpun tentang aktivitas belajar didalamnya. Yang ada dihadapanku saat itu sebuah rumah kayu yang dibawahnya terdapat kubangan air, seandainya Musi meluap bisa saja kubangan itu terkena muntahannya. Dengan atap seng yang kayaknya baru direnovasi, bersandar pada tiang-tiang mungil penyangga bangunan.

Sebelum Ada Jembatan

Di mulut rumah itu sedang berkumpul ibu-ibu lagi bercerita, ada yang sesekali celingukan ke dalam rumah tuk melihat sesuatu. Sempat terpikirkan, apakah gue salah tempat. Kerumunan di seberang itu apakah arisan ibu-ibu atau apakah?

Kuberanikan diri ini melewati jembatan mungil yang sengaja dibuat tuk bisa menghantarkan manusia ke rumah itu. Terbersit dalam hati, apakah jembatan ini kuat menahan bobot ku yang ringan ini. Bismillah aja.

Didalam rumah ku lihat beberapa manusia yang kukenal sepertinya. Wajahnya tak asing, tapi kegiatannya yang asing bagiku. Mereka dikerumuni kumpulan anak kecil berwajah polos. Seakan anak kecil itu tersihirkan oleh mantra yang disebutkan manusia-manusia tadi.

Menyihir Anak Kecil

Masuk ke dalam rumah, suasana hangat menyerbuku. Ramenya anak kecil didalamnya membuat suhu ruangan jadi sesak. Kulihat keatas, tak ada plafon yang menggantung, yang ada hanya atap seng. Klop banget suasana saat itu. Arah jam 1 dari pintu masuk terdapat jendela, dan itulah satu-satunya jendela disana.

Sejenak, ku mulai tenangkan diri. Agar bisa sesuai dengan tempat seperti ini. Ke depan aku harus bisa menyesuaikan diri disini. Sebab aku hanyalah pendatang baru. Mau tahukah kau apa nama daerah itu? Sungai Pedado.

Pidato M. Yunus di Wisuda MIT


M. Yunus

Good Morning:

It as a very special privilege for me to speak at the commencement ceremony of this prestigious institution.

What a wonderful feeling to be here today. To be with all of you, some of the brightest minds in the world, right at a moment when you decide the path you will embark on in life. You represent the future of the world. The choices that you will make for yourself will decide the fate of mankind. This is how it has always been. Sometimes we are aware of it, most of the time we are not. I hope you’ll remain aware of it and make an effort to be remembered not simply as a creative generation but as a socially-conscious creative generation. Try it.

I had no idea whether my life would someday be relevant to anyone else’s. But in the mid-seventies, out of frustration with the terrible economic situation in Bangladesh I decided to see if I could make myself useful to one poor person a day in the village next door to the university campus where I was teaching. I found myself in an unfamiliar situation. Out of necessity I had to find a way out. Since I did not have a road-map, I had to fall back on my basic instinct to do that. At any moment I could have withdrawn myself from my unknown path, but I did not. I stubbornly went on to find my own way. Luckily, at the end, I found it. That was microcredit and Grameen Bank.

Now, in hindsight, I can joke about it. When people ask me, “How did you figure out all the rules and procedures that is now known as Grameen system ?” My answer is : “That was very simple and easy. Whenever I needed a rule or a procedure in our work, I just looked at the conventional banks to see what they do in a similar situation. Once I learned what they did, I just did the opposite. That’s how I got our rules. Conventional banks go to the rich, we go to the poor; their rule is — “the more you have, the more you get.” So our rule became — “the less you have higher attention you get. If you have nothing, you get the highest priority.” They ask for collateral, we abandoned it, as if we had never heard of it. They need lawyers in their business, we don’t. No lawyer is involved in any of our loan transactions. They are owned by the rich, ours is owned by the poorest, the poorest women to boot. I can go on adding more to this list to show how Grameen does things quite the opposite way.

Was it really a systematic policy æ to do it the opposite way ? No, it wasn’t. But that’s how it turned out ultimately, because our objective was different. I had not even noticed it until a senior banker admonished me by saying : Dr. Yunus, you are trying to put the banking system upside down.” I quickly agreed with him. I said : “Yes, because the banking system is standing on its head.”

I could not miss seeing the ruthlessness of moneylenders in the village. First I lent the money to replace the loan-sharks. Then I went to the local bank to request them to lend money to the poor. They refused.

After months of deadlock I persuaded them by offering myself as a guarantor. This is how microcredit was born in 1976. Today Grameen Bank lends money to 7.5 million borrowers, 97 per cent women. They own the bank. The bank has lent out over $ 7.0 billion in Bangladesh over the years. Globally 130 million poor families receive microcredit. Even then banks have not changed much. They do not mind writing off a trillion dollars in a sub-prime crisis, but they still stay away from lending US $ 100 to a poor woman despite the fact such loans have near 100 per cent repayment record globally.

While focusing on microcredit we saw the need for other types of interventions to help the rural population, in general, and the poor, in particular. We tried our interventions in the health sector, information technology, renewable energy and on several other fronts.

Since we worked with poor women, health issue quickly drew our attention. We introduced health insurance. We succeeded in developing an effective healthcare program based on health insurance, but have not been able to expand this program because of non-availability of doctors. Doctors are reluctant to stay in the villages. (It has become such a big bottleneck that we have now decided to set up a medical college to produce doctors.) Under the program a villager pays about US $ 2.00 a year as health insurance premium, to get health coverage for the entire family. Financially it is sustainable.

I became a strong believer in the power of information technology to change the lives of the poor people. This encouraged me to create a cell-phone company called Grameen Phone. We brought phones to the villages of Bangladesh and gave loans to the poor women to buy themselves cell-phones to sell their service and make money. It became an instant success.

Seventy percent of the population of Bangladesh do not have access to electricity. We wanted to address this issue by introducing solar home system in the villages. We created a separate company called Grameen Shakti, or Grameen Energy. It became a very successful company in popularising solar home system, bio-gas, and environment-friendly cooking stoves. It has already reached 155,000 homes with solar home systems, and aims to reach one million homes by 2012. As we started creating a series of companies around renewable energy, information technology, textile, agriculture, livestock, education, health, finance etc, I was wondering why conventional businesses do not see business the way we see it. They have different goals than ours. We design our businesses one way, they design theirs in another way.

Conventional businesses are based on the theoretical framework provided by the designers of capitalist economic system. In this framework ‘business’ has to be a profit-maximizing entity. The more aggressively a business pursues it, the better the system functions æ we are told. The bigger the profit, the more successful the business is; the more happy investors are. In my work it never occurred to me that I should maximize profit. All my struggle was to take each of my enterprises to a level where it could at least be self-sustaining. I defined the mission of my businesses in a different way than that of the traditional businesses.

As I was doing it, obviously I was violating the basic tenet of capitalist system æ profit maximization. Since I was engaged in finding my own solution to reach the mission of my business, I was not looking at any existing road maps. My only concern was to see if my path was taking me where I wanted to go. When it worked I felt very happy. I know maximization of profit makes people happy. I don’t maximize profit, but my businesses are a great source of my happiness. If you had done what I have done you would be very happy too! I am convinced that profit maximization is not the only source of happiness in business. ‘Business’ has been interpreted too narrowly in the existing framework of capitalism. This interpretation is based on the assumption that a human being is a single dimensional being. His business-related happiness is related to the size of the profit he makes. He is presented as a robot-like money-making machine.

But we all know that real-life human beings are multi-dimensional beings æ not uni-dimensional like the theory assumes. For a real-life human being money-making is a means, not an end. But for the businessman in the existing theory money-making is both a means and also an end.

This narrow interpretation has done us great damage. All business people around the world have been imitating this one-dimensional theoretical businessman as precisely as they can to make sure they get the most from the capitalist system. If you are a businessman you have to wear profit-maximizing glasses all the time. As a result, only thing you see in the world are the profit enhancing opportunities. Important problems that we face in the world cannot be addressed because profit-maximizing eyes cannot see them.

We can easily reformulate the concept of a businessman to bring him closer to a real human being. In order to take into account the multi-dimensionality of real human being we may assume that there are two distinct sources of happiness in the business world æ 1) maximizing profit, and 2) achieving some pre-defined social objective. Since there are clear conflicts between the two objectives, the business world will have to be made up of two different kinds of businesses –1) profit-maximizing business, and 2) social business. Specific type of happiness will come from the specific type of business.

Then an investor will have two choices æ he can invest in one or in both. My guess is most people will invest in both in various proportions. This means people will use two sets of eye-glassesæ profit-maximizing glasses, and social business glasses. This will bring a big change in the world. Profit maximizing businessmen will be amazed to see how different the world looks once they take off the profit-maximizing glasses and wear the social business glasses. By looking at the world from two different perspectives business decision-makers will be able to decide better, act better, and these decisions and actions will lead to a dramatically better world.

While I was wondering whether the idea of social business would make any sense to the corporate world I had an opportunity to talk to the chairman of Danone Group Mr. Franck Riboud about this subject. It made perfect sense to him right away. Together we created Grameen Danone company as a social business in Bangladesh. This company produces yogurt fortified with micro-nutrients which are missing in the mal-nourished children of Bangladesh. Because it is a social business, Grameen and Danone, will never take any dividend out of the company beyond recouping the initial investment. Bottom line for the company is to see how many children overcome their nutrition deficiency each year.

Next initiative came from Credit Agricole of France. We created Grameen Credit Agricole Microfinance Foundation to provide financial support to microfinance organizations and social businesses.

We created a small water company to provide good quality drinking water in a cluster of villages of Bangladesh. This is a joint venture with Veolia, a leading water company in the world. Bangladesh has terrible drinking water problem. In a large part of Bangladesh tubewell water is highly arsenic contaminated, surface water is polluted. This social business water company will be a prototype for supplying safe drinking water in a sustainable and affordable way to people who are faced with water crisis. Once it is perfected, it can be replicated in other villages, within Bangladesh and outside.

We have already established an eye-care hospital specializing in cataract operation, with a capacity to undertake 10,000 operations per year. This is a joint venture social business with the Green Children Foundation created by two singers in their early twenties, Tom and Milla, from England and Norway.

We have signed a joint-venture agreement with Intel Corporation, to create a social business company called Grameen-Intel to bring information technology-based services to the poor in healthcare, marketing, education and remittances.

We also signed a social business joint venture agreement with Saudi German Hospital Group to set up a series of hospitals in Bangladesh.

Many more companies from around the world are showing interest in such social business joint ventures. A leading shoe company wants to create a social business to make sure that nobody goes without shoes. One leading pharmaceutical company wishes to set up a joint venture social business company to produce nutritional supplements appropriate for Bangladeshi pregnant mothers and young women, at the cheapest possible price.

We are also in discussion to launch a social business company to produce chemically treated mosquito-nets to protect people in Bangladesh and Africa from malaria and other mosquito-borne diseases.

Your generation can bring a breakthrough in changing the course of the world. You can be the socially-conscious creative generation that the world is waiting for. You can bring your creativity to design brilliant social businesses to overcome poverty, disease, environmental degradation, food crisis, depletion of non-renewable resources, etc. Each one of you is capable of changing the world. To make a start all that each one of you has to do is to design a business plan for a social business. Each prototype of a social business can be a cute little business. But if it works out, the whole world can be changed by replicating it in thousands of locations.

Prototype development is the key. In designing a prototype all we need is a socially-oriented creative mind. That could be each one of you. No matter what you do in your life, make it a point to design or be involved with at least one social business to address one problem that depresses you the most. If you have the design and the money, go ahead and put it into action. If you have the design but no money, contact your dean — he will find the money. I never heard that MIT has problem in finding money when it has a hot idea in its hand. MIT can even create a social business development fund in anticipation of your requests.

I can tell you very emphatically that in terms of human capability there is no difference between a poor person and a very privileged person. All human beings are packed with unlimited potential. Poor people are no exception to this rule. But the world around them never gave them the opportunity to know that each of them is carrying a wonderful gift in them. The gift remains unknown and unwrapped. Our challenge is to help the poor unwrap their gift.

Poverty is not created by the poor. It is created by the system. Poverty is an artificial imposition on people. Once you fall outside the system, it works against you. It makes it very difficult to return to the system.

How do we change this? Where do we begin ?

Three basic interventions will make a big difference in the existing system : a) broadening the concept of business by including “social business” into the framework of market place, b) creating inclusive financial and healthcare services which can reach out to every person on the planet, c) designing appropriate information technology devices, and services for the bottom-most people and making them easily available to them.

Your generation has the opportunity to make a break with the past and create a beautiful new world. We see the ever-growing problems created by the individual-centered aggressively accumulative economy. If we let it proceed without serious modifications, we may soon reach the point of no return. Among other things, this type of economy has placed our planet under serious threat through climatic distortions. Single-minded pursuit of profit has made us forget that this planet is our home; that we are supposed to make it safe and beautiful, not make it more unliveable everyday by promoting a life-style which ignores all warnings of safety.

At this point let me give you the good news. No matter how daunting the problems look, don’t get brow beaten by their size. Big problems are most often just an aggregation of tiny problems. Get to the smallest component of the problem. Then it becomes an innocent bite-size problem, and you can have all the fun dealing with it. You’ll be thrilled to see in how many ways you can crack it. You can tame it or make it disappear by various social and economic actions, including social business. Pick out the action which looks most efficient in the given circumstances. Tackling big problems does not always have to be through giant actions, or global initiatives or big businesses. It can start as a tiny little action. If you shape it the right way, it can grow into a global action in no time. Even the biggest problem can be cracked by a small well-designed intervention. That’s where you and your creativity come in. These interventions can be so small that each one of you can crack these problems right from your garage. If you have a friend or two to work with you, it is all the more better. It can be fun too.

You are born in the age of ideas. Ideas are something an MIT graduate, I am sure, will not run out of. The question I am raising now — what use you want to make of them ? Make money by selling or using your ideas ? Or change the world with your ideas? Or do both ? It is upto you to decide.

There are two clear tasks in front of you — 1) to end poverty in the world once for all, and 2) to set the world in the right path to undo all the damage we have done to the environment by our ignorance and selfishness. Time is right. Your initiatives can produce big results, even lead you to achieving these goals. Then yours will be the most successful generation in human history. You will take your grand-children to the poverty museums with tremendous pride that your generation had finally made it happen.

Congratulations, for being part of a generation which has exciting possibilities, and advance congratulations to you all for your future successes in creating a new world where everyone on this planet can stand tall as a human being.

Thank you.

rebloged from: http://jadugar.wordpress.com/2008/12/25/pidato-muhammad-yunus-di-wisudaan-mit/

Ceria !


Rumah Belajar Ceria

Rumah Belajar Ceria

Tak terasa lewat 1 tahun berpisah dengan kata Ceria. Dulunya kata ini identik dengan jargon yang kami deklarasikan di salah satu pintu kebermanfaatan kampus. Komed Ceria ! yaaa, kumpulan manusia polos bin lugu yang semangatnya tak pernah habis tuk menyebarkan senyum, mengukir lesung pipit terbaik seantero kampus *lebay_dikit. Tapi kini jargon Ceria itu kembali hidup dalam sebuah rumah mungil di dekat aliran sungai Musi. Yaa, mereka namakan Rumah Belajar Ceria !!

Virus kebaikan yang dirintis (kabarnya) oleh 8 orang (*yang pasti saya gak ikut,hehe) dengan tujuan berlomba-lomba dalam kebaikan. Virus itu pastinya tidak melumpuhkan orang-orang disekitarnya, malah menumbuhkembangkan puluhan anak-anak kecil supaya lebih berkarakter. Menjadikan anak-anak kecil yang masih terlalu polos tuk mengenal dunia luar, sedini mungkin diarahkan kepada hal-hal positif. Terlalu banyak fakta hari ini tentang rusaknya generasi muda dipengaruhi pembentukan karakter yang sangat minim di lingkungan keluarga. Dan karakter bukanlah hal instan, butuh nafas panjang tuk bisa merealisasikan karakter seperti apa yang ingin kita bentuk.

Anak kecil sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan, makanya jangan salahkan anak kecil jikalau kita nantinya sebagai calon orang tua menempatkan mereka di lingkungan yang salah. Dimulai dari sekaranglah kita dituntut untuk bisa menumbuhkembangkan karakter anak kecil. Dan ternyata berinteraksi dan mendorong pembentukan karakter mereka sangat sulit sekali. Semoga kita bisa mengelola aset bangsa masa depan ini. *cerita agak error, silahkan nikmati saja😀